SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 39


__ADS_3

"Asha, jangan langsung menolak Revan. Bibi mau kamu jadi menantu Bibi. Kamu terima ya, Nak?" Ucap Ella sambil menghapus air mata Asha.


"Asha punya pilihan sendiri, Bi. Asha mau pamit pulang dulu ya, Bi. Sara, Alden, Khansa, sama Aurora mau ikut Teh Asha nggak?" Jawab Asha sambil mengelus tangan Ella. Dia juga mengajak adik-adiknya untuk ikut serta dengannya.


Sara serta pasukannya pun hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekati Asha. Mereka semua berjalan menuju keluar masjid. Asha yang berpapasan dengan Revan pun menyentuh kedua pundak Revan.


"Bangun, Bang. Abang jangan jongkok gitu." Ucap Asha menggelengkan kepalanya perlahan. Asha tersenyum manis menghadap Revan. Revan yang melihat Asha tersenyum pun ikut menyunggingkan bibirnya. Revan pun memeluk Asha erat sambil menghembuskan nafasnya.


"Bang Revan sayang sama Asha." Ucap Revan lirih sambil mengelus punggung Asha. Asha yang mendengar hal itu hanya memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam.


"Asha tahu itu." Ucap Asha sambil melonggarkan pelukannya dari Revan. Asha melepaskan pelukannya dengan Revan dan berlalu melewati Revan dengan pandangan tertunduk.


Asha berjalan beriringan dengan Sara dan pasukannya. Mereka berjalan kembali kerumah Asha. Revan yang ditolak pun tidak berkecil hati, dirinya berjalan mendekati orang tuanya beserta yang lain.


Setelah 30 menit berlalu...


Revan yang sedang asyik mengobrol bersama dengan semua orang, tiba-tiba terkaget karena Hp nya berbunyi. Revan menyerit heran karena yang meneleponnya adalah Alden. Revan pun menggeser tombol handphone tersebut ke warna hijau.


"Assalamu'alaikum, Den. Ada apa?" Ucap Revan mengawali pembicaraan.


"Bang Revan! Teh...Teh Asha, Bang! Tolongin Teh Asha! Taman...Teh Asha dipohon!" Ucap Alden dengan nada yang tersenggal-senggal. Revan yang mendengar sang adik agar menolong Asha pun terkejut dan panik.


"Teh Asha kenapa?! Bisa yang jelas nggak sih, Den ngomongnya?!" Ucap Revan dengan nada yang sedikit membentak sang adik.


"Pokoknya, Abang langsung kesini. Sebelum terlambat!" Ucap Alden sambil mematikan sambungan teleponnya. Revan yang tahu bahwa sang adik memetikan sambungan teleponnya pun berkata kepada orang tuanya.


"Ma, Pa. Alden telepon, dan bilang kalau Asha butuh pertolongan. Kita susul mereka ya, Ma Pa?" Ucap Revan dengan panik. Ella dan Rendi yang sedang asyik berbicara pun menghentikan obrolannya.

__ADS_1


"Maksudnya gimana sih Bang? Butuh bantuan apa?" Ucap Ella sambil berdiri dari duduknya. Revan hanya menjawab dengan gelengan kepala saja, karena dia memang tak tahu apa yang terjadi.


"Tapi Alden cuma bilang, Asha, taman, sama pohon, dan juga butuh pertolongan. Jangan-jangan..." Ucap Revan menggantung lalu membelalakkan matanya. Seketika Revan berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan semua orang.


Revan berlari setelah dirinya keluar dari halaman masjid. Tujuan pertama yang dia incar adalah taman kompleks. Entah mengapa, firasatnya memerintah agar dirinya pergi ke taman kompleks.


Ella dan Rendi yang melihat hal tersebut pun tertawa senang. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Revan.


Rendi mengambil handphone nya dan menelepon seseorang.


"Target sudah OTW ke lokasi. Siap-siap ya, kita langsung kesana." Ucap Rendi sambil berdiri dari duduknya dan menggandeng sang istri. Mereka berdua pamit ke semua orang dan berjalan menuju lokasi tujuan mereka.


