SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 102


__ADS_3

1 minggu kemudian setelah Elvan menyerahkan surat perceraiannya dengan Jessi ke pengadilan. Ia langsung berencana kembali ke indonesia dan menempatkan orang kepercayaannya di perusahaan.


"Tuan" Panggil asistennya.


"Mmmm.. Ada apa?".


"Itu, tuan Robert..


Ceklek!


"Papa rasa kamu tidak sedang sibuk. Bisa kita bicara sebentar?".


"Mmmm.. Silahkan duduk pa" Jawab Elvan menghampiri Robert kearah sofa. Lalu ia menyuruh asistennya itu menyiapkan dua gelas kopi. "Ada apa pa?".


Robert tersenyum, "Papa tidak nyangka kalau kalian berdua sudah bercerai. Harusnya kamu memberitahu papa terlebih dahulu".


"Ini keputusan kamu berdua, aku rasa keluarga juga sudah tau dengan keputusan yang aku buat".


"Hahahahahah" Tawa Robert mengepal kedua tangannya.


Tidak lama kemudian asisten Elvan telah datang membawakan dua gelas kopi. "Silahkan di minum pa" Ucap Elvan.


"Mmmmm" Gumam Robert segera meminumnya. Setelah itu ia melihat kearah Elvan kembali, "Hhrrmm.. Papa tidak suka mendengar kalian berdua bercerai. Tapi kalau itu keputusan kamu, papa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Baiklah, mulai dari sekarang hubungan diantara kita tidak ada lagi" Ucapnya bangkit berdiri dari atas kursinya, setelah itu ia segera pergi keluar dari sana.


Namun Elvan yang bisa menebak maksud dari perkataan Robert, ia pun langsung menghubungi Chico, tetapi nomor yang sedang ia hubungi malah tidak aktif. Kemudian Elvan menghubungi nomor Vicky, "Nomor yang ada tujuh sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan".


"Hhhhmmmm.." Dengus Elvan menghubungi Amira. "Semoga mama aktif".


"Iya sayang. Kenapa?" Jawab Amira langsung bertanya.


"Mama lagi dimana? kenapa papa dan kak Chiko tidak bisa di hubungi".


"Di butik sayang. Emang kenapa? kok perasaan mama jadi enggak enak yah?".


"Coba mama cek papa di kantor. Hari ini Elvan akan kembali ke Indonesia".


"Apa? kenapa Elvan? lalu bagaimana dengan putri mu Rachel?".


"Dia sudah berada di indonesia ma. Kemarin aku menitikkan dia bersama..


"Bersama siapa Elvan?" Tanya Amira begitu Elvan menggantungkan perkataanya.

__ADS_1


"Tania ma".


"Apa?" Kagetnya dengan mata membulat.


"Iya ma. Sekarang mama ke kantor, sesuatu pasti sedang terjadi disana".


"I-iya" Angguk Amira mematikan ponselnya. Setelah itu, ia segera berangkat kekantor bersama dengan supir pribadinya yang selalu menunggunya disana. Setibanya Amira di depan perusahaan, dengan mata membulat ia melihat beberapa mobil polisi berada di sana dan juga para karyawan yang sedang mendesah desus keluar dari dalam perusahaan.


Kemudian Amira menghampiri salah satu karyawan, "Ada apa ini? kenapa mobil polisi berada di sini".


"Kami juga tidak tau buk kenapa mobil polisi berada disini. Sepertinya mereka sedang menggeledah".


"Tidak" Gumam Amira menggeleng. Lalu ia memasuki loby, namun salah satu polisi menahannya. "Minggir".


"Maaf, bisakah anda menunggu diluar sebentar saja? kami sedang bertugas".


"Saya bilang minggir" Ucap Amira lagi dengan mata tajam. Hingga salah satu keamanan perusahaan datang menghampiri mereka.


"Beliau istri dari tuan Vicky. Mari nyonya ikut saya" Ajaknya membawa Amira dari sana menuju lantai ruangan Vicky.


Begitu Amira keluar dari dalam lift, ia pun langsung syok terjatuh diatas lantai melihat Vicky dan Chiko yang sedang ditahan oleh pihak polisi. "Mama?" Kaget Chiko.


"Mama?" Gumam Vicky melihat kearah pandangan mata Chiko.


"Aarrhhh.. Apa lagi ini Chiko? apa yang terjadi, kenapa polisi berada disini?".


"Ma" Ucapnya menunduk.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan mama Chiko" Bentaknya.


"Maafkan Chiko ma. Chiko tidak bisa menjelaskannya sama mama" Semakin tunduk Chiko sambil menangis. Sedangkan Vicky yang melihatnya hanya bisa menunduk penuh dengan rasa penyesalan.


"Aarrkkhhh.." Geram Amira memukuli Chiko.


.


Setibanya Elvan di indonesia, ia segera menuju kantor polisi saat Amira memberitahu apa yang telah terjadi. "Ma" Panggilnya.


Mendengar suara itu, Amira melihat kearah ambang pintu "Elvan" Tangis Amira.


"Ma" Dengan langkah cepat Elvan memeluk tubuh Amira yang bergetar. "Apa yang terjadi ma?".

__ADS_1


"Papa sama kakak kamu Elvan hiks.. hiks.. Mereka, mereka" Gantung Amira tidak tau mau berkata apa.


"Mama tenang dulu" Ucap Elvan memberi Amira botol minum, "Minumlah ma".


"Terima kasih Elvan" Tidak lama kemudian Tania dan Rizal tiba disana beserta dengan kuasa hukum Alvis yang selama ini mencurigai kasus kecelakaan keluarga Firan yang tidak masuk diakal. "Ta-Tania?" Kaget Amira.


Elvan mengerutkan keningnya, lalu ia melihat kearah belakangnya. "Nia, kenapa kamu bisa berada disini?" Tanyanya melihat Rizal yang juga berada disana.


Namun Tania tidak menjawabnya, ia malah melihat Elvan dengan tatapan dingin. "Mari nona" Ajak kuasa hukumnya membawa Tania masuk kedalam ruangan Vicky dan Chiko saat ini di interogasi.


Lalu Elvan menahan Rizal, "Ada apa Zal? kenapa kalian berada disini?".


Rizal menghela nafas panjang melihat Amira yang terlihat sangat terpukul, "Aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi Elvan. Kita lihat saja nanti".


Di dalam ruangan interogasi Tania telah duduk dihadapan Vicky dan Chiko bersama dengan kuasa hukum Alvis. Kemudian Tania mengepal kedua tangannya sangat marah, ia benar-benar sangat marah kepada mantan mertuanya itu dan juga kakak ipar ya. Tetapi Tania berusaha untuk tegas, "A-apa benar ini perbuatan tuan Vicky dan juga tuan Chiko?" Tanyanya memberanikan diri.


Vicky melihat kearah Tania yang sedang berkaca-kaca.


"Kenapa tuan Vicky tidak menjawab pertanyaan saya? apa pertanyaan saya kurang jelas?".


Vicky menghela nafas, "Iya benar, sayalah yang merencanakan kecelakaan itu terjadi".


"Apa? ja-jadi benar anda yang menyebapkan kedua orang tua saya meninggal?".


"Mmmmm" Angguk Vicky penuh penyesalan.


"Haahhh.. Hahahhaha.. Ja-jadi mantan mertua ku sendiri yang telah menyebapkan keluarga ku semua meninggal. Oh Tuhan, aku enggak habis pikir dengan mereka. Apa salah keluarga haahh? apa salah keluarga ku hingga kalian tega membunuh mereka" Teriak Tania sangat marah dengan air mata yang selalu bercucuran dari pelupuk matanya.


"Nona tenang dulu" Ucap kuasa hukumnya menenangkan Tania.


"Saya benar- benar enggak nyangka dengan pemikiran kalian, saya pikir kalian selama ini orang baik, ternyata kalian adalah ular berkepala dua. Hiks.. hiks.." Lalu Tania melihat sekitar ruangan tersebut, "Pa, Ma, lihatlah kelakukan mereka. Mereka benar-benar sangat jahat, mereka sanggup membunuh orang yang tidak bersalah demi kesenangan mereka. Oohh Tuhan, kenapa engkau harus menciptakan manusia iblis seperti mereka".


"Nona, mohon tenang dulu".


"Lepasin, saya mau mereka di hukum seberat-beratnya" Setelah itu Tania keluar dari dalam sana dengan dendam yang membara dalam hatinya.


Melihat Tania yang keluar dari dalam sana, Elvan langsung datang menghampirinya, "Tania".


"Minggir, jangan menghalangi jalan saya" Ucapnya dengan ketus.


"Tania tunggu" Namun Rizal segera menghentikan Elvan.

__ADS_1


"Jangan sekarang Elvan, biarkan dia tenang dulu mmmmm".


Elvan mengusap wajahnya dengan kasar, ia benar-benar enggak nyangka dengan kelakuan papanya dan juga kakak yang selama ini ia percayai.


__ADS_2