SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 14


__ADS_3

Sementara Asha dan semua orang pun berjalan menuju pemakaman. Dalam perjalanan pun Asha hanya menundukan pandangannya, menyembunyikan air matanya yang terus menetes.


Revan yang tanpa sengaja melihat hal itu pun berjalan mendekati Asha. Asha pun kaget karena ada tangan seseorang yang menghalangi langkahnya.


Asha pun mendongakkan kepalanya dan melihat Revan tersenyum padanya. Revan hanya memberikan isyarat padanya agar menerima sapu tangan darinya.


Asha pun menerimanya dan sesegera mungkin menghapus air matanya. Tak terasa mereka pun telah sampai di tempat pemakaman Pak Malik.


Semua orang pun mulai membuka keranda, dan mengeluarkan jenazah Pak Malik. Reza pun turut serta turun ke dalam liang lahat. Lalu membacakan adzan untuk yang terakhir kalinya kepada sang Ayah.


Setelah mengadzani, Reza pun ditarik keatas oleh Pak Rendi. Perlahan-lahan liang lahat tersebut ditutup oleh bambu dan juga timbunan tanah.


Aurora yang melihat hal itu pun menangis histeris di pelukan Khansa. Dia juga memanggil ayahnya berulang-ulang kali sambil tetap menangis.


"Kak Khansa, ayah kasihan dibawah sana. Nanti di dalam sana Ayah kedinginan. Aurora mau temenin ayah, kak." Ucap Aurora sambil terus menangis. Khansa yang mendengar permintaan adiknya pun hanya bisa menangis sambil menggelengkan kepala.


Asha pun mengambil alih Aurora dari Khansa.


Sekarang jenazah Pak Malik sudah benar-benar berada di bawah tanah. Yang tersisa hanya untuk sebuah tanah lengkap dengan batu nisan bertuliskan nama ayahnya.


Khansa pun Menangis dalam diamnya. Dia masih tak percaya, dirinya ditinggalkan oleh sang ayah secepat itu.


Di lain tempat, Sara yang sudah berpindah tempat menuju kamar pun perlahan mengerjapkan matanya. Hal pertama yang dilihat ketika membuka matanya adalah Ella dan seorang laki-laki bertubuh tinggi lengkap dengan masker hitamnya.


Memang tadi ketika akan mengangkat Sara, anak laki-laki dari Ella pun tiba-tiba menutupi wajahnya dengan masker. Meskipun Ella bingung, tapi rasa khawatirnya kepada Sara menutupi.


Ella yang melihat Sara sudah siuman pun mengambilkan air dan dan memberikannya kepadanya. Perlahan-lahan Sara pun mulai mengangkat tubuhnya dan bersandar di bagian belakang ranjangnya.


Sara yang masih lemas pun berusaha meminum air yang Ella berikan padanya. Setelah kesadaran Sara, kembali Sara pun bertanya kepada Ella di mana ayahnya.


"Bibi, di mana Ayah? Ayah masih menungguku kan? Aku akan pergi bersama Ayah." Ucap Sara kebingungan sambil berusaha turun dari ranjangnya.


Ella yang melihat hal itu pun mendemat dan memeluk Sara. Dia mengelus kepala dan punggung Sara penuh kasih sayang. Ella merasakan kesedihan yang mendalam dari tangisan Sara.


Ella yang baru sadar tidak melihat Amora dari kemarin pun bertanya kepada Sara.


"Sara, dimana ibu mu? Mengapa dari kemarin Bibi tak melihatnya." Tanya Ella yang membuat Sara menghentikan tangisnya tiba-tiba. Mata yang tadi menampakkan kesedihan pun tiba-tiba berubah menjadi tatapan kebencian.


"Dia bukan ibuku. Ibu mana yang tega meninggalkan anak-anaknya demi uang. Apakah pantas dia dipanggil Ibu?" Tanya Sara dengan nada marah sambil menatap Ella. Ella yang ditatap pun bingung, lalu dia pun bertanya lagi pada Sara.


"Apa maksudmu Sara? Tidak ada orang tua yang akan meninggalkan anak-anaknya demi uang. Mereka menyayangi anak-anaknya melebihi apapun." Tutur Ella sambil mengelus puncak kepala Sara.


"Mereka berbeda dengan Ibuku. Jika kau tak percaya maka akan aku buktikan." Jawab Sara sambil mengambil Hp nya. Sara mendial nomor ibunya.


Setelah beberapa kali sambungan, akhirnya panggilan kali ini tersambung. Terdengar sapaan dari seberang sana.

