
Sara segera berjalan cepat untuk bertanya kepada Ella, apa yang dia lakukan. Setelah sampai dilantai dasar dengan selamat, Sara pun mendekati Ella dan bertanya.
"Apa yang terajadi Ma? Mengapa tembok ini dibongkar?" Tanya Sara sambil menyentuh pundak Ella. Ella yang baru tahu Sara berada disebelahnya pun menoleh dan sedikit terkejut. Ella bertanya sekali lagi dengan nada yang sedikit keras, karena suara palu yang berusaha menghancurkan tembok itu terlalu berisik.
"Apa yang kau katakan sayang?" Tanya Ella sambil menutup sebelah telinganya. Sara yang mendengar perkataan Ella pun tersenyum dan menggelengkan kepala nya.
"Apa yang Mama lakukan? Kenapa tembok ini di bongkar?" Ulang Sara sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Ella. Ella yang baru bisa mendengar pertanyaan Sara pun tersenyum dan menyeret Sara keluar dari rumah.
Setelah sampai di teras rumah, Ella baru menjawab pertanyaan Sara tadi.
"Ya karena Mama pengen memantau anak-anak Mama secara intens. Kalau Mama mau jenguk anak-anak perempuan Mama masa harus lari ke gerbang terus gedor-gedor pintu di pagi buta, kan nggak lucu. Mama pingin kalo habis masak atau ngapain tinggal panggil kalian aja. Enak kan?" Ucap Ella yang membuat Sara tersenyum tipis.
"Kenapa Mama baik banget sama Sara dan adik-adik Sara? Nggak pernah sedikit pun terpikir oleh Sara kalau bakal dapet orang lain yang mau bantu Teh Asha dan kita, sebaik Mama." Ucap Sara dengan senyum yang sendu.
Ella yang mendengar perkataan anaknya pun mengelus puncak kepala Sara.
"Karena Mama sayang sama kalian. Mama sudah anggap kalian seperti anak yang Mama lahirkan. Mama nggak akan pernah biarin kalian hidup sendirian tanpa kasih sayang orang tua. Mama akan selalu berada disisi kalian sampai kapan pun itu." Jawab Ella yang membuat Sara memeluk Ella.
"Makasih ya Ma, Sara nggak tahu gimana nasib Sara dan adik-adik Sara kalau nggak ada Papa sama Mama. Sara sayang Mama." Ucap Sara tulus yang masih berada di pelukan Ella. Ella pun mengelus kepala Sara dan mengecupnya lama.
"Mama beruntung banget bisa punya sahabat sebaik Ayahmu, Sar. Mungkin jika bukan karena bantuan Ayahmu, Mama dan Papa tidak akan seperti sekarang ini. Tapi kamu jangan salah sangka jika kamu berpikir bahwa dengan merawat kalian itu sebagai balas budi Mama, itu salah besar. Karena Mama memang tulus ingin merawat kalian semua." Ucap Ella sambil melepaskan pelukannua dari Sara.
Ella dan Sara pun kembali masuk ke dalam rumah karena teriakan dari Alden. Dengan bergegas, mereka berdua pun kembali ke dalam rumah dan bertanya mengapa Alden berteriak pagi-pagi seperti ini.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Kak? Nggak usah teriak-teriak gitu, masih pagi nanti ganggu Khansa sama Aurora lagi." Ucap Ella sambil berjalan mendekati Alden.
"Teriakan Alden nggak ngaruh, Ma. Yang buat Khansa sama Aurora bisa-bisa bangun itu gara-gara tukang yang Mama sewa ini. Orang mukul tembok gini kok masih pagi-pagi buta, mbok yo nanti kalau udah siang." Ucap Alden sambil berlagak memarahi Mama nya.
"Halah udah nanggung, tinggal dirapiin juga. Ya kan, Pak? Di seleseiin sekarang sekalian ya Pak, biar nanti siang saya udah enak bolak baliknya." Ujar Ella sambil berlalu menuju kamar Aurora untuk membangunkan gadis kecilnya.
Lain lagi di rumah Asha, Asha yang sudah selesai memasak dan menyiapkan seragam suaminya pun berjalan kembali kamarnya dan membangunkan suaminya. Ya, karena setelah sholat subuh tadi Revan pergi tidur lagi.
