SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 91


__ADS_3

Sara menatap netra lelaki yang berdiri di belakangnya. Laki-laki tersebut pun hanya menganggukkan kepalanya, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


Sara menggelengkan kepalanya kuat dengan air mata yang masih terus mengalir. Dia tak ingin orang tersebut melakukan semua ini dengan terpaksa. Namun lelaki luar biasa itu tak menghiraukan ketakutan Sara.


Dengan senyumannya lelaki tersebut duduk disebelah Sara dan mulai menjabat tangan penghulu yang tadi menikahkan Ethan dan Bella. Sara membalikkan tubuhnya menatap laki-laki yang duduk disebelahnya.


"Jangan..." Ucap Sara lirih disertai tangisannya masih dengan gelengan kepalanya. Namun lagi-lagi lelaki tersebut tak menghiraukan perkataan Sara dan masih mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang penghulu.


Sara hanya menundukkan kepalanya sambil menggenggam erat gaunnya. Sara benar-benar sangat ketakutan ketika sang penghulu mengucapkan kalimat yang sama seperti perkataannya beberapa waktu lalu ketika dia duduk didepan penghulu tersebut.


"Saya terima nikah dan kawinnya Sara Arraselli binti Malik Arrasello dengan maskawin tersebut, dibayar tunai." Ucap laki-laki yang duduk dengan gagahnya di sebelah Sara. Tak lama setelah itu, terdengar kata 'SAH' yang membuat Sara kembali menangis.


Katakutan yang sedari tadi menghinggapinya akan kegagalan menikah kembali pun seketika menguap pergi. Sara menghapus air matanya dan menatap laki-laki yang kini telah menjadi suaminya dengan tatapan takut.


"Kenapa? Ini tangan suaminya nggak mau dicium gitu?" Ucapnya lembut sambil mengelus kepala Sara yang tertutup jilbab. Sara pun dengan ragu-ragu mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan besar milik sang suami.


Sara mencium tangan sang suami dengan perasaan yang campur aduk. Dia takut bahwa suaminya itu melakukan semua ini karena terpaksa. Setelah mencium tangan sang suami, lelaki yang sangat berarti dalam hidup Sara tersebut pun mencium kening milik Sara.


Dan ya, lagi-lagi Sara hanya mampu mengeluarkan air matanya. Sang suami yang mendengara tagisan istrinya tersebut pun membawa Sara kedalam dekapannya. Dia mengelus punggung kecil milik Sara agar kembali tenang.


"Kenapa istriku ini sangat cengeng, hm?" Ucapnya sambil mencium puncak kepala milik Sara sesekali. Sara pun menggelengkan kepalanya dalam dekapan suaminya.


"Kak, ada orang tuanya di depan." Ucap Nathan karena tadi mendapat telepon dari penjaga depan. Laki-laki tersebut pun menganggukkan kepalanya dan mulai melepas pelukannya dari wanita yang sangat dia cintai.


"Aku pergi dulu ya?" Ucapnya yang membuat Sara menganggukkan kepalanya takut-takut. Rendi dan Ella pun mengantarkan penghulu yang tadi menikahkan kedua anaknya menuju tempat istirahat.


Alden, Khansa, Nathan, dan Aurora pun mendekati Sara yang masih duduk di tempat awal dia datang sambil menatap semua orang yang mulai berjalan ke stan makanan.


"Alhamdulillah Mbak Sara udah jadi istri orang. Kita nambah kakak ipar lagi." Ucap Khansa sambil menundukkan sedikit badannya untuk mencium pipi milik Sara. Sara pun tersadar dari lamunanya dan tersenyum dengan mata sembabnya kepada sang adik.


"Bentar lagi Khansa juga nyusul kok." Ucap Alden sambil membawa Khansa ke pelukannya. Dia memeluk Khansa erat dari samping. Sontak Sara yang melihat hal tersebut pun mendelikkan matanya.

__ADS_1


"Heh, jangan macem-macem kalian buk-"


"BUKAN MAHRAM! Udah apal Gue Sar sama dialog Lo. Terus kenapa tu mata? Lagi ngapain Sar, mau melotot pun nggak ngaruh sama mata Lo." Ucap Alden dengan sengaja mencium pelipis milik Khansa. Lawakan yang Alden buat dapat mengembalikkan senyum di wajah cantik Sara.


"Gue beneran, Sar. Paling beberapa bulan lagi Lo dapet undangan buat pernikahan kita. Iya kan, Sa?" Ucap Alden sambil memiringkan kepalanya menatap sang pujaan hati. Khansa pun hanya tersenyum lalu menganggukka kepalanya.


"InsyaAllah." Ucapnya yang membuat Sara menatap keduanya dengan tatapan sendu. Belum lama matanya menatap kedua makhluk tersebut dengan tatapan sayu, lagi-lagi mata Sara terbelalak melihat perilaku Alden.


Cup!


Satu kecupan penuh kasih sayang mendarat di pipi mulus milik Khansa. Khansa yang sedang membelalakkan matanya pun membuat Alden kembali menyambunyikan kepalanya di ceruk leher Khansa.


Karena tak ingin membuat kakaknya kembali marah, mereka pun mengantarkan Sara kembali kekamarnya.


Sementara Asha dan Revan yang melihat Sara berjalan kembali ke kamaranya pun hanya saling melempar senyum tipis mereka. Mereka berdua kembali melanjutkan obrolannya bersama dengan orang tua Sherina, Zevan dan Fika.


Setelah mengantarkan Sara sampai didepan pintu kamar, mereka berempat pamit untuk kembali ke aula. Sara pun hanya menganggukkan kepalanya dan mulai memasuki kamar yang tadinya milik Khansa dan Aurora.


Sara duduk di pinggir ranjang sembari memikirkan apa yang sedang sang suami lakukan diluar sana berserta kedua mertuanya. Tak dapat Sara pungkiri, dia pun telah memiliki rasa walaupun hanya sekecil biji sawi saja kepada sang suami.


Sekarang hal sedang Sara pikirkan adalah, bagaimana jika sang suami hanya terpaksa menikahinya lalu menceraikannya setelah menikahinya? Sara yang pusing memikirkan hal itu pun hanya bisa meneteskan air matanya.


Dia hanya bisa menangis sambil menundukkan kepalanya. Sara menggelengkan kepalanya dan menghapus air matanya dengan kasar.


"Kamu harus kuat, Sar. Kalaupun dia menceraikanmu hari ini juga, tak mengapa. Bukankah lucu, bahwa Sara Arraselli seorang janda muda? Kau pasti bisa." Ucapnya sambil tersenyum untuk menyemangati dirinya sendiri.


Namun hal tersebut tak bertahan lama, dia kembali menangis ketika melihat wajah sang kakak. Dia akan membuat sang kakak malu dengan status barunya. Pertama adalah gadis yang gagal menikah, lalu diceraikan setelah akad.


Pada saat yang bersamaan, seorang laki-laki menarik kopernya memasuki kamar yang sama dengan Sara. Dia terkejut ketika melihat Sara yang masih menangis. Dia segera mengunci pintu kamarnya, lalu meletakkan kopernya disebelah koper Sara serta melepas luaran tuxedo nya. Tak lupa dia menggulung lengan kemejanya hingga siku.


Dia berjalan mendekati Sara dan berdiri tepat didepan Sara. Sara yang mengetahui bahwa itu suaminya pun masih tak berani menunjukan wajahnya. Lelaki tadi pun menekuk kedua lututnya didepan Sara lalu menggenggam tangan mungil milik istrinya.

__ADS_1


Dia membawa tangannya yang masih menggenggam tangan Sara ke pangkuan istrinya.


