
Keesokan harinya…
Semua orang sibuk melakukan tugasnya masing - masing, terutama Bayangan Dewa, mereka sudah mulai mencari kandidat yang akan mereka latih untuk beberapa tahun kedepan.
Bai Chen dan Bai Long turun dari lantai tiga, mereka berdua sudah berganti pakaian dan rapi, sesuai dengan rencana tadi malam, mereka berdua akan mengunjungi beberapa kenalan terlebih dahulu sambil menunggu Bai Don, Bai Cheng dan Bai Feng mencari informasi.
"Baiklah mari kita pergi ke Keluarga Ni, Bai Long" Bai Chen.
"Baiklah tuan muda" Bai Long singkat.
Beberapa orang mendekat.
"Mau kemana tuan muda, bukankah yang akan menemani anda, Bai Don, Bai Cheng dan Bai Feng juga, kenapa hanya bersama dengan Senior Bai Long saja" Hong Zheng.
"Oh, aku mungkin akan berangkat siang atau sore nanti, sekarang ini aku ingin mengunjungi Paman Ni di Keluarga Ni, mau ikut ?" Bai Chen bertanya.
"Bolehkan tuan muda ?" Hong Zheng ☺️.
"Boleh, kamu juga mau ikut kah Han Ci, Hang Tuah dan Hei Long" Bai Chen sambil melihat beberapa meter di belakang Hong Zheng.
"Eeee, kalau tuan muda memaksa, apa boleh buat" Hei Long berkata seperti dan diangguki oleh Han Ci serta Hang Tuah.
"Ayo kalau begitu, jangan buang - buang waktu lagi" Bai Chen kemudian bergegas menuju Kediaman Ni.
Sesampainya disana, Bai Chen beserta rombongan langsung dipersilahkan masuk dan diarahkan ke Ruang Tamu baru Kediaman Ni yang berada di taman.
"Mohon tunggu sebentar tuan muda, saya akan memberitahu Patriark bahwa anda ada disini" seorang penjaga berbicara sambil tersenyum.
"Okeeee" Bai Chen singkat.
"Kenapa kalian berdiri, duduk saja, tidak akan ada yang marah" Bai Chen.
"Hehe, baiklah tuan muda" mereka semua.
Sambil menunggu kedatangan Patriark Ni, mereka berenam berbincang mengenai kepergian Bai Chen dan Bai Long.
Beberapa saat kemudian, ternyata Patriark Ni tidak sendirian, dia datang bersama dengan beberapa orang.
Terjadi sedikit saling tatap antara orang yang bersama Patriark Ni dengan Bai Chen.
Orang itu seperti ingin mengetes kemampuan Bai Chen, dia mengeluarkan sedikit hawa membunuh dan diarahkan kepada Bai Chen.
Bai Chen yang tahu seperti dia sedang diuji, ya biasa saja, kan hawa membunuh Bai Chen sangat kental, dia tidak tertekan sama sekali dengan hawa membunuh yang dikeluarkan orang itu.
__ADS_1
Bai Chen biasa - biasa saja, tapi, Hei Long, Hong Zheng, Hang Tuah, Han Ci secepat kilat menggunakan pisau tersembunyi yang ada pada tubuh mereka dan ketika hendak menebas kepala orang itu.
"Hentikan, dia tidak akan bisa melukaiku dengan hawa membunuh kecil itu, kenapa kalian yang malah tersinggung, bukan begitu Bai Long ?" Bai Chen masih dengan posisi yang sangat tenang.
"Benar, tuan muda" Bai Long singkat.
"Tuan saya mohon tolong lepaskan ayah saya, saya minta maaf sebesar besarnya atas kekeras kepalaan ayah saya yang bodoh ini" Sheng Hoe yang baru tiba langsung memohon ampun kepada rombongan Bai Chen.
"Sudahlah lepaskan saja" Bai Chen memberi perintah kepada keempat Bayangan Dewa itu.
"Hah, hah, hah, saya mohon maaf tuan muda Bai Chen, seharusnya saya tidak mengarahkan hawa membunuh kepada Dermawan keluargaku sendiri, sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar besarnya" orang itu terus meminta maaf sambil bersujud.
"Sudahlah bangun, aku kan sudah bilang tidak papa, jadi santai sajalah" Bai Chen.
Mereka semua berdiri dan duduk setelah dipersilahkan oleh Bai Chen.
"Baiklah jadi anda ini adalah Sheng Hui, Patriark Keluarga Sheng Pusat dan Jendral Utama Kekaisaran ?" Bai Chen bertanya.
"Benar tuan muda" Sheng Hui menjawab dengan nada sangat menghormati.
"Ada acara apa ini, apakah hari ini ada acara pertemuan antara keluarga mempelai pria dan keluarga mempelai wanita ?" Bai Chen bertanya dengan polos.
"Benar, seperti yang dikatakan oleh tuan muda" Ni Shen menjawab pertanyaan itu.
"Bagaimana bisa mengganggu, jika tuan muda Bai Chen datang ke Kediaman Sederhana kami ini, akan membuat Keluarga Ni bersinar terang selama beberapa hari" Ni Shen.
"Ah, bisa saja kamu paman Ni Shen" Bai Chen.
"Oh iya, untuk Patriark Sheng, perkenalkan namaku Bai Chen, terserah mau memanggil bagaimana" Bai Chen ☺️.
"Langsung saja ke intinya, hari ini aku mau pamitan dengan kalian semua, terutama aku mau minta maaf karena tidak bisa mengikuti acara pernikahan Sheng Hoe dan Ni Lam sebulan lagi" Bai Chen.
"Tuan Bai Chen ingin kemana memang ? Kenapa seperti terburu - buru begitu ?" Sheng Hoe sekarang yang bertanya.
"Karena kamu bertanya, aku akan menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, apakah kalian semua, terutama kedua Patriark tahu dimana Portal menuju Dunia Immortal ?" Bai Chen bertanya.
"Du… Dunia Immortal, bagaimana anda tahu ada dunia selain dunia yang kita tinggali ini tuan muda" Sheng Hui bertanya dengan gugup.
"Yahh, banyak hal yang terjadilah, bagaimana apakah ada sebuah Portal yang dikabarkan bisa menuju Dunia Immortal ?" Bai Chen masih tetap bertanya.
"Saya akan menjawabnya tuan muda" Sheng Hui.
"Informasi mengenai Dunia Immortal ini, jika dalam militer, sudah masuk dalam kategori rahasia tingkat tinggi, meskipun begitu, kami sebagai militer juga belum mencoba apakau benar - benar portal tersebut mengantarkan ke Dunia Immortal atau bukan"
__ADS_1
"Jadi, informasi ini belum seratus persen benar tuan muda, tapi tetap akan saya lanjutkan, Portal menuju Dunia Immortal menurut informasi yang kami duga ada di perbatasan benua utara dan benua tengah"
"Kami mendapat informasi tersebut setelah terjadinya perang perebutan wilayah antara benua utara dan benua tengah beberapa tahun yang lalu, selama peperangan itu beberapa kali terjadi badai salju"
"Singkat cerita ada beberapa orang yang terjebak di antara bebatuan es, ketika mereka hendak mencari jalan keluar, mereka malah menemukan sebuah pintu besar yang tidak bisa dibuka sama sekali"
"Mereka akhirnya menyerah untuk membuka pintu tersebut dan mencari jalan lain dan sampailah informasi itu ke milier pusat"
"Kami mengirim beberapa tim ekspedisi, tapi semua tim gagal, karena tidak bisa membuka pintu tersebut"
"Dan karena kami gagal berkali - kali dan menghabiskan sedikit banyak anggaran militer, akhirnya pintu itu kami biarkan saja, tapi tetap kami awasi dan dijadikan salah satu informasi rahasia tingkat tinggi"
"Begitulah kira - kira informasi yang saya tahu tuan muda Bai Chen" Sheng Hui menyelesaikan penjelasannya.
"Hmmm, pintu yang mencurigakan, tapi terimakasih atas informasinya" Bai Chen.
"Sama sama tuan muda" Sheng Hui menjawab dengan hormat.
"Mungkin ada yang punya informasi lagi ?" Bai Chen.
Mereka semua terdiam, karena kebanyakan dari mereka mungkin malah baru mengetahui informasi ini.
"Ya sudahlah, oh iya, Sheng Hoe, Ni Lam, ngomong ngomong kalian pengguna senjata apa ?" Bai Chen.
"Tombak" Sheng Hoe.
"Cambuk" Ni Lam.
"Hmmm, mungkin ini ada sedikit hadiah dariku" Bai Chen mengeluarkan Tombak Elang Putih tingkat Roh dan Cambuk Duri Bunga tingkat Roh juga.
Kedua barang ini Bai Chen tempa selama pelatihan tertutupnya dan stok senjatanya sangat banyak sekali di cincin penyimpanan.
Jadi, tidak ada ruginya memberikan dua buah senjata ini, apalagi hanya tingkat Roh.
"Terimakasih banyak tuan muda, kami akan membalas kebaikan anda di kemudian hari" serentak Sheng Hoe dan Ni Lam.
"Karena urusanku disini sudah selesai, aku kembali penginapan dulu untuk persiapan pergi, terimakasih jamuannya" Bai Chen kemudian pamit dan meninggalkan Kediaman Ni bersama rombongannya.
"Sebuah kelompok yang mengerikan" Sheng Hui.
"Kan sudah aku bilang ayah, untung mood tuan Bai Chen lagi baik, kalo nggak mungkin seluruh kediaman ini rata seperti Keluarga Cabang kita dulu.
"Benar kamu Hoe'er" Sheng Hui.
__ADS_1
"Sudahlah, mari kita lanjutkan acara temu keluarga kita didalam" Ni Shen mengajak semua orang untuk masuk.