Dengan perlahan, Asha membuka pintu kamarnya dan berjalan mendekati ranjang. Asha pun duduk di sebelah Revan yang masih memejamkan matanya rapat-rapat.
"Bang, bangun yuk. Udah pagi loh Bang, Asha udah siapin seragamnya." Ucap Asha sambil mengelus lengan suaminya itu. Karena terlalu letih karena acara kemarin, Revan pun belum mau membuka mata.
Asha pun mendekatkan kepalanya ke sang suami dan mencium pipi kanan suaminya.
Cupp...
"Abang, bangun dulu yuk. Nanti kesiangan loh ke kantor nya." Ucap Asha sambil mengelus rambut milik suaminya. Mata Revan yang menangkap visual Asha pun mulai tersenyum dan menggerakkan badannya.
Revan membawa badannya ke pangkuan Asha dan melingkarkan kedua tangannya ke perut Asha. Revan menenggelamkan kepalanya di perut sang istri sambil tetap memejamkan matanya.
"Abang...disuruh bangun kok malah tidur lagi. Ayo bangun, Bang. Udah jam enam kurang loh." Ucap Asha lagi sambil menepuk pundak suaminya. Namun Revan tak menghiraukan perkataan dari Asha.
"5 menit lagi ya, Sha. Abang masih ngantuk." Ucap Revan manja dengan suara serak khas bangun tidurnya. Asha hanya menggelangkan kepalanya dan masih tetap mengelus kepala suaminya.
__ADS_1
Asha masih sabar menunggu sang suami yang masih malas-malasan di pangkuannya. Samoai tak terasa, 7 menit sudah berlalu tanpa perubahan sedikitpun dari Revan.
"Bang Revan, udah 7 menit ini. Bangun sekarang ya, nanti terlambat gimana?" Ucap Asha lembut sambil menepuk punggung suaminya. Revan yang mendengar Asha memanggilnya pun mulai membuka matanya.
Revan meregangkan badannya sedikit lama namun samih dengan posisi yang sama. Lalu Revan pun mengecup perut sang istri.
Cupp...
Asha yang di cium perutnya oleh Revan pun hanya membelalakkan matanya. Revan bangun dari posisi tidur ternyaman setelah pelukan Asha dan duduk menghadap istrinya. Revan memajukan badannya dan mencium dahi milik Asha.
Cupp...
"Selamat pagi istriku. Makasih ya, Abangnya udah dibangunin." Ucap Revan sebelum turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Asha, dia masih mematung dengan perlakuan Revan tadi.
Seketika blussh... Asha merasakan bahwa wajahnya memanas dan dapat dia tebak bahwa pipinya berubah rona nya. Asha memeluk bantal milik suaminya dan berteriak tertahan kegirangan.
"Aahh mengapa Bang Revan semakin so sweet setelah menikah, jantung ku tidak akan aman jika begini terus. Ya Allah kuatkan lah hati Asha ini." Ucap Asha dengan nada yang diikuti teriakan kecilnya. Seketika badannya menegang jarena suara dari suaminya.
"Kamu kenapa 'sayang'? Kok salah tingkah gitu sih. Kamu nggak kenapa-napa kan?" Ucap Revan sambil mengeluarkan kepalanya dari balik celah pintu kamar mandi. Bukannya menjawab Asha malah berteriak memanggil suaminya.
"Abang! Kenapa Abang selalu buat Asha baper gini sih? Jangan over-over gitu, nanti Asha nya terbang nggak pulang-pulang." Ucap Asha sambil menutup mukanya. Revan yang mendengar ungkapan hati istrinya pun keluar dari kamar mandi hanya menggunakan celana hitamnya saja.
"Kamu baper Sha? Ya nggak apa-apa dong, orang sama suami sendiri juga bapernya. Beda cerita kalo sama orang lain. Sayang nya Abang ini gampang banget ya bapernya." Ucap Revan sambil mengangkat tubuh Asha dan didaratkan dipangkuan nya. Asha yang merasakan tubuhnya tiba-tiba terbang dan mendarat di pangkuan suaminya pun kaget.
__ADS_1
"Abang ih..." Ucap Asha sambil memukul dada bidang suaminya.