SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 65


__ADS_3

Asha merasakan nyeri yang begitu sakit di kedua kakinya. Revan pun berjalan cepat dan langsung menahan tubuh sang istri. Revan memlihat banyak memar di hampir seluruh kaki istrinya.


Mungkin saja itu karena Asha hendak melarikan diri dan tertangkap oleh Bella dan Silla. Pikir Revan.


Revan menggendong tubuh mungil istrinya dan diletakan olehnya di brankar nya kembali.


"Asha mau kemana?" Tanya Revan sambil menundukkan kepalanya sehingga sejajar dengan kepala sang istri. Asha pun hanya menatap dalam mata milik Revan. Entahlah hal tersebut hanya sebuah tatapan saja atau ada hal yang lain.


Asha tersadar ketika Aurora memegang pundaknya.


"Teh, Bang Revan nya tanya. Teteh mau kemana?" Ucap Aurora mengulangi pertanyaan dari Revan. Asha yang terkaget pun hanya menggelengkan kepalanya dan mengatakan hal yang ingin dia lakukan.


"Teh Asha mau jenguk Mbak Sara. Aurora bisa antar Teh Asha kesana?" Tanya Asha kepada sang adik. Aurora pun hanya menatap Revan meminta persetujuan dan diangguki oleh Revan. Aurora berjalan menuju kursi roda yang masih belum memiliki fungsi di ruangan tersebut.


Setelah kursi roda tersebut berada disamping brankar milik Asha, Revan pun mengangkat tubuh sang istri dan diletakan di kursi roda tersebut. Setelah duduk dengan sempurna, Revan pun mendorong kursi roda tersebut ke luar ruangan.


Revan berjalan diikuti oleh Aurora, Alden, dan Nathan dibelakangnya. Mereka bertiga t rus berjalan menuju ruang vip di rumah sakit tersebut. Sesampainya mereka di deoan ruangan Sara, Nathan pun membukakan pintu untuk mereka masuk.


Ella, Rendi, dan Khansa pun menoleh ke arah pintu dan terkaget melihat Asha dan yang lain datang ke ruangan Sara. Ella pun berjalan mendekati Asha dan berjongkok di depannya.


"Teh Asha kenapa sampai sini? Asha harus istirahat dulu biar cepat sembuh." Ucap Ella sambil mengelus tangan Asha. Asha hanya menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa dirinya akan menemui Sara.


"Asha mau jenguk Sara. Kasian Sara nya, Sara bisa koma karena Asha bukan? Seharusnya Asha yang berada di posisi tersebut, bukan Sara." Ucap Asha sambil menatap adiknya sendu. Ella pun menggelengkan kepalanya.


"Ini bukan salah Asha. Semua ini terjadi begitu cepat. Sara ingin menyelamatkan kakak yang sangat dia sayangi. Sara yang sedang sakit pun masih bersikeras untuk membawa kakaknya pulang dengan selamat. Namun Allah berkata lain." Ucap Ella sambil menundukkan kepalanya diakhir kalimatnya.

__ADS_1


"Ya, Allah membuat adik kesayangan Asha terbaring tak sadarkan diri di ruangan ini. Bisakah Anda membawa Saya mendekat ke adik saya?" Punta Asha sambil menggenggam tangan Ella. Ella pun mendongak dan menganggukkan kepalanya.


Ella mengambil alih dorongan kursi roda Asha dari Revan dan membawanya mendekat ke brankar Sara. Dengan perlahan tangan Asha pun terangkat menyentuh kaki sang adik ketika sampai di brankar adiknya.


"Kenapa Sara tidurnya miring? Bukan terlentang?" Tanya Asha kepada semua orang. Revan oun berjalan mendekati Asha dan mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Ketika Sara menyelamatkan Asha, Sara tertusuk punggung nya." Ucap Revan yang membuat Asha terkejut. Asha yang melihat kaki sang adik diperban pun juga bertanya.


"Ini kenapa kakinya juga diperban?" Tanya Asha lirih sambil mengelus telapak kaki sebelah kanan milik Sara. Matanya memanas dan dapat dirasakan, air matanya sudah mengumpul dipelupuk matanya. Kali ini bukan Revan yang menjawab, tapi Ella.


"Kaki Sara juga terkena pecahan kaca ketika mencari Asha." Jawab Ella yang sukses membuat Asha menangis. Asha hanya menundukkan kepala nya dan menangis dalam diam nya.


"Apakah kau sangat menyayangi kakak mu ini, Sar? Apakah demi mencari kakak mu ini kau rela mempertaruhkan nyawa mu? Bangun ya, Sar. Teteh dan yang lain nunggu kamu." Ucap Asha sambil menatap wajah pucat milik Sara yang masih terpejam.


Semua orang pun berdiri dengan tegang, mereka juga takut terjadi sesuatu kepada Sara. Tak lama setelah itu, Seorang dokter dan perawat pun memasuki ruang rawat Sara.


