
JANGAN LUPA LIKE DI BAB 72 DAN 73 NYA YA KAK. JANGAN BAB 73 NYA AJA YANG DI LIKE😊. DENGAN KAKAK LIKE BAB DI SSI, BERARTI KAKAK SUPPORT KAYENNA UNTUK SELALU UP. UNTUK YANG SUDAH LIKE DI DUA BAB KAYENNA HARI INI, TERIMAKASIH.
Alden yang melihat Sara terjatuh dengan kondisi tengkurap pun langsung berlari mendekati Sara. Begitu pun dengan Khansa yang langsung duduk dilantai dan memangku kepala sang kakak.
"Mbak Sara kenapa?! Kenapa nggak nunggu yang lain kalau mau turun?" Ucap Khansa sambil mengusap air mata sang kakak. Sara masih menahan rasa sakit di tubunya sambil menggelengkan kepala.
"Bukannya ada Bang Ethan, Aurora, sama Nathan ya?! Dimana sih mereka?! Cuma suruh jaga aja nggak becus!" Maki Alden sambil mencari ketiganya di seluruh ruangan di kamar milik Sara. Khansa hanya menatap Alden yang masih setia mencari keberadaan sang kakak dan adik-adiknya.
"Udahlah Kak, jangan emosi gitu." Ucap Khansa lembut sambil menatap netra Alden. Alden yang masih emosi pun seketika luluh karena perkataan Khansa.
"Nggak emosi gimana, Sa? Apa nggak sedikitpun mereka mikir gimana kondisi Sara? Selama koma Sara nggak ada yang namanya makan atau minum, nggak ada asupan yang masuk ke tubuhnya. Papa nyuruh mereka jaga buat apa? Ya biar kalau Sara bangun dari komanya sewaktu-waktu ada yang rawat dia. Coba kalo gini? Yang susah siapa? Sara kan?" Ucap Alden dengan menurunkan nada bicaranya sambil berjongko didepan Sara.
"Sekarang Gue angkat Sara dulu.
Lo mundur dulu, Sa." Ucap Alden sambil menarik selimut putih yang masih terongok di brankar Sara. Sara pun mencoba berbicara dengan nada tercekatnya.
"Gausah naikin Gue ke brankar lagi, Den. Gue mau ke kamar mandi." Ucapnya dengan nada lirih karena pernafasannya sedikit terhambat. Khansa yang mengetahui penyebab sang kakak jatuh pun hanya menghembuskan nafasnya.
"Yaudah Kak Alden bantu Mbak Sara ke kamar mandi ya?" Ujar Khansa sambil berdiri dari duduknya. Alden yang mendengar perkataan dari Khansa pun melotot.
"Yang bener aja, Sa! Masa Gue disuruh nemenin Sara di kamar mandi. Bukan mahram, Sa!" Ucap Alden sambil ikut berdiri dari jongkoknya.
"Yang bilang Kak Alden suruh nemenin Mbak Sara didalem siapa? Perlu ke dokter THT nih. Dasar otak mesum, ngeres!" Ucap Khansa sambil jongkok lagi membantu Sara bangkit dari jatuhnya.
"Ya, Lo sih ngomongnya ambigu gitu. Gue salah paham kan jadinya. Dan ya, Gue nggak ngeres kali. Besok ngeresnya sama Lo aja kalo dah sah." Celetuk Alden yang membantu mengangkat tubuh Sara tanpa melihat wajah merah milik Sara.
__ADS_1
"Jan ngadi-adi Lo, Den. Yang begini nih, Sa. Kudu dijauhin, jangan ditemenin." Ucap Sara sambil tertawa kecil masih dengan tangisnya. Khansa hanya mengangguk setuju sambil menatap tajam Alden. Sedangkan Alden, dirinya sudah tak terima tingkat dewa dengan ucapan Sara.
"Terus Lo pikir Khansa bakal jauhin Gue gitu? Enggak kan, Sa? Kita mah berdua terus, forever ya kan?" Ucap Alden sambil menaikkan kedua alisnya bersamaan menatap Khansa. Alden pun membawa Sara ke dalam kamar mandi disusul oleh Khansa.
Setelah mendudukkan Sara di closet, Alden pun keluar dari kamar mandi sambil mengucapkan sesuatu kepada Khansa.
"Gue tinggal ya, Sa. Jangan rindu, cause rindu itu berat. Makanya jangan digendong." Ucap Alden yang membuat Khansa tertawa geli. Selesai menutup pintu kamar mandi, ekspersi wajah Alden langsung berubah. Dengan perasaan jengkelnya, Alden menghubungi sang papa.
Setelah beberapa kali tak diterima, panggilan kali ini tersambung. Terdengar suara salam dari seberang sana, Alden tersenyum karena sang Mama lah yang menerima panggilannya.
