
“Argh… Sialan… Apa ini perbuatanmu? Sepertinya kamu masih bisa tersinggung ya?” Bai Chen terjatuh ke tanah.
“Hahaha, baru sedikit saja kamu merasakan kekuatanku yang sebenarnya, kamu sudah terjatuh tidak keruan, bagaimana bisa kamu menghadapku jika aku dalam kondisi primaku?” Suara itu meledek Bai Chen.
“Kondisi prima apa, bahkan kamu saja yang katanya kuat tidak bisa menghadapi musuh yang menahanmu disini, dan kamu juga harus tahu disini juga masih ada gravitasi kuat ini, jika tidak bagaimana bisa tekananmu yang biasa saja itu bisa membuatku ambruk ke tanah?” Bai Chen memprovokasi Suara itu.
Tekanan itu kemudian menghilang digantikan oleh perkataan dari Suara itu.
“Aku suka nyalimu anak kecil, tapi sesuai dengan kesepakatan kita kemarin, aku akan sedikit menceritakan mengenai luasnya dunia yang berbeda dari pengetahuanmu itu,” ucap Suara itu.
Bai Chen sudah kembali dengan posisi berdiri tegak, dia juga tidak menolak perkataan dari suara itu, terlepas dari benar atau salahnya, dia ingin mendengarkan penjelasan suara itu.
“Oh, sepertinya kamu cukup tertarik juga mengetahui apa yang akan aku jelaskan, kalau begitu dengarkanlah baik-baik anak kecil,” ucap Suara itu.
Tanpa menunggu konfirmasi dari Bai Chen, Suara itu langsung menjelaskan Luas Dunia ini dari sudut pandangnya.
Suara itu menjelaskan mengenai pembagian dunia yang sebenarnya tidak beda jauh dengan yang Bai Chen pahami, tapi yang membedakan adalah rincian dari setiap Dunia.
“Tapi sebelum aku menjelaskan lebih jauh lagi, aku ingin mendengarkan pendapatmu mengenai bentuk dunia dimana saat ini kita berada?” Suara itu.
“Bentuk dunia yang kita tinggali seperti sebuah pohon, jika Dunia Fana diibaratkan sebagai akar, maka Dunia Immortal sebagai batang dan Alam Dewa sebagai Dahan, Ranting dan Daun,” jawab Bai Chen.
“Hmm, tidak salah sama sekali, tapi perumpamaan yang lebih tepat adalah kebalikan dari pohon itu sendiri dan akan aku sedikit tambahkan tanah tempat pohon itu berdiri,” bantah Suara itu.
“Hmm…” Bai Chen kurang paham dengan apa yang dikatakan oleh Suara itu.
“Sepertinya kamu tidak paham ya, kalau begitu biarkan aku menjelaskannya secara gamblang,” respon Suara itu.
“Jadi kita asumsikan bahwa akar dan batang itu Alam Dewa, kenapa aku mengatakannya seperti itu," jelas Suara itu.
"Karena ketika kamu sudah berada disana kamu akan Alam Dewa akan terbagi menjadi beberapa Alam sesuai dengan Dewa yang menguasainya dan Alam Utama,” sambung Suara itu.
__ADS_1
"Jadi bisa dibilang serabut yang ada di akar adalah Alam sesuai kepemilikan Dewa dan Alam Utama itu adalah Batang Pohon itu yang berupa sebuah sebuah Semesta yang cukup luas," sambung Suara itu.
"Dan Batang itu akan memiliki beberapa dahan dan ranting yang kita tahu dengan Dunia Immortal ini, jadi Dunia Immortal yang kita pijaki ini hanyalah salah satu dari ratusan atau bahkan ribuan Dunia Immortal," lanjut Suara itu.
"Sama halnya dengan itu setiap dahan akan ada ratusan daun yang akan tumbuh dari situ, jadi daun itu adalah Dunia Fana yang ada lebih banyak daripada Dunia Immortal itu sendiri," lanjut Suara itu.
"Sampai disini aku paham, terus bagaimana dengan Tanah yang kamu katakan sebagai tempat tumbuh Pohon itu?" Bai Chen bertanya.
"Sekarang kamu pikirkan, jika ada hamparan tanah yang luas, maka apakah akan hanya tumbuh satu pohon?" Suara itu.
"Tentu saja tidak, pasti akan banyak Pohon yang tumbuh," singkat Bai Chen.
"Persis seperti itu, jadi Alam Dewa itu bukanlah batas, tapi Alam Dewa yang terhubung ke Dunia Immortal ini hanyalah salah satu dari banyaknya pohon yang hidup di tanah subur itu," jelas Suara itu.
Bai Chen termenung beberapa saat karena pengetahuan baru yang diberikan oleh Suara itu.
Tapi, rasa curiganya kepada Suara itu belum padam, dia masih terus berhati-hati dengan Suara itu.
"Hahaha, tentu saja belum…" Suara itu.
"Jika belum kenapa kamu begitu yakin ada Alam di atas Alam Dewa? Dan kenapa kamu tertawa sangat keras, padahal kamu belum pernah mencapai Alam itu?" Bai Chen bertanya lagi.
"Karena aku bukan berasal dari 'Pohon' ini, aku dari 'Pohon' lain, kesenanganku selama ini hanyalah berkeliling, meneliti dan menguji mengenai teoriku itu," jawab Suara itu.
"Haaa? Apakah semua yang kamu katakan adalah kebenaran?" Bai Chen cukup histeris mengetahui hal itu.
"Kenapa aku harus berbohong kepada seorang istimewa sepertimu, apalagi ada aura bangsawan darimu, sebuah aura yang membuat makhluk lain tunduk tanpa paksaan," jawab Suara itu.
"Kamu mengetahui mengenai Aura Agung milikku?" Bai Chen bertanya.
"Aku tidak tahu pasti tentang Aura Agung yang kamu maksud, tapi memang auramu itu mirip dengan beberapa orang super kuat yang pernah menahanku disini," jawab Suara itu.
__ADS_1
"Oooh…" Bai Chen singkat.
"Memang hal yang wajar jika kamu berhati-hati kepadaku, apalagi kalau kamu melihat wujud asliku, kamu akan mengira aku seorang kriminal yang harus secepatnya dihabisi," ucap Suara itu dengan sedih.
"Tapi memang begitulah kehidupan ini, siapa yang menang, dialah yang akan menulis ulang sejarah dan pengetahuan," lanjut Suara itu.
"Terlebih lagi siapa yang kuat siapa yang berkuasa, begitulah prinsip di Kultivator Universe ini, yah meskipun terdengar aku ingin dikasihani, tapi posisiku disini karena orang-orang yang menahanku itu berbeda ideologi denganku dan tidak ingin ideologiku tersebar luas dan membuat rencana mereka hancur berantakan," lanjut Suara itu.
"Apa maksudmu?" Bai Chen kini sudah bisa menahan gravitasi Array itu dan bisa berjalan dengan santai di area gravitasi kuat itu.
"Lupakanlah, mungkin itu memang sudah takdirku untuk membalas dendam kepada mereka suatu saat nanti," tolak Suara itu.
“Hmm…” Bai Chen.
“Kamu sekarang sudah bisa berjalan dengan santai di area Gravitasi itu, memang mataku masih jernih seperti biasanya karena bisa melihat potensi dari orang sehebat dirimu,” kagum Suara itu.
“Apakah kamu memiliki nama?” Bai Chen tidak menanggapi pujian Suara itu, dia malah mengubah topik pembicaraan.
“Sudah lama sekali ada orang yang tertarik dengan namaku, biasanya orang datang kesini hanya untuk meminta beberapa hal untuk menjadikan dirinya kuat dan pergi begitu saja,” ucap Suara itu.
“Sudahlah jawab saja, tidak usah bertele-tele!” Bai Chen.
“Hahaha, anak kecil yang sangat semangat, tapi aku tidak akan memberitahukan namaku sekarang, aku ingin kamu mencari tahu sendiri, jika memang ditakdirkan, kamu akan mengetahui namaku dengan sendirinya,” jawab Suara itu.
“Ya sudahlah jika tidak mau memberitahu, aku memiliki sebuah pertanyaan, apakah kamu mau menjawabnya?” Bai Chen.
“Apakah kamu pernah memberikan sebuah Meriam Kuno ke seseorang dari Dinasti Han?” Bai Chen teringat mengenai Tetua Phoenix.
Suara itu diam sebentar seperti mengingat sesuatu.
“Aku ingat, yang dalam jiwanya terdapat pecahan jiwa dari seorang dewa dari alam atas, memang benar yang memberikan Meriam Kuno, ah tidak tidak, itu hanyalah meriam gagal yang pernah aku buat dulu,” jawab Suara itu.
__ADS_1