
Akasa yang gelagapan pun hanya mencari alasan yang tepat. Meskipun sebenarnya dia memiliki alasan yang paling tepat untuk menghubungi nomor Sara.
"Saya menghubungi Sara karena barang-barangnya ditinggal di bandara kepada saya. Saya cuma mau bilang, bisakah Anda memberi kabar tersebut kepada Sara? Pasalnya jadwal penerbangan kita ke jogja tinggal beberapa menit lagi." Ucap Akasa dengan mantapnya.
Rendi yang hendak menyetujui permintaan Akasa pun terhenti karena sekertarisnya memasuki ruangan dan mengatakan bahwa meeting akan segera dimulai. Rendi pun menganggukkan kepalanya dan mulai berdiri dari duduknya.
"Maaf Akasa, saya sedang terburu-buru karena sebentar lagi saya meeting. Kau bisa menghubungi Mama Sara. Bukankah dia menyimpan nomor istri saya?" Ucap Rendi sembari berjalan keluar ruangan.
Akasa pun keluar dari tampilan panggilan dan melihat dua kontak lagi yang Sara sematkan. Ada Mama dan Teh Asha. Akasa pun melanjutkan panggilannya dan mengatakan bahwa ada nomor milik Mama Sara.
"Baiklah, saya sudah menemukan nomornya. Anda bisa memutuskan panggilan ini. Saya minta maaf jika mengganggu waktu Anda." Ucap Akasa dan hanya diangguki oleh Rendi, meskipun Akasa tak dapat melihatnya. Setelah itu, Rendi pun memutuskan panggilannya.
Akasa pun hendak menelepon Ella, namun entah mengapa dirinya lebih tertarik untuk menghubungi Asha. Setelah beberapa kali berdering, seseorang diseberang sana pun langsung mencecarnya dengan pertanyaan.
"Astagfirullah Pak, maaf Sara masih ada dirumah. Masih tersisa berapa menit lagi, Pak?" Tanya Sara yang tahu siapa yang menelepon nomor kakaknya. Akasa pun hanya tersenyum tipis dan menjawab pertanyaan Sara.
"Waktunya tinggal tiga puluh menit lagi. Kau bisa datang tepat waktu bukan? Dengan apa kau akan kesini?" Ucap Akasa sambil bertanya kepada Sara.
"Aku akan pergi dengan ojek online saja. Bapak tunggu aku saja, mungkin 20 menit lagi aku akan sampai. Baiklah Pak, aku tutup terlebih dahulu. Sampai jumpa, Pak!" Ucap Sara lalu langsung menutup panggilannya.
Sara pun beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Khansa dan Ella. Sara mengatakan bahwa dirinya harus segera kembali ke bandara karena jadwal penerbangan nya sebentar lagi.
Ella pun hanya mengangguk dan menyalami tangan sang anak serta mencium kedua pipi milik Sara. Asha pun berjalan mendekati sang adik dan bertanya dengan apa dia kan pergi ke bandara.
__ADS_1
"Kamu mau balik ke bandaranya naik apa? Mau dianter sama Abang aja?" Tanya Asha sambil mencium pipi Sara. Sara pun hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar ketika mendengar suara klakson motor di luar gerbang rumahnya.
"Sara udah pesen ojek tadi pas ngambil Hp Teh Asha, sekalian telepon Dokter Riri. Yaudah Sara berangkat dulu ya, semua. Jangan rindu sama Sara. Assalamu'alaikum." Ucap Sara setelah mencium Khansa, menyalami Revan dan Alden.
Sara tersenyum ramah kepada sang driver ojek perempuan yang Sara pesan.
"Assalamu'alaikum Bibi. Kenalin nama aku, Sara. Nah Sara mau tanya nih, Bibi bisa bawa motornya cepet nggak? Dua puluh menit sampai ke bandara?" Tanya Sara sambil membawa tangan sang driver ke dahinya untuk disalami
"Ndak bisa atuh, Mbak. Saya nggak berani kalo bawa penumpang cepet-cepet. Mungkin 45 menit lah Mbak." Ucap sang driver yang membuat Sara melongo.
"Hah?! 45 menit? Gini aja, Bi kalo Sara yang bawa boleh kan? InsyaAllah selamat sampai tujuan kok!" Ucap Sara antusias sambil mengambil helm berwarna hijau tersebut.
