
Ella yang mendengar perkataan dari Revan pun melongo tak percaya. Sementara Asha, dia pun segera minum air putih untuk melegakan tenggorokannya yang tersedak.
"Bang Revan, jangan dibawa bercanda ah nggak baik." Ucap Ella menanggapi perkataan dari Revan. Revan pun memundurkan kursinya dan beranjak berdiri dari duduknya.
"Siapa yang bercanda, Ma? Tunggu aja Revan, mungkin beberapa minggu lagi." Ucap Revan sambil meninggalkan meja makan dan berjalan menuju tangga. Semua orang yang berada di meja makan pun terkejut dengan ucapan Revan.
Seketika suasana di meja makan pun menjadi Sunyi. Namun dipecah oleh suara Alden yang memiliki opini tentang ucapan dari Kakaknya.
"Ya berarti Alhamdulillah dong. Bentar lagi Alden bakal punya kakak ipar. Itu berarti Bang Revan mau menikah di waktu dekat ini. Toh umurnya juga udah nggak muda lagi, umurnya aja udah 27 tahun. Bukannya udah semestinya Abang nikah? Bukan begitu teh Asha?" Tanya Alden kepada Asha. Asha yang ditanya seperti itu pun hanya tersenyum kikuk, lantaran dia bingung harus menjawab apa.
Rendi dan Ella hanya mengaminkan apa yang diucapkan oleh Alden. Jika memang benar anak sulung mereka akan menikah di waktu dekat ini, maka mereka akan sangat bahagia.
Asha yang menjadi canggung pun memulai makannya lagi sambil memikirkan apa yang diucapkan oleh Revan. Tak lama setelah itu, Revan pun turun dari lantai 2 lengkap dengan tas ranselnya.
"Ma, Pa, Revan pamit pulang ke rumah ya? Karena besok pagi Revan ada acara di kantor, jadi Revan putuskan untuk pulang ke rumah aja. Dan buat siapa pun yang mau pakai kamar Revan, boleh dipakai aja." Ucap Revan sambil mendekati sang mama dan papa. Dia mengulurkan tangannya, untuk menyalami tangan kedua orang tuanya.
Saat mencium tangan sang Mama, tak lupa Revan juga mencium Puncak kepala dari sang mama. Alden yang melihat hal itu pun memiliki ide jahil untuk menjahili sang kakak.
"Itu teh Asha, yang disebelah Mama nggak dicium kepalanya sekalian Bang? Kan mau jadi calon istri gitu, barangkali mau latihan dulu." ucap Revan dengan ada lebaynya yang membuat Asha menatap Alden kaget.
Sara yang melihat kakaknya kaget pun menghadap ke Alden dan memelototkan matanya. Dan benar, Alden yang ditatap begitu oleh Sara pun seketika diam dan mengalihkan pandangannya.
Rendi dan Ella yang mendengar perkataan Alden pun saling menatap dan menyembunyikan senyumnya. Sementara Revan, dia menatap Asha dan yang lainnya untuk melihat ekspresi semua orang.
"Mau dicium juga, Sha?" Ucap Revan tiba-tiba setelah beberapa detik hening. Asha yang kaget pun menghadap ke Revan dan menggelengkan kepalanya cepat.
Semua orang yang mendengar pertanyaan dari Revan pun terkaget dan tersenyum geli. Ella melihat ekspresi Asha yang malu-malu pun malah menggodanya.
__ADS_1
"Ya mau lah, iya nggak Sha? Orang mau dicium sama calon suami sendiri masa nggak mau. Itung-itung buat latihan lah ya, Pa?" ucap Ella manja sambil mencolek lengan Rendi.
Asha yang sudah malu pun hanya menundukkan pandangannya, tak berani menatap semua orang yang sedang menatapnya.
Dengan langkah yang pasti, Revan berjalan mendekati kursi dari Asha.
Cupp...
Dan Revan pun mencium puncak kepala Asha penuh kasih sayang. Asha yang merasa kepalanya dicium oleh seseorang pun mengangkat kepalanya dan menatap Revan. Revan hanya tersenyum manis saat melihat muka kaget dari Asha.
"Ya Allah, dicium beneran!" Ucap cara histeris melihat sang kakak dicium oleh Revan.
"Astagfirullah!" Ucap Khansa sambil menutup mulutnya tak percaya. Namun ada rasa bahagia di hatinya ketika melihat kejadian tersebut.
"Ya Tuhan, so sweet sekali!" Pekik Aurora ketika melihat hal itu.
