SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 93


__ADS_3

"Ya dia itu Aurora Arraselli. Ra, kamu punya KTP kan? Ya dikeluarin. Ngapain cuma disimpen? Kasih liat ke orangnya." Ucap Alden sambil merangkul Khansa yang membuat Khansa tertawa geli.


"Kamunya juga lucu sih, Ra. Kamu punya KTP cuma dijadiin aset rahasia. Udah udah, keluarin coba. Biar bisa cepet lomba makannya." Ucap Khansa sambil memberikan solusi kepada adiknya. Aurora yang baru ingat pun segera mengambil dompet lucunya dari saku dressnya, tak lupa mata yang masih menatap sengit kepada kedua wanita tersebut.


"Nih! Udah percaya sama omongan Gue?!" Ucap Aurora sambil menyerahkan kartu berwarna biru muda yang menampakkan wajah cantiknya. Namun hal tersebut tak bertahan lama, dia tak rela jika wajah ayu nya tersebut dipandang terlalu lama oleh orang lain.


"Eh, anu kita berdua minta maa-" Ucapan wanita yang sedari tadi mengejek Aurora pun terpotong oleh ucapan Nathan.


"Dah nggak usah banyak bicit! Yok, Ra kita pergi aja. Nanti kalo kurang minta Kak Khansa buat ngambilin." Ucap Nathan sewot sambil menarik lengan Aurora dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya mendorong troli yang sedari tadi Aurora isi dengan makanan.


Khansa pun menggelengkan kepalanya menatap tingkah kedua adiknya. Dia menatap wanita tadi dan meminta maaf atas sikap kedua adiknya. Karena merasa malu, kedua wanita tersebut pergi meninggalkan Khansa dan Alden yang masih terlihat mesra.


Alden memeluk tubuh mungil milik Khansa dan semakin mengeratkan pelukannya. Khansa mengelus punggung kekar milik Alden dan mendongakkan kepalanya menatap Alden.


"Kenapa?" Tanya Khansa lembut sambil menatap netra milik lelaki tersayangnya tersebut. Alden melengkungkan bibirnya kebawah dan meneggelamkan kepalanya di bahu milik Khansa.


"Mau makan." Ucap Alden maja yang membuat Khansa terkekeh pelan. Dia memundurkan badannya dan kembali menatap wajah lesu milik Alden.


"Ini kenapa jadi manja banget sih, Kak Alden? Bentar Khansa ambil piringnya dulu." Ucap Khansa sambil berjalan menuju meja pojok untuk mengambil piring serta sendok.


Dengan telaten Khansa mengambil nasi serta beberapa lauknya. Tak lupa, Khansa juga mengambilkan telur ceplok kesukaan Alden. Setelah semua komplit, Khansa pun membalikkan badannya dan terkejut karena tak mendapati Alden.


Khansa pun menyapukan pandangannya dan berhenti pada seorang laki-laki tampan yang sedang melambaikan tangannya kepada dirinya sambil mengucapkan kata 'disini' tanpa suara.


Khansa tersenyum tipis sambil berjalan mendekati Alden. Senyum Khansa semakin merekah karena Alden sengaja memilih meja paling ujung, ya ada dua adiknya yang sedang marathon makan disana.


"Makan sama apa?" Tanya Alden sambil melihat piring yang Khansa bawa. Khansa pun menurunkan sedikit piringnya dan duduk disebelah Alden.


"Sama ayam goreng plus telur ceplok. Tadi nyari kecapnya nggak ada, jadi cuma ceploknya aja. Nggak apa-apa kan?" Ucap Khansa sambil meletakkan piringnya dimeja.


"Kamu masih inget, Sa? Aku kira kamu dah lupa." Ucap Alden terharu sambil mengelus kepala Khansa yang tertutup dengan jilbab. Khansa hanya tersenyum sambil menata nasi serta telur ceploknya ke sendok lalu bersiap membawanya ke mulut Alden.


"Ha dulu." Ucap Khansa sambil mengadahkan tangan kirinya dibawah tangan kananya yang memegang sendok. Alden pun terkejut karena Khansa berinisiatif menyuapinya. Dengan sennag hati, dia pun membuka mulitnya lebar-lebar menunggu suapan dari Khansa.


