
Ansel melihat Elvan tersenyum, "Dulu waktu kuliah papa sering di bilang wajah tembok sama teman-teman papa waktu papa menunjukan wajah seperti ini. Ansel tau enggak alasannya?".
"Tidak" Gelengnya.
"Akhirnya anak papa mau bicara juga" Senang Elvan langsung merangkulnya. "Dulu papa itu tipikal pria cuek yang tidak perduli dengan mereka meskipun mereka setiap saat memuja-muja ketampanan papa hahahhaha.. Tapi mama kamu tetap saja tergila-gila dengan papa hingga akhirnya kami di jodohkan".
"Jadi papa sama mama di jodohkan?".
"Wah.. Sekarang putra papa sudah mau berkata papa. Mmmmmm, dulu papa sama mama dijodohkan hingga akhirnya kami menikah".
"Mmmmm.. Lalu kenapa papa pergi meninggalkan Ansel dan mama waktu itu?".
"Karna papa sayang sama mama dan juga Ansel".
"Maksud papa?".
"Untuk saat ini Ansel tidak akan bisa mengerti perkataan papa, tapi nanti begitu Ansel tumbuh dewasa papa janji akan menceritakan semuanya pada Ansel apa yang telah terjadi selama ini".
"Tapi Ansel masih marah sama papa".
"Papa tau Ansel masih marah sama papa dan papa sangat tau itu" Senyum Elvan membawa Ansel kedalam pelukannya. "Melihat mu seperti ini, Ansel sangat mirip sekali dengan papa waktu kecil".
"Benarkah?".
"Mmmmm".
Dari kejauhan Tania dan Rachel yang melihat kedekatan anak dan bapak itu ikut tersenyum senang, "Akhirnya" Batin Tania. Lalu mereka menghampiri Elvan dan Ansel, "Wah, jadi anak mama sudah maafin papa ni?".
"Hehehehe" Tawanya.
Kemudian Elvan menggenggam tangan Tania dengan lembut, "Nia, bisakah aku mempertemukan kamu dan Ansel dengan mama? saat ini mama sedang sakit dan mama sedang di rawat di rumah sakit".
"Apa?".
"Mmmmm".
"Kalau gitu kita kerumah sakit sekarang juga Elvan. Ayo" Ajaknya segera pergi dari sana.
Setibanya mereka di rumah sakit, Elvan membawa Tania, Ansel dan Rachel masuk kedalam ruang inap Amira.
Tok.. Tok..
__ADS_1
"Masuk" Jawab Zita dari dalam.
Ceklek!
Begitu pintu tersebut terbuka, Zita langsung terkejut melihat siapa yang kini berada di hadapannya itu, "Ta-Tania? benarkah kamu ini Tania".
Sedangkan Amira yang mendengar suara Zita menyebut nama Tania, ia pun segera melihat kearah pintu, "Tania?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya ma" Jawabnya menghampiri Amira kearah tempat tidurnya. "Apa yang terjadi ma? kenapa mama terbaring lemas di tempat seperti ini".
Bukanya menjawab pertanyaan Tania, Amira malah tambah menangis sambil menarik Tania kedalam pelukannya, "Maafkan mama Nia, maafkan mama Nia, mama telang gagal melindungi kamu selama ini hiks..hiks..".
"Tania juga minta maaf ma, selama ini Nia sudah menjadi Tania yang egois sama mama dan juga kak Zita".
"Tidak sayang, mama yang harus minta maaf karna telah gagal melindungi pernikahan kamu dan Elvan" Ucapnya mencium kening Tania dengan sayang. Kemudian Elvan membawa Ansel kepada Tania.
Lalu Tania menggenggam Tangan Ansel dan memberinya kepada Amira, "Sayang, ini oma kamu yang sebenarnya".
Sambil menahan tangis Amira mencium kedua tangan Ansel, "Maafkan oma ya sayang, oma tau oma tidak pantas di sebut oma oleh Ansel".
"Kenapa oma berkata seperti itu? Ansel tau kok kalau oma sering melihat Ansel dari kejauhan dan Ansel juga tau kalau oma sering datang ke sekolahnya Ansel".
Mendengar perkataan Ansel, suara tangis Amira semakin pecah di dalam ruangan tersebut. "Oohh Tuhan, kenapa anak dan ibu ini sangat baik sekali" Ucapnya membawa Tania dan Ansel kedalam pelukannya.
"Iya kak" Jawab Elvan.
Zita mendekati mereka lalu ia menggenggam kedua tangan Rachel, "Kamu baik-baik saja?".
"Mmmm.. Rachel baik-baik saja bibi. Bibi tidak usah khawatir".
"Anak pintar" Senyum Zita.
.
1 bulan kemudian, akhirnya sidang keputusan penjatuhan hukuman Vicky dan Chiko akhirnya di putuskan hari ini juga di gedung Mahkamah Agung Republik Indonesia. Semua anggota keluarga telah berada disana serta kedua sahabat Tania dan juga Jerry, Rizal yang ikut menghadiri sidang tersebut. "Ma" Genggam Elvan ditangan Amira.
