SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 82


__ADS_3

Sara menampar keras pipi kiri milik sang ibu.


"Jangan Lo anggap bahwa tamparan ini datang dari seorang anak yang durhaka kepada ibunya! Ini adalah balasan dari seorang anak yang sudah lelah dengan sikap ibunya yang seperti iblis!" Ucap Sara masih dengan tangisannya.


"Lo nggak bayangin gimana susahnya Gue dan Teh Asha buat besarin Khansa, Aurora, dan Reza hah?! Otak Lo masih berfungsi dengan baik kan?" Tanya Sara sambil mencengkeram rahang milik sang ibu.


"Lo tatap wajah Khansa! Dia dulu bayi kecil yang pernah bergelung manja di dalam perut Lo! Dan sekarang Lo tega hendak menjual masa depannya?! Jangan jadikan Khansa seperti Lo dan Dia!" Bentak Sara sambil menunjuk Bella yang masih tergeletak dilantai.


"Gue beruntung karena bisa bawa pergi Teh Asha, Khansa, dan Aurora dari wanita biad*b seperti Lo!" Sambung Sara sambil menatap sang adik yang terus menunduk. Amora pun hanya mengeratkan rahangnya dan tangannya terangkat untuk menampar Sara.


"Apa?! Lo mau nampar Gue? Silahkan! Dengan satu tamparan Lo itu, nggak akan menyurutkan rasa benci Gue ke Lo! Ayo tampar!" Ucap Sara sambil memajukan mukanya.


Tak mau menyia-nyiakan waktu, Amora pun menampar meras pipi Sara. Setelah ditampar, Sara hanya mengerutkan kedua alisnya dan tersenyum seperti orang gila.


"Cuma gini? Gini doang nih?!" Ucap Sara sambil kembali menatap tajam Amora. Sedangkan Amora hanya bernafas dengan tak teratur.


"Yang bener gini nih!" Ucap Sara dengan nada marahnya sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi lalu...


Plak!


Satu tamparan menyakitkan yang membuat Amora terjatuh ke lantai.


"Gue benci sama Lo! Mau gimana pun itu dan sampai kapan pun itu!" Maki Sara lalu berjalan mengambil tas sekolah Khansa dan mengisyaratkan Alden untuk pergi keluar dari ruangan club tersebut.


"Gendong Khansa dan kita keluar dari kamar penuh dosa ini!" Ucap Sara datar sambil mengangkat tas sang adik dan milik Alden lalu berjalan menuju pintu lalu membuka dengan kunci yang dia ambil dari saku gamisnya.


Semua orang yang berada di club tersebut pun menatap bingung kepada Sara yang berjalan didepan Alden dan Khansa. Para penjaga yang hendak menghampiri Sara pun menjadi enggan dan berjalan minggir untuk memberi jalan kepada Sara.


Sara mengambil kunci kotor Alden di saku Alden dan berjalan menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depan club tersebut.


Setelah membuka pintu taksi, Sara pun melemparkan tas milik kedua adiknya dan membungkukkan sedikit badannya.

__ADS_1


"Pak ke perumahan elite yang ada di jalan X ya! Saya ikuti dari belakang!" Ucap Sara lalu membantu Alden untuk memasukkan Khansa kedalam taksi.


"Lo jagain Khansa, Gue bawa motor Lo!" Timpal Sara sebelum menutup pintu belakang taksi tersebut. Alden pun hanya menganggukkan kepalanya dan memeluk Khansa erat yang masih berada di pangkuannya.


Sara pun berjalan menuju motor sport warna merah milik Alden dan perlahan memundurkan nya. Alden yang melihat kelakuan Sara pun hanya menggelengkan kepalanya.


Sara menjalankan motor milik Alden dan melewati taksi yang di dalamnya berisikan kedua adiknya dan mengklaksonnya memberi tanda agar segera berjalan. Sang sopir taksi pun mulai melajukan taksinya mengikuti Sara.


Sara membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi. Selain karena barang-barangnya yang dia tinggal di bandara, dia juga khawatir dengan keadaan Khansa.


Sementara didalam taksi, Khansa semakin mengeratkan pegangannya pada seragamnya.


"Kak Alden, perut Khansa sakit..." Ucap Khansa lirih sambil memajukan badannya sehingga semakin menempel dengan badan Alden. Alden pun semakin mengeratkan pelukannya kepada Khansa dan mencium puncak kepala milik Khansa.


Ya, Khansa merasakan sakit pada perutnya karena tadi Amora sempat menghantam perut Khansa dengan tangannya. Sara pun sudah mengetahui lebam yang berada di perut sang adik.


Saat sampai di jalan simpangan lalu lintas, jantung Alden berdetak dengan cepat karena Sara yang nekat menerobos lampu hijau yang hanya tersisa dua detik.


Gila si Sara! Kalo ada mobil atau motor lewat, bisa jadi almarhumah kali. Saya ikuti dari belakang, saya ikuti dari belakang. Belakang mananya? Gumam Alden sambil meletakkan dagunya kembali di atas puncak kepala milik Khansa.


