SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 35


__ADS_3

Begitu Tania di dalam kamar, ia segera membangunkan Elvan. Namun seketika Tania tidak tega menganggu tidur nyenyak ya Elvan, "Saat tidur pun kamu tetap sangat tampan" Senyum Tania mencium bibir Elvan yang bau rokok dan juga bau alkohol.


Kemudian Tania menuruni tempat tidur, tetapi tangan kekar Elvan langsung menarik tubuhnya hingga kini Tania berada di atas tubuhnya. "Kenapa kamu sangat berisik sekali?".


"Hhhmmmm?".


"Kamu berisik sekali Nia" Ulangi Elvan kembali sambil membuka kedua matanya dengan pelan.


"Maafkan aku Elvan, apa aku mengganggu tidur mu?".


"Mmmm.. Kamu telah mengganggu tidur ku, sekarang kamu harus bertanggung jawab menidurkan aku kembali" Senyumnya mencium bibir Tania.


"OMG" Kaget Tania membulatkan kedua matanya. "E-elvan".


"Kenapa Nia? apa aku tidak bisa mencium bibir mu ini?".


"B-bukan seperti itu Elvan, aku hanya terkejut saja karna kamu tiba-tiba mencium ku".


Elvan tersenyum kembali dan mencium bibir Tania lagi hingga ia bermain disana. Sedangkan Tania yang tidak pernah berpacaran tidak tau membalas ciuman Elvan. Meskipun sedemikian Tania tetapi mengikuti setiap gerakan yang Elvan berikan.


kini Elvan menatap wajah cantik Tania yang sudah merah tomat, "Kenapa wajah mu seperti ini Nia? kamu malu?".


"Mmmmm" Angguk Tania semakin malu.


"Kenapa harus malu Nia?" Cium Elvan lagi hingga tampa mereka sadari permainan mereka telah berjalan jauh.


"E-elvan" Kaget Tania.


"Kenapa Nia?".


"Kamu yakin melakukan ya sekarang?".


"Kamu belum siap?".


"Maaf Elvan, aku bukannya belum siap, tapi..


"Tapi apa Nia".


"Kita tidak mungkin melakukan ya sekarang".


Elvan yang mengerti langsung mengangguk, "Aku tau ini pagi, jadi aku tidak akan melakukannya sekarang".


"Bukan apa-apa, aku takut salah satu anggota keluarga memasuki kamar ini".


"Iya Nia" Tawa Elvan memeluk tubuh Tania dengan erat.


.


Begitu Elvan membersihkan tubuhnya, Tania telah menyediakan pakaian ya diatas tempat tidur sedangkan ia saat ini berada di dapur untuk membuatkan teh penghilang rasa pusing dengan bantuan pelayan disana.


Saat Tania melihat Elvan menuruni anak tangga, ia langsung memberikan teh tersebut kepada Elvan, "Minumlah selagi hangat".


"Mmmmm" Angguk Elvan menerima ya dari tangan Tania.


"Bagaimana rasanya? tadi aku meminta bantuan dari bibi".


"Lumayan, terima kasih. Semuanya ada dimana?".


"Ditaman belakang, mereka sedang menunggu mu, duluan lah nanti aku akan menyusul mu".

__ADS_1


"Mmmmm" Jalannya meninggalkan Tania. "Pagi semuanya" Sapa Elvan mendudukan diri di atas kursi kosong disana.


"Pagi Elvan, Nia mana sayang?" Tanya Amira tak melihat Tania.


"Nia disini ma" Jawabnya.


"Duduk sini sayang".


"Iya ma".


.


Sore harinya Elvan mengajak Tania berjalan-jalan sekitar komplek rumahnya dengan menggunakan motor bututnya. "Elvan berhenti" Teriak Tania.


Dengan cepat Elvan langsung menginjak rem sepeda motornya, "Ada apa Nia?".


"Hehehehe.. Maaf, bisakah kamu mengajari ku membawa sepeda motor ini?".


"Ck, aku pikir kenapa".


"Please.. Ajari aku ya Elvan, aku penasaran sekali ingin membawa ya".


"Tidak, nanti kamu bisa terluka".


"Ayolah Elvan, aku sangat ingin sekali, yah.. yah.." Godanya dengan senyum manis.


"Aku tidak bisa mengajari orang lain, jangan banyak membantah".


"Kalau gitu turunlah, maka aku akan membawanya sendiri kalau kamu tidak mau mengajari aku. Ayo turun".


"Tania" Plototnya dengan tajam.


Elvan menghela nafas panjang lalu melihat Tania yang sedang tersenyum manis kepadanya, "Baiklah, tapi hanya satu kali putaran".


"Yeee.. Baiklah, satu kali putaran saja cukup kok" Angguk Tania.


"Turunlah".


"Mmmmm" Tania segera turun dari belakang Elvan.


