
“Oh aku tidak menyangka serangan pedangmu bisa melukai jiwa asliku, sekarang aku harus mengakui bahwa kamu cukup pantas menjadi lawanku nanti, aku tidak akan membalas serangan pedangmu sekarang, akan aku tunggu di Alam Dewa, hahaha…” Sosok itu kemudian menghilang begitu saja.
***
Di Suatu Tempat Misterius di Alam Dewa.
“Uhuk…”
Seorang pria tampan dengan wajah putih bersih yang mengenakan setelah hitam itu batuk dan mengeluarkan sedikit darah dalam batuknya.
Mata merahnya memberikan kesan bengis dan menakutkan, pria tampan itu kemudian tersenyum.
“Hahaha, menarik, ada orang yang bisa melukai jiwaku yang sudah berada di atas ranah Raja Dewa ini, benar-benar menarik,” senang Pria itu.
“Sudah lama sekali aku tidak mendapatkan luka di jiwaku seperti ini, meskipun itu hanya pecahan 1/100 ribu kepingan jiwaku, tapi itu cukup mengejutkan bahwa orang yang berhasil melukaiku itu berasal dari Dunia Immortal,” sambung Pria itu.
“Aku akan menunggumu di Alam Dewa ini pemuda istimewa, hahaha…” imbuh Pria itu.
Beberapa orang yang mendengar junjungan mereka itu tertawa dan tersenyum bahagia itu lantas bertanya.
“Mohon maaf atas kelancangan kami, tapi siapa orang yang bisa membuat Yang Mulia bisa tersenyum dan tertawa bahagia seperti itu?” Seorang bawahan pria itu bertanya.
"Ada seorang pemuda Ras Dewa di Dunia Immortal, dia bisa menyakiti salah satu keping jiwaku yang ada disana sampai aku harus menariknya dengan cepat agar dia tidak bisa menghancurkan jiwaku itu," jawab Pria Tampan itu dengan enteng.
"Bam…"
"Siapa yang berani melukai jiwa anda, izinkan saya untuk membunuhnya Yang Mulai, hal yang dilakukan pemuda itu merupakan tindak kurang ajar tingkat tinggi kepada anda," ucap bawahan itu.
Bawahan itu tidak bisa mengontrol tekanan kultivasi dan hawa membunuhnya karena ada orang yang berani membuat tuannya sampai kehilangan salah satu keping jiwa.
__ADS_1
“Diam! Itu bukan urusanmu, aku malah senang ada seorang pemuda yang masih berusia sekitar 20 tahun yang sudah memiliki kultivasi dengan ranah Dewa Sejati,” bentak Pria Tampan itu.
“Yang Mulia, bukankah banyak jenius dari beberapa Klan pasti muncul yang seperti itu, bagian mana yang istimewa dari pemuda itu?” Bawahan itu masih terus bertanya.
“Memang, meskipun kultivasinya masih tergolong biasa, tapi pemuda yang aku temui itu melatih dan memiliki keberuntungan bisa menggunakan kultivasi kuno yaitu Kultivasi Jiwa Raga,” jelas Pria Tampan.
Wajah bawahan itu cukup kebingungan karena dia kekurangan informasi mengenai cara kultivasi yang dikatakan oleh junjungannya itu.
“Sepertinya kamu tidak paham ya, tapi begini saja aku akan memberikan perumpamaan, bahwa jika seseorang berhasil berlatih dengan Kultivasi Jiwa Raga maka dia bisa melawan 10 ribu orang sampai 10 miliar kultivator yang memiliki ranah yang sama dengannya,” jelas Pria Tampan Misterius.
“Perkalian itu tergantung seberapa dalam dia dalam keberuntungannya dalam mendalami Kultivasi Jiwa Raga,” imbuh Pria Misterius itu.
“Jadi, sekarang apakah kamu bisa membayangkan, betapa mengerikannya dia jika memiliki kultivasi yang setingkat denganku bukan? Bahkan mungkin dia tidak terpengaruh lagi oleh Prinsip Dunia,” jelas Pria Misterius.
Bawahan itu langsung terdiam, ‘Tidak bisa dibiarkan, tidak ada yang boleh menyaingi Yang Mulia, aku akan membunuhnya sebelum sampai di Alam Dewa,’ gumam Bawahan itu.