__ADS_1


"Halo, siapa ini?" Jawab seorang laki-laki diujung sana. Sara yang meloudspeaker Hp nya pun membuat Ella menyeritkan dahinya.


"Jika kau tak mau menjawab, setidaknya jangan menggangguku." Bentak laki-laki tersebut dengan nafas terengah engah


Tak lama setelah itu terdengar desahan dan erangan dari sepasang sejoli yang sedang memadu kasih. Sara kaget karena laki-laki tersebut memanggil nama Amora disela desahannya.


Ella yang mendengar hal itu pun melotot dan merebut ponsel dari Sara. Sesegera mungkin Ella mematikan panggilan tersebut. Tak beda dengan Ella, Sara pun diam mematung dengan tatapan kosongnya. Tanpa disuruh pun, air matanya meleleh.


"Sara malu Bi dengan apa yang dilakukan oleh ibu. Sara malu." Ucap Sara dengan suara seraknya. Sara menutup mukanya dengan kedua tangannya. Sara pun tak menyangka bahwa Dia akan mendapatkan kejutan seperti ini di hari kematian sang Ayah.


Ella yang melihat hal itu pun menjadi marah, dia pun meminta tolong kepada anak keduanya.


"Mas Ethan, bisa tolong kau lacak dimana mereka?" Pinta Ella kepada sang anak. Ethan yang diperintah sang Mama pun hanya bisa mengangguk dan mengambil ponsel Sara.


Sementara Ethan melacak nomor Amora, Ella menenangkan Sara yang masih menangis. Setelah beberapa menit, Ethan pun telah berhasil melacak keberadaan Amora.


"Ma, mereka berada di apartemen Zero." Ucap Ethan yang membuat Sara berhenti menangis. Sara pun menatap Ethan, Ethan yang ditatap pun merasakan sesuatu yang berbeda. Sara yang merasakan hal yang sama pun mengalihkan pandangannya ke Ella.


"Bisa tolong antar Sara kesana Bi?" Pinta Sara pada Ella. Ella yang bingung akan menjawab apa pun menoleh kearah Ethan meminta solusi. Ethan yang diberi solusi pun hanya menganggukkan kapalanya.


"Yaudah, kita berangkat sekarang. Sara siap-siap dulu ya." Jawab Ella yang sukses membuat Sara tersenyum.


Sara pun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju lemari. Lalu dia mengambil pakaiannya untuk berganti pakaian. Sementara Ella dan Ethan, mereka berjalan keluar kamar Sara dan menunggu Sara di ruang tamu.


Setelah 10 menit, Sara pun keluar dari kamarnya lengkap dengan gamis syar'i dan jilbabnya. Lalu dia pun berjalan mendekati Ella dan Ethan. Dan mengatakan bahwa dia sudah siap.


"Permisi bapak-bapak ibu-ibu, bisa tolong untuk titip rumah terlebih dahulu? Saya, anak saya, dan Sara ada urusan sebentar. Bisa ya pak?" Tanya Ella pada gerombolan orang tersebut.


"Baik Bu, tidak apa-apa. Kami akan menunggu sampai Pak Rendi pulang dari pemakaman." Jawab salah satu bapak kepada Ella. Ella pun mengucapkan terimakasih dan masuk kedalam mobil.


Ella dan Sara duduk dibangku belakang sedangkan Ethan dia yang memegang kendali. Sara hanya diam ketika di dalam mobil. Dia Masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika dia sampai di apartemen tersebut.


Ella yang merasakan keheningan pun mencoba mencari topik agar Ethan dan Sara berbicara.


"Sara, kamu sudah kenalan sama Ethan? Ini anak Bibi yang nomor dua. Kakaknya Alden dan adiknya Revan." Ucap Ella yang membuat Sara menolehkan pandangannya. Sara yang merasa bingung pun hanya bisa tersenyum kikuk.


"Emm, kenalin kak nama aku Sara." Ucap Sara kepada Ethan. Ethan yang sedang fokus menyetir pun menatap Sara lewat spion tengahnya.


"Ethan." Jawab Ethan dingin sambil melirik kearah Sara. Sara yang ditatap pun hanya menundukkan kepalanya. Dia berpikir, sepertinya dia pernah bertemu dengan Ethan.


Karena terlalu asyik memikirkan pernah atau tidaknya dia bertemu dengan Ethan. Sehingga Sara pun tidak sadar bahwa dia sudah dekat dengan apartemen tersebut.


"Kak Ethan, sepertinya kita pernah bertemu. Tapi di mana ya? Sara lupa, atau mungkin kakak ingat?" Tanya Sara sambil mendekatkan kepalanya ke sandaran kursi depannya.


Bukannya menjawab, Ethan malah mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa mereka sudah hampir sampai di apartemen.

__ADS_1


"Ma, Sar ini kita udah mau sampai. Kita mau masuk atau gimana?" Ucap Ethan mengalihkan pembicaraan. Sara pun lupa dengan pertanyaannya dan mulai ikut berpikir. Apakah mereka akan masuk atau tidak.


El yang tak mau ambil pusing pun mengatakan bahwa mereka harus masuk.


"Masuk aja Mas. Nanti kita sama sama ke atasnya. Masuk ke basement aja, nanti langsung ke resepsionis. Oke?" Jawab Ella kepada anaknya. Ethan pun hanya menganggukan kepalanya patuh.


Mobil Ethan pun memasuki basement apartemen dan mencari parkiran yang masih sedikit leluasa. Setelah selesai parkir, mereka bertiga pun keluar dari mobil.


Ella menggandeng Ethan dan Sara dikedua tangannya. Sara pun hanya tersenyum senang denga perlakuan Ella. Setibanya mereka di meja resepsionis, Ella pun melepaskan pagangan keduanya.


Ella berjalan maju ke meja resepsionis dan bertanya pada wanita berseragam itu.


"Maaf mbak, mau tanya. Apakah ada informasi check in atas nama Amora?" Tanya Ella pada wanita tersebut. Wanita tadi pun terlihat sedang mencari data di komputernya.


"Benar bu, ada aktivitas check in dengan nama Ibu Amora. Dikamar apartemen nomor 101. Ada yang bisa saya bantu lagi bu?" Jawab sang wanita.


Ella pun mengatakn bahwa informasi yang dia beri sudah cukup. Ella dan yang lain pun berjalan menuju lift dan naik menuju apartemen Amora.


Sara pun berjalan dengan gugup. Bisa dilihat dari cara tangannya yang saling bertaut dan salung meremas satu sama lain. Ella yang tahu tentang kegugupan Sara pun mengambil satu tangan Sara.


Ella menepuk beberapa kali dan menganggukkan kepalanya. Meyakinkan Sara bahwa semua akan baik-baik saja. Didalam lift pun, jantung Sara tak berhenti bedegup kencang.


Sampai tiba di lantai apartemen Amora, Sara pun berjalan sambil memeluk lengan Ella sebelah. Sesampainya di depan pintu apartemen nomor 101, Ella tak bisa masuk karena pintunya di kunci dengan kartu khusus.


Ella pun memanggil cleaning service yang kebetulan lewat disamping mereka.


"Permisi Pak, bisa minta tolong untuk memanggilkan manager dari apartemen ini? Saya ada perlu sebentar." Ucap Ella kepada sang OB. Sang OB pun hanya patuh dan berjalan meninggalkan mereka semua.


Disaat menunggu kedatangan sang OB, perasaan Sara semakin tak karuan. Dia sudah memiliki pikiran negatif terhadap ibunya. Tak lama setelah itu sang manager pun datang.


"Peemisi Bu, ada yang bisa saya bantu? Saya manager disini Bu." Ucap sosok laki-laki berkemeja hitam itu. Ella pun mengutarakan permintaannya agar dia diberikan kartu cadanan di apartemen nomor 101.


Namun bukannya disetujui, Ella malah dibentak oleh sang manager. Laki-laki itu memarahi Ella dengan sangat keras. Ella yang dimarahi pun hanya menggelengkan kepalanya.


Tak mau ambil pusing, Ethan yang melihat Mama nya dibentak pun menelepon sang kakak.


"Assalamualaikum bang, bisa ke apartemen zero sekarang nggak? Mama dibentak sama manager apartemennya." Ucap Ethan sambil menatap sang manager sombong.


Revan pun menyetujui permintaan dari Ethan. Sementara, sang manager pun malah semakin menjadi dengan kesombongannya.


"Mau kau panggil Abangmu atau siapa pun itu tidak akan berhasil membuatku menyerahkan kartu akses di apartemen ini." Ucap sang manager sombong.


Ethan pun hanya tersenyum miring dan maju satu langkah.


"Meskipun yang memintanya Pak Revan Putra Laran?" Tanya Ethan singkat. Entah mengapa, setelah mendengar nama Revan. Muka sang manager pun berubah menjadi pucat pasi. Dan ya, Ethan hanya tersenyum puas.

__ADS_1


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.


Iyi Gecerler! all❤.


__ADS_2