"Kenapa kau masih menangis? Berhentilah menangis, jika kau terlalu lama menangis bisa-bisa kau sakit kepala. Sekarang, berhentilah menangis." Ucap lelaki tersebut sambil mencoba melihat wajah sang istri.


"Ma... maafin Sara. Gara-gara Sara, Kak Mahen terpaksa menikahi Sara. Pasti orang tua Kak Mahen marah bukan? Kak Mahen bisa ceraikan Sara jika orang tua Kakak tidak setuju. Sara sudah berterima kasih karena Kak Mahen menyelamatkan Sara." Ucap Sara sesenggukan yang membuat Mahen membelalakan matanya.


"Hei, apa yang kau katakan? Jangan pernah sekali lagi kata laknat tersebut keluar dari bibirmu. Siapa yang akan menceraikanmu, hm?"Ucap Akasa sambil menghapus air mata istrinya.


"Ya Kak Mahen, Sara tahu kalau Kakak hanya berniat membantu Sara tak lebih. Jadi Sara akan terima apapun keputusan Kak Mahen. Bukankah Kak Mahen memiliki hubungan dengan Kinan? Sara nggak mau lagi dan lagi menjadi penghalang untuk orang lain." Ucap Sara sambil tersenyum manis lalu mencoba melepaskan genggaman tangan dari Akasa.


Akasa pun berdiri dan menarik agar Sara ikut berdiri.


"Apakah kau mendengar ketika aku menjawab ijab dari penghulu tadi?" Ucap Mahen sambil mengelus pipi milik Sara. Sara hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap Akasa dengan tatapan sayu nya.


"Itu artinya, aku telah berjanji kepada Allah agar selalu berada di sisimu dalam keadaan apapun itu. Mau susah, senang, suka, atau duka. Apakah kau berniat menikah lagi setelah ini?" Ucap Akasa yang lagi-lagi membuat Sara menggelengkan kepalanya.


"Lalu mengapa kau berkata seperti itu? Aku pun tak akan pernah menikah untuk kedua kalianya. Aku hanya memiliki satu istri, satu saja. Aku tak akan pernah melakukan hal tak terpuji itu kepada istriku ini." Ucapan Akasa barusan membuat hati Sara bedegup dengan kencang. Apalagi pelukan hangat yang Akasa berikan padanya. Sara hanya perlu memejamkan matanya dan berdo'a agar Akasa menepati ucapannya.


"Apakah kau tahu satu hal? Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kau merepotkan aku. Dan jika kau mengatakan bahwa aku mencintai Kinanthi, maka kau salah besar. Dia adalah keponakan Umi." Ucap Akasa yang membuat Sara terkejut dua kali.


"Kak Mahen suka sama Sara? Terus Kinan sepupu Kakak?" Ucapnya tercengang yang membuat Akasa terkekeh. Dia pun menganggukkan kepalanya lalu megecup pipi yang selama ini ingin dia sentuh.


"Iya, sayangku. Udah ah, aku mau mandi dulu. Kamu mau mandi juga?" Ucap Mahen sambil mengeratkan pelukannya kepada Sara. Sara hanya menggelengkan kepalanya perlahan lalu menangkup rahang tegas milik sang suami dengan kedua tangannya.


"Sara udah mandi, tadi pagi. Lagian Sara mau tidur siang aja, kepalanya sakit." Ucap Sara yang membuat Akasa mencium kepala milik Sara.


"Yaudah aku mandi dulu ya? Kamu bisa tidur duluan, nanti aku nyusul." Ucap Akasa yang membuat Sara terkekeh geli.


"Kalau mau mandi ya jangan dipeluk terus Sara nya." Ucap Sara sambil memukul lengan berotot milik Akasa.


"Siapa tau istri kecilku ini mau mandi bersama." Ucap Akasa ngelantur yang membuat Sara memukul dada bidang milik Akasa.

__ADS_1


__ADS_2