SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 73


__ADS_3

Bella yang ditinggalkan oleh Ethan pun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia menatap tajam ke sekelilingnya dan segera duduk seperti semula. Tangannya terulur mencari ponselnya untuk menghubungi Mamanya.


"Ma! Bella nggak suka sama Sara ya. Bella mau Mama beresin si Sara!" Ucap Bella penuh emosi dengan tangisnya. Amora yang mendengar anak kesayangannya menangis pun menjadi bingung.


"Kamu kenapa, sayang? Jelasin sama Mama dulu. Apa yang dilakuin sama anak sial** itu? Berani-beraninya dia membuat anak gadisku menangis!" Ucap Amora penuh emosi sambil menenagkan anaknya.


"Masa pacar aku ninggalin aku gegara dia. Aku nggak terima! Aku marah lah sama dia." Ucap Bella manja smabil menghapus air matanya. Amora yang mendengar perkataan Bella pun baru sadar jika pacar sang anak adalah anak dari Rendi.


"Pacar kamu salah satu anak Pak Rendi? Iyakah sayang?" Tanya Amora antusias. Bella yang mendengar suara sang Mama berubah pun bingung.


"Iya, Ma. Emang kenapa? Pacar Bella itu anak kedua dari Pak Rendi. Namanya Ethan Putra Laran." Ucap Bella menjawab pertanyaan Amora. Amora yang mendengar jawaban dari sang anak pun tertawa terbahak-bahak.


"Tunggu, tunggu. Kau bilang kalau kau sedang marah padanya? Mengapa kau sangat bodoh? Dekati dia, jika bisa jadikan dia suamimu sayang. Supaya setelah menikah kau bisa hidup mewah. Sekarang kau bujuk dia untuk memaafkanmu. Oke?" Ucap Amora kepada Bella.


Bella yang mengetahui maksud dari Amora pun seketika berhenti menangis. Benar juga kata Mama, aku bisa hidup mewah pakai uang Mas Ethan. Batin Bella diikuti dengan senyum liciknya.


"Siap, Ma. Aku pastiin kalau Mas Ethan nggak bisa lepas dari Bella. Yaudah, Ma Bella tutup dulu teleponnya. Sampai ketemu dirumah." Ucap Bella lalu mematikan panggilannya kepada sang Mama.


Sementara Asha dan Rendi yang baru sampai di rumah sakit pun langsung berlari menuju ruang rawat milik Sara. Semua orang hanya menatap bingung kepada mereka. Sesampainya mereka disana, hanya terlihat Khansa, Aurora, Alden, dan Nathan di luar ruangan.

__ADS_1


"Ini kenapa kalian diluar? Kenapa nggak didalem buat jagain Mbak Sara?" Ucap Rendi dengan nafas tersengal-sengal. Alden hanya menatap Khansa dan mengaggukkan kepalanya.


"Sara lagi di cek, Pa. Soalnya kan tangan Sara tadi keluar darah. Tiang infusnya aja sampai jatuh." Ucap Alden sambil menatap takut kepada sang Papa.


"Kenapa Mbak Sara bisa sampai jatuh?! Siapa yang ditugasin buat jaga?! Kenapa nggak ada tanggung jawabnya sedikit aja?! Papa nitip ke kalian karena Papa percaya sama kalian! Tau gitu, nggak bakal Papa izinin kalian jenguk Mbak Sara! Siapa yang terakhir jaga Mbak Sara?!" Ucap Randi dengan nada marah nya sambil menatap keempat anaknya.


"Terakhir masih ada Bang Ethan, Pa. Nathan ikut Aurora pergi, karena Nathan belum sarapan dari pagi. Tapi kita nggak tahu kalau Bang Ethan pergi. Bener, Pa." Ucap Nathan dengan menundukkan kepalanya.


Rendi beralih menatap Aurora, Aurora yang ditatap oleh Rendi pun menundukkan kepalanya. Mengapa Papa sangat menakutkan ketika marah? Batin Aurora.


"Nathan ikut Rora, Pa. Tapi beneran masih ada Kak Ethan di kamar Mbak Sara. Kita berdua juga nggak tau kalau Kak Ethan ternyata pergi. Kak Ethan nggak pamit sama kita, Pa. Iya kan Nat?" Ucap Aurora sambil menoleh ke Nathan meminta dukungan. Nathan pun hanya mengangguk mengiyakan perkataan dari Aurora.