"Sekarang naiklah" Gesernya kebelakang.


"Ok" Naiknya di hadapan Elvan. "Lalu?".


"Lalu kamu nyalakan sepeda motornya dan kamu harus menginjak ini dan menekan ya kebawah terus kamu putar gasnya secara perlahan maka motor ini akan berjalan dengan pelan. Ingat dengan pelan!".


"Ok" Angguk Tania mengulangi apa yang telah Elvan ajarkan. "Nyalakan mesin sepeda motor, injak gigi sepeda motor dan memutar gasnya secara perlahan. Hhmmm?".


"Ada apa?" Tanya Elvan.


"Kenapa gasnya tidak bisa di putar?".


"Kamu sudah memutar ya?".


"Ini aku sudah memuta.. Aaarrrkkhhh" Teriak Tania saat ia memutar gas sepeda motor tersebut dengan kuat.


BBBRRAAKKK..


"Aaahhhhh" Rengek Tania kesakitan di bagian lututnya yang terluka.

__ADS_1


"Nia.. Nia.." Bangkit Elvan membantu Tania.


"Aaarrkkhh hiks.. hiks.. Sakit Elvan" Tangisnya seperti anak kecil.


"Kita kerumah sakit" Elvan segera mendirikan sepeda motornya dan menaikan Tania di belakang. "Pegangan yang kuat" Ucapnya langsung menjalankan sepeda motornya menuju rumah sakit terdekat. Hingga kini mereka telah tiba disana, "Suster-suster.. Tolong istri saya sus" Teriak Elvan memasuki ruang IGD.


Seketika Tania melupakan rasa sakitnya saat Elvan berteriak meminta bantuan kepada sang suster dengan menyebutnya sebagai istri. "Elvan.." Dengan senyum mengembang di wajahnya Tania sangat bahagia.


Kemudian Elvan meletakkan tubuh Tania diatas bed rumah sakit, lalu sang suster dan dokter menghampiri mereka. "Luka jatuh yah?" Tanya sang dokter.


"Iya dok" Angguk Tania.


"Tunggu sebentar ya. Sus, tolong berikan alkoholnya".


"Ini dok" Berinya.


"Kamu bisa menahannya? ini sangat perih".


"Bisa dok".


Sang dokter pun langsung membersihkan luka Tania dengan menggunakan kapas yang sudah di tuangi alkohol, "Aarrkkhh" Teriaknya sangat perih. Namun Elvan yang sedang menggenggam tangannya mencoba untuk tidak bersikap manja, "Elvan.. Kamu seperti papa saja kalau lagi khawatir, dan papa juga selalu menggenggam tangan ku seperti ini setiap kali papa membawa ku kerumah sakit" Senang Tania dalam hati.


Setelah sang dokter selesai mengobati luka Tania, "Terima kasih banyak dok" Senyum Elvan.


"Sama-sama, tapi luka mu juga perlu di obati, kemarilah" Ucapnya menyuruh Elvan mendekatinya.


"Astaga.. Ternyata kamu juga terluka Elvan. Maafkan aku" Sedih Tania merasa sangat bersalah.


"Tidak apa-apa Nia" Ucap Elvan memberikan tangannya kepada sang dokter.


"Ckckck.. Luka mu juga parah, bahkan luka mu jauh lebih parah dari istri mu".


Elvan tersenyum tipis melihat wajah khawatir Tania yang sedari tadi melihat lukanya, "Tolong pelan-pelan saja dok, kasihan dia".


"Ini sudah sangat pelan. Tenanglah, dia saja sama sekali tidak meringis kesakitan" Senyum si dokter kepada Tania.


"Dia tidak akan mengatakan kalau dia kesakitan dok, tapi dari wajahnya dia tidak bisa membohongi kita kalau dia tidak kesakitan".


"Baiklah dan ini sudah selesai".


"Terima kasih dok".


"Sama-sama" Perginya meninggalkan mereka berdua.


"Elvan" Panggil Tania dengan lembut.


"Mmmmmm?".


"Maafkan aku, kalau saja aku tidak bersikeras untuk mempelajari membawa motor itu kita berdua pasti tidak akan terluka seperti ini" Tunduknya.


Elvan kembali tersenyum, "Tidak apa-apa, kamu masih mau mempelajarinya?".


"Tidak" Geleng Tania.


"Kenapa? bukankah kamu ingin sekali mempelajarinya?".


"Sekarang tidak lagi, aku tidak akan pernah membuatmu terluka lagi. Tolong maafkan aku Elvan".


"Sayang sekali, ketika orang belajar membawa sepeda motor, orang itu pasti pernah terjatuh. Dan dari situlah ia akan bisa membawanya. Tapi aku senang kalau kamu tidak ingin mencobanya lagi".

__ADS_1


__ADS_2