
Sara membuka pintu rumahnya dengan paksa dan membantingnya. Amora terkejut karena suara pintu yang menubruk tembok. Semua orang yang melihat sikap Sara pun menciba untuk menghentikannya dengan berteriak.
"Sara, hentikan Sar! Ibu sedang mengandung! Ada kehidupan baru yang berada di perut Ibu!" Ucap Asha sambil berlari mengejar Sara dan mencoba menghalangi langkah Sara. Tak menghiraukan rintihan kesakitan dari Amora dan jeritan dari sang kakak, Sara berjalan menuju gerbang.
Sara membuka gerbang miliknya dan melangkah keluar rumah sambil menyeret Amora. Taksi yang Sara pesan pun sudah terparkir rapi di depan gerbang. Dengan menarik tubuh Amora, Sara pun mendorong dengan sedikit kuat tubuh Amora masuk kedalam taksi.
Setelah Amora berhasil masuk kedalam taksi, Sara pun berputar untuk masuk ke dalam dengan pintu yang berbeda. Amora yang melihat Sara sedang berputar pun mencoba untuk membuka pintu taksi dan keluar dari taksi. Sara yang baru masuk dan melihat akan Amora keluar pun, mencekal bahu sebelah kanan milik Amora dan menariknya.
"Jangan harap Lo bisa lepas dari Gue!" Ucap Sara sambil membenarkan posisi Amora. Amora menatap takut kepada Sara yang sedang marah. Tangan kiri Sara terulur untuk menggenggam tangan sebelah kanan milik Amora kuat.
"Pak, pergi ke alamat yang saya kasih tadi ya. Berangkat sekarang!" Ucap Sara dengan nada datarnya dan menghadap lurus kedepan. Sang sopir hanya menganggukkan kepalanya dan mulai menjalankan taksinya.
Asha yang panik pun meminta agar semua orang mengikuti kemana taksi Sara melaju. Akhirnya mereka semua pun masuk dalam mobil Alphard milik Ella. Mereka berusaha agar tak kehilangan jejak dari Sara.
"Sara kemana kau akan membawaku! Jangan berbuat macam-macam kepada ku dan calon anakku, ya! Atau akan ku laporkan kau ke polisi!" Ucap Ella dengan nada yang sedikit ketakutan. Ella menggunakan bahasa yang berbeda ketika berada di rumah Asha.
Sara tak menjawab sama sekali perkataan dari Amora. Tangan kirinya masih setia mencengkeram pergelangan tangan Amora. Suasana di dalam taksi pun mendadak panas karena tatapan tajam dari Sara.
Amora yang tahu kemana mereka akan pergi pun mendadak kelimpungan sendiri.
"Mangapa kau mengajakku kemari hah?! Jangan lakukan hal yang bodoh Sara! Percaya lah bahwa ini adik kandungmu! Apa kau tak percaya padaku hah?!" Ucap Amora sambil berusaha melepaskan cengkeraman Sara.
"Nggak pernah sedikit pun Gue percaya sama Lo!" Jawab Sara sambil menatap intens mata Amora. Ya, Amora takut jika Bram tahu dia hamil maka Bram akan mengekang nya. Jadi dirinya tak dapat berbohong lagi untuk mendapatkan perusahaan milik Asha.
__ADS_1
Mereka semua sudah sampai di depan loby apartemen. Sara keluar dari taksi sambil meninggalkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Ella dan yang lain pun ikut turun dan berjalan cepat menuju Sara. Sara yang melihat semua orang berjalan mendekatinya pun mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar semua orang tetap diam ditempat.
Dan benar saja, semua orang berhenti berjalan dan tetap berdiri di depan pintu masuk apartemen. Sara menatap sejenak semua orang dan tersenyum tipis. Sara menganggukkan kepalanya sambil mengedipkan kedua matanya.
Sara pun menyeret Amora paksa, Amora yang diseret pun berteriak histeris. Semua orang yang berada di depan Sara pun menatapnya curiga. Sara mengacuhkan tatapan semua orang terhadapnya dan berjalan mendekati lift.
Saat akan menyentuh tombol di lift, pegawai apartemen di sana pun berjalan tergesa-gesa mendekatinya.
