SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 48


__ADS_3

"Saya mau bertanya kepada kalian, apa kalian mau mempermalukan kampus kita?".


"Tidak buk".


"Kenapa saya menyuruh kalian berpenampilan seperti itu? karna ibu mau kalian itu di hargai perusahaan tempat magang. Baik itu dari cara kerja kalian maupun dari penampilan kalian. Bisa dipahami?".


"Buk" Angkat tangan salah satu mahasiswa lagi.


"Iya silahkan".


"Maaf ni buk, seandainya kami berpakaian se-formal dia atas permintaan dari ibu, tapi pihak perusahaan meminta kita berpakaian layaknya seorang anak magang. Apa yang harus kita lakukan buk?".


"Lakukan sesuai permintaan perusahaan. Ibu membuat contoh seperti ini mengingat banyaknya perusahaan dari luar sana yang sudah meminta anak magang berpakaian seperti karyawan di sana. Jadi tidak salah kalau kalian mencobanya".


"Mmmmm" Angguk mereka.


"Masih ada yang bertanya?".


"Tidak buk".


"Terima kasih. Berarti semua sudah paham?".


"Sudah buk".


.


Begitu acara selesai, semua para mahasiswa semester 6 langsung keluar dari gedung tersebut. Hingga kini Tania berada di sebuah taman yang berada di belakang kampus, sedangkan Sani sedang mengurus surat ganti magang ya yang kini magang di perusahaan orang tua Tania.


"Kenapa kamu melamun seperti itu disini?".


"Astaga" Kaget Tania melihat pria yang berada di sampingnya itu. "Pak Varrel".


Varrel tersenyum manis sambil mengusap kepala Tania dengan sayang, "Semakin hari kamu semakin kurus".


"Maaf pak" Tania langsung melepaskan tangan Varrel dari atas kepalanya. "Sedang apa bapak disini? bukankah bapak hari ini sedang sibuk".


"Iya, dari tadi aku mencari mu. Kenapa kamu tidak datang menemui ku?".


"Maaf pak" Tunduk Tania.


"Tidak apa-apa. Bagaimana dengan tempat magang mu? kamu sudah menemukan yang tepat?".


"Sudah pak, saya magang di perusahaan papa".


"Oohh.. Aku pikir kamu belum menemukannya".


"Iya pak".


"Tapi aku penasaran, kamu baik-baik saja atau tidak? kamu terlihat kurusan".


"Saya baik-baik saja pak".


"Benarkah?".


"Iya pak".

__ADS_1


"Mmmmm.. Kalau gitu aku pergi dulu, jangan lupa makan siang" Senyum Varrel mengusap kepala Tania kembali.


"Pak Varrel.. Ck, kenapa harus seperti itu sih?" Kesal Tania memperbaiki rambutnya yang berantakan. Kemudian Tania menatap layar ponselnya, lalu ia membuka sebuah aplikasi.


"Nia" Panggil Elvan.


"Elvan" Tania langsung meletakkan ponselnya.


"Sedang apa kamu disini?".


"Tidak ngