SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 32


__ADS_3

Setelah berganti topik tentang ciuman mendadak dari Revan ke Asha, mereka semua pun mulai membersihkan rumah tersebut. Rendi memang sengaja membeli rumah sebelahnya sekaligus dengan beberapa perabot yang memang sangat dibutuhkan.


Tentu saja, barang-barang yang berat dipindahkan oleh Alden.


"Ih, Bang Revan mah curang. Masa giliran pindah-pindahin barang sebegini bongsornya malah pulang terus tidur. Nggak bener tu, Bang Revan." Gedumel Alden sambil menggeser sofa diruang keluarga.


"Nggak gitu, Den. Bang Revan kan tadi malem ada razia dadakan. Tadi pagi Bibi dah bilang kan? Kasian lah, capek juga." Ucap Asha sambil mengangkat pakaian-pakaian Sara dan dibawa kelantai atas.


"Ciee, yang udah tau jadwal kerja calon suaminya." Ucap Sara dengan suara yang sedikit tinggi karena dia berada dilantai atas. Lagi-lagi Asha hanya menggelengkan kepalanya perlahan sambil menundukkan kepalanya.


"Ya biarin dong, Sar! Ngapain sih Lo. Syirik aja!" Jawab Alden sambil memelototkan matanya, kepalanya mendongak keatas. Sara yang dipelototi oleh Alden pun berteriak memanggil Ella.


"Bibi...Alden matanya mau copot itu!" Ucap Sara memanggil Ella yang sedang berada di kamar Khansa. Alden yang mendengar perkataan ngawur dari Sara pun berjalan cepat menuju lantai atas dengan mwmbawa sapu.


"Janagn mentang-mentang Lo kakak ipar Gue, terus Lo bisa nindas Gue gitu ya, Sar! Gue pukul pake sapu baru tau rasa Lo!" Ucap Alden sambil mengangkat sapunya tinggi-tinggi setelah sampai dilantai atas.


Sara yang melihat Alden marah-marah pun, berlari ke arah Ella yang berada di ruangan sebelahnya dan langsung memeluknya.


"Bibi, Alden akan memukulku dengan sapu itu! Lihatlah!" Teriak Sara ketakutan karena Alden sudah mendekatinya. Ella yang melihat Alden sudah mengangkat sapu pun mengangkat kedua tangannya ke pinggang dan melotot ke arah Alden.


"Kau berani memukul Sara sekali saja, maka akan ku pukul pantat mu 10 kali dan akan memotong Junior mu itu! Apakah kau mau?" Ucap Ella dengan nada ada marahnya.


Aldan yang mendengar perkataan sang Mama pun seketika menjatuhkan sapunya dan langsung menutup bagian utamanya dengan kedua tangannya.


"Jangan dipotong, Ma. Nanti kalau dipotong Mama bakalan kurang dapet cucunya. Yang tadinya bakal dapet 10, jadi cuma dapet 4. Emang Mama mau?" Ucap Alden membalas sang Mama dengan mengangkat tangannya ke pinggang juga.


"Hahh?! 10 kau bilang. Berarti kau akan memiliki anak 6? Kau memang sedikit pusing, Den. Kau kira istrimu itu kucing?" Ucap Ella sambil menggelengkan kepalanya atas perkataan nyeleneh dari Alden.

__ADS_1


Alden pun membalikkan badannya menuju lantai bawah sambil berkata lagi.


"Terserah Alden dong, Ma. Alden pastiin jarak umur keenam anak Alden itu hanya 9 bulan saja." Ucapnya sambil berjalan menuruni anak tangga.


"Dasar Alden gila. Kasian ya Bi, istrinya Alden besok. Bunting mulu." Ucap Sara yang langsung diikuti dengan cekikikannya. Ella hanya menampar pantat milik Sara. Sara pun mengaduh karena tampolan dari Ella.


"Bunting, bunting. Kau kira calon mantu ku marmut?" Ucap Ella sambil berjalan meninggalkan Sara yang masih setia memegang pantatnya.


Setelah selesai membereskan barang-barang dan menempatkannya pada kamar-kamar mereka, Ella pun mengajak anak-anak untuk masak. Alden yang sudah selesai tugasnya pun, berjalan pulang ke rumahnya untuk beristirahat.


Setelah semua makanan sudah siap, Ella minta agar Asha memanggil Revan serta Alden untuk makan malam bersama dirumah Asha. Segara, Asha pun berjalan keluar dari rumahnya dan memasuki rumah Ella.


Asha yang baru memasuki rumah dan melihat Alden yang sedang duduk di depan TV pun memberi tahu bahwa mereka akan makan malam bersama. Bukannya pergi keluar rumah, Alden malah berjalan naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.