"Terus Alden sama Khansa?" Tanya Rendi dengan suara tenangnya namun tak mengurangi ketegasan dalam suaranya. Khansa pun mendongakkan kepalanya dan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Terus Bang Ethan?" Ucap Rendi sambil menatap ke sekeliling koridor tersebut. Mereka semua pun hanya menggelengkan kepalanya. Tak lama setelah itu, datanglah Ethan dengan lari kecilnya.


"Maaf Pa, Abang telat." Ucap ethan sambil meneyralkan detak jantungnya. Rendi hanya menatap tajam sang anak dan hendak mendekatinya. Namun terhenti karena suara dokter yang keluar dari ruangan Sara.


"Gimana keadaan anak saya, dok?" Tanya Rendi dengan nada cemasnya. Sang dokter pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Syukurlah, kondisi Nona Sara semakin membaik. Kami hanya memberinya obat penenag sehingga sekarang dia sedang tertidur. Tolong hindari tekanan di punggung, telapak kaki serta tangan kirinya ya. Agara luka dapat cepat sembuh dan segera pulang kerumah. Baiklah saya pamit dahulu. Permisi." Ucap sang dokter lalu pergi dari ruang rawat Sara.


Ella yang tahu arti tatapan tajamnya kepada Ethan pun mengajak anak perempuannya untuk masuk.


"Yaudah, Khansa, Rora, sama Teteh ikut Mama masuk ya? Biar Papa ngomong sama Abang-abangnya dulu." Ucap Ella sambil menggiring anak-anak perempuannya masuk. Mereka pun hanya pasrah dengan ajakan sang Mama.


Dan ya, aura mencekam langsung menyeruak melingkari mereka. Rendi menatap keempat putranya yang sedang duduk bersampingan. Rendi menatap tajam ke arah Ethan.


"Bisa kasih satu alasan terkuat kenapa kamu tinggalin Sara? Seberapa pentingnya pekerjaan itu sampai kamu tega ninggalin adik kamu yang baru bangun dari koma itu!" Ucap Rendi sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Abang ada acara sebentar Pa. Abang juga nggak mau ninggalin Sara, tapi mau gimana lagi." Ucap Ethan dengan nada yang sedikit tinggi. Rendi yang baru sekali ini mendapati anaknya menggunakan nada tinggi ketika berbicara kepadanya pun melepaskan tautan kedua lengannya.


"Sejak kapan kau berani meninggikan suaramu dihadapan keluargamu sendiri? Siapa yang mengajarkan hal tersebut padamu? Apakah Papa atau Mama?" Ucap Rendi dengan nada yang tinggi sambil menundukkan badannya menyamai tinggi sang anak yang sedang duduk.


"Abang nggak suka kalo Papa marah ke Abang karena orang lain. Seumur hidup Abang, belum pernah Papa bentak Abang. Baru sekali ini Pa, dan itu karena Sara." Ucap Ethan tenang yang membuat semua orang menatap kaget kearah Ethan.


"Kau bilang orang lain? Sara adalah orang lain bagimu? Lalu siapa yang kau anggap bukan orang lain hah?! Bella?! Anak dari pria baji**an itu?!" Ucap Rendi marah yang membuat Ethan kaget karena sang Papa tahu.


"Papa salah paham sama Abang. Bukan gitu maksud Abang." Ucap Ethan berusaha meyakinkan sang Papa. Namun bukan Rendi jika tak mengetahui hal apapun tentang anaknya.

__ADS_1


"Mengapa ketika Bella memintamu untuk menemuinya, kau langsung pergi? Apakah kau tak berpikir jika Sara juga butuh kamu? Padahal dia hanya di cafe depan bukan? Mengapa dia tak kemari saja? Takut, atau kau yang takut. Takut jika kami tahu siapa kekasih mu itu?!" Bentak Rendi kepada anak nomor duanya itu.


"Abang nggak mau kalau Bella kesini dan menyakiti Sara lagi. Ethan takut Sara kenapa-napa. Ethan pergi ninggalin Sara bukan karena Ethan nggak tanggung jawab Pa. Tapi Ethan takut kalau gadis yang udah Ethan anggap sebagai adik sendiri sampai terluka lagi. Ethan nggak mau sesuatu terjadi sama Sara." Ucap Ethan yang membuat semua orang menatap kaget kearahnya.


__ADS_2