SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 77


__ADS_3

Begitu Elvan dan Tania meninggalkan bandara, Elvan langsung membawa Tania ke kantor kejaksaan, "Apa yang kita lakukan disini Elvan?" Semakin heran Tania.


"Menemui seseorang Nia" Jawabnya.


Tok.. Tok..


Masuk jawab seseorang dari dalam ruangan tersebut.


Ceklek!.


"Selamat pagi" Tunduk Elvan dengan sopan.


"Saudara Elvan?".


"Iya".


"Ayo silahkan duduk" Ucapnya.


"Terima kasih" Duduk Elvan dan Tania dihadapannya.


"Apa benar anda saudara Tania Firan?".


"Iya saya sendiri" Angguk Tania dengan wajah linglung.


"Begini nona, saya kuasa hukum dari pak Alvis Firan ingin memberitahu nona atas harta warisan yang pak Alvis tinggalkan. Di dalam surat ini pak Alvis belum mewariskan untuk siapa, namun karna nona putri satu-satuan pak Alvis yang tertinggal, maka saya akan mencantumkan nama nona disini".


Kemudian Tania melihat Elvan yang berada disampingnya. "Mmmm" Angguk Elvan.


"Jadi maksud bapak, semua harta warisan peninggalan papa jatuh ke tangan saya?".


"Iya nona dan nona bisa tanda tangan disini" Jawabnya memberi berkas itu dihadapan Tania.


"Baiklah" Tania langsung menandatangi semua berkas yang ada di hadapannya itu tampa melakukan kesalahan.


"Ok terima kasih nona, sekarang seluruh harta warisan pak Alvis telah jatuh ke tangan nona".


"Terima kasih pak. Kalau gitu kami permisi dulu" Ucap Elvan mengajak Tania keluar dari sana. Sedangkan Tania yang sama sekali belum mengerti ia tetap mengikuti langkah kaki Elvan sampai mereka berada diluar.


"Elvan tunggu. Bisakah kamu jelaskan ini semua? aku tidak mengerti maksud kamu sekarang ini? bahkan kamu tiba-tiba saja kembali pulang dari luar negeri dan langsung mengajak ku kesini dengan pagi-pagi buta".


"Aku akan menjelaskan kepada mu begitu semuanya beres Nia".


"Aku mau sekarang Elvan!".


"Jangan sekarang Nia, masuklah. Kita akan ke perusahaan".


"Tidak mau" Tolak Tania.


"Ayolah Nia".


"Tidak mau Elvan".


"Hhhmmsss" Dengus Elvan melihat Tania. "Tidak bisakah kamu percaya kepada ku Nia? aku melakukan ini untuk kamu" Ucapnya sedikit marah.


Melihat wajah marah Elvan membuat Tania sedikit takut, "Maafkan aku Elvan, aku hanya penasaran saja".


"Bukankah aku sudah mengatakan kepada mu kalau nanti aku akan menjelaskannya Nia".


"Maaf".


.


Kini mereka telah berada di perusahaan, Elvan meminta kepada sekretaris Alvis untuk menyuruh direktur keuangan mendatangi ruangan Alvis yang selama ini Alvis percayai.


Tidak lama kemudian, direktur keuangan itu telah berada di hadapan Elvan dan Tania. "Nona" Ucapnya kepada Tania.


Lalu Elvan memulai pembicaraan di antara mereka, "Bisakah saya mempercayai anda?".

__ADS_1


"Maksudnya?" Ia tidak mengerti maksud dari perkataan Elvan.


"Untuk sementara, saya ingin mempercayakan perusahaan ini kepada anda. Bisakah anda melakukan itu?".


Ia tampak berpikir hingga akhirnya ia mengangguk. "Tapi bukan berarti karna saya mempercayakan perusahaan ini kepada anda, anda jadi berbuat sesuka hati anda. Selama 24 jam saya akan selalu memantau anda dari kejauhan. Sekarang kamu boleh keluar".


"Permisi" Tunduknya segera keluar dari sana.


"Sebenarnya ada apa sih Elvan?".


"Kamu lapar Nia? aku akan memesan sarapan untuk mu".


"Sebenarnya aku lapar, tapi melihat mu seperti ini membuat ku tidak lapar".


Elvan tersenyum mengusap kepala Tania, "Sebentar, aku akan memesan sarapan untuk mu".


"Terus kamu?".


"Aku akan memakan sisa mu".


"Kalau gitu tidak usah pesan" Kesal Tania. "Lagian aku tidak lapar".


"Jangan banyak melawan Nia".


