SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 89


__ADS_3

Hari hari telah berlalu, dua belas hari telah pergi meninggalkan dua hari lagi menuju acara sakral untuk Sara dan Ethan.


Sara, calon mempelai perempuannya pun belum bisa kembali ke Jakarta. Padahal dua hari kemudian, dia akan melepas masa gadisnya. Namun apa mau dibuat, cafe yang Sara bangun dari jerih payahnya sendiri sedang mengalami musibah.


Jadi mau tak mau, dia akan pulang ke Jakarta setelah semua selesai. Dan ya, bahkan H-2 pun masalahnya belum selesai. Entahlah apakah ini murni masalah atau kesengajaan Sara.


Kali ini, bukan Sara yang menjadi penyebab utama semua orang pergi ke bandara. Melainkan kedatangan seseorang yang selama ini Khansa rindukan. Bagaimana tidak? Sudah empat tahun Alden pergi menimba ilmu ke Britania Raya. Tak pernah sekalipun mereka berkirim pesan atau apapun itu.


Mereka semua menunggu kedatangan Alden semenjak 30 menit yang lalu. Kenzo yang melihat sang Paman telah tiba pun segera berteriak yang membuat semua orang berdiri dari duduknya.


"Om Alden!" Pekik Kenzo lalu berlari menuju Alden. Alden yang melihat sang keponakan berlari kearahnya pun segera merentangkan tangannya dan berjalan cepat mendekati Kenzo. Meskipun sang ponakan telah berusia tiga tahun, namun ketakutan akan Kenzo jatuh masih berada dibenaknya.


"Kenjo kangen sama Om Alden." Ucap Kenzo manja setelah berada di dada bidang milik Alden. Alden memejamkan matanya dan melepaskan rindunya kepada bocah kecil yang hanya beberapa bertemu beberapa kali.


Alden memang jarang memegang ponsel selama kuliah disana. Dia sedang memfokuskan dirinya agar segera lulus dan kembali ke rumahnya lalu segera mewujudkan impian terbesarnya.


Alden pun segera berjalan menuju keluarganya yang berjalan mendekatinya lalu memeluknya satu-persatu. Tak ada keluarganya yang terlewat dari pelukannya kecuali, satu orang.


"Khansa mana, Ma?" Tanya Alden sambil memberikan Kenzo ke kakak iparnya. Ella pun menatap Asha dan tersenyum satu sama lain.


"Khansa nggak ikut, Den. Dia lagi sibuk." Ucap Asha sambil mengeratkan gendongannya kepada Kenzo. Terlihat raut kecewa dari wajah Alden. Entahlah, salah satu penyebab agar dirinya ingin segera selesai kuliah adalah Khansa. Namun ketika dia pulang, Khansa tak ikut menjemputnya. Alden ingin marah pun dia tak tahu harus marah kepada siapa.


Semua orang menahan tawanya melihat raut wajah dari Alden. Tak ingin membuat Alden sedih, Ella pun menggeserkan tubuhnya menjauhi Asha sehingga memperlihatkan gadis bergamis putih yang sedang menundukkan pandangannya menatap lantai bandara.


Seketika wajah Alden nampak berseri. Dia berjalan mendekati wanita yang selama ini menjadi pemacu semangatnya.


Sementara Khansa, dia merasa sangat grogi karena sebentar lagi seseorang yang selalu dia sebut namanya dalam setiap do'anya telah kembali.


Dia masih menatap sepatu ketsnya yang sangat kontras dengan lantai bandara, sampai dia terkejut karena melihat sepasang sepatu kets dengan warna yang sama berada di dalam pandangannya.

__ADS_1


"Sa."


Deg!


Suara yang selama ini Khansa rindukan. Ada rasa bahagia yang sangat membuncah di dadanya yang membuat air matanya lolos dari pelupuknya. Nafas Khansa pun masih tercekat di dada, sampai suara tersebut kembali menyapa pendengarannya.


"Kamu apa kabar, Sa?" Dan ya, lagi-lagi perkataan Alden membuat jantungnya berdegub dengan kencang. Sontak dia pun mendongakkan kepalanya menatap laki-laki yang sangat dia rindukan.


"Kak Alden?" Ucap Khansa lirih sambil menatap netra teduh milik Alden. Dapat Khansa perubahan yang sangat besar di diri Alden. Mulai dari penampilannya, gaya bahasa, serta tatapan teduhnya.


"Kenapa nangis, hm?" Ucap Alden dengan mata yang sedikit memanas. Dia tak tahu, mengapa dirinya sangat ingin memeluk wanita yang berada didepannya itu.


Grep!


Karena tak ingin membuang waktunya, Alden pun memeluk erat Khansa dan mencium puncak kepala milik Khansa. Tak dapat dia pungkiri, dia sangat merindukan wanita yang berada di pelukannya sekarang. Tak ada yang berubah dari rasa cintanya kepada Khansa. Semakin hari, semakin besar pula rasa cintanya kepada Khansa.


Tangis Khansa pun pecah ketika berada di pelukan Alden. Dia tak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia sangat merindukan lelaki ini. Dia menangis tersedu-sedu di dada bidang milik Alden. Tak jarang dia pun memukul dada milik Alden.


Sementara Khansa, dia memejamkan matanya meresapi perlakuan dari Alden. Air matanya kembali lolos, ketika Alden mencium dahinya sedikit lama. Alden kembali memeluk tubuh mungil milik Khansa.


"Kak Alden sengaja nggak kasih kabar ke kamu biar kamu rindu. Jadi kan enak kalo rindu gini. Dan bener kan Kak Alden bisa cepet lulusnya karena nggak tiap hari mikirin kamu. Makin cepet pulangnya, makin cepet ilang rindunya." Ucap Alden dengan pelukan eratnya kepada Khansa. Dia menenggelamkan kepalanya diceruk leher milik Khansa. Air mata yang sedari tadi dia tahan pun mulai menetes.


"Mari mari, pamit dulu Kak." Ucap Nathan absurd sambil menjepit kepala Aurora di ketiaknya. Aurora yang handak menatap scene erotis itu dihalangi oleh Nathan. Nathan bilang 'Lo masih kecil Ra.'


"Mari Mas, Mbak." Ucap Ella dan Rendi yang berjalan sambil mendorong koper milik Alden. Disusul oleh Ethan yang tersenyum senang menatap kedua adiknya.


"Jangan lama-lama meluknya, eh nggak papa Den. Nggak ada Sara soalnya." Ucap Revan sambil menepuk bahu milik Alden. Alden yang mesih mengelus punggung Khansa yang masih bergetar pun hanya menatap sang kakak.


"Mari Pak, Bu." Ucap Asha disertai cekikikan kecilnya.

__ADS_1


"Mali Pak, Bu." Ikut si kecil Kenzo yang membuat Khansa mendongakkan kepala menatap keponakan tersayangnya. Revan dan Asha pun berjalan meninggalkan Khansa dan Alden. Namun Kenzo yang melihat sang tante menangis pun meminta agar sang Mama menurunkannya dan berlari kembali ke Alden dan Khansa.


"Ini Te Anca kenapa nangis, Om? Om ngapain Te Anca, hayo?" Ucap Kanzo ketika Alden sedikit membungkukkan badannya untuk menggendongnya.


"Te Ancanya kangan sama Om. Makanya nangis." Ucap Alden sambil menatap netra kecil milik Kenzo. Mereka bertiga pun mulai berjalan mengikuti rombongan keluarganya yang sudah berjalan pergi. Alden masih menggendong Kenzo dengan satu tangannya, sedangkan satu tangannya lagi menggenggam erat tangan kecil milik Khansa.


Mungkin bagi orang yang belum mengenal mereka, pastilah mereka mengira bahwa mereka keluarga kecil yang sangat harmonis.


...******************...


Dua hari pun telah berlalu. Hari ini adalah hari dimana Sara akan melepas masa gadisnya dan berganti status menjadi istri Ethan.


Pagi ini, Sara telah selesai di make up oleh MUA pilihan dari sang Kakak dan Mamanya. Tak terlihat raut bahagia dari wajah ayu nya. Dia masih syok dengan apa yang baru dia ketahui. Bagaimana tak terkejut, ketika tahu bahwa calon suaminya adalah perebut first kiss nya beberapa tahun yang lalu.


Padahal MC acaranya sudah memanggil dirinya berkali-kali, namun karena dia asyik melamun dia tak mendengar panggilannya. Dia tersadar katika Kenzo dan anak dari Zevan berjalan mendekatinya.


"Te Ala, udah dipanggil bebelapa kali. Ayo kita kelual. Kita beldua udah nunggu dali lama." Ucap Kenzo sambil memberikan tangan kanannya. Sara pun baru tersadar dan segera menggandeng Kenzo dan gadis kecil bergaun cantik tersebut.


Dia berjalan keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju aula gedung. Jantung Sara berpacu dengan cepat ketika melihat Ethan yang sidah duduk di depan penghulu serta banyak orang yang sedang menatapnya terkagum.


Hampir lima menit Sara berjalan mendekati Keluarganya yang tersenyum haru menatapnya. Setelah sampai di belakang penghulu, Sara pun melepaskan gandengan dua malaikat kecilnya lalu berjalan memutar lalu duduk di sebelah Ethan.


Sara tak menolehkan kepalanya menghadap Ethan atau sebagainya. Dia hanya menundukkan kepalanya sambil menggenggam erat gaunnya.


Terdengar Rendi yang meminta agar sang penghulu segera menikahkan kedua anaknya. Sara mendengar sang penghulu yang mulai membaca doa sambil menjabat tangan dari Ethan.


"Ananda Ethan Putra Laran, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Sara Arraselli binti Malik Arrasello dengan mas kawin cincin seberat lima gram dan seperangkat alat sholat dibayar, tunai." Ucap sang penghulu lalu menyerahkan mic nya kepada Ethan.


"Saya terima nikahnya Sara Arraselli binti Malik Arrasello dengan mas kawin tersebut, di-" Ucapan Ethan karena terdengar teriakan dari pintu aula tempat Sara dan Ethan mencucapkan janji suci.

__ADS_1


"STOP! BERHENTI!" Ucap orang tersebut yang membuat semua orang menatapnya.


Hayo, jangan lupa like and komen. Tinggal 4 bab lagi loh ini🤧.


__ADS_2