“Hei penasehat, aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi jangan sampai kamu menyentuh Pemuda itu, pemuda itu mungkin ditakdirkan untuk membantuku menghilangkan rasa bosan selama ribuan tahun,” ucap Pria Misterius.
“Ba…baik Yang Mulia…”
***
Di Aula Istana Dinasti Han.
“Siapa sosok itu, aku merasakan tekanan yang sangat kuat dari sosok itu, aku bisa memperkirakan bahwa sosok yang terlihat tadi hanya memiliki secuil kekuatan aslinya, sungguh mengerikan sekali sosok itu,” keluh Bai Chen.
“Benar Kak Chen, aku bahkan tadi benar-benar tidak bisa bergerak setelah sosok itu muncul dan aku tidak bisa mengukur kemampuannya sama sekali,” tambah Bai Feng.
“Biarlah, dia juga berkata untuk menunggu di Alam Dewa, sepertinya setelah menyelesaikan semua permasalahan yang ada di dunia immortal ini, kita harus secepatnya kesana,” balas Bai Chen.
__ADS_1
“Argh…”
Teriakan keras masih terdengar dari Tetua Phoenix, Bai Chen yang melihat itu kemudian membatalkan Dao Ruang miliknya dan Pedang Pelahap Semestanya langsung memotong tubuh dan jiwanya secara langsung.
“Huh, akhirnya dia berhenti berteriak, Bai Feng, sekarang kamu uruslah semua penduduk dan prajuritmu yang ada di luar, jelaskan kepada mereka semua bahwa mereka sedang di adu domba oleh 4 Tetua Utama,” pinta Bai Chen.
“Baik kak, kalau begitu aku keluar dulu sambil membawa keempat kepala tetua ini, aku akan memberikan penjelasan kepada semua orang dan menjadikan Dinasti ini damai seperti dulu lagi,” balas Bai Feng.
“Silahkan,” singkat Bai Chen.
Bai Feng kemudian keluar dari Aula ini menuju ke pertarungan yang belum selesai di luar.
Sedangkan Bai Long dan 3 Pencakar mendatangi Bai Chen seraya bertanya, “Tuan muda, kami barusan merasakan energi yang sangat besar, apakah itu datangnya dari anda?” Mereka berempat.
“Bukan, energi itu berasal dari sosok yang ada di dalam tubuh Tetua Phoenix, … … …” Bai Chen menjelaskan sesuai dengan semua perkataan sosok tadi.
“Sangat berbahaya, bahkan kami bertiga yang berasal dari Alam Dewa tidak pernah merasakan energi sebesar itu sebelum kami menghilang dari sana, siapakah gerangan sosok itu?” Anming berpikir keras.
“Tidak usah terlalu dipikirkan, sepertinya dia tidak punya niat buruk kepadaku, sekarang yang lebih penting adalah mengetahui Meriam Kuno itu dari siapa, karena sosok tadi sempat mengirimkan transmisi suara yang mengatakan bahwa Meriam Kuno itu bukan pemberiannya,” lanjut Bai Chen.
“Benar, sepertinya masih banyak musuh tersembunyi yang bergerak di balik layar Dunia Immortal ini tuan muda, sesuai dengan laporan kami selama perjalanan,” tangka Bai Long.
“Setelah Bai Feng berhasil meyakinkan semua orang dan Dinasti Han ini sedikit lebih damai, kita akan bergerak mencari informasi mengenai apa yang kalian laporkan itu,” tegas Bai Chen.
“Baik, tuan muda.”
Bai Chen dkk kemudian berjalan keluar Aula dengan santai, mereka semua tengah melihat Bai Feng memberikan pidato kenegaraan disertai dengan sedikit ancaman untuk membuat semua pasukan dan penduduk kembali tenang.
Singkat cerita Bai Feng berhasil merebut hati semua orang sekali lagi, dia juga berhasil mengukuhkan diri menjadi pemimpin baru di Dinasti Han ini.
__ADS_1
Dan selama beberapa hari kedepan semua orang bergotong-royong untuk membersihkan sisa pertempuran, ikut membangun bangunan yang rusak dan memberikan pengobatan kepada beberapa korban yang masih hidup.
Selama beberapa bulan terakhir Bai Feng dibantu oleh Bai Duan dan Bia Chunhua mengembalikan tatanan Dinasti Han seperti yang dulu, damai nan tentram.