
Cahaya itu perlahan keluar dari tubuh Bai Chen dan langsung masuk ke dalam tubuh perempuan yang berada dalam peti tersebut.
Suasana menjadi hening, Bai Chen dan Bai Feng hanya fokus melihat cahaya putih itu perlahan memasuki tubuh perempuan itu dan tubuhnya berangsur membaik, tidak pucat lagi.
Beberapa waktu berlalu, perempuan itu kemudian mengerjapkan kedua matanya, tanda bahwa dia baru sadar dari tidur panjang yang dilaluinya di dalam peti itu.
Perempuan atau lebih pantas dibilang gadis cantik ini kemudian mengambil posisi duduk dan menatap kedua orang yang ada disekitarnya. Gadis cantik bermata merah darah dan memiliki rambut hitam legam itu kemudian mencoba membuka mulut tanda ingin bertanya.
Karena dari tadi kedua orang dihadapannya, seperti masih terkesima dengan kecantikan dan keanggunan oleh sesuatu, dan dia sadar bahwa itu dirinya sendiri, karena seingatnya dulu, dia sering mendapat tatapan yang seperti itu.
"Kalian siapa ? Terus kenapa aku merasakan aura kehidupan yang sangat pekat darimu wahai pemuda" perempuan itu bertanya dengan sopan, dia tidak bodoh, jika tebakannya benar, maka yang menyelamatkannya barusan adalah pemuda itu dengan aura kehidupan yang sangat berharganya itu.
Bai Feng yang mendapat pertanyaan seperti itu menjawab dengan santai "Aku Bai Feng dan yang disana adalah Chen Gege, dia yang tadi sudah menyelamatkanmu'.
Bai Chen sendiri masih kagum dengan kecantikan serta perasaan yang tidak menentu di dalam hatinya itu. Jantungnya berdebar dengan keras ketika melihat wajah perempuan itu. 'Gadis yang cantik dan penuh misteri, mungkinkah ini yang namanya cinta ?' Bai Chen bergumam kemudian tersenyum tipis.
Rasa ini tidak pernah muncul meskipun sudah bersama dengan Bai Feng selama beberapa bulan terakhir. Bai Chen sendiri masih bertanya tanya, apakah rasa ini benar benar cinta ?.
"Eeee, iya aku Bai Chen, aku tadi menggunakan sedikit aura kehidupanku untuk mengembalikan daya hidup atau vitalitas tubuhmu" Bai Chen menjawab dengan sedikit gugup.
Perempuan itu langsung berdiri dan menundukkan badannya untuk berterima kasih dan memberi penghormatan kepada penolongnya yang tidak lain adalah Bai Chen.
__ADS_1
Tapi karena gerakan perempuan itu, hidung Bai Chen malah mimisan melihat pemandangan seorang gadis cantik tanpa menggunakan seutas benang pun di badannya, Bai Chen bisa melihat dengan jelas semua lekuk tubuh dari perempuan itu. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang bagus itu.
Perempuan itu pun baru menyadari ketika dia menunduk kepada Bai Chen bahwa sekarang dia masih telanjang bulat, dia sekarang sangat malu, tapi diwaktu yang sama, karena dia semakin dekat dengan posisi Bai Chen berdiri. Dia bisa melihat ketampanan Bai Chen, bahkan di tempat asalnya dulu, jarang ditemukan ketampanan yang seperti ini.
Dan entah kenapa jantungnya berdebar keras, di sisi lain karena dia sekarang masih telanjang dan di sisi lain di hatinya kini muncul sebuah rasa yang sangat aneh, rasa yang tidak pernah dia rasakan selama kehidupan ini.
Karena Bai Chen dan perempuan itu saling menatap dan terkagum oleh pikiran masing masing, suasanapun menjadi kaku, untung saja ada Bai Feng yang menjadi pemecah keheningan itu.
"Ohhh, Chen Gege, sampai berapa lama kamu mau melihat tubuh gadis itu, apakah Gege mau melihat sampai copot kedua bola mata itu ?" Bai Feng mengeluarkan kemarahannya.
Bai Chen dengan cepat sadar dari kekagumannya itu, kemudian langsung berkata 'Aku tidak melihat apa apa, ini pakailah pakaian ini, akan aku tunggu di luar ruang bawah tanah ini, kamu bisa memakai semuanya' Bai Chen memberikan beberapa pakaian mirip milik Bayangan Dewa di cincin penyimpannya.
"Tadi itu hanya kesalahpahaman Feng'er" Bai Chen singkat, mereka berdua sudah di pintu masuk dan menunggu perempuan itu.
Bai Feng sebenarnya juga tahu, bagaimanapun, dia tidak mungkin bisa marah kepada Bai Chen, dia tidak akan bisa, apalagi setelah melihat tatapan Bai Chen kepada perempuan itu.
Sebagai sesama perempuan, dia sedikit mengerti arti dari tatapan Bai Chen itu tatapan itu spesial, sebuah tatapan yang kekaguman dan rasa ketertarikan terlihat dari Mata Bai Chen.
Yang membuat Bai Feng lebih kecewa lagi adalah, selama ini dia bahkan belum bahkan tidak pernah mendapat tatapan spesial seperti itu dari Bai Chen.
Bai Feng tidak membalas perkataan Bai Chen, dia sekarang merenung dengan pikirannya sendiri sekarang, dia sadar diri meskipun dia pernah berciuman dengan Bai Chen, belum berarti dia bisa memiliki hati Bai Chen, dia sekarang cukup sakit hati.
__ADS_1
Disisi lain, Bai Chen akhirnya sedikit sadar dengan perasaannya sendiri, bahwa mungkin benar, perasaannya kepada Bai Feng itu hanya lebih mengarah ke kasihan dan menganggap Bai Feng sebagai adik yang tidak ingin siapapun lagi menyakitinya.
Tapi cukup sampai disitu, meskipun waktu itu Bai Chen kemudian mencium Bai Feng, dia berpikiran untuk hanya menenangkan Bai Feng dan dia masih ragu dengan pikirannya sendiri.
Bai Chen berpikir, mungkin selama beberapa bulan kedepan dia bisa mulai tahu apa itu cinta dan mulai mencintai Bai Feng. Tapi semua itu tidak akan terwujud, jawaban mengenai hal yang mengganggu pikirannya serta mengganggu hatinya itu terjawab ketika bertemu dengan perempuan itu.
Bai Chen menyadari bahwa, cinta itu tidak perlu pembiasaan, cinta itu datang ketika memang sudah waktunya datang, bahkan cinta sendiri itu tidak pernah izin atau memaksakan untuk muncul atas keinginan si pecinta, sebuah rasa yang sangat misterius datang dari mana, dan itulah cinta.
Bai Feng tiba tiba meneteskan air matanya, dia tidak bisa berbohong jika dirinya tidak sakit hati karena takdir mempertemukan Bai Chen dengan perempuan ini, tapi dia juga harus mengakui bahwa mungkin takdirnya bukan bersama dengan Bai Chen, dia menerima itu dengan perasaan yang sakit.
"Apakah Chen Gege menyukai perempuan itu ?" Bai Feng bertanya dengan memantapkan hatinya, dia ingin kejelasan, dia tidak ingin digantung.
Bai Chen yang menyadari Bai Feng menangis dan bertanya seperti, langsung merangkul dan memeluknya untuk menenangkan Bai Feng, tanpa mengeluarkan basa basi apapun, Bai Chen hanya berkata "Maaf".
Bai Chen juga hanya ingin jujur dengan perasaannya, dia juga tidak mau menggantungkan perasaan orang lain, setelah dia tahu tentang perasaannya itu.
"Tidak papa, Chen Gege tidak salah, mungkin aku saja yang kurang beruntung, bertemu dengan gege dengan kondisi seperti ini, tapi terimakasih aku sudah lega karena gege berani mengambil keputusan serta tidak menggantung perasaanku" Bai Feng berbicara dengan hati yang sakit.
Bai Feng tidak menolak untuk dipeluk, dia merasa sudah cukup beruntung bisa bertemu dengan Bai Chen, meskipun di kemudian hari dia tidak mungkin memilikinya, tapi dia harus tetap berterima kasih, bagaimanapun perjalanan ini juga terjadi karena ingin menemukan portal menuju Dunia Immortal dan itupun untuk dirinya.
"Maafkan aku Feng'er…" Bai Chen hanya meminta maaf lagi dan Bai Feng semakin kalut dengan tangisannya itu.
__ADS_1