Rendi dan Ella yang melihat hal itu pun tersenyum manis. Ada rasa haru di hati Ella ketika melihat Revan yang sangat menyayangi Asha.
Setelah mencium kepala dari Asha, Revan pun berjalan meninggalkan ruang makan. Lalu mulai meninggalkan rumah. Asha masih mematung dan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
Sara yang baru beberapa hari yang lalu diambil first kiss dibibirnya oleh seseorang dan sekarang dirinya yang diambil first kiss di kepalanya oleh Revan.
Setelah kejadian mencengangkan itu, semua orang pun memulai makan malam mereka kembali. Sambil sesekali membahas tentang kejadian yang baru saja terjadi.
Selesai makan malam, Asha dan adik-adiknya pun membantu Ella untuk membersihkan meja makan. Dan mencuci piring serta gelas yang baru saja digunakan.
Karena memang belum boleh tidur setelah makan, mereka semua pun memutuskan untuk berkumpul di ruang keluarga. Asha yang merasakan bahwa suasana sudah mulai kembali seperti semula, mencoba untuk menyampaikan niatnya yang tadi sempat tertunda.
__ADS_1
Asha mengatakan kepada Rendi dan Ella untuk mencarikan rumah untyk mereka. Karena Asha merasa bahwa jika mereka semua tinggal dirumah Ella, maka mereka semua akan sangat merepotkan.
Mereka tidak akan tahu sampai kapan mereka akan tinggal dirumah Rendi. Jadi akan lebih baik lagi jika Asha dan adik-adiknya memiliki rumah sendiri. Awalnya memang Ella menolak mentah-mentah permintaan dari Asha.
"Kalian jangan pindah dari sini. Bibi sudah sangat bersyukur karena kalian bisa ikut tinggal di sini bersama Bibi. Jika kalian pergi, maka Bibi akan dirumah sama siapa? Kalian tahu sendiri kan? Bibi sangat menginginkan anak perempuan, tapi anak Bibi laki-laki semua." Ucap Ella dengan nada sedihnya.
Namun, lagi-lagi Rendi menyetujui permintaan dari Asha dan mengatakan bahwa dia akan mengurus semua yang Asha dan adik-adik Asha perlukan. Ella yang mendengar keputusan dari sang suami pun merasa sangat kecewa.
Rendi yang melihat raut wajah kecewa dari sang istri pun memberitahu bahwa dia memiliki rencana yang baik untuk bagaimana cara Asha tinggal ke depannya. Rendi akan memberi tahu jawabannya nanti ketika sudah berada di dalam kamar.
Karena waktu sudah sangat malam, Ella pun mengunci semua pintu serta jendela yang ada di rumahnya. Lalu meminta agar anak-anak bergegas tidur.
"Khansa sama Sara tidur dikamar Mas Ethan ya? Terus nanti biar Aurora tidur sama Teh Asha dikamar Bang Revan. Kalian mau kan?" Tanya Ella sambil memastikan kepada mereka semua.
Asha menyetujui permintaan dari Ella. Mereka semua pun diarahkan oleh Alden menuju lantai atas, dimana kamar mereka berada. Di dalam perjalanan menuju lantai atas, Alden menceritakan letak kamar miliknya serta kakak-kakaknya.
"Yang di depan tangga ini, kamarnya Bang Revan. Yang disebelah kirinya itu kamar milik adik Gue yang paling kecil. Yang disebelah sana, kamarnya Bang Ethan. Terus itu kamar Gue." Ucap Alden sambil menunjuk ke arah dimana kamar tersebut berada.
Setelah paham apa yang dikatakan oleh Alden, Khansa dan Sara memasuki kamar Ethan. Sedangkan Aurora dan Asha memasuki kamar Revan.
Asha yang memasuku kamar Revan merasa takjub. Karena biasanya jika kamar lelaki itu identik dengan warna hitam dan berbau maskulin, tapi kamar milik Revan bernuansa putih serta memiliki wangi yang menurutnya tidak terlalu menyengat.
Asha menjelajahi kamar Revan dan berhenti pada sebuah meja, yang menurut Asha adalah meja kerja milik Revan. Mata Asha tertuju pada sebuah bingkai kecil yang berisi potret sosok gadis yang sedang tersenyum manis.
Asha mengambil bingkai tersebut untuk memastikan apa yang dia lihat. Dan Asha pun membelalakan matanya tak percaya.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
__ADS_1
Iyi Gecerler! all❤.