SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 68


__ADS_3

Suara alarm membangunkan Revan dari tidurnya. Dengan sekali uluran tangan, alarm tersebut sudah berada ditangannya. Dilihatnya alaram tersebut dan seketika mata Revan melotot.


"Astagfirullah, kenapa bisa kesiangan!" Ucap Revan dengan cepat langsung bagun dari posisi tidurnya dan berjalan masuk ke kamar mandi.


Ya, memang Revan tidur lagi setelah sholat subuh. Revan berpikir akan bangun pagi karena dia sudah terbiasa, namun karena kelelahan atas kejadian kemarin membuat Revan bangun sedikit siang.


Dengan sesegera mungkin Revan mandi dan berganti pakaian. Revan pun mengambil pakaiannya acak dan mencari sepatu putihnya. Lalu Revan berjalan keluar rumah dengan memakai jaket denimnya. Tak lupa dia juga membawa Hp kerja nya, siapa tahu dia bisa menghubungi seseorang jika dibutuhkan.


Revan pun memakai helm full face nya dan naik keatas motornya. Revan hendak melajukan motornya namun dieinya merasakan sesuatu yang berbeda. Revan pun menundukkan kepalanya dan tujuan pertama yang ingin dia lihat adalah ban sepeda motornya.


Benar saja, ban sepeda motornya sudah kempes. Dengan perasaan yang sudah kesal, Revan pun turun dari motornya dan berjalan menuju mobilnya. Mata Revan terbelalak ketika melihat ban mobilnya juga kempes. Revan mencurigai ada seseorang yang memang sengaja mengempeskan ban nya.


Tak mau lebih terlambat, Revan pun memsan ojek online. Setelah beberapa menit, ojek pesanan Revan pun sudah datang. Revan pun segara menaiki motor sang ojek dan meminta sang ojek untuk melajukan motornya dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit. Dalam perjalanan pun tak henti-hentinya Revan merutuki kebodohannya.


Beberapa menit telah berlalu, Revan pun telah tiba di rumah sakit. Dengan langkah yang terburu-buru, Revan berjalan menuju ruang rawat milik Sara. Revan berjalan dengan perlahan ketika sampai didepan ruang rawat milik Sara. Revan mengernyit heran ketika tak mendengar suara seseorangpun di dalam ruangan tersebut.


Revan memutar knop pintu dikamar tersebut dan melongokkan kepalanya mengintip keadaan didalam. Dan benar saja, tak ada seorang pun yang berada di dalam. Perasaan Revan sudah bercampur aduk.


Revan mengingat apa yang dituliskan mamanya dalam pesan kemarin. Revan percaya dengan apa pun yang sang mama katakan. Revan teringat untuk mengirimkan pesan kepada sang Mama dengan nomornya yang berbeda. Baru saja dia akan mengirimkan pesan kepada sang Mama, ternyata Ella sudah mengirimkan pesan untuknya.


Revan mengernyit bingung, darimana sang Mama mendapatkan nomornya? Batin Revan. Dengan perasaan yang sedikit bingung, Revan membuka pesan tersebut dan membacanya dengan senang hati.


Seketika senyum yang tadi sempat hadir di wajah tampannya menghilang setelah membaca pesan sang mama.

__ADS_1


Karena kau datang terlambat, yang tadinya Mama memikirkan untuk menyelesaikan masalah Abang dengan Asha Mama tiadakan. Mama sudah tinggalkan surat dari Pengadilan Agama di brankar milik Sara. Mama dan yang lain pulang terlebih dahulu karena sedang mempersiapkan kepindahan Asha.


Jangan pulang dulu sebelum membaca apa isi surat itu ya, Bang? Jika itu sampai terjadi maka Mama benar-benar akan memisakhan Abang dan Asha selamanya! Setelah kau menanda tangani surat tersebut, kau bisa dengan bebas mendekati wanita manapun. Cepat baca dan tanda tangani.


Revan yang baru saja selesai membaca pesan dari sang Mama pun seketika hendak melemparkan Hp nya lagi. Namun bagaimana caranya berkomunikasi dengan sang mama jika Hp nya sudah rusak. Revan pun mengacak rambutnya asal-asalan dan menatap keseluruh ruangan.


Revan yang menatap sang adik yang masih setia tertidur tak sadarkan diri. Revan berjalan mendekati Sara dan duduk di sebelah brankar Sara. Sebelum duduk dia mencium puncak kepala milik Sara.


"Assalamu'alaikum, Sar. Gimana keadaannya? Udah mendingan belum lukanya? Kamu sih, udah Abang bilangin biar jangan ikut kan? Kenapa masih ngeyel? Sekarang kamu cuma tiduran kan? Cepet bangun ya, Sar. Kita semua kangen sama Sara." Ucap Revan sambil mengelus dahi milik Sara.


