
Revan pun segara menjauhkan tubuh milik Fika dari tubuhnya. Dengan cepat, Revan berjalan mendekatkan dirinya kepada Asha. Asha yang sedang menarik tangan Ella pun berhenti karena melihat Revan mendekatinya.
Asha berpindah posisi berdirinya ke belakang Ella dan menyembunyikan dirinya. Ella hanya menatap kecewa kepada sang anak.
"Asha bisa denger penjelasan Abang kan? Asha salah paham sama Abang." Ucap Revan lembut sambil memegang bahu milik sang istri. Asha pun hanya menggelengkan kepalanya tak mau menatap Revan.
Revan pun menatap sang Mama memberi isyarat agar meninggalkan mereka berdua. Dengan terpaksa, Ella pun bergerak hendak meninggalkan kedua anaknya namun terhenti ketika menatap Fika.
Dengan tatapan marah, Ella mendekati Fika dan langsung menyambar lengan putih milik Fika.
"Dasar wanita tak tahu malu! Sekarang kau berurusan padaku!" Ucap Ella dengan nada marah. Bagaimana tak marah? Dengan kedatangan wanita tersebut membuat kedua anaknya mengalami salah paham.
"Ah tante, tanganku sakit. Apakah tante sudah melupakan aku? Aku Fika, te. Calon istrinya Mas Revan!" Ucap Fika dengan suara yang sedikit tinggi sambil menatap Asha dan Revan yang sedang menatapnya.
Emosi Ella yang sudah memuncak pun membuatnya mengangkat tangan da...
Plakk...
Saru tamparan keras mendarat di pipi sebelah kiri milik Fika. Dengan mata yang merah dan air mata yang sudah menggenang Ella menatap Fika penuh dendam.
"Wanita seperti mu tak pantas mengatakan hal seperti itu. Dengar satu hal ini, jika perlu camkan! Anakku sudah memiliki istri, menantu yang sudah ku anggap seperti anak ku sendiri. Sejak dulu aku tak pernah suka sedikitpun dengan hubunganmu dan Revan. Karena apa? Karena ku tahu bahwa kau bukan wanita yang baik-baik!" Ujar Ella dengan nada tegas nya.
__ADS_1
"Wanita sebaik dan se sempurna Asha tidak akan pernah bisa terganti dengan wanita seperti mu. Sebaiknya kau pergi dari rumah anak-anakku ini! Dan ya, jangan pernah kau menampakkan muka mu lagi di hadapan kita. Paham?!" Ucap Ella sambil menunjuk muka dari Fika, lalu dengan cepat Ella menarik tangan Fika keluar rumah.
Asha hanya menatap kepergian sang Mama dan Fika dengan tatapan datar.
"Cantik ya? Kasian Asha banyak saingannya." Ucap Asha dengan suara lirih lalu diikuti dengan kekehan kecilnya. Revan yang mendengar perkataan Asha pun memeluk istrinya erat.
"Kamu salah paham sayang. Kami bedua dah nggak ada hubungan apapun. Kamu percaya sama aku kan?" Tanya Revan sambil mengelus kepala Asha. Asha tak menjawab sedikitpun pertanyaan dari Revan. Mereka tetap berdiri dengan posisi seperti itu cukup lama.
"Asha tahu kalau Asha nggak inget apapun kecuali adik-adik Asha. Asha coba untuk percaya sama perkataan Khansa, Alden, dan Mama. Asha percaya kalau Asha dah nikah sama Abang, karena cincin nikah ini dan foto yang diperlihatkan oleh Mama." Ucap Asha sambil memperhatikan cincin berwarna silver yang masih melingkar indah di jari manisnya.
"Kalau Abang emang masih sayang sama mantan Abang itu, Abang bisa deket lagi sama dia. Toh Asha juga belum ingat kan sama Abang. Abang bisa bawa cincin ini dulu, sampai Asha inget sama Abang. Terserah mau di apakan cincin ini." Ucap Asha sambil mengangkat tangan kanannya dan berniat melepaskan cincin nikahnya.
Revan masih memeluk Asha erat dan menenggelamkan wajahnya di ceruk keher sang istri. Lama dengan posisi tersebut, Ella pun masuk ke dalam rumah dan mengajak Asha untuk pulang.
"Asha, kita pulang yuk? Udah malem. Besok kita harus datang ke rumah sakit lebih pagi. Soalnya Papa ada meeting ke luar kota. Yuk, Nak kita pulang." Ucap Ella sambil menyentuh bahu milik Asha. Revan pun mengangkat kepalanya dan segera menggelengkan kepalanya.
"Jangan bawa Asha pergi, Ma. Ini rumah Asha. Asha harus tinggal disini sama Abang. Mama jangan bawa Asha, ya? Abang mau sama Asha." Ucap Revan sambil melepaskan pelukannya karena sang Mama menarik Asha dari pelukannya.
"Asha akan ikut pulang sama Mama! Abang nggak perlu larang-larang Mama untuk membawa pulang Asha. Dan ya, sekali lagi Mama cuma mau bilang. Mama kecewa sama Abang!" Ucap Ella dengan tegas sambil menatap mata anaknya. Lalu setelah itu, Ella membawa pergi Asha dari hadapan Revan.
Revan pun mengikuti langkah cepat dari sang Mama dan istrinya. Revan berhenti mengikuti karena sang Mama mengatakan hal yang membuat Revan berhenti melangkah.
__ADS_1
"Abang stop disini atau Mama akan bawa Asha pergi dari kehidupan Abang?! Selesaikan semua ini besok, di ruang rawat Sara. Beruntunglah karena bukan Papa mu yang melihat hal tadi. Jika Papa mu yang melihatnya, kau bisa tahu apa akibatnya. Datanglah besok jam 6 pagi. Kita semua nunggu Abang!" Ucap Ella lalu memasuki mobil alphard putihnya bersama sang menantu.
Revan hanya bisa menatap sendu sang istri yang mulai menjauh dari dirinya. Dengan suasana hati yang berkecamuk, Revan melangkahkan kakinya kembali kedalam rumah.
Revan menatap penuh dendam ke kursi yang berada di ruang tamunya tersebut. Dengan kesal Revan menendang dan menghancurkan kursi tersebut.
"Mengapa kau sangat bodoh, Revan! Kau kehilangan istrimu hanya karena kesalah pahaman ini. Lihat saja! Jika aku melihat muka wanita itu, aku akan memukulnya sampai berubah bentuk!" Ucap Revan kesal sambil mengacak rambutnya.
Revan pun teringat dengan rekaman cctv yang ada dirumahnya. Dengan sigap, Revan mengunduh rekaman tersebut dan mengirimkannya kepada sang Mama dan Asha. Namun hal yang membuat Revan bertambah kesal karena nomornya diblokir oleh dua wanita yang sangat dia cintai itu.
Tak kehabisan akal, dirinya pun menirimkan rekaman tersebut kepada sang Papa dan adik-adiknya. Namun yang lebih anehnya lagi karena semua orang memblokir nomornya.
"Mengapa semua ini terjadi padaku Ya Allah?!" Ucap Revan kesal sambil menjambak rambutnya. Revan menyerit ketika melihat pesan sang Mama yang baru saja dikirim sebelum kembali memblokir nomornya.
Datang besok jam 6 tepat! Terlambat sedikit saja maka tunggulah surat cinta dari Pengadilan Agama untukmu! Mama serius untuk kali ini!
Revan yang baru saja membaca hal tersebut pun melemparkan Hp berlogo apel krowak tersebut ke lantai.
"Akh! Mengapa menjadi rumit seperti ini! Semua ini karena wanita tak tahu malu itu! Aku benci padamu FIKA!" Ucap Revan frustasi sambil mengepalkan tangannya. Revan menenggelamkan kepalanya di kedua telapak tangannya sambil memijit kepalanya perlahan.
"Abang sayang sama Asha!" Teriak Revan dengan suara seraknya.
__ADS_1