"Maaf Nona. Anda tidak bisa masuk ke apartemen ini. Karena Anda telah membuat keributan disini." Ucap wanita tersebut dengan nada sinisnya sambil menatap Sara. Dan ya, seketika Sara sadar bahwa dirinya membuat keributan disini, tidak lebih tepatnya congor dari Amora lah yang berkoar-koar.
Sara yang gemas dengan sikap.sok sini dari sang pegawai pun menaikkan sebelah alisnya.
"Gue udah di dalem. Nggak bisa liat Lo? Nggak bisa masuk, nggak bisa masuk. Orang Gue udah di dalem juga. Terus kalo Gue tetep mau masuk Lo mau apa?!" Balas Sara dengan nada yang sama. Sang pegawai yang melihat sikap Sara yang membalasnya pun mendadak membuatnya panas.
"Ngapain Lo ngusir Gue hah?! Orang yang punya aja Pak Revan Putra Laran, kakak ipar Gue. Mau apa Lo? Noh orangnya didepan. Ti ati nanti di pecat Lo!" Ucap Sara sambil berjalan masuk ke lift. Pegawai wanita itu pun sontak langsung membalikkan badannya menatap pintu masuk apartemen dan seketika bola matanya hampir keluar.
Badannya seketika bergetar hebat saat melihat Revan berjalan mendekatinya.
"Segera pergi ke ruang HRD pusat, SEKARANG!" Ucap Revan sambil menatap tajam sang pegawai wanita dan berjakan memasuki lift yang kedua. Pegawai wanita tersebut pun seketika menjatuhkan badannya kelantai.
Sedangkan itu, Sara yang sudah sampai didepan apartemen milik Amora pun menciba menekan bel berkali-kali. Amora sampai bertekuk lutut dihadapan Sara sambil menangis. Namun tak sedikit pun Sara memperhatikan Amora.
Tak lama setelah itu, dibukalah pintu tersebut dan muncul seorang pria dari dalam. Sara yang melihat hal itu pun menarik lengan Amora agar berdiri tegak. Belum sempat Bram berucap, Sara sudah mendorong Amora ke arahnya.
__ADS_1
Bram yang mendapat serangan mendadak pun hendak meraih tubuh Sara namun ditahan oleh Revan. Revan menghempaskan tangan Bram dengan keras sambil mendorong Bram kebelakang lengkap dengan Amora yang masih nemplok di pelukannya.
"Apa lagi yang kau lakukan disini anak sia**n?!" Ucap Bram marah sambil mengeluarkan Amora dari dekapannya. Sara yang di teriaki amarah oleh Bram pun tersenyum miring dan berjalan maju mendekati Bram dan Amora.
"Kau tahu? Wanita simpanan mu itu sedang hamil! Dia meminta pertanggung jawaban kepada Ayah ku. Apakah kau tidak mampu untuk membiayai simpanan mu ini serta calon bayi kalian?! Dia datang kerumah ku dan mengemis bantuan!" Ucap Sara dengan nada tegasnya yang membuat Bram menatap tajam Amora.
"Apa yang anak sial** itu katakan hah?! Kau hamil?! Apakah benar kau hamil?!" Ucap Bram sambil mengguncangkan tubuh seksi milik Amora. Amora yang diguncangkan badannya pun mendadak panik dan hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Amora sudah memejamkan matanya karena dia pikir, bahwa Bram akan semakin posesif padanya setelah tahu bahwa di perutnya ada calon anak dari mereka. Namun...
Brakk!!!
Tubuh Amora menghantam pinggiran meja sehingga menyebabkan mejanya bergeser jauh.
"Aku tak menyuruh mu untuk hamil! Aku tak mau jika wanita kotor sepertimu yang akan melahirkan anakku! Aku tak ingin kau hamil, aku hanya ingin menjadikanmu sebagai wanita pemuas nafsuku saja! Gugurkan kandungan itu segera!" Bantak Bram sambil menunjuk Amora dengan jari telunjuknya.
Bukannya menjawab, Amora malah memegang bagian bawah perutnya dan melipat bibirnya kedalam. Amora menahan kesakitan dengan cara tersebut.
Asha yang melihat darah segar keluar dari bagian bawah sang Ibu pun mendadak panik dan berjalan mendekati Amora. Asha memanggil-manggil nama Ibunya untuk menahan kesadaran sang ibu.
"Abang! Bang Revan tolong angkat Ibu! Cepat Bang!" Ucap Asha dengan nada yang khawatir.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
__ADS_1
Iyi Gecerler! all❤.