"Kamu sendiri nggak makan?" Ucap Alden tak jelas karena dia sedang mengunyah makanan. Khansa pun terkekeh pelan dan mulai mengumpulkan nasi serta memotong telur ceplok yang ada di piringnya.


"Khansa makan juga." Ucap Khansa santai sambil menyuapkan makanannya ke mulut. Lagi dan lagi Alden terkejut oleh sikap Khansa. Dengan buru-buru dia menelan makanannya dan segera menatap pujaan hatinya.

__ADS_1


"Kamu nggak jijik pakai sendok bekasku?" Ucap Alden antusias sambil memegang kedua bahu milik Khansa. Sedangkan Khansa hanya menggelengkan kepalanya dan mulai mengambil makannya kembali.


"Mau makan lagi? Tapi ini bekas Khansa." Ucap Khansa sambil mengangkat sendoknya diantara mereka berdua. Sontak Alden pun menganggukkan kepalanya sepeti anak kecil.


"Aku mau makan lagi kalo sendoknya bekas kamu." Ucap Alden sambil membawa tangan Khansa mendekat padanya. Khansa tersenyum lebar melihat tingkah laki-laki yang berada didepannya saat ini.


Sementara dikamar Sara, Sara yang berniat tidur siang untuk menghilangkan pusingnya pun bubar sudah rencananya. Dia mencoba melepaskan pelukan erat dari suaminya itu namun tak bisa.


Setelah berusaha susah payah, akhirnya Sara dapat terlepas dari pelukan suaminya yang tengah tertidur pulas tersebut. Sara yang melihat Akasa mencari-cari sesuatu pun segera memberikan guling untuk pelukannya.


Sara tersenyum senang karena Akasa tak terbangun. Dia memajukan badannya dan mencium dahi sang suami sedikit lama. Setelahnya, Sara pun memakai jilbabnya dan berjalan keluar dari kamarnya.


Bertepatan dengan itu, Bella juga sedang berpegangan erat pada gagang pintu kamarnya. Dengan cepat Sara berlari kecil menuju Bella dan menahan tubuh lemas Bella.


"Eh, Sara. Kok kamu ada disini? Maaf ya aku ngerepotin kamu." Ucap Bella sambil memengang tangan Sara erat. Sara hanya menganggukkan kepalanya sambil berjalan memapah Bella.


"Kamu mau kemana? Kenapa nggak bangunin suami kamu? Kalau keluar kamar, usahain jangan sendirian. Badan kamu masih lemes gini, nggak baik buat calon bayi kamu juga." Ucap Sara protektif yang membuat Bella terharu.


"Sar, duduk di bangku itu yuk. Aku mau ngobrol banyak sama kamu." Ucap Bella yang langsung diangguki oleh Sara. Setelah berjalan dengan tertatih-tatih, mereka berdua telah duduk dengan nyaman di depan kamar keduanya.


"Ibu apa kabar, Bel? Sehat kan? Hampir 5 tahun nggak pernah lihat Ibu." Ucap Sara sambil menundukkan kepalanya menatap perut Bella yang masih rata. Bella menghela nafsnya berat lalu memeluk Sara erat.


"Jangan minta maaf atas dosa-dosa kamu ke aku, Bel. Minta maaflah kepada Allah. Aku udah maafin kamu." Ucap Sara sambil menarik badannya dari pelukan Bella.


"Si kecil gimana? Sehat-sehat aja kan? Udah ngerasain morning sickness belum Bel?" Tanya Sara antusias sambil mengelus perut Bella penuh kasih sayang.


"Alhamdulillah baik, ini malah lagi parah-parahnya Sar. Soalnya masih trimester pertama. Ini udah dua bulan loh." Ucap Bella semangat sambil menceritakan tumbuh kembang anaknya.


Akhirnya mereka berdua berbicara banyak tentang masa kehamilan. Sara sama sekali tak keberatan soal bahasan ini, karena dia juga ingin tahu lebih banyak tentang ibu hamil.


Mereka berdua terlaku asyik berbicara sampai tak sadar bahwa Rendi dan Ella sedari tadi menatap mereka berdua.


"Kenapa kita bisa dapat menantu sebaik Sara ya, Pa? Mama bingung, dulu Mama buat kebaikan apa sampai-sampai Mama punya mantu seperti Sara. Dia dengan besar hati mengalah untuk bayi yang berada di kandungan wanita jahat itu." Tanya Ella sambil menatap suaminya.


