
Hari ini, Elvan menyempatkan diri mengurus surat perceraian dengan Jessi. Meskipun Jessi menolak tidak ingin bercerai dengannya, namun Elvan tetap pada keputusannya. Hingga surat perceraian itu berhasil ia keluarkan, lalu ia kembali pulang kerumah dan memberi surat itu kepadanya. "Ini" Berinya.
Jessi tersenyum sinis melihat kertas putih yang berada di hadapannya itu, "Jadi kamu benar-benar ingin menceraikan aku hhmmm?".
"Mmmmm.. Cepat tanda tangani, pekerjaan ku masih banyak" Dengan wajah marah Jessi menyambar pena yang berada di samping kertas itu, lalu ia menandatangani surat perceraian mereka. Setelah selesai Jessi menandatanganinya ia langsung memberinya kepada Elvan. "Mmmmm" Angguk Elvan memberinya kepada asistennya.
"Tunggu Elvan" Tahan Jessi saat Elvan dan asistennya melangkah pergi. "Jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku menjadi wanita jahat" Ucapnya menyeringai.
Tampa perduli dengan perkataanya, Elvan langsung pergi begitu saja. Di dalam mobil, Elvan mengusapnya wajahnya dengan kasar, "Kita ke sekolah Rachel sekarang juga".
"Baik tuan".
Setibanya mereka di sekolah TK Rachel, Elvan segera menghampiri Rachel kedalam kelasnya, "Daddy?" Kaget Rachel melihatnya.
"Permisi buk, saya mau membawa putri saya pulang" Ucapnya menghampiri Rachel.
"Kenapa tuan?" Tanyanya melihat Elvan yang sudah menggendong Rachel.
"Permisi" Perginya keluar tampa menjawab pertanyaannya. Setelah Elvan berhasil membawanya keluar, ia segera menuju perusahaan. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di perusahaan, kini Elvan dan Rachel sudah berada di dalam ruangannya begitu juga dengan Tania yang berada disana.
Lalu Tania tersenyum sinis melihat Rachel yang juga sedang melihat kearahnya, "Nia, kapan kamu kembali ke indonesia?".
"Apa tujuan kamu menyuruh ku datang kemari Elvan?".
"Dia siapa daddy?" Tanya Rachel yang penasaran.
Tania kembali menyeringai, "Daddy? aahh.. Dia putri mu? selamat yah, ternyata putri mu sudah tumbuh besar".
"Terima kasih Nia. Lalu kapan kamu pulang ke indonesia? aku ingin menitipkan dia kepada mu untuk sementara waktu, jadi tolong bawa Rachel bersama mu".
"Hahahahha.. Apa kamu sedang bercanda?".
"Aku tidak sedang bercanda Nia, aku sedang minta tolong kepada mu".
"Kenapa daddy? kenapa Rachel harus ikut bibi ini? lalu bagaimana dengan daddy?" Tanya Rachel dengan mata berkaca-kaca.
Kemudian Elvan menggenggam tangan kanan Rachel dengan sayang, "Percaya sama daddy, begitu urusan daddy selesai daddy akan datang menghampiri Rachel".
"Tidak mau hiks.. hiks.. Pokoknya Rachel enggak mau berpisah dari daddy. Apalagi Rachel pergi bersama dengan orang yang tidak Rachel kenal" Tangisnya.
"Maafkan daddy, daddy melakukan ini demi kebaikan putri daddy sendiri".
"Lalu bagaimana dengan mommy daddy? lebih baik Rachel pergi bersama dengan mommy".
"Rachel yakin mau pergi bersama dengan mommy?" Rachel langsung berpikir mengingat kelakuan Jessi yang sama sekali tidak perduli dengannya, lalu ia menggeleng. "Jadi Rachel harus menuruti apa kata daddy yah. Anak daddy kan anak yang pintar, disana juga Rachel nantinya tidak akan sendiri".
"Terus, kalau Rachel ikut bibi itu. Kapan daddy akan datang menjemput Rachel?".
"Tidak akan lama daddy akan datang menjemput Rachel".
"Benar yah daddy akan datang menjemput Rachel begitu perkejaan daddy selesai".
"Iya, daddy janji".
"Kalau gitu Rachel akan ikut bibi ini" Ucapnya melihat Tania yang terlihat tidak suka kepadanya. Lalu Rachel mendekati Tania, kemudian ia mendudukan diri disampingnya, "Hallo bibi, kenalin nama ku Rachel. Bibi namanya siapa?".
"Tania" Balasnya.
__ADS_1
"Mmmmm.. Nama bibi cantik seperti orangnya. Bibi sudah menikah?".
"Sudah".
"Anak?".
"Mmmmmm".
"Wah.. Daddy, berarti Rachel nantinya tidak akan sendiri".
"Mmmmm.. Disana nanti Rachel tidak akan sendiri. Jadi selama disana, putri daddy tidak boleh nakal yah".
"Iya daddy, Rachel janji".
Tok.. Tok..
"Masuk" Jawab Elvan.
"Saya hanya mendapatkan ini saja tuan".
"Tidak apa-apa, berikan pada Rachel".
"Itu apa daddy?".
"Makanan kesukaan Rachel".
"Wah.. Terima kasih Daddy".
"Mmmmm.. Makanlah".
"Mmmmm" Angguk Rachel memakan cemilan yang baru saja asistennya Elvan bawakan dari luar.
"Dia putri yang kami adopsi dari panti asuhan".
"Astaga, kamu benar-benar..
"Benar-benar kenapa Nia?" Potong Elvan melihatnya.
"Aahh.. Lupakan saja. Baiklah, aku akan membawanya bersama ku".
"Terima kasih Nia dan tolong perlakukan dia seperti kamu memperlakukan Ansel".
"Mmmmm"
.
Esok harinya, Tania telah berada di bandara bersama dengan sekretarisnya Rachel dan juga Elvan. "Daddy" Peluknya.
Elvan tersenyum membalas pelukannya, "Baik-baik disana yah, Rachel enggak boleh nakal".
"Siap daddy".
"Anak pintar" Gemas Elvan mencium keningnya. Lalu ia melihat kearah Tania dengan senyum mengembang di wajahnya, "Ini sudah waktunya kalian masuk, pergilah".
"Mmmmm.. Kami pergi" Angguk Tania membawa Rachel.
"Dah.. Daddy".
__ADS_1
"Dah.." Balasnya.
Setelah mereka menghilang dari hadapannya, Elvan langsung pergi dari sana menuju kantornya. Sedangkan Tania dan Rachel yang sudah berada di dalam pesawat, "Bibi" Panggilnya.
"Mmmmm.. Kenapa?".
"Bibi sebenarnya siapanya papa Rachel? kenapa Rachel melihat bibi sangat dekat sekali dengan daddy" Tanyanya dengan rasa penasaran.
Tania tersenyum tipis, "Kita itu" Gantung Tania saat ia hampir saja ingin memberitahu kepada Rachel yang sebenarnya.
"Ada apa bibi? Rachel enggak salahkan bertanya?".
"Tidak salah kok, bibi itu dan daddy-nya Rachel temanan waktu kita kuliah".
"Oohh.. Pantesan saja Rachel melihat bibi sangat dekat sekali dengan deddy. Seandainya mommy ya Rachel sebaik bibi, Rachel yakin kalau daddy pasti akan hidup bahagia".
"Emang kenapa dengan mommy ya Rachel?".
"Bibi janji yah jangan memberitahu orang lain".
"Mmmmmm".
"Sebenarnya mommy ya Rachel itu sangat pemarah. Mommy selalu ribut dengan daddy, bibi tau yang membuat Rachel sedih, daddy selalu memukul dingding untuk melampiaskan amarahnya sampai tangan daddy berdarah".
"Terus Rachel tau enggak apa yang terjadi?".
"Mmmmm.. Tapi Rachel pura-pura tidak tau bibi supaya daddy tidak merasa bersalah" Jawabnya tersenyum. "Bahkan Rachel tau kalau daddy akan menceraikan mommy".
"Rachel kok bisa tau?".
"Rachel tidak sengaja mendengar waktu daddy dan mommy pulang dari rumah grandfat berdebat diatas tangga".
"Oohh.. Rachel yang kuat yah".
"Heheheh.. Terima kasih bibi. Melihat bibi yang sangat baik, Rachel jadi ingin memiliki mommy seperti bibi, tapi sayangnya bibi sudah menikah".
"Terus umur Rachel sekarang sudah berapa tahun?".
"4 tahun bibi".
"Oohhh.. Kalau anak bibi sekarang ini umur 5 tahun, namanya Ansel Joy Firan".
"Wah, bisa Rachel melihat gambarnya bibi? dari namanya pasti anak bibi sangat tampan".
"Bisa" Angguk Tania menunjukkan gambar Ansel yang sedang tersenyum.
"Hhhmmm? kenapa dia mirip sekali dengan daddy bibi?".
"Masa iya?".
"Mmmmm.. Dia mirip sekali dengan daddy bibi" Kemudian Tania mengusap kepala Rachel dengan sayang sambil membawanya kedalam pelukannya. "Ada apa bibi?".
"Tidak ada apa-apa, bibi hanya ingin memeluk mu saja. Rachel tidak keberatan kan?".
"Tentu saja tidak bibi, malahan Rachel sangat senang bisa di peluk seperti ini heheheh".
"Benarkah?".
__ADS_1
"Mmmmmm".
"Maka mulai dari hari ini dan seterusnya bibi akan selalu memeluk Rachel seperti ini" Ucap Tania semakin mengeratkan pelukannya.