"Mama baik-baik saja sayang, kamu tidak usah khawatir".
"Iya ma" Angguk Elvan melihat kearah depan.
Tidak lama kemudian jaksa telah tiba di sana, semua para tamu undangan langsung bangkit berdiri, setelah para jaksa tersebut duduk diatas kursi, baru mereka kembali duduk.
__ADS_1
"Selamat siang semuanya. Hari ini adalah sidang terakhir dari saudara kita Vicky Sandoro dan Chiko Sandoro dimana mereka yang telah menjadi tersangka dalam kasus perencanaan pembunuhan saudara Alvis beserta istri dan putri bungsunya".
Kemudian Tania melihat kearah Elvan yang sedang tersenyum kepadanya sambil berkata, "Fighting" Lalu Tania menunjukkan senyum tipisnya. Setelah itu ia melihat kearah Vicky dan Chiko yang sedang menunduk. "Ma Pa. Apa Tania sudah melakukan hal yang benar?".
"Dari semua bukti yang kita dapatkan, maka tersangka akan di jatuhkan hukumanan penjara selama 20 tahun penjara" Ucap yang mulia jaksa sambil menokok palunya 3 kali.
Tok.. Tok.. Tok..
Mendengar itu Amira langsung lemas, ia tidak bisa membayangkan Vicky dan Chiko yang akan menghabiskan waktu selama 20 tahun di dalam penjara. "Ma" Peluk Elvan. "Mama yang kuat yah, papa dan kak Chiko pasti bisa melewati dan menyesali semua apa yang telah mereka lakukan".
"Iya sayang" Angguk Amira melap air matanya.
.
Begitu Vicky dan Chiko di bawa keluar dari sana, Tania segera mengejarnya sambil membawa Ansel. "Tunggu" Teriaknya.
Sang polisi pun mengentikan langkah mereka melihat kearah Tania yang datang bersama dengan Ansel, "Maaf pak, bisa saya bicara dengan mereka 5 menit saja. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan".
"Silahkan 5 menit saja".
"Terima kasih pak" Lalu ia melihat kearah Vicky dan Chiko yang sedang menahan rasa malu, "Bisakah Tania memanggil papa?".
Vicky tidak menjawabnya.
"Baiklah, Nia rasa papa tidak akan keberatan kalau Nia berkata seperti itu" Setelah itu Tania melihat kearah Ansel, "Ayo nak, beri penghormatan terakhir pada opa. Mau bagaimana pun mereka adalah opa dan paman Ansel".
"Iya ma" Angguk Ansel melaksanakan apa yang barusan Tania perintahkan. Kemudian, tangan mungil Ansel menyentuh kedua tangan Vicky dengan lembut, "Opa, bertahanlah selama berada disana dan juga paman, jangan sakit. Begitu opa keluar nanti, opa harus berjanji akan membawa Ansel berjalan-jalan. Ok" Senyumnya.
Melihat Ansel yang sudah tumbuh besar dan menjadi anak yang bijak membuat Vicky langsung menangis dihadapan mereka semua, "Maafkan opa Ansel. Opa tidak pantas mendapatkan belas kasihan kelian semua" Ucapnya melihat semua anggota keluarganya yang telah berada disana. "Elvan, papa tidak tau mau berkata seperti apa lagi dan juga Tania, maafkan papa yang sudah menjadi papa yang tidak berguna selama ini hiks.. hiks.. Dan juga mama, maafkan papa ma".
"Pa" Amira langsung datang memeluknya. "Maafkan mama juga pa hiks..hiks.. Dan selama disana tolong papa jaga kesehatan seperti apa yang tadi Ansel ucapkan".
"Iya ma" Angguknya. Lalu ia melihat kearah Zita dan Saskia yang sedang menahan tangis dengan mata berkaca-kaca. "Untuk menantu ku dan juga cucu ku, tolong jangan membenci Chiko, kalian berdua cukup membenci ku saja karna dia tidak akan melakukannya kalau bukan papa yang menyuruhnya".
Kemudian Saskia melihat Chiko yang sedang menunduk menahan tangis, "Papa" Peluk Saskia menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan, "Papa".
"Kia aarrhhh Kia. Maafkan papa Kia, maafkan papa Kia yang tidak bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik dalam keluarga kita".
Tidak lama kemudian sang polisi langsung menghentikan mereka, lalu segera membawa Vicky dan Chiko dari sana.
"Opa" Teriak Ansel. "Begitu opa keluar, opa dan paman harus janji yah membawa Ansel dan Rachel jalan-jalan nanti".
__ADS_1
"Mmmmm" Angguk Vicky mengangkat kedua tangannya ke atas. Setelah itu mereka semua ikut melambaikan tangan kepadanya sambil berkata. "Kami semua mencintai papa dan juga kak Chiko" Mendengar perkataan itu Vicky dan Chiko langsung tersenyum bahagia.
*************TAMAT**************