
Revan dapat merasakan detak jantung Asha yang berdetak dengan cepat. Bukannya Revan melepaskan Asha, dia malah mengeratkan pelukannya pada perut Asha.
Asha yang sudah menahan nafasnya terlalu lama pun mengeluarkan sisa karbondioksidanya dan mengambil nafasnya dalam-dalam. Sedangkan Revan, dia malah tertidur kembali.
Asha yang sadar bahwa Revan tertidur kembali pun melemaskan badannya. Dahinya menyentuh permukaan kasur serta daun telinganya yang saling menempel dengan milik Revan. Maka otomatis, bibirnya pun mencium bahu sebelah kiri milik Revan.
Setelah 5 menit berlalu, Asha pun mencoba menolehkan kepalanya menghadap Revan. Asha memanggil Revan dengan suara yang sedikit pelan tepat disamping telinga Revan.
"Bang Revan, udah lima menit ini." Ucap Asha sambil menahan nafasnya karena dia menahan berat badannya sendiri. Revan yang merasakan bisikan ditelinganya pun refleks menolehkan kepalanya. Hingga akhirnya...
Cupp...
Bibir Revan menyentuh bibir ranum milik Asha, sempurna. Asha yang mendadak dicium oleh Revan pun memelototkan matanya. Sedangkan itu, Revan malah merasa tak bersalah. Dia hanya bertanya.
"Kenapa kau memanggilku?" Ucap Revan dengan suara seraknya sambil tetap memeluk Asha. Asha yang masih kaget pun tersadar karena perkataan Revan.
"Engg...itu...anu...ish. Emm, itu dipanggil Bibi buat makan malem bersama." Ucap Asha dengan gagap. Revan pun bisa merasakan jantung Asha yang masih marathon didalam sana.
Perlahan, Revan pun mengangkat tubuhnya serta Asha. Sehingga dirinya dan Asha sudah berdiri dengan sempurna. Karena badan mereka menempel satu sama lain, Revan yang hendak menatap Asha pun harus menundukkan kepalanya.
"Makan malam nya dirumah siapa? Rumah Bang Revan atau Rumah Asha?" Tanya Revan yang membuat Asha mendongakkan kepalanya.
Degg...
Mata mereka bertemu satu sama lain. Dan sebelum kehilangan akal sehatnya, Asha pun menjawab pertanyaan dari Revan.
"Emm...dirumah Asha, Bang." Jawab Asha yang setelahnya, mengalihkan pandangannya dari Revan. Revan pun melepaskan pelukan tangannya dari badan Asha, dan sedikit menjauhkan badannya dari Asha.
"Yaudah, Asha balik kerumah dulu. Nanti Abang susul, Bang Revan mandi dulu ya." Ucap Revan sambil mengacak rambut Asha yang dicepol asal dan berjalan menuju kamar mandi.
Asha masih mematung atas perlakuan Revan kepadanya. Asha tersadar ketika Revan memanggilnya.
"Sha, bisa minta tolong? Tolong ambilin handuk di lemari ya? Soalnya handuk yang dikamar mandi udah nggak ada." Ucap Revan hanya memunculkan kepalanya dibalik pintu kamar mandi.
__ADS_1
Asha baru sadar bahwa handuk yang berada dikamar mandi Revan telah dia pakai tadi pagi. Asha pun berjalan menuju lemari Revan, lalu mengambil satu handuk yang terlipat rapi di rak bawah sendiri.
Setelahnya, Asha mengantarkan handuk tersebut kepada Revan. Revan yang melihat Asha datang kearahnya pun megulurkan sebelah tangannya untuk menerima handuk tersebut.
"Buruan mandinya ya, Bang. Udah ditunggu dari tadi soalnya." Ucap Asha sambil memberikan handuk. Revan pun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Siap, Bhayangkari ku." Ucap Revan sambil tersenyum manis. Asha yang bingung dengan perkataan Revan pun hanya tersenyum kikuk sambil keluar kamar Revan.
"Masudnya Bhayangkari?" Tanya Asha pada dirinya sendiri setelah menutup pintu kamar Revan. Asha pun berjalan pulang menuju rumahnya sambil mengira apa maksud dari perkataan Revan.
Saat sampai didalam rumahnya, Asha berjalan mendekati Sara yang sedang berbicara asyik dengan Khansa dan Alden.
"Sar, Teh Asha boleh tanya nggak?" Ucap Asha sambil berdiri dihadapan mereka bertiga. Sara yang sedang mengunyah camilan pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Maksudnya, 'siap, Bhayangkari ku' itu apa? Soalnya tadi Bang Revan bilang gitu." Ucap Asha polos tanpa melihat Alden dan Khansa yang sudah membelalakkan matanya.
Sara yang sedang mengunyah pun mendadak tersedak dengan makanannya. Mata Sara melotot mendengar pernyataan dari Asha.
"Aaaaaaaa..." Teriak Sara, Khansa, dan Alden bersamaan. Asha pun menutup telinganya ketika mendengar teriakan adik-adiknya.
"Bhayangkari itu istrinya para polisi. Berarti Kalo Bang Revan bilang 'siap, bhayangkari ku' berarti 'siap, istri ku'." Tafsir Alden sambil menatap Asha, Sara, dan Khansa. Mata Asha pun seketika melebar.
"Cie...cie...istri ku" Ucap Sara sambil lmengguncangkan tubuh Asha heboh.
"Ya Allah, makin kesini makin so sweet." Ucap Khansa sambil melompat kegirangan.
"Aaa...kakak ipar ku." Ucap Alden yang langsung mengguncangkan tubuh Asha setelah Sara. Semantara itu, Asha merasakan bahwa pipi nya sedikit memanas.
"Jangan di goyang goyangin gitu dong, Teh Asha nya. Nanti kalo pusing gimana?" Ucap Revan yang tiba-tiba muncul dari pintu utama. Seketika Alden langsung melepaskan tangannya dari lengan Asha.
Revan berjalan mendekati keempatnya danmenyapa mereka.
"Gimana bersih-bersihnya? Dah selesai?" Tanya Revan sambil menatap Asha dan adik-adiknya. Alden menatap tak suka pada sang kakak.
__ADS_1
"Iya, baru nanyain pas udah selesai. Pas bersih-bersih aja tinggal molor." Jawab Alden sambil pergi kearah meja makan. Mereka semua pun berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi masing-masing.
Ella mulai membagikan nasi serta lauk nya kepada anak-anaknya. Alden yang memang memiliki mulut dengan baterai unlimited pun terus mengoceh ngalor ngidul tak karuan.
"Oh iya, Mama lupa mau bicara. Mumpungbesok kan libur, jadi acara pengajiannya bakal diadain pagi. Mama panggil ibu-ibu kompleks, temen arisan Mama, temen kantor Papa, sama temen-temen Bang revan." Ucap Revan setelah selesai makan.
"Ada temen-temen nya Bang Revan? Wah kagak ada yang ganteng-ganteng, Ma. Terus temen-temen arisan Mama ada yang bawa anak cewek nggak?" Tanya Alden memberondong sang Mama.
"Ngapain kamu cari yang ganteng-ganteng? Kamu nggak belok kan, Den? Terus kenapa habis cari yang ganteng terus cari yang cantik. Gimana sih? Meskipun ada yang cantik, Mama nggak mau ya kalau kamu suka sama anak mereka." Ucap Ella seolah tahu apa yang ada dipikiran Alden.
"Ih, amit-amit lah Ma. Alden normal kok. Alden tanya temennya Bang Revan ada yang ganteng atau enggak, itu buat Sara. Siapa tau gitu kan, Sara kecantol. Terus dibawa jauh kesana. Kalo soal cewek cantik, buat Alden mah kalo ada yang cakep kenapa enggak?" Jawab Alden sambil menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Enak aja kecantol. Sana Lo aja yang pergi jauh. Ini juga mulutnya nggak bisa diatur filternya." Ucap Sara smabil memukulkan sendok nya ke bibir Alden perlahan.
"Intinya Mama nggak mau punya mantu dari temen arisan Mama. Mereka selalu dimanja sama orang tuanya. Gimana kalau nikah, nggak bisa apa-apa? Pusing Mama. Mending itu yang satu modelan sama ni cewek-cewek cantik di depan Mama." Jawab Ella ketus, lalu menyapu pandanganya kearah Asha dan adik-adiknya penuh arti.
"Itu Mah udah pasti Ma, nah ini jalan pembukanya udah mulai pendekatan. Do'a in aja Ma, biar cepet Sah." Ucap Alden sambil menatap sang kakak dan Asha.
Revan pun tersenyum manis menghadap Asha.
"Tapi sepertinya nggak mungkin deh, Ma. Secara kan kita berdua kan be-" Ucapan Revan terhenti karena Asha memotong pembicaraannya.
"Jangan pernah bilang nggak mungkin, Bang. Kita sebagai manusia sebaiknya jangan pernah melangkahi takdir Tuhan. Mungkin kau mengatakan hal itu karena kau belum tahu bagaimana kedepannya. Asha izin pamit ke kamar ya, Bi. Asha mau istirahat dulu." Ucap Asha dengan nada datar nya sambil beranjak dari duduknya.
Asha berusaha sekuat mungkin untuk menahan tangisnya. Mengapa harus memperlakukan dirinya dengan istimewa, namun hanya menjadi pelarian sesaat. Wanita mana yang tidak merasa berbunga-bunga jika diperlakukan seperti Revan memperlakukan Asha.
Sementara di meja makan semua tegang dengan apa yang dikatakan oleh Revan dan Asha.
"Bang! Nggak seharusnya kamu bilang seperti itu dihadapan Asha! Kenapa kau memperlakukannya dengan spesial akhir-akhir ini, jika hanya kau buat kecewa?!" Ucap Ella dengan tegas sambil berjalan meninggalkan meja makan dan menyusul Asha.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
Iyi Gecerler! all❤.
__ADS_1