Mata Revan berpindah menatap dua buah amplop cokelat yang berada disebelah kanan brankar Sara. Dengan hati-hati, Revan mengambil surat tersebut. Revan membaca dua buah surat yang berbeda. Satu surat berlogo Pengadilan Agama dan yang satu polos betuliskan nama 'Asha'.


Revan pun menatap nanar kedua surat tersebut dan beralih menatap Sara.


Mengapa kau tak mencegah Teh Asha melakukan semua ini, Sar? Apakah kau tak bahagia mendapatkan seorang Abang seperti Bang Revan? Padahal Abang sangat bahagia memiliki adik perempuan sebaik dirimu. Kamu tau kan, Sar? Abang sayang sama Teh Asha. Abang nggak mau pisah sama Teh Asha." Ucap Revan sambil menundukkan kepalanya menahan tangisnya.


Abang apa kabar? Kenapa bisa telat datengnya? Abang nggak ada niatan buat baikan sama Asha? Hmm ternyata Asha salah, Asha kira Abang bakal datang buat jelasin masalah semalam. Tapi apa? Abang dengan santainya datang terlambat dan menganggap enteng perkataan Mama.


Baiklah, Asha anggap Abang rela buat lepasin Asha. Asha harap Abang bisa dapatin perempuan yang lebih baik daripada Asha. Asha akan pergi dari kehidupan Abang biar Asha nggak jadi beban buat Abang.


Satu pesan Asha untuk Abang. Ingat selalu ya. Kalau suatu saat nanti Asha udah inget sama Abang, Asha akan tetep sayang sama Abang. Asha minta sama Abang buat baca amplop cokelat itu dengan ikhlas ya. Asha sayang Abang.


Dariku, Asha.

__ADS_1


Revan membaca surat dari Asha sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak bermaksud untuk datang terlambat. Dia berusaha datang walaupun terlambat, berharap agar bisa menyelesaikan kesalah pahaman ini. Namun semua itu sudah terlambat.


Revan hanya mengusap matanya yang sudah dibanjiri air mata dan membuka amplop coklat berlogo Pengadilan Agama itu. Dengan hati yang bergetar, dikeluarkan kertas putih yang berada di dalam amplop itu. Dibukalah tekukan kertas tersebut sehingga menampakan sebuah tulisan yang membuat Revan membelalakkan matanya.


"HAPPY BIRTHDAY SUAMIKU!"


Begitulah tulisan berukuran sedang yang tercetak di kertas berukuran folio tersebut. Revan yang mengetahui hal tersebut pun menangis semakin deras. Revan membalikkan badannya dan terkaget karena melihat semua keluarganya berada di ruangan tersebut.


Revan masih menangis sambil tersenyum, matanya masih mencari dimana sang istri berada. Tak lama dia mencari, Asha datang membelah kerumunan orang yang ada di ruangan tersebut dengan dua kue yang di letakkan sebelahan.


Revan tersenyum lebar dan berjalan ke arah Asha. Asha yang melihat hal tersebut pun memberikan kue tart tersebut kepada Ethan untuk dibawakan. Setelahnya, Asha merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan sang suami.


"Kenapa Asha jahat sama Abang?" Ucap Revan sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Asha hanya terkekeh pelan sambil mengelus punggung sang suami.


"Ya karena Abang mau ulang tahun. Awalnya nggak pengen punya planning kayak gini Bang, tapi Asha baru inget kalau Abang mau ulang tahun." Ucap Asha sambil melepaskan pelukannya dari sang suami, namun Revan malah mengeratkan pelukannya.


"Asha bilang apa di surat itu? Coba bilang lagi ke Abang. Sekarang!" Ucap Revan sambil menundukkan kepalanya. Asha pun hanya tersenyum manis sambil mendongakkan kepalanya menatap sang suami.


"Yang mana sih, Bang? Asha lupa." Ucap Asha pura-pura lupa. Revan pun semakin mengeratkan pelukannya kepada sang istri.


"Ngomong sekarang atau?" Ucap Revan menggantung yang membuat Asha nelanjutkan perkatanannya.


"Asha sayang sama Abang. Abang puas?" Ucap Asha dengan nada lucunya yang membuat Revan menciumi seluruh wajah milik Asha. Mulai dari puncak kepala, dahi, kedua mata Asha, pipi, hidung, serta bibir Asha.

__ADS_1


Cupp...


Ciuman singkat yang Revan berikan di bibir Asha membuat Asha dan semua orang terkaget.


__ADS_2