SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 41


__ADS_3

Khansa dan Aurora serta Alden yang memang tak sekolah karena kakak kelas mereka sedang ujian pun berkumpul dirumah Asha. Mereka membicarakan berbagai hal tentang persiapan pernikahan Revan dan Asha.


Pukul 9, mereka semua bergegas pergi mengurus tugas mereka masing-masing. Asha dan Revan akan berangkat menuju kantor tugas Revan untuk meminta Surat Permohonan Pengajuan Izin Kawin untuk mereka.


Alden akan berangkat menuju tempat penyewaan gedung di dekat kompleks rumahnya. Sementara Khansa, Ella, dan Aurora berangkat bersamaan agar lebih mudah. Asha dan Revan pun bergegas berangkat dengan mobil Revan.


"Sha, kita beli rumahnya mau kapan? Terus mau rumah yang dua lantai atau satu lantai?" Ucap Revan sambil memundurkan mobilnya. Asha yang sedang sibuk membenarkan seatbelt nya pun mendongakkan kepalanya menghadap Revan.


"Asha ikut Abang aja. Kalau menurut Asha sih mending yang satu lantai aja. Kan kita cuma berdua, Bang. Pindah rumahnya kalau sudah punya Bang Revan junior aja. Tapi kalau Abang mau yang dua lantai, juga Asha mau. Asha ikut Abang aja." Jawab Asha sambil tersenyum manis menatap Revan.


Revan pun meraih tangan Asha dan menariknya mendekati badannya.


"Abang ikut Bhayangkari nya Abang aja. Abang nggak mau Asha nya Abang ini merasa tertekan sama pilihan Abang, terus nanti kita banyak berantem nya." Ucap Revan sambil memcium tangan kanan milik Asha.


*******************


Pukul 11 semua orang sudah berkumpul dirumah Asha. Mereka semua sedang beristirahat sambil menunggu kepulangan Sara. Saat sedang asyik berbicara, tiba-tiba ada seorang wanita yang masuk kerumah Asha tanpa permisi.


"Asha! dimana kamu?!" Ucap Wanita tersebut sambil berjalan tergesa mendekati Asha. Asha yang melihat sang Ibu datang pun berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Ada apa, Bu? Mengapa Ibu mencari Asha?" Ucap Asha sambil mendekati sang ibu dengan nada khawatir. Bukannya menjawab pertanyaan dari Asha, Amora malah melemparkan sebuah amplop berwarna putih dengan logo rumah sakit.


Asha yang tiba-tiba dilempar dengan amplop secara dadakan pun seketika badannya menegang. Semua orang yang melihat hal itu pun sontak beranjak dari duduknya. Revan yang hendak menegur Amora pun di dahului oleh perkataan Amora.


"Gue hamil! Dan ini anak dari Ayah kalian! Jadi kalian harus kasih sebagian harta dari Ayah kalian yang udah mati itu. Gue denger kalo dia punya perusahaan kan? Kasih itu buat calon Adik kalian. Gue nggak mau kalau calon anak Gue hidup miskin!" Ucap Amora sombong sambil melipat kedua tangannya ke depan dada.


"Apa Lo bilang?! Bilang apa hah?! Ulangi sekali lagi didepan Gue!" Ucap seseorang yang membuat semua orang bernafas sedikit lega. Mereka tahu, bahwa Amora akan sedikit kalah debat dengan orang tersebut.


"Lo bilang, kalo Lo hamil bukan?! Lo yakin kalo bapak dari calon anak Lo itu, Ayah Gue?! Nggak salah denger nih Gue?!" Ucap Sara sambil melemparkan tas sekolahnya ke sofa disebelah kakaknya.


Memang katika Sara baru saja pulang dari sekolah, Sara menyerit heran karena ada tamu tak diundang ke rumahnya. Sara yang mendengar sebagian percakapan dari Amora pun mendadak emosi.


"Bentar, Bentar. Bukannya gandengan Lo itu banyak ya?! Bisa aja bayi yang ada di perut Lo itu, anak dari 'mereka'." Ucap Sara sambil menekankan kata mereka.