"Gimana ya, Mbak? Saya juga takut kalo Mbak nya telat sampai di bandara. Yaudah lah Mbak, Bismillah aja." Ucap sang ibu sambil membonceng Sara. Tak membuang waktu lebih lama, Sara pun memacu sepeda motor matic milik sang ibu dengan kecepatan tinggi.
Sang driver ojek pun hanya berpegangan erat-erat kepada Sara sambil mengambil nafas panjang-panjang. Sang ibu pun hanya merem melek sambil menikmati angin yang dengan kurang ajar nya membuat mulutnya terbang kekanan dan kekiri.
Sara pun berjalan mendekati Akasa yang sedang duduk sambil menetap jam tangannya.
"Assalamu'alaikum Pak Mahen. Maaf Sara terlambat. Eh enggak terlambat sih, sisa 8 menit." Ucap Sara sambil menyengir kuda. Akasa pun hanya menggelengkan kepalanya dan berdiri dari duduknya. Dia meletakkan ponsel milik Sara dan berjalan mendekati kopernya.
Sara hanya menghembuskan nafasnya dan berjalan mengambil troli untuk membawa barang-barangnya dan berjalan mengikuti Akasa. Setelah melakukan semua prosedurnya, mereka berdua pun memasuki pesawat dan memulai penerbangan menuju Jogja.
Banyak yang mereka bicarakan selama satu jam sepuluh menit ketika berada di dalam pesawat. Mereka berdua pun beriringan untuk mengambil barang mereka dan berjalan keluar bandara.
__ADS_1
Saat Sara sedang asyik berbicara dengan Akasa, tiba-tiba seorang gadis berambut ikal dengan dress selutut berjalan mendekati Sara dan tersenyum manis.
"Sara!" Ucapnya sambil melambaikan tangannya kekanan dan kekiri dihadapan Sara. Sara pun menoleh dan mengernyit bingung. Gadis tersebut pun sudah mengetahui arti tatapan Sara pun merentangkan kedua tangannya minta dipeluk.
"Kinanthi..." Ucap Kinan yang langsung membuat Sara terkejut kegirangan.
"Kinan..." Ucap Sara excited lalu memeluk Kinan erat. Keduanya saling menepuk punggung satu sama lain. Akasa hanya mengernyit bingung sambil menatap dua gadis dihadapannya.
Ya, Rendi memang sengaja membelikan Sara rumah milik orang tua Kinan yang telah selesai direnovasi. Yang lebih binggo lagi karena mereka sepantaran.
Mereka berdua bercerita banyak dan meninggalkan Akasa yang masih menatap bingung kepada kedua gadis kecil yang mulai menjauh.
Apakah ini trik kalian agar tak repot-repot membawa barang ini? Dasar gadis kecil yang nakal. Ucap Akasa mabil mendorong troli milik Sara.
"Hei gadis kecil! Apakah kau akan membawa Sara pergi dan meninggalkan barang-barangnya?" Tanya Akasa merujuk pada Kinan. Sontak Kinan yang mendengar perkataan dari Akasa pun menolehkan kepalanya dan langsung berbalik badan.
"Heh, Pak Tua! Apakah kau menyindirku hah?! Lantas mengapa kalau aku akan membawa pergi Sara dan meniggalkan barang-barangnya? Bapak-bapak berisik banget!" Ucap Kinan galak sambil mengangkat kedua tangannya di pinggangnya.
"Apa kau bilang? Aku tua?! Kurang ajar sekali kau gadis tengil!" Ucap Akasa lalu berjalan cepat mendekati Kinan. Kinan pun membelalakkan matanya dan berlindung di belakang Sara.
"Hei, Sar. Tolong tenangin Pak Tua itu. Bilang padanya kalau nanti dia kebanyakan marah, nanti darah tinggi terus is dead deh." Ucap Kinan lirih yang membuat Akasa semakin gemas kepada Kinan.
Di raihlah tubuh Kinan lalu digendong seperti menggendong karung beras.
__ADS_1
"Kau bawa barang-barang kita ke taksi yang aku masuki!" Ucap Akasa sambil tetap menggendong Kinan. Sementara Kinan hanya memukul punggung Akasa brutal.
Sara hanya tertawa cekikikan dan berjalan sambil mendodong trolinya mengikuti Akasa dan Kinan.