Sedangkan Rendi hanya tersenyum tipis melihat sikap dewasa menantu keduanya.


"Entahlah Ma, Malik sangat berbaik hati pada kita berdua. Dia memberikan dua putri terbaiknya kepada kita. Entah Asha maupun Sara, mereka berdua sangatlah sempurna. Revan dan Akasa lah yang lebih beruntung memiliki mereka berdua." Jawab Rendi sambil membawa sang istri memasuki kamarnya.

__ADS_1


Sara dan Bella semakin menjadi-jadi ketika mengobrol tentang masa depan. Entah toko perlengkapan baju mana yang akan mereka borong, hingga tempat lahiran mana yang paling bagus.


Obrolan mereka terhenti karena dua panggilan dengan kata yang sama.


"Sayang?!" Ucap Akasa dan Ethan bersamaan yang baru saja muncul dari dalam kamar. Sontak mereka berdua saling berpandangan dan menatap istri mereka. Sara dan Bella pun tak dapat menahan tawanya lagi.


"Bisa bareng gitu. Lucu banget ih." Kelakar Sara sambil tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Bella tak henti-hentinya tergelak sambil menatap sang suami dan Akasa.


"Eh Sar, jangan-jangan..." Ucap Bella menggantung sambil menatap Sara.


"Kita jodoh!" Ucap Sara dan Bella bersamaan lalu kembali tergelak bersama.


Ethan tersenyum lega karena melihat Bella kembali ceria. Begitupun dengan Akasa.


Mereka berdua berjalan mendekati istri mereka lalu duduk disebelahnya.


"Eh Sar, besok kalo anak aku laki terus anak kamu perempuan kita jodohin yuk? Lucu kayaknya." Ucap Bella sambil menggenggam tangan suaminya erat karena masih saja tertawa.


"Boleh banget tuh. Mas, kita booking anaknya Bella sama Kak Ethan ya? Kamu mau princess kan?" Tanya Sara kepada suaminya dengan sisa tawanya.


Ethan dan Akasa masih menatap bingung kepada istri mereka yang masih saja tertawa lucu.


"Kamu mau kan, Mas? Pasti anaknya Sara cakep, orang Emak sama Bapaknya juga udah bibit unggul." Ucap Bella sambil menatap Ethan. Karena tak mau membuat Bella kecewa, Ethan pun menganggukkan kepalanya sambil mengelus perut rata milik Bella.


Akasa yang melihat tingkah mesra dari Ethan pun tak mau kalah saing, dengan segera mengulurkan tangannya dan mengelus perut Sara yang belum terdapat apa-apa disana.


"Aku ikut sama kamu aja, Sayang. Bentar lagi Princess kita ada di perut kecil kamu ini." Ucap Akasa lucu yang membuat Sara membelalakkan matanya.


Sara bingung dengan perkataan sang suami. Bagaimana akan ada bayi kecil diperutnya? Jika mereka berdua belum... heh sudahlah.


Tak lama setelah itu, Sara ikut mengelus tangan besar sang suami yang berada di perutnya. Keduanya saling berpandangan membuat Ethan dan Bella sedikit meradang.


"Ya nggak bentar juga kali, Mas. Orang Bella sama Kak Ethan nunggu lama." Ucap Sara dengan wajah polosnya sehingga kembali mengundang gelak tawa mereka semua. Dengan gemas, Akasa mengecup pipi sang istri.


Karena tak ingin semakin kepanasan dengan tingkah mesra keduanya, Ethan pun menggendong tubuh Bella ala brisal style lalu berjalan celat menjauhi Akasa dan Sara.


"Makanya cepet-cepet di unboxing biar Princessnya cepet nongol." Ucap Ethan sambil tertawa diikuti oleh Bella yang tertawa geli.

__ADS_1


Akasa yang mendengar perkataan dari dua juniornya ketika bekerja hanya menggelngkan kepalanya. Dia memiliki ide jahil untuk istrinya.


"Mau unboxing kapan, hm?" Tanya Akasa dengan mendekatkan mulutnya ke telinga Sara. Perbuatan Akasa membuat Sara menggelengkan kepalanya ngeri.


__ADS_2