
Asha masih setia memukul dada suaminya dengan tenaga kecil pun berhenti karena mendengar suara suaminya yang merasakan sakit.
"Aduh Sha, sakit." Ucap Revan sambil mengenggam tangan mungil istri nya itu. Asha yang mendengar perkataan dari suaminya pun langsung bertanya dengan nada khawatir.
"Eh Asha minta maaf Bang, bagian mana yang sakit?" Ucap Asha sambil menatap netra milik suaminya. Revan hanya tersenyum dan tak lama setelah itu dirinya tertawa terbahak-bahak.
"Abang bercanda, Sha. Mana mungkin tangan mungil gini nyakitin Abang. Orang tangannya kayak tangan bayi gini." Ucap Revan masih dengan tawanya yang membuat Asha seketika cemberut.
"Abang ih... Asha udah khawatir juga. Abang ma gitu." Ucap Asha sambil memeluk suami nya. Asha menenggelamkan mukanya yang memanas di dada telanjang milik suaminya karena tingkah Revan. Revan pun memeluk istrinya erat.
Hampir 3 menit Asha tak bergerak dari pelukannya. Asha menemukan tempat menyandar setelah sekian lama berdiri sendiri demi ayah dan adik-adiknya.
"Ini Abang nya disuruh berangkat kerja nggak? Kalo ibu negara nya masih meluk bapak negaranya gini." Tanya Revan sambil menundukkan pandangannya menatap Asha. Asha yang mendengar perkataan Revan pun mendongakkan kepalanya.
"Ibu negara?" Ucap Asha sambil menatap netra suaminya. Revan pun menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pendangannya dari sang istri.
"Kalau Asha nggak bisa jadi Ibu gimana, Bang? Abang mau ninggalin Asha?" Tanya Asha tiba-tiba yang membuat Revan mengerutkan dahinya.
"Siapa yang bilang? Semua orang bisa jadi Ibu, dan Asha bisa jadi Ibu buat anak-anak kita nanti." Ucap Revan menjawab pertanyaan dari Asha. Asha pun entah mengapa merasakan hal yang tak mengenakkan dihati nya.
__ADS_1
"Iya Asha tau itu, tapi kalau misalkan Asha nggak bisa kasih Abang keturunan atau Asha pergi ninggalin Abang selama-lamanya duluan, Abang mau ninggalin Asha?" Tanya Asha dengan mata yang sedikit memanas. Revan yang mendengar perkataan dari Asha pun tersenyum.
"Abang nggak bakal ninggalin Asha. Asha pegang janji Abang ya, Abang nggak bakal dan nggak akan pernah ninggalin Asha. Mau seperti apa pun keadaan Asha, Abang akan tetap berada disisi Asha. Karena Abang tulus sayang sama Asha. Abang nggak mau kehilangan Asha." Ucap Revan tulus sambil mendekap istrinya lagi.
"Asha percaya sama janji Abang. Tapi Asha takut kalau Asha nggak bisa kasih keturunan ke Abang, kasian Abang nya. Tapi kalau Abang mau ninggalin Asha, Asha terima kok. Asalkan Abang bahagia, Asha juga bahagia. Tapi sebelum cari gantinya Asha, Asha sendiri yang bakal cari calon nya. Boleh kan Bang?" Tanya Asha sambil mendongakkan kepalanya.
Revan pun merasakan bahwa air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Revan merasakan hatinya sangat teriris ketika mendengarkan perkataan Asha. Bahwa jika dia akan menikah lagi, Asha lah yang akan mencarikan calon untuknya. Revan yang laki-laki saja merasakan sesak didada nya, lalu bagaimana dengan Asha yang mengatakannya.
"Kamu ngomong apa sih, Sha. Nggak ada yang bakal nikah lagi atau ninggalin satu sama lain. Meskipun kita nggak bisa memiliki keturunan, masih ada banyak cara lain. Abang nggak mau mendengar lagi kamu ngomong gitu ya, Sha. Abang sayang sama Asha." Ucap Revan sambil menitikkan air matanya.
