
Revan mengernyit heran ketika maps tersebut berhenti di ujung jalan buntu. Dengan siaga, Revan keluar dari mobil patroli nya dan melihat apakah masih ada jalan lain. Revan berjalan ke mobil bawahannya yang melacak nomor dari Bella.
"Apakah titik koordinat terakhir di sini? Mengapa hanya ada jalan buntu di sini?" Tanya Revan sambil menundukkan kepalanya agar menyamai jendela milik bawahan nya tersebut.
"Benar Pak, lokasi terakhir pelaku berada di sini." Ucap polisi tersebut sambil membuka laptop yang dia bawa untuk memastikan keberadaan nya. Sara pun keluar dari mobil patroli milik kakaknya dan berjalan kearah jalan buntu tersebut.
Entah mengapa, Sara ingin sekali berjalan kearah kiri. Walaupun tertutup oleh banyak semak, entah perasaan apa yang muncul di benaknya ketika melihat semak tersebut. Dengan menahan rasa sakit di kakinya, Sara membuka semak-semak kering tersebut.
Sara terkejut ketika melihat ada sebuah gubuk tua yang sudah terlihat rapuh berdiri di tengah hamparan tanah itu.
"Bang Revan! Cepetan kesini!" Ucap Sara dengan suara yang keras namun masih ia tahan. Revan yang mendengar suara adiknya pun menoleh. Dia terkejut karena Sara sudah keluar dari maobil.
"Sara! Apa yang kau lakukan?! Kau bisa terkena infeksi!" Ucap Revan sambil berjalan mengambilkan kursi roda Sara dan membawanya kepada Sara.
"Abang! Disana ada rumah. Siapa tau mereka bawa Teh Asha kesana. Kita coba cek yuk?!" Ucap Sara antusias sambil memperlihatkan gubuk tua tersebut kepada Revan.
Revan pun mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Sara dan terkejut. Revan pun meminta agar Sara duduk di kursi roda lalu dia memanggil semua tim nya agar mendekat ke arahnya.
"Kita semua lakukan rencana B! Rencana A gagal karena Saya pikir terlalu berisiko. Zevan, segera atur strategi seperti yang kita bahas. Saya dan Sara akan masuk dulu." Ucap Revan yang langsung diangguki oleh Zevan.
__ADS_1
Dengan langkah pasti, Revan mengambil jaket yang berada di mobil patroli nya dan kembali ke Sara.
"Kita jemput Teh Asha kita ya, Sar? Siap?!" Ucap Revan sambil menunduk menatap Sara. Sara pun mendongakkan kepalanya dan mengangguk. Dengan perlahan, Revan mendorong kursi roda milik Sara. Karena jalan yang bebatuan dan banyaknya semak kering, Revan meminta bantuan kepada tim nya untuk membuka kan jalan baginya dan Sara.
Setelah terbuka lebar, Revan terus mendorong kursi roda Sara hingga ke depan gubuk tersebut. Revan terkejut karena memang ada dua suara wanita yang sedang tertawa seperti orang gila.
Sara pun mendongakkan kepalanya menatap sang kakak. Revan yang tahu maksud dari Sara pun menganggukkan kepalanya. Samar-samar mereka mendengar percakapan gila dari Silla dan anaknya.
Dengan perlahan, Revan memajukan kursi roda milik Sara dan dirinya berjongkok disamping Sara. Mereka bisa melihat pergerakan dari Bella dan Silla dengan jelas disana. Sara dan Revan terkejut bukan main ketika melihat badan Asha yang penuh dengan memar dan rambut yang sudah tak tertata rapi.
"Ma lebih enak lagi kalo sebelum kita bunuh, kita bawa orang-orang buat perk**a dia. Lumayan kan dapet tontonan. Gimana Ma ide Bella? Seru kan?" Ucap Bella dengan nada sinis nya. Revan yang mendengar hal itu pun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Revan menyatukan rahangnya keras sambil menatap Bella penuh kebencian.
"Kamu beg* atau gimana sih, Bell?! Kalo kita bawa orang-orang kesini buat perk**a dia malah jadi masalah buat kita. Bisa aja diantara mereka yang lapor ke polisi!" Jawab Silla yang menentang keras ide gila dari Bella.