Mungkin bisa peluk Khansa lagi setelah tujuh atau delapan tahun lagi. Gue berharap, agar Khansa bisa selalu ada dipelukan Gue suatu saat nanti. Gue nggak mau kehilangan Lo, Sa. Batin Alden lalu menenggelamkan kepalanya di bahu sebelah kanan milik Khansa.


Khansa pun sama, dia merasa sangat nyaman bisa berada di pelukan Alden. Khansa sama sekali belum sadar dengan apa yang dilakukan oleh Alden padanya. Dia hanya diam sambil menyenderkan kepalanya di dada milik Alden.


Setelah melalui jalan yang ramai, Sara telah memasuki kawasan perumahan elite milik keluarganya. Revan yang hendak memundurkan motornya pun berhenti karena sebuah motor sport berwarna merah memasuki gerbang rumah orang tuanya.


Asha yang memang sengaja menunggu Revan didepan rumah pun terkejut karena melihat Sara yang turun dari motor Alden sambil membuka helm full facenya.


"Assalamu'alikum Bang, Teh." Ucap Sara sambil menyalami tangan Revan dan Asha.


"Loh kok kamu balik lagi? Bukannya ini motor Alden?" Tanya Revan lalu turun dari motornya dan meletakkan kembali helm nya di spion motornya.

__ADS_1


"Iya, Sar. Kok malah pulang. Nggak jadi ke jogja nya? Terus Alden mana?" Tanya Asha menimpali pertanyaan sang suami.


"Tuh." Ucap Sara sambil menunjuk gerbang luar rumahnya dengan jari telunjuknya. Revan dan Asha pun mengernyit karena melihat taksi berwarna biru itu. Tak lama setelah itu, barulah Revan dan Asha melihat Alden serta Khansa yang keluar dari taksi.


Revan yang melihat Alden kesusahan saat keluar dari taksi karena menggendong Khansa pun berlari keluar dan mengambil alih Khansa dari Alden.


"Astagfirullah kamu kenapa, Sa?" Tanya Revan terkejut karena melihat luka memar di wajah Khansa. Khansa pun hanya menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya.


"Dijebak sama emaknya sendiri, Bang. Udah ayo Bang, kita masuk dulu. Kasian Khansa ku." Ucap Alden sambil mendorong tubuh sang Abang agar segera masuk. Revan pun membawa Khansa masuk dan mendekati sang istri serta Sara yang terlihat membuka Hp Asha.


"Teh, ini nomornya dokter Ayah dulu kan?" Ucap Sara sambil menunjukkan sesuatu di layar ponsel milik Asha. Asha pun hanya menganggukkan kepalanya dan beralih menatap Khansa.


"Ya Allah, kamu kenapa Sa?" Tanya Asha khawatir sambil berjalan mengekori sang suami yang membawa Khansa masuk ke rumah. Ella yang melihat Kahnsa sudah penuh memar dalam gendongan sang anak pun terkejut dan berjalan cepat mendakati Khansa.


"Anak Mama kenapa, Bang?! Siapa yang berani giniin kamu, Nak?" Ucap Ella sambil mengelus kepala Khansa dan menciumnya. Sara pun duduk disebelah sang Mama dan menceritakan semuanya kepada semua orang. Betapa terkejutnya orang rumah ketika mendengar cerita Sara.


Sementara Akasa yang sedang berada di bandara pun melihat kembali jam tangannya dan waktu penerbangannya beserta Sara sudah mendekat. Dengan penuh pertimbangan, Akasa membuka Hp Sara dan berniat menghubungi siapa pun yang berada di Hp Sara.


Setelah menekan tombol on di Hp Sara, terpampang jelas foto anak laki-laki yang sedang tersenyum lebar menghadap kamera. Ya, itu adalah Reza. Akasa pun mengusap layar tersebut keatas dan langsung terbuka.


Nampak potret 4 wanita cantik yang sedang tersenyum. Tak terasa, sudut bibir milik Akasa tertarik keatas ketika melihat ekspresi Sara. Akasa mengira bahwa itu adalah saudara-saudara Sara.


Akasa pun beralih membuka fitur Whatsapp si Hp Sara. Akasa tersenyum ketika melihat tiga kontak yang disenyapkan oleh Sara. Nama pertama yang berada dipaling atas adalah milik Rendi.


Dengan segera, Akasa pun menekan ikon telepon berwarna hijau dan langsung menempelkan di telinganya. Tak berapa lama, panggilan keduanya pun terhubung.


"Assalamu'alaikum, Sar. Gimana? Kenapa Sara telepon Papa?" Tanya Rendi sambil membuka berkas yang berada di atas mejanya. Akasa pun menghela nafasnya dan berkata dalam hati. Nama gadis itu Sara? Batinnya dalam hati.


"Wa'alaikumsalam. Maaf om, Sara nya ada?" Tanya Akasa dengan hati-hati.


"Eh, ternyata bukan Sara toh. Ini siapa calon mantu Papa?"

__ADS_1


Deg!


Ucap Rendi asal yang membuat Akasa terkejut bukan main.


__ADS_2