
"Untuk sang ibu Alhamdulillah selamat, tapi maaf untuk calon bayi yang sedang dikandung sudah tiada. Ibu Anda kehilangan banyak darah ketika dalam perjalanan kemari. Apalagi kandungan ibu Anda sudah lemah dari awal." Ucap sang dokter yang membuat Asha terkejut.
Revan yang menlihat ekspresi terkejut dari Asha pun mendekatinya dan memeluknya dari samping.
"Alhamdulillah, Sha. Allah masih memberi Bu Amora waktu untuk bertaubat. Kalau masalah calon adikmu, itu sudah menjadi kehendak yang Maha Kuasa." Ucap Revan sambil mengelus lengan milik Asha. Asha yang mendengar jawaban dari Revan pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menghadap Revan.
Sang dokter pun pamit mengundurkan diri dan meninggalkan para perawat yang sedang memindahkan brankar Amora. Mereka semua berjalan mengikuti kemana para perawat membawa Amora.
Khansa yang baru sadar bahwa kakaknya juga sedang pingsan pun mendadak langsung panik.
Khansa pun menarik bagian belakang jaket bomber milik Alden yang membuat Alden seketika menghentikan langkahnya. Alden sedikit menunduk dan mengangkat kedua alisnya tanda bertanya kepada Khansa.
"Kak Alden, kita jenguk Mbak Sara duluan ya? Kan kalau Ibu udah banyak yang jaga, nah Mbak Sara? Kasian dia sendirian. Ikut Khansa ya." Ucap Khansa sambil berbisik dengan menjinjitkan kakinya agar bisa mendekati telinga Alden.
"Iya juga, ya. Gue juga males kalo nungguin calon penghuni jahanam. Mendingan nungguin ketua sekte kita ye kan? Oke Sa, kita cabut berdua. Bokong panci...calon adik ipar mu ini is coming." Ucap Alden dambil berbalik arah. Baru satu langkah berjalan, jaket bagian belakangnya ditarik lagi oleh Khansa.
"Kalo kesana, kita malah pulang. Ruang rawat itu masih kesana, lurus. Gimana sih?" Ucap Khansa sambil menggelengkan kepalanya. Alden yang tahu pun tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
Mereka berdua pun berjalan beriring menuju ruang rawat milik Sara setelah bertanya kepada salah satu perawat yang tadi mengantar Sara. Ternyata Sara sudah dipindah menuju lantai 3 dirumah sakit itu.
"Maksud Kak Alden, calon adik ipar dari Mbak Sara? Bukannya adik ipar nya Teh Asha?" Ucap Khansa tanpa menatap Alden karena dia sedang menekan tombol lift. Saat Alden akan menjawab pertanyaan dari Khansa, pintu lift pun sudah terbuka. Mereka berdua pun memasuki lift, tak ada orang lain selain mereka berdua.
__ADS_1
"Lo nggak nyadar, Sa?" Tanya Alden sambil menghadapkan badannya kearah Khansa. Khansa hanya melirik Alden melalui kaca yang ada didepannya lalu menggelengkan kepalanya. Alden yang melihat respon Khansa pun menghembuskan nafasnya kasar.
"Oke, Gue tanya sama Lo. Apa Gue masih ada harapan ke Elo? Walaupun hanya sedikit aja setelah kejadian dulu?" Ucap Alden sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menyenderkan badannya di pinggiran lift.
Khansa pun mengangkat pandangannya dan menatap Alden walau hanya melalui cermin yang melekat di pinggiran lift.
"Khansa nggak mau berharap selain kepada Allah atau memberi harapan. Khansa mau fokus sama Teh Asha, Mbak Sara, sama Aurora. Karena Khansa tau gimana sakitnya kecewa setelah terlalu banyak berharap." Jawab Khansa sambil kembali menundukkan pandangannya.
"Lebih sakit mana sama Gue? Gue yang selalu ngarepin Lo, tapi Lo nggak pernah sadar. Gue tau kalo sebenernya Lo sadar akan hal itu. Tapi entah kenapa, Lo berlagak beg* dan pura-pura nggak tau tentang hal ini." Ucap Alden yang sekses membuat Khansa mengalihkan pandangannya menatap Alden dengan sedikit mendongak.
"Maksud Kak Alden?" Tanya Khansa sambil menatap dalam mata Alden. Bersamaan dengan hal itu, pintu lift pun terbuka sehingga menjadi kesempatan emas untuk Alden melarikan diri.