"Yaudah lah, Ma. Nggak usah kelamaan, ini Bella dah bawa racunnya. Bella beli yang dosis paling tinggi ya. Biar cepet mampus tu si anak jala**! Cepetan gih, Ma! Muak Gue liat muka dia. Apalagi muka adik-adiknya itu." Ucap Bella sambil memberikan sebuah botol kaca kecil kepada sang Mama.
Sara yang hendak berdiri pun dicegah oleh Revan. Dirinya masih memerlukan bukti lain yang lebih bisa memberatkan Silla dan anak nya. Revan yang memilih rencana nomor 2 karena rencana tersebut telah dia susun dengan sangat matang.
Bagaimana tidak? Revan membagi timnya keseluruh bagian untuk mengepung gubuk tua itu. Revan juga membekali semua tim nya dengan senjata dan rompi anti peluru. Dia juga meminta bawahan nya yang tadi melacak nomor Hp Bella untuk menyadap suara dari Silla dan Bella. Serta menyiapkan kamera kecil disetiap sudut gubuk tersebut.
__ADS_1
"Emang adik-adiknya kenapa?" Ucap Silla sambil menuangkan racun tersebut ke sebuah gelas berisi air putih. Tak lupa dia juga mengaduknya agar racun tersebut larut dengan sempurna.
"Mama nggak tau aja, adik dia yang namanya Khansa udah berhasil buat Alden ninggalin Bella. Dan yang namanya Sara, dih orangnya sombong banget, Ma. Bella nggak pernah bisa ngalahin dia. Dia itu baik, pinter, cantik, tegas, dan disukai banyak orang. Bella berharap setelah kita membunuh si kakak nya ini, lalu korban selanjutnya adalah Sara!" Ucap Bella sambil berjalan mendekati Asha yang masih pingsan dengan mata dan mulut yang tertutup lakban.
"Itu gampang Bell. Kita buat rencana lagi setelah beresin dia. Cepet buka lakban di mulut dan matanya." Ucap Silla sambil membawa air racun tersebut mendekat kearah Asha. Dengan kasar, Bella mencabut lakban tersebut yang membuat Asha seketika terbangun.
Asha masih menyesuaikan kornea matanya dengan cahaya yang datang ke matanya. Setelah nengerjapkan matanya beberapa kali, Asha pun terkejut ketika melihat sang pembunuh adiknya.
"Apa yang kalian lakukan padaku?! Jangan mendekat! Jangan lakukan apapun padaku!" Ucap Asha ketakutan sambil berusaha melepaskan ikatan yang berada di tangan dan kakinya.
"Ck, ck, ck...malang sekali hidup mu anak manis. Aku harus membunuhmu untuk membalaskan dendam ku kepada ibu mu itu! Ucapkan selamat tinggal kepada dunia untuk yang terakhir kalinya." Ucap Silla sambil menekan kedua pipi Asha dengan tangan kirinya. Asha pun hanya bisa menggelengkan kepala nya dan meneteskan air matanya.
"Tidak! Jangan bunuh aku! Adik-adik ku masih membutuhkan aku, minta saja apa yang kalian inginkan. Asalkan kalian kembalikan aku ke adik-adik ku!" Ucap Asha sambil menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri untuk melepaskan cengkeraman tangan Silla di rahangnya.
"Aku tidak butuh harta mu! Aku mau melihat keluarga jala** itu mati ditangan ku!" Ucap Silla semakin mencengkeram rahang milik Asha. Asha hanya menitikkan air matanya sambil meminta agar kedua orang tersebut melepaskannya.
"Udahlah, Ma. Kebanyakan drama!" Ucap Bella kesal sambil berjalan cepat menuju mama nya dan mengambil alih air racun tersebut dari sang Mama. Lali dengan tampang watados nya Bella langsung meminumkannya kepada Asha. Asha yang terkaget pun menelan sedikit cairan tersebut, namun langsung dia tahan agar tak langsung masuk ke tenggorokannya.
Saat sedang meminumkan racun tersebut kepada Asha, seseorang dari arah belakang mereka mendorong kuat tubuh Bella sehingga membentur tembok. Seketika, darah segar keluar dari dahi milik Bella. Orang tersebut juga menampar keras pipi dari Silla.
__ADS_1