Tidak lama kemudian pesanan mereka telah tiba, Elvan langsung menyuruh Tania melahap sarapannya. Sedangkan ia menghubungi Rizal dan pergi sedikit menjauh dari Tania, "Hallo Zal, aku butuh bantuan mu".


"Bantuan apa yang kamu butuhkan dari ku Elvan?".


"Bekerjalah di perusahan keluarga Tania selama aku tidak berada disini, aku mau kamu mengirim laporan setiap hari kepada ku".


"Kenapa Elvan? kamu ingin meninggalkan kota ini?".


"Iya, aku punya firasat buruk. Jadi aku dan Tania untuk sementara waktu akan meninggalkan kota ini dan tolong jaga juga butik mama Elvina. Sebenarnya aku sudah memberitahu Jerry".


"Baiklah kalau itu keputusan kamu Elvan. Kapan kamu akan pergi?".


"Kamu akan pergi kemana Elvan?".


"Nanti aku memberitahu Zal begitu kami tiba disana".


"Baiklah, serahkan pada ku".


"Terima kasih Zal" Elvan menutup ponselnya. Lalu ia melihat kearah Tania yang baru selesai melahap sarapan paginya. "Sudah?".


"Mmmm.. Aku sengaja menghabiskannya supaya kamu tidak punya bagian".


"Tidak apa-apa. Ayo, kita tidak punya banyak waktu lagi" Ajaknya keluar dari sana.


Setibanya mereka di bandara, "Loh, kita kok kesini lagi Elvan?" Heran Tania.


"Untuk sementara waktu kita akan meninggalkan kota ini Nia".


"Apa? kenapa Elvan?".


"Sebenarnya aku tidak bisa menjelaskan ini semua kepada mu Nia. Tapi percayalah, aku melakukan ini untuk kebaikan kamu dan juga masa depan kita kelak. Bisakah kamu mempercayai ku Nia? dan hiduplah bersama ku penuh dengan kesusahan" Ucap Elvan dengan wajah serius.


"Mmmmm" Angguk Tania tidak banyak bertanya lagi.


"Terima kasih Nia" Ciumnya di bibir Tania. "Ayo, pesawat sebentar lagi akan berangkat".


Didalam pesawat, Tania tak henti-hentinya memperhatikan wajah letih Elvan. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti setiap perintah Elvan. "Tidurlah Nia, jangan melihat ku seperti itu".


"Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu tidak memeluk ku".


"Kemarilah" Peluknya dengan sayang.


Setelah pesawat yang di tumpangi oleh Elvan dan Tania mendarat di sebuah kota kecil, semua penumpang di dalam pesawat tersebut langsung keluar dari dalam sana.

__ADS_1


"Lalu kita akan tinggal dimana Elvan? kamu memiliki kenalan disini?".


"Tidak, kita akan mencari kontrakan disini".


"Kontrakan?".


"Mmmmm".


"Kamu serius Elvan?".


"Iya. Itu busnya sudah mau berangkat" Tunjuk Elvan kearah bus.


"Hhhmmsss" Dengus Tania segera memasuki bus itu.


"Hati-hati Nia".


"Elvan, bus sudah penuh".


"Turunlah, kita naik bus yang lain saja".


"Mas-mas ini bus terakhir. Kalau kalian mau menunggu satu jam lagi tidak apa-apa" Ucap si supir memberitahu mereka.


"Gimana dong Elvan".


"Ya sudah tidak apa-apa" Angguk Elvan memilih berdiri. Kemudian Elvan menarik Tania kedalam pelukannya sampai membuat orang yang berada di dalam bus itu merasa sangat iri. "Bertahanlah, ini tidak akan lama".


"Mmmmm" Angguk Tania tersenyum senang.


Begitu mereka tiba di desa kecil, Elvan dan Tania segera turun dari dalam bus. "Ternyata desa seperti ini ya Elvan. Kok aku baru tau".


"Iya Nia, kamu mau tinggal ditempat seperti apa?".


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Sebentar, ponsel ku berdering".


"Tunggu Nia" Tahan Elvan. "Dari siapa?".


"Mama".


"Berikan pada ku".


"Ini".


"Hallo ma" Jawab Elvan.


"Elvan?" Kaget Amira.


"Iya ma".


"Kenapa kamu yang ngangkat sayang?".


"Mama lagi dimana?".


"Di kamar kamu. Terus Tania dimana? dia tidak ada di kamar".


"Tania bersama ku ma".


"Bersama mu? bagaimana bisa Tania bersama mu Elvan sedangkan kamu..


"Elvan di indonesia ma".


"Indonesia?".


"Iya ma. Elvan minta tolong jangan beritahu papa dan kak Chiko".


"Iya sayang" Angguk Amira merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui.

__ADS_1


__ADS_2