"Wait, 'selalu' Lo bilang? Berarti Lo ngelakuin hal 'itu' berkali-kali kan? Kita nggak ada yang tau, apakah pengaman itu masih berguna atau enggak. Intinya Gue nggak yakin kalo itu anak dari Ayah Gue!" Tekan Sara sambil menatap tajam mata Ibunya.


Amora yang ditatap tajam oleh Sara pun mengalihkan pandangannya menuju ke Asha.


"Udah lah, Sha. Tinggal kasih surat nya aja kenapa repot sih?! Toh kalian juga masih dapet rumah kan? Kenapa susah banget sih?!Ini juga calon adik kalian walaupun bukan anak dari Ayah kalian! Kalian tetap satu Ibu!" Ucap Amora keceplosan.

__ADS_1


"Wah, kau sudah bisa jujur. Laki-laki mana Ayah dari si bayi? Apakah Tuan Bram, Laki-laki yang satu mobil dengan mu, atau yang satu taksi dengan mu? Aku prihatin dengan nasib bayi yang sedang kau kandung, siapa ya Ayahnya?" Ucap Sara dengan lagak bingungnya yang membuat Amora marah.


"Sudah Gue bilang kan?! Kalo bayi ini adik dari kalian dan ini anak dari Ayah kalian. Kalian baca saja surat dari dokter kandungan itu! Cepat berikan surat perusahaan itu dan aku akan pergi dari sini. Aku muak melihat muka-muka menjijikkan kalian!" Ucap Amora dengan nada yang terburu-buru.


Bukan menjawab, Sara malah mengambil handphone yang ada di saku rok seragamnya dan mendial nomor seseorang. Sara berbicada sebentar dan memasukkan handphone nya ke dalam saku nya lagi.


"Jangan pernah tekan Teteh Gue! Lo nggak ada hak buat ngomong walau sekata pun dengannya. Dan jangan paksa Teh Asha buat ngelakuin apa yang Lo mau. Kalo Lo sampai berani, jangan kaget sama apa yang bakal Gue lakuin. Nggak peduli dengan status Lo yang mantan Ibu kita." Ucap Sara penuh penekanan di katanya. Amora yang melihat tingkah Sara pun hanya menaikkan alisnya sebelah.


"Terus Lo kira kita bakal percaya gitu? Dan buat perusahaan milik Ayah, cuma kita berempat yang berhak memilikinya. Tidak dengan Lo ataupun bayi yang ada di kandungan Lo. Tidak peduli apakah dia adik kandung Gue atau bukan! Paham?!" Ucap Sara sambil berjalan mendekati sang Ibu.


"Jangan sok banyak tingkah Lo! Sok-sok an mau ngancem Gue kalo paksa Kakak nggak guna Lo itu. Emang apa yang bakal Lo lakuin ke Gue kalo, Gue teror dan tekan kakak nggak guna Lo itu hah?!" Ucap Amora sambil melipat kedua tangan ke depan dadanya.


Sara yang mendengar perkataan sang Ibu pun menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum smirk.


"Lo tanya Gue bakal ngapain kan? Oke bakal Gue tunjukin! Tapi jangan salahin Gue kalau terjadi sesuatu sama bayi yang ada di kandungan Lo itu!" Ucap Saar sambil berjalan maju ke arah Amora penuh dendam.


Sara mencekal lengan Amora kencang dan menatap tajam Amora dengan mata nya yang merah. Sedetik kemudian Sara berjalan menyeret Amora dengan penuh tenaga. Amora yang terkejut pun badannya hampir tumbang. Namun tetap berjalan terseret-seret karena tarikan dari Sara.


Sara menyeret Amora berjalan menuju pintu utama. Badan Amira tetap terseret oleh cekalan tangan Sara. Semua orang yang menatap hal itu pun berlari mengejar Amora, mereka takut akan terjadi apa-apa dengan bayi yang berada di kandungan Amora.

__ADS_1


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.


Iyi Gecerler! all❤.


__ADS_2