Asha pun menangis dipelukan Revan, entah lah dirinya tiba-tiba memiliki pemikiran seperti itu. Asha sangatlah mencintai suaminya, Asha takut tak bisa memberikan keturunan kepada Revan dan Revan akan meninggalkannya.
Namun Asha salah, tak ada pikiran sedikitpun di benak Revan untuk meninggalkan Asha. Apa pun alasan dan masalahnya.
Asha pun mengangguk dan beranjak dari pangkuan suaminya itu. Asha menghapus air matanya dan tersenyum.
"Abang mandi sekarang ya. Asha bersihin dulu kasurnya. Habis itu kita sarapan sama-sama." Ucap Asha sambil menatap penuh cinta ke sang suami. Revan pun berdiri dari duduknya dan berdiri dihadapan istrinya.
"Siap Asha ku tersayang. Abang mandi dulu ya. Jangan kangen." Ucap Revan srtelah mencium puncak kepala Asha dan berlalu menunju kamar mandi. Langkah Revan terhenti karena suara milik Asha.
__ADS_1
"Nah kan, lupa lagi handuknya. Gimana coba kalo udah didalem terus lupa nggak bawa handuk. Jangan dibiasain ya suamiku sayang." Ucap Asha sambil meyodorkan handuk kepada Revan dan mengelus pipi milik Revan. Revan hanya tersenyum manis dan masuk kedalam kamar mandi.
Asha pun membereskan kamar miliknya dan membuka jendela besar dikamarnya yang langsung menhadap ke arah kolam ikan dan taman samping rumahnya. Setelah 15 menit berlalu, Revan keluar dari kamar mandi dan mengambil seragamnya lalu kembali lagi masuk ke kamar mandi.
Revan yang sudah selesai mengganti pakaiannya pun berjalan menuju lemari tempat menyimpan keperluan nya. Revan pun mengambil name tag nya dan memasang didepan cermin. Namun Revan yang kesulitan pun masih berusaha mencobanya.
Asha yang melihat sang suami kesulitan memakai name tag nya pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati suaminya.
"Maaf Pak, lupa kalo dah punya istri ya? Kenapa nggak dipanggil aja istrinya biar bantuin?" Ucap Asha sambil mengambil alih name tag milik suaminya. Revan hanya tersenyum miring dan menatap lucu kearah Asha.
"Bapak nya nggak mau ngerepotin Ibu nya, Bu. Saya nggak mau ngerepotin istri kesayangan saya. Lah Ibu nya sendiri kok malah bantuin saya? Kenapa nggak bantuin suaminya aja?" Tanya Revan mengikuti candaan dari Asha.
"Oh itu, Pak. Suami saya nggak mau ngerepotin saya. Biasa lah, udah terlalu mandiri soalnya. Yaudah lah Pak, kan enak saya tinggal bantu bapaknya. Suami saya tak buang aja besok kelaut. Biar ngerepotin dugong. Kan lumayan, dugongnya jadi punya kerjaan." Ucap Asha sambil tertawa renyah dan menaeik tangannya karena sudah selesai memasangkan name tag suaminya.
Revan hanya ikut tertawa atas perkataan istrinya, lalu dia mengacak asal rambut Asha yang dicepol asal itu.
Setelah benar benar selesai, Revan pun berjalan menuju ruang makannya bersama dengan Asha. Asha menyiapkan sarapan untuk sang suami. Revan hanya menatap sang istri tak berkedip.
Asha pun memberikan piring milik Revan dan hendak mengambil piring untuk makannya. Namun Revan menghentikan kegiatan Asha dan meminta agar makan satu piring dengannya. Dengan tersenyum, Asha pun menuruti perkataan Revan dan berpindah tempat duduk disebelah suaminya itu.
__ADS_1
Saat sedang menyuapi sang suami dan hendak menyuapkan nasi ke mulutnya, Hp Asha berdering. Asha pun menghentikan sementara sarapannya dan melihat siapa yang meneleponnya pagi-pagi.
Asha bingung karena yang meneleponnya adalah Sara. Dengan segera, Asha mengangkatnya dan bertanya apa yang Sara butuhkan. Mata Sara tiba-tiba melotot setelah mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya.