SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 17


__ADS_3

Ella yang melihat suaminya membuka amplop pun berjalan mendekati sang suami dan Sara berdiri.


"Apa yang kau buka itu, Pa?" Ucap Ella sambil menetap amplop yang dibawa oleh Rendi. Rendi pun memperlihatkan amplopnya kepada sang istri.


"Surat gugatan cerai dari Amora untuk Rendi, Ma. Syukurlah dia melakukan hal itu. Karena jika tidak bercerai, maka Amora masih bisa mengambil harta dari Malik." Ucap Rendi sambil memberikan amplop tersebut untuk dibaca oleh Ella.


"Harta? Apakah maksud Paman rumah ini? Apakah Ibu masih bisa mengambil rumah ini jika belum bercerai dengan Ayah? Lalu kami berlima harus tinggal di mana?" Ucap suara bingung karena perkataan dari Rendi.


"Bukan hanya rumah ini, Sara. Tapi Ayahmu baru-baru ini meminta tolong kepada Paman soal perusahaan barunya. Jadi, jika Ibumu belum bercerai dengan Ayahmu. Maka Dia masih bisa menuntut harta gono gini." Jelas Pak Rendi sambil duduk di kursi ruang tamu.


Sara pun mengikuti langkah Pamannya yang duduk di kursi.


"Sebentar Paman, Paman bilang perusahaan? Sedangkan Ayah pun sudah tidak memiliki perusahaan setelah bangkrut beberapa tahun lalu." Tanya Sarah kebingungan. Pasalnya memang benar apa yang dikatakan oleh Sara.


Rendi pun mengangguk dan menatap sang istri. Dia menyuruh sang istri untuk memanggilkan Asha yang berada di dalam.


Ella pun memanggil Asha yang sedang duduk di ruang keluarga bersama dengan yang lainnya. Asha yang tahu bahwa Dia dipanggil oleh Rendi pun beranjak dari duduknya dan mengikuti Ella menuju ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu Asha pun duduk di sebelah Sara, serta Ella yang juga duduk di sebelah Rendi. Asha bertanya mengapa Pak Rendi memanggilnya.


"Asha, Sarah, Paman ingin mengatakan sesuatu. Karena ini memang amanat dari Ayahmu yang harus Paman sampaikan." Ucap Pak Rendi mengawali pembicaraan. Asha dan Sara pun hanya menganggukan kepala mengerti dengan maksud Pak Rendi.


"Jadi, beberapa minggu yang lalu. Ayah kalian datang menemui paman dan membicarakan tentang perusahaan yang ia bangun setelah setahun belakangan. Tadinya Ayah kalian akan memberikan tahu tentang hal ini tepat di hari pernikahan orang tua kalian. Tapi, Tuhan berkata lain." Terang Pak Rendi kepada Asha dan Sara.


"Jadi, Paman ingin memberikan hak itu kepada kalian sepenuhnya. Paman akan menyiapkan pengacara untuk mengalih namakan perusahaan itu atas nama Asha. Karena Asha adalah anak pertama dari Pak Malik dan sudah bisa mengurus perusahaan. Apakah kalian setuju?" Tanya Rendi kepada Sara dan Asha.


Sara pun menatap sang kakak. Sara tahu pasti kakaknya sedang kebingungan. Sara menyarankan sang kakak untuk menerima permintaan Rendi.

__ADS_1


"Iya Teh, nggak papa. Itu adalah hak kita, apa Teteh mau kalau Ibu tahu tentang hal ini lalu ingin merebutnya? Sara yakin, Teteh bisa mengelola perusahaan peninggalan Ayah." Ucap Sara meyakinkan sang kakak.


"Kau tak perlu khawatir Asha, Paman akan mengajari sampai kau ahli dibidang mu. Ini adalah usaha yang Ayah Kamu rintis dari nol. Kau harus mempertahankan untuk adik-adik mu. Bagaimana?" Jawab Rendi menimpali perkataan Sara.


"Tapi apakah hal itu tidak memberatkan Paman, sedangkan Paman juga memiliki perusahaan sendiri. Asha tak mau, hanya karena mengajari Asha perusahaan Paman menjadi kacau. Lagi pun Asha harus mulai belajar dari nol, dan memerlukan waktu yang tidak sedikit." Jawab Asha ragu.


"Kau tak perlu khawatir, dahulu Paman juga diajari dari nol oleh Ayahmu. Kau mau kan Sha?" Tanya Rendi.


Akhinya Asha pun menerima tawaran dari Rendi. Ella dan Sara yang mendengar hal itu pun ikut senang. Saat mereka sedang santai mengobrol tiba-tiba Revan datang mendekati mereka semua.


"Maaf Pa, Ma. Revan izin pulang dahulu ya. Tiba-tiba bawahan Revan menelepon dan mengatakan bahwa ada patroli dadakan. Revan pamit ya, Assalamu'alaikum semua." Ucap Revan sambil mencium tangan kedua orang tua nya.


Setelah Revan pergi, Sara pun berjalan masuk. Dia yang melewati ruang keluarga pun menggelengkan kepalanya. Pasalnya baru ditinggal sebentar saja, ruang keluarga tersebut sudah berantakan.


Dengan kesal, Sara pun memunguti barang-barang dan sampah yang tak dibereskan lagi oleh Ethan, Alden, dan Reza.


Omelan Sara tadi berhasil membuat Ethan yang sedang bertanding play station dengan Alden dan Reza menjadi kalah.


"Dih itu mulut ngomel mulu. Dah nggak perawan pasti tu si mulut." Ucap Ethan dengan nada emosi. Sara yang sedang menangkat bantal pun seketika berhenti. Tubuhnya menegang, tangan yang memegang bantal pun menjadi lemas.


Ethan yang sadar dengan gerak gerik Sara yang tiba-tiba berhenti pun hanya menelan ludahnya. Untuk menghilangkan kegugupannya, Ethan pun mengecoh Sara.


"Ngapain kaget? Beneran dah nggak perawan tu bibir? Enggak kan? Yaudah sih nggak usah tiba-tiba jadi patung gitu." Alibi Ethan sambil berdiri dan melangkahkan kakainya menuju ruang makan.


"Maksud Kakak bilang gitu apa Kak?" Ucap Sara sambil berjalan mengikuti Ethan ke dapur. Ethan yang diikuti Sara pun berhenti.


"Ya siapa tahu gitu, mungkin Lo pernah ciuman sama cowok. Yaudah otomatis tu bibir dah nggak perawan, gitu masud Gue." Ucap Ethan sambil berbalik badan menghadap Sara.

__ADS_1


"Kenapa bisa Kak Ethan nyimpulin tentang hal seperti itu? Seolah-olah Kak Ethan tahu tentang kehidupan Sara. Atau jangan-jangan kita pernah bertemu sebelumnya? Soalnya Sara dah nggak asing sama mata kak Ethan." Jawab Sara sambil melipat tangannya kedada.


Ethan yang bingung ingin menjawab apa pun hanya menatap Sara. Sedangkan Sara, matanya seketika melotot. Dia tiba-tiba teringat dengan si cowok brengs** yang mengambil first kiss nya.


"Atau jangan-jangan Kakak orang yang kuliah di Universitas terkenal dikota ini? Coba deh buka maskernnya, Sara curiga nih. Bener kan kalau kita pernah ketemu?" Ucap Sara dengan nada khawatir, dia takut kalau ternyata memang Ethan lah pelakunya.


"Terus kalo Gue bilang kita pernah ketemu, Lo mau apa?" Ucap Ethan sambil melipat tangannya didada dan melangkah mendekati Sara.


Sara yang mendengar jawaban dari Ethan pun kaget. Nafasnya sudah naik turun tak beraturan. Tiba-tiba dia merasa sangat benci kepada Ethan.


"Dan jangan bilang kalo Kakak temen dari si cewek dengan pakaian ketat itu? Dan jangan bilang juga kalau Kakak kuliah di Universitas itu." Ucap Sara dengan sorot mata tajamnya.


"Dan terus kalo Gue bilang, bahwa Gue kuliah disana dan temen dari cewek itu. Lo mau apa?" Ucap Ethan santai. Berbeda dengan Sara yang emosinya sudah diubun-ubun.


"Hah?! Ternyata pria nggak sopan itu Kak Ethan?!" Teriak Sara dan berjalan maju mendekati Ethan. Saat hendak menampar Ethan, Asha pun tiba-tiba datang.


"Hei, ini ada apa? Kenapa kalian ribut? Ada masalah apa, jangan main tampar-tamparan ah. Nggak baik." Lerai Asha dengan menahan badan Sara.


Dengan santainya, Ethan malah berbicara tanpa memikirkan perasaan Sara.


"Itu lagi permasalahin masalah bibir Sara yang udah nggak perawan." Ucap Ethan santai sambil menyenderkan tubuhnya di tembok.


Seketika tangan Asha yang menahan Sara pun mengendur. Sara melotot kearah Ethan. Asha pun menatap tajam mata adiknya.


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.


Iyi Gecerler! all❤.

__ADS_1


__ADS_2