Alden pun keluar dari lift tanpa menjawab pertanyaan dari Khansa. Khansa yang masih kaget pun berjalan mengikuti Alden. Khansa sedikit berlari untuk mengikuti langkah besar milik Alden. Khansa pun memanggil-manggil nama Alden berkali-kali, namun Alden tak menjawabnya.
"Maksud Kak Alden apa? Khansa cuma mau tau alasan Kak Alden aja." Ucap Khansa dengan nada bergetar menahan tangisnya. Khansa mendadak cengeng karena Alden tak menggubrisnya sedari tadi. Alden yang melihat bulir mata milik Khansa jatuh pun bergerak mendekati Khansa.
Alden yang tak bisa menghapus air mata milik Khansa pun menundukkan kepalanya menyamai tinggi kepala Khansa. Khansa dapat merasakan hembusan nafas milik Alden tepat ditelinganya.
"Karena Gue suka sama Lo. Karena Gue sayang sama Lo. Dan karena Gue cinta sama Lo. Puas setelah tau alasan Gue?" Ucap Alden sambil menolehkan kepalanya sehingga hidung mancungnya hampir menyentuh pipi gembul milik Khansa.
Seketika badan Khansa menegang, Khansa pun sampai tak kuat untuk mengedipkan matanya. Perlahan-lahan Khansa pun dapat mengedipkan matanya lengkap dengan jackpot air matanya.
__ADS_1
"Mbak Sara dah nunggu kita. Kita kesana ya." Ucap Khansa sambil menggeserkan badannya dan berjalan meninggalkan Alden. Alden pun menarik ujung lengan gamis milik Khansa.
"Gue minta maaf, Sa. Gue udah lancang buat suka sama orang yang dulu Gue benci. Maaf juga karena Gue udah terlalu sayang sama Lo." Ucap Alden dengan nada yang sungguh-sungguh yang membuat Khansa menengadahkan kepalanya keatas, menahan agar air matanya tak jatuh lagi.
"Dan satu lagi, Sa. Jika suatu saat Gue berlutut dihadapan wanita lain selain Lo..." Ucap Alden yang sukses membuat air mata Khansa meleleh kembali. Tak dapat dipungkiri bahwa Khansa juga telah lama memendam perasaannya kepada Alden. Khansa sudah pasrah dengan kisah cintanya di masa depan.
"Itu adalah saat Gue sedang mengikat tali sepatu anak perempuan kita. Pegang janji Gue, Sa. Gue nggak akan pernah berpaling dari Lo. Kalau pun kita nggak pernah bisa bersatu, Gue rela akan sendiri sampai mati. Terserah sama Lo, mau mencintai cowok lain atau siapapun itu. Gue nggak peduli. Tapi selalu inget satu hal. Gue cinta sama Lo. Kemarin, hari ini, esok, dan selamanya." Terang Alden dari hati terdalamnya.
Khansa hanya bisa menggigit bagian bawah bibirnya agar dia tak mengeluarkan suara tangisnya. Khansa pun mencoba melepaskan tangan Alden yang masih setia memegang ujung gamisnya.
"Makasih buat segala yang Kak Alden kasih sama Khansa. Biar takdir yang menjawab semua. Khansa pergi dulu." Ucap Khansa sambil berjalan masuk keruangan Sara. Alden pun menendang tembok yang berada di sampingnya.
"Lo beg* banget sih, Den. Dengan Lo ngomong barusan, bakal buat Khansa ilfeel sama Lo. Akhh..." Ucap Alden sambil mengacak rambutnya frustasi. Alden pun merapikan penampilannya dan masuk ke ruang rawat Sara.
Pemandangan pertama yang Alden lihat adalah Sara yang sedang menangis. Alden yang khawatir pun mendekati Sara dan bertanya padanya.
"Lo kenapa nangis, Sar?! Ada yang masih sakit?" Ucap Alden sambil meneliti tubuh Sara. Sara hanya menganggukkan kepalanya dan menatap Alden.
"Den kenapa tangan Gue jadi bengkak dan banyak memar gini ya? Rasanya nyeri banget pas dibekas jalur jarumnya. Gue pusing sama mual banget, Den. Ini juga masih keluar terus darahnya. Tangan Gue nggak bisa ditekuk, Den." Ucap Sara dengan tangisnya. Alden yang penik pun langsung memanggil Khansa.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
__ADS_1
Iyi Gecerler! all❤.