Sang dokter pun meminta agar semua orang keluar dari ruangan Sara. Dengan cepat mereka pun segera keluar dari ruangan Sara. Dengan harap-harap cemas, semua orang hanya berdiri dengan tegang dan saling berpandangan.


Mereka masih tetap dengan posisi tersebut sampai seorang dokter dan perawat yang tadi masuk ke ruangan cara keluar dari ruangan tersebut. Sang dokter pun tersenyum cerah dan berjalan mendekati Ella dan Rendi.


"Kalian tidak perlu cemas Pak, Bu. Karena tadi merupakan sebuah awal yang baik untuk Nona Sara. Bagaimana bisa? Ya karena dengan kalian mengajaknya berbicara tadi bisa saja Nona Sara ingin memberikan respon. Detak jantung nya juga sudah berangsur lebih baik." Ucap Sang dokter yang membuat semua orang bernafas lega.


Sang dokter dan perawat tersebut pun pergi dari tempat itu untuk kembali beraktivitas. Rendi dan Ella pun berbicara didepan anak-anak nya.


"Abang pulang dulu, ya? Abang istrirahat dulu, kan Abang juga nggak berhenti kerja dari pagi. Ini udah mau maghrib juga. Nggak baik kalau pulang malam-malam." Ucap Ella memberitahu kepada sang anak. Revan pun menatap sang Papa, seolah-olah meminta perlindungan kepada Papanya agar tak pulang terlebih dahulu.

__ADS_1


Ya, bagaimana dia bisa pulang jika istrinya masih berada di rumah sakit. Rendi yang tahu arti dari kata tatapan anaknya pun bukannya memberikan perlindungan malah menyetujui apa yang dikatakan sang istri.


"Pulanglah, Bang. Rumahmu sudah Ayah bersihkan. Jadi kalau kau kembali ke rumahmu dan beristirahatlah. Kembali lah besok jika kau ingin menjenguk adik-adikmu." Ucapkan Rendi yang membuat Revan menghembuskan nafasnya kasar.


Revan pun menatap Asha, berharap agar Asha mengingatnya dan mau pulang bersamanya. Namun apa? Asha hanya menatapnya bingung dan segera menundukkan pandangannya.


Akhirnya Revan pun berpamitan kepada kedua orangtuanya dan berjalan meninggalkan orang. Ya, Revan memang merasakan badannya sangat letih. Dia juga membutuhkan istirahat untuk tetap bekerja besok.


Sepeninggalan Revan dari ruangan Sara, semua orang pun saling bertatapan dan segera melepaskan tawa yang sedari tadi mereka tahan. Entah apa yang sednag mereka tertawakan.


Sedangkan Revan dia pun menaiki mobil kantornya dan melajukan mobil tersebut pulang kerumah sederhana miliknya dan juga sang istri. Ditengah-tengah perjalanan, Revan pun mengernyit heran karena tiba-tiba bahan bakar mobil tersebut habis.


Dengan perasaan yang kesal Revan pun turun dari mobilnya dan mencari tempat yang menjual bahan bakar untuk mobilnya. Revan harus berjalan sedikit jauh untuk menemukan pedagang kelontong yang juga menjual bahan bakar tersebut.


Revan pun membeli bebrapa botol dan membawanya kembali ke mobil. Satu persatu botol bahan bakar tersebut setelah kosong tak berisi. Lantas Revan pun membuang botol bekas dari bahan bakar tersebut dan memasuki mobilnya.


Dengan badan yang sudah lelah dan letih, Revan melajukan mobilnya kembali ke rumah dengan hati-hati. Melewati perjalanan cukup melelahkan, Revan pun memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya dan menguncinya dari luar.


Pikiran Revan kembali ke rumah sakit, temoat dimana sang istri berada. Yang seharusnya hari ini adalah hari pertama dimana Revan merasakan sambutan hangat dari sang istri ketika dirinya pulang kerja. Dengan menghembuskan nafasnya perlahan, Revan pun mulai memutar kuncinya dan membuka pintu.


Setelah pintu terbuka, Revan sudah melihat bahwa rumahnya telah bersih. Tak seperti ketika dia meninggalkan rumah tadi pagi. Revan pun berjalan ke kursi ruang tamu dan merebahkan badannya yang sangat pegal.


Revan memejamkan matanya dan perlahan-lahan ia merasakan ketenangan, sampai tiba-tiba matanya terbelalak lebar ketika mendengar suara yang berasal dari dapurnya. Dengan langkah cepat Revan pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dapur.


Setelah sampai di dapur, betapa terkejutnya Revan melihat hal tersebut. Saking terkejutnya, Revan pun sampai memelototkan matanya dan mulutnya yang sudah terbuka.

__ADS_1


__ADS_2