SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 59


__ADS_3

Revan pun mengambil kunci motornya dan pergi meninggalkan kantor polisi. Ada perasaan tak enak yang muncul di hatinya ketika Asha tidak mengangkat teleponnya.


Dengan kecepatan penuh, Revan membelah jalanan ibu kota menuju rumahnya. Setelah melalui beberapa kali lampu merah dan jalan sepi, tibalah dia di rumah sederhana miliknya dan istri tercintanya.


Revan pun mengambil kunci rumah yang tempo hari telah sisiapkan oleh Asha untuk dirinya. Setelah mengucapkan salam, Revan tak mendengar sahutan dari sang istri. Dengan nafas yang memburu dia berkeliling ke semua ruangan yang ada di rumahnya.


"Sayang! Kamu dimana?!" Teriak Revan dengan langkah kaki yang terburu-buru mencari keberadaan sang istri.


"Asha! Abang pulang, Sha. Kamu dimana?!" Ucap nya lagi sambil membuka ruangan terakhir dirumahnya sebelum menuju ke kamar. Namun nihil, percuma saja Revan mencarinya karena memang Asha tak berada di rumah.


Tempat terakhir yang menjadi harapan terakhir Revan. Dengan tangan yang gemetar, Revan membuka pintu kamar miliknya dan sang istri. Mata Revan melotot dan seketika jantungnya berhenti berdetak sementara.


"Ya Allah!" Ucap Revan ketika melihat kaca besar yang langsung menghadap ke taman di kamarnya sudah pecah. Revan berjalan memasuki kamarnya dan mencari lagi dimana keadaan Asha. Setelah mencari dan tak menemukam lagi, Revan mencoba keluar dari rumahnya melalui jendela besar tersebut dan mencari sseuatu yang bisa memberinya petunjuk.


Revan kaget karena melihat genangan darah berada di tamannya. Revan pun mengikuti arah darah tersebut yang membawanya ke luar gerbang. Revan pun menendang gerbang rumahnya sambil mengacak rambutnya.


"Lo beg* banget sih, Van. Kenapa Lo masih bisa tenang sedangkan Lo tinggalin Istri Lo dirumah! Kenapa nggak Gue anter aja si Asha biar aman sama Mama?! Sayang, kamu dimana?!" Ucap Revan dengan nada marahnya sambil menyalahkan diri sendiri.


Revan mengira bahwa sang istri diculik seseorang, dan orang tersebut menyakiti Asha. Revan juga mengira bahwa tetesan darah tersebut milik sang istri, namun Revan salah. Karena darah tersebut milik Sara. Dengan langkah seribu, Revan mengambil kunci motornya dan berniat pergi kerumah sang Mama.


Revan menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi sambil berdo'a dalam hatinya agar sang istri tetap baik-baik saja.

__ADS_1


Setelah 20 menit perjalanan, sampailah Revan di kediaman orang tuanya. Dengan cepat dia pun turun dari motornya dan berlari menuju rumah orang tuanya.


Namun betapa terkejutnya Revan ketika melihat semua kaca yang berada di rumah Mama nya sudah pecah seperti di lempar dengan batu dari arah luar. Revan pun berlari menuju pintu rumah mamanya dan mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada sahutan dari dalam.


Karena tak mendapat jawaban, Revan pun berjalan menuju rumah sebelah dan dan berharap semoga ada orang disana. Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi karena kaca yang berada di rumah adik-adiknya juga pecah seperti milik orang tuanya.


Karena sudah merasa tidak beres, Revan pun mengambil handphone nya dan menelpon sang Mama. Dan panggilan pertama pun sudah diangkat oleh sang Mama. Revan segera menanyakan dimana keberadaan sang Mama. Ella yang ditanya dimana keberadaannya pun mengatakan bahwa dirinya berada di rumah sakit kota.


Setelah mematikan panggilannya, Revan pun mengira jika orang tuanya berada di rumah sakit karena menunggu Asha. Tak ingin memiliki banyak negatif thinking, Revan pun segera menjalankan motornya menuju rumah sakit.


Setelah beberapa lama membelah jalanan, Revan telah tiba di rumah sakit dan segera berjalan menuju ruangan yang disebutkan oleh sang Mama. Dengan langkah yang yang ragu Revan membuka pintu ruangan tersebut dengan hati yang bergetar.


Setelah pintu ruangan tersebut terbuka Revan mengernyit bingung karena bukan Asha yang dirawat tetapi adiknya, Sara. Perlahan Revan berjalan mendekati sang Mama yang sedang membantu Sara untuk duduk.


Ella yang mendengar pertanyaan dari sang anak pun mendadak bingung harus mengatakan apa.


Ella yang tak kunjung menjawab pertanyaan dari Revan pun membuat Revan tambah bingung. Lalu dia pun bertanya kepada Alden. Dengan perasaan yang gugup dan takut, Alden menarik nafasnya dalam-dalam dan menceritakan semuanya. Alden mengatakan yang sejujurnya dan menceritakan semua kejadian yang sebenarnya.


Mulai dari mendapatkan kabar bahwa Silla keluar dari kantor polisi, lalu Mama dan Sara yang menyusul Teh Asha ke rumahnya, sampai kejadian di mana mereka tak menemukan keberadaan Asha dan membuat Sara terluka kakinya.


Revan yang mendengar cerita dari Alden pun sontak terkejut bukan main. Bukankah tadi pagi Mama nya menelpon nya dan menanyakan keberadaan Asha? Lalu mengapa jika Mama nya tahu bahwa Asha tak berada di rumah dan tidak memberitahunya? Pikir Revan.

__ADS_1


"Bukankah tadi pagi Mama berada di rumah? Lalu Mama menanyakan keberadaan Asha. Dan mengapa ketika Revan menanyakan dimana keberadaan Asha, Mama menjawab bahwa Mama sudah bertemu dengannya. Bukankah Asha tidak berada di rumah? Lalu siapa yang Mama ajak bicara, Ma?" Tanya Revan kepada Mama nya dengan wajah sendunya.


"Mama enggak berniat bohongin Abang. Mama cuma khawatir jika Mama memberitahukan kepada Abang tentang kondisi sebenarnya dari Asha, Abang akan terganggu pekerjaannya. Mama juga sebenarnya khawatir, tapi Mama takut jika Abang menjadi bertambah pikiran. Belum lagi Abang harus mengurus pekerjaan kantor. Mama minta maaf ya sama Abang." Ucap Ela sambil menundukkan kepalanya.


Revan pun menghembuskan nafasnya perlahan dan memeluk sang Mama.


"Ini bukan salah Mama, Revan tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Mama sudah yang terbaik." Ucap Revan sambil menenangkan sang Mama yang merasa bersalah.


Alden pun berjalan mendekati sang kakak.


"Bang, kita semua udah curiga sama Silla dan anaknya. Bisa aja mereka ngerencanain semua ini karena masih punya dendam sama keluarganya Teh Asha. Ya enggak sih Bang?" Tanya Alden menyampaikan apa yang menjadi kekhawatiran mereka.


Revan pun melepaskan pelukannya dari sang Mama dan menghadap sang adik.


"Wait, berarti kaca rumah yang pecah dirumah Mama dan Sara itu perbuatan dari Silla dan anaknya?" Tanya Revan yang dianggukki oleh Alden. Revan yang melihat sebuah kamera cctv yang berada siluar kamar milik Sara pun mendadak ingat.


"Den! Abang baru inget kalau rumah abang ada cctv nya! Bentar-bentar, Abang cek dulu." Ucap Revan sambil membuka Hp yang berada di saku celananya. Revan pun berjalan menuju sofa yang ditempati oleh Khansa dan Aurora.


Revan sempat bertanya juga kepada adik-adiknya apakah ada yang terluka atau tidak. Namun jawaban mereka semua membuat Revan menjadi lega. Revan juga sudah tahu bahwa darah yang verada di taman rumahnya adalah milik Sara.


Saat membuka rekaman cctv di rumahnya, Revan pun mengepalkan tangannya kuat dan memukul pinggiran sofa dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Shi*t! Awas kalian! Kalian ngelawan orang yang salah!" Ucap Revan yang langsung berdiri dari duduknya.


__ADS_2