Revan yang sudah berada di taman pun heran karena tak ada satu orang pun disana. Revan berlari mengitari taman sendirian. Namun nihil, dia tak menemukan apapun. Revan mencoba menelepon adiknya, namun tak ada satu panggilan pun yang terjawab.


Revan yang sudah sangat khawatir pun berlari lagi menuju rumah Asha. Revan berfikir bahwa Asha mungkin audah berada dirumahnya.


Sesampainya di depan rumah Asha, Revan langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Revan kaget karena pintu rumah Asha tak terkunci. Revan mencoba memasuki semua ruangan yang berada di rumah tersebut.


Mulai dari ruang tamu, kamar, dapur, kamar mandi, kamar tidur, garasi, bahkan taman belakang. Namun lagi-lagi Revan tak menemukan keberadaan Asha. Revan mengusap kasar wajahnya. Revan yang mulai lelah mencari pun berjalan menuju rumah orang tuanya.


Revan bingung karena pintu utama dirumah itu sudah terbuka setengah. Revan yang melihatnya pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Revan yang melihat ada seorang wanita duduk membelakanginya pun menautkan alisnya.


Wanita tersebut yang merasakan ada orang datang pun berbalik arah menghadap pintu utama.


"Bang Revan?" Ucap wanita itu memanggil Revan. Sedangkan yang dipanggil pun hanya membelalakkan matanya.


"Masih inget sama perkataan Bang Revan buat ngelamar aku?" Ucap wanita itu sambil mendekat ke arah Revan. Badan Revan masih menegang menatap wanita didepannya.

__ADS_1


"Bukannya kamu yang nolak Abang?" Jawab Revan dengan nada yang sedikit lirih. Wanita itu menggeleng cepat sambil mendekati Revan.


"Memang aku bilang mau nolak Abang? Memang siapa yang bilang coba? Berarti Abang seneng gitu kalau ku tolak?" Ucap wanita itu sambil melipat tangannya ke depan dada.


Revan yang mendengar jawaban wanita itu pun seketika langsung tersenyum lebar. Ditariknya wanita tersebut ke dekapan Revan. Lalu Revan menciumi pucak wanita yang hanya sebatas dagu nya itu.


"Ihh, Bang Revan. Ini keringatnya nempel semua. Bau ihh." Ucap Wanita tersebut sambil memukul pelan punggung Revan.


"Ihh, harus belajar terbiasa sama bau keringat calon suami tau. Berarti kalau calon suaminya bau keringat, nggak mau deketin gitu?" Ucap Revan yang membuat wanita tersebut mendongakkan kepalanya.


Terlihat wanita tersebut menggelengkan kepalanya polos. Revan yang melihat reaksi wanita tersebut pun menjadi gemas. Diciumnya hidung mungil wanita tersebut, yang membuat si empu menyebikkan mulutnya.


"Ini bibirnya juga minta dicium? Ngapain dimaju-majuin gitu?" Ucap Revan sambil menundukkan pandangannya. Wanita itu yang mendengar perkataan dari Revan pun seketika langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Kepalanya menggeleng cepat, menolak ucapan Revan.


"Ciee yang udah main peluk-pelukan sama calon istrinya." Ucap Ella sambil keluar dari ruang keluarga. Revan yang masih asyik memeluk calon istrinya pun menolehkan kepalanya menghadap orang tuanya.


"Bagus ya. Revan di tinggal sendirian dan kalian enak-enakan pakai baju baru. Ini kenapa bisa couple an gini bajunya?" Ucap Revan sambil melepaskan pelukannya dari sang wanita.


"Ya, karena udah kita rencanain. Ini semua juga ide dari si kunyuk itu." Ucap Rendi sambil menunjuk ke arah Alden. Alden yang ditunjuk pun hanya mengendikkan bahunya acuh.


"Yaudah sana, ganti baju dulu. Nanti kita mulai acaranya." Ucap Ella memberi tahu Revan yang masih melipat tangannya di dada dan menatap tajam Alden.


Revan hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan mereka semua. Sedangkan itu, semua orang tertawa melihat Revan yang sedang marah.


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.


Iyi Gecerler! all❤.

__ADS_1


__ADS_2