"Wa'alaikumsalam Ma. Ini Alden cuma mau bilang, kalau Sara udah bangun dan langsung jatuh dari brankar. Mama ajak Papa sama Abang kesini sekalian ya. Alden tunggu Mama." Ucap Alden yang langsung setujui oleh Ella.
Sementara itu, dikediaman Rendi.
"Maksudnya?!" Tanya Rendi dengan nada tingginya sambil menatap sang istri. Ella hanya menggelengkan kepalanya. Beda lagi dengan Asha, dia hanya mematung dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Sekarang apa lagi yang kita tunggu? Kita ke rumah sakit sekarang!" Ucap Revan sambil berjalan meninggalkan meja makan menuju pintu utama. Semua orang pun dengan segera menyusul Revan ke garasi.
Setelah semua masuk kedalam mobil, Revan segera melajukan mobilnya ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
"Terus kemana Ethan sampai Sara bisa jatuh?! Emang bener-bener itu anak, sekalinya jauh dari orang tua semakin nggak bener perilakunya!" Ucap Rendi dengan nada marah nya sambil mencari kontak sang anak.
Setelah menemukan kontak sang anak, Rendi pun langsung menekan tombol berwarna hijau tersebut dan menempelkan Hp nya ditelinga sebelah kanannya.
"Dimana, Mas?" Ucap Rendi tanpa salam setelah panggilannya terhubung dengan sang anak. Ethan yang mendengar ucapan sang Papa berbeda dengan sebelum-sebelumnya pun sedikit waspada.
__ADS_1
"Lagi ada urusan bentar, Pa. Tadi dosen Ethan minta surat keterangan. Jadi Ethan anter suratnya sebentar." Ucap Ethan dengan hati-hati menjawab pertanyaan sang Papa.
"Balik ke rumah sakit sekarang! Papa mau ngomong sama kamu!" Ucap Rendi dengan tegas lalu mematikan teleponnya. Ella dapat menebak bahwa suaminya akan memarahi anaknya. Namun Ella tak dapat mencegahnya, karena mau apapun alasannya Ethan tetaplah bersalah.
Asha pun mendial nomor Khansa dan bertanya bagaimana kondisi adiknya.
"Assalamu'alaikum, Sa. Keadaan Mbak Sara gimana? Parah nggak kondisinya?" Ucap Asha setelah panggilannya tersambung dengan sang adik.
"Wa'alaikumsalam, Teh. Keadaan Mbak Sara nggak begitu parah, Teh. Memang keadaan badannya aja yang masih lemes, mukanya juga masih pucat. Kalau setelah jatuhnya, tangannya keluar darah kan infusnya jatuh jadi lepas. Mungkin sama beberapa bagian aja yang sedikit memar." Ucap Khansa yang membuat Asha menjadi sedikit lebih cemas.
"Terus sekarang? Kalian sama siapa aja disana? Teteh udah berangkat dari rumah." Tanya Asha karena khawatir dengan keadaan sang adik.
"Khansa disini sama Aurora, Nathan, sama Kak Alden juga. Tadinya Khansa tanya sama Rora, kenapa ninggalin Mbak Sara. Dia cuma bilang kalau mau nemuin dokternya Mbak Sara, mau tanya kenapa setelah koma Mbak Sara nggak langsung bangun. Nah setelah tanya sama dokternya, si Nathan minta tolong sama Rora buat anterin ke kantin. Ya otomatis Mbak Sara sendiri, apalagi Kak Ethan juga pergi tanpa pamit ke mereka." Ucap Khansa menjawab pertanyaan sang kakak.
"Yaudah, sekarang tungguin Teteh dateng ya? Teteh titip Mbak Sara ke Khansa. Assalamu'alaikum, Sa." Ucap Asha mengakhiri panggilannya. Khansa hanya mengiyakan perkataan sang kakak dan menjawab salam dari kakaknya.
Sementara ditempat lain, Ethan yang baru saja mematikan telepon dari sang Ayah pun menarik tangannya dari genggaman Bella. Bella yang melihat aksi dari Ethan pun tak terima.
"Kamu kenapa sih? Udah nggak mau lagi sama aku? Udah bosen? Iya?" Ucap Bella setengah emosi sambil berdiri dari duduknya. Tak sedikitpun Ethan mendengarkan perkataan dari Bella. Dirinya sibuk memasukkan Hp nya ke saku celana.
"Kamu kenapa berubah sih? Cuma karena orang tua kamu telepon, terus kamu ninggalin aku? Apa orang tua kamu itu lebih penting dari aku?!" Ucap Bella dengan mata yang memanas.
Ethan yang sudah emosi pun menggebrak mejanya. Semua orang yang berada dicafe tersebut pun menatap bingung ke arah Bella dan Ethan.
"Lo gila hah?! Jelas Gue mentingin orang tua Gue lah. Ini juga Gue yakin banget, pasti ada hubungannya sama Sara. Nyesel Gue ninggalin Sara karena keegoisan Lo!" Ucap Ethan lalu pergi dari cafe tersebut.
__ADS_1