SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 58


__ADS_3

Khansa yang kesusahan naik motor milik Alden pun hanya menatap jok motor Alden yang tinggi.


"Ini gimana Khansa naiknya? Duh ada-ada aja." Gumam Khansa yang masih didengar oleh Alden. Alden pun menolehkan kepalanya menatap Khansa dan menepuk pundak kirinya.


"Pegang pundak Gue, terus Lo buat kaki kiri Lo jadi tumpuan." Ucap Alden yang diangguki oleh Khansa. Dengan cepat, Khansa memutarkan kakinya dan langsung duduk diatas motor milik Alden.


"Pegangan pundak Gue, Sa. Gue nggak mau Lo jatuh." Ucap Alden lagi yang juga diangguki oleh Khansa. Setelah selesai, Alden menjalankan menjalankan motornya menuju rumah sakit meninggalkan Nathan dan Aurora yang masih setia adu mulut.


"Bye Gue mau pergi! Lo dirumah aja sendiri. Terserah mau nyusul ke rumah sakit atau enggak!" Ucap Nathan yang kemudian meninggalkan Aurora dirumah sendiri. Aurora yang ditinggalkan pun matanya memanas.


Walaupun dirinya sedikit ketus, Aurora sangat tidak suka jika dirinya ditinggalkan sendirian. Ya, karena sejak kecil dirinya selalu bersama dengan kakak-kakak nya. Tak pernah sedikitpun Asha atau yang lain membiarkan Aurora sendiri.


Aurora pun duduk memeluk lututnya dan bisa ditebak, dirinya menangis. Di sela tangisannya dia memanggil kakak-kakak nya.


"Hiks...Teh Asha. Aurora mau ikut Teteh, hiks...hiks." Ucap Aurora sesenggukan sambil menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya. Lama dia menangis dengan posisi itu sampai tiba-tiba ada sebuah tangan yang menggenggam tangan kanannya.


Dengan perlahan, Aurora mendongakkan kepalanya dan terkejut karena melihat Nathan. Dengan mulut yang masih melengkung dan mata yang berair, Aurora mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nathan.


"Ikut Gue sekarang. Semua orang dah nunggu kita berdua." Ucap Nathan dengan nada yang tenang sambil menarik tangan Aurora agar berdiri dari duduknya. Namun bukan Aurora jika tidak keras kepala.


"Yaudah sana Lo berangkat sendiri. Orang tadi udah ninggalin juga, ngapain balik lagi." Ucap Aurora sambil menghapus air matanya dan membuang pandangannya.

__ADS_1


"Ck, nggak usah kelamaan deh gemes Gue jadinya." Ucap Nathan yang seketika menggendong tubuh mungil milik Aurora. Aurora yang terkejut pun membelalakkan matanya dan meronta untuk diturunkan dari gendongan Nathan.


"Mau Gue jatohin nih? Yaudah kalo Lo mau, oke." Ucap Nathan yang hendak melepaskan kedua tangannya yang sedang menumpu badan Aurora. Aurora yang takut jatuh pun melingkarkan kedua tangannya di leher milik Nathan.


"Lo Gila ya mau jatuhin Gue?! Kalo Gue jatuh beneran terus cedera gimana?" Ucap Aurora sambil menatap Nathan yang masih fokus membuka gerbang rumahnya.


"Makannya nggak usah usil deh. Biar cepet juga." Ucap Nathan sambil menududukkan Aurora di jok belakangnya. Setelah itu dirinya pun duduk di depan Aurora dan langsung memakai helm nya. Setelah semua siap, Nathan menyalakan motornya dan mulai melajukan motornya menyusul sang kakak.


"Ra! Pegangan ya, Gue mau ngebut!" Ucap Nathan dengan nada yang sedikit tinggi karena suara kendaraan lain. Aurora pun memajukan kepalanya untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nathan, lalu menggukkan kepalanya mengerti.


Tanpa aba-aba, Aurora langsung memeluk perut milik Nathan. Nathan yang sedang fokus mengendarai motornya pun terkejut. Entah mengapa dia merasakan desiran aneh di dadanya ketika Aurora memeluknya. Dibalik helm full face nya, Nathan tersenyum tipis dan mulai menaikkan kecepatan motornya.


Sementara Alden dan Khansa yang sudah sampai di rumah sakit pun segera berlari masuk ke dalam. Sampai di resepsionis, Alden mewakili Khansa untuk bertanya dimana letak UGD. Ya karena tadi Ella mengirim pesan kepada Alden untuk segera ke UGD karena Sara kehabisan banyak darah.


"Mama." Ucap Khansa lirih sambil menumpukkan dagunya di bahu Ella. Ella yang tahu bahwa suara tersebut milik Khansa pun menolehkan kepalanya dan tersenyum manis kepada Khansa.


"Gimana keadaan Mbak Sara, Ma?" Ucap Khansa setelah mengecup pipi milik Ella. Ella pun tersenyum atas perlakuan Khansa padanya dan mengelus pipi Khansa.


"Mbak Sara butuh transfusi darah, dan telapak kakinya harus dijahit. Ya, karena pecahan kaca itu membuat telapak Mbak Sara sobek parah dan harus dijahit untuk menutupnya. Tapi Alhamdulillah nya, darah dengan O rhesus negatif nya ada di bank darah rumah sakit ini. Kalian tenang aja ya." Ucap Lla sambil menatap kedua anaknya yang duduk bersebelahan.


"Mama tadi kemana sama Mbak Sara? Kenapa nggak bilang sama Khansa mau pergi kemana?" Tanya Khansa lagi sambil mengganggam tangan Ella. Ella pun yang baru teringat lantas menceritakan semuanya.

__ADS_1


Alden dan Khansa pun terkejut mengetahui bahwa Asha tidak berada dirumah. Aurora dan Nathan yang baru datang pun juga di diberi tahu oleh Ella tentang hal yang sama.


"Berarti Teh Asha nggak ada di rumah, Ma? Dan rumah Teh Asha udah berantakan. Jangan-jangan..." Ucap Alden menggantung yang sontak membuat semua orang membelalakkan matanya.


"Teh Asha diculik!" Ucap Semua orang secara bersamaan. Ella pun menjadi panik lantaran perkataan dari Alden.


"Terus Abang dah tau belum Ma?" Tanya Aurora kepada Ella. Ella hanya menggelengkan kepalanya. Alden pun mengernyit kan dahinya bingung.


"Loh kok Abang belum dikasih tau, Ma? Harusnya Abang udah tau duluan." Ucap Alden sambil berjongkok didepan Mama nya.


"Iya, Mama tau. Tapi Abang bilang kalau lagi ada rapat buat kasus Silla. Mama nggak mau ganggu pekerjaan Abang kamu, Den." Jawab Ella sambil memikirkan apakah yang dia lakukan sudah benar atau belum.


"Bentar-bentar Ma. Kenapa kasus Bu Silla diungkit lagi?" Tanya Alden. Ella pun menjawab seperti apa yang dikatakan oleh sang polisi yang tadi pagi meneleponnya.


"Hah?! Kalau Bu Silla kabur dari kantor polisi, bisa aja yang nyulik Teh Asha dia! Dan yang ngelempar rumah kita dengan batu-batu itu juga ulah dia dan anaknya!" Ya, analisis dari Alden tepat membuat semua orang mengiyakan apa yang dikatakannya.


Setelah membahas hal tersebut cukup lama lengkap dengan tafsiran-tafsiran tentang Silla dan Bella. Percakapan mereka terhenti karena seorang dokter keluar dari ruang IGD dan memberitahukan bahwa Sara sudah bisa dibawa ke ruang rawat.


Mereka semua pun mengikuti para suster yang membawa brankar Sara ke ruang rawat. Semua orang pun memasuki ruang rawat milik Sara dan menunggu hingga Sara sadar.


Sedangkan ditempat lain,

__ADS_1


Revan yang baru saja menyelesaikan acara rapatnya pun kembali keruangannya. Entah mengapa, dirinya sangat ingin bertemu dengan sang istri. Revan mencoba mengambil Hp nya dan mencari kontak di dalam Hp nya dengan nama 'Istri Ku'.


Revan mengernyit bingung karena tak satu pun panggilannya di jawab oleh Asha.


__ADS_2