Sara yang selesai memindah masakannya dari dapur ke meja makan pun bergegas naik ke kamarnya untuk bersih-bersih. Saat membuka kamarnya, Sara kaget bukan main karena melihat Alden yang sudah nangkring indah di atas kursi belajarnya.


"Ya Allah, Den. Apa yang Lo lakuin disini?! Dari mana Lo bisa masuk? Perasaan tadi Lo pulang ke rumah dan Gue belum liat Lo masuk lagi." Ucap Sara sambil mendekati Alden.


"Dih gue tanya juga gak dijawab. Dari mana Den? Gue kepo ini." Ucap Sara sambil duduk di sofa yang berada di seberang meja belajarnya. Alden pun meletakkan camilan milik Sara dan menghela nafasnya berat.


"Noh lewat teralis sebelah. Kan kamar Gue seberangan sama punya Khansa. Nah Gue tinggal lompat, dan awalnya Gue mau masuk kamar Khansa tapi dikunci. Nah karena kebetulan kamar Lo nggak dikunci, yaudah Gue trobos aja. Eh nemu rejeki nomplok, ngapain ditolak?" Jawab Alden sejujurnya.


Sara yang kepo dengan penjelasan Alden pun berjalan ke balkon kamarnya. Dan memang benar, diujung koridor tepat di pintu geser milik kamar Khansa langsung tralis. Sara pun mendekati ujung tralis tersebut dan melihatnya.


Sara baru sadar bahwa batas tembok antara rumahnya dan Alden hanya berjarak kurang lebih 90 cm saja. Sara hanya menggelengkan kepalanya karena terbayang reka adegan ketika Alden melewati batas besi itu.


Sementara itu, Asha yang memasuki rumah Ella pun langsung berjalan naik ke lantai atas menuju kamar Revan. Perlahan-lahan, Asha mengetuk pintu kamar Revan.

__ADS_1


Namun, setelah beberapa kali ketukan. Tak ada jawaban dari dalam sana. Asha yang kebingungan pun membuka pintu kamar Revan. Dengan hati yang dag dig dug serr, Asha mulai melongokkan kepalanya. Dia melihat kondisi kamar Revan yang temaram.


Perlahan-lahan, Asha mulai melangkahkan kakinya mendekati ranjang Revan.


"Ya Tuhan, Bang Revan ganteng banget. Padahal cuma pakai kaus oblong sama celana kolor. Tapi damage nya...Aduh Sha, apa yang kau pikirkan." Ucap Asha sambil memukul pelan kepalanya.


Asha berjongkok di depan Revan yang sedang tidur memeluk guling. Asha memanggil nama Revan dengan hati-hati.


"Bang Revan, bangun dulu yuk. Disuruh Bibi buat makan malam dulu." Ucap Asha dengan suara yang sedikit tinggi. Revan yang mendengar suara seseorang di dalam kamarnya pun menggeliatkan tubuhnya. Sehingga gulingnya terlepas dari pelukannya.


Asha yang kaget dengan pergerakan Revan pun berdiri dan jongkok nya dan mengatur nafasnya yang sudah naik turun. Asha mengelus dadanya karena jantungnya berdetak begitu cepat.


Setelah menetralkan irama jantungnya, tangan Asha pun bergerak menyentuh pipi Revan dan menepuknya perlahan untuk membangunkannya.


"Bang Revan, bagun dulu. Udah Magrib ini. Kita makan malam dulu ya." Ucap Asha sambil tangannya yang terus menepuk perlahan rahang tegas milik Revan. Revan pun membuka sedikit matanya dan melihat keberadaan Asha didalam kamarnya.


"Hmm..." Jawab Revan singkat yang membuat Asha lega karena Revan telah bangun. Asha pun menarik tangannya dari pipi Revan, lalu menegakkan tubuhnya secara perlahan.


Belum sempat tubuhnya tegak berdiri, tiba-tiba Revan menarik lagi tangannya sehingga.


Blukk...


Tubuh mungil Asha menindih tubuh kekar mulik Revan. Asha yang terkejut pun mencoba bangun dari posisi jatuhnya. Namun Revan malah memeluknya erat sambil berkata.


"5 menit lagi, Sha." Ucap Revan dengan suara seraknya. Asha pun mencoba menahan nafasnya agar tak bergerak ketika berada diatas Revan.


Hidungnya yang menempel pada cuping telinga sebelah kiri milik Revan pun membuatnya takut untuk bernafas. Memang posisi jatuh Asha sedikit condong ke sebelah kiri Revan.

__ADS_1


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.


Iyi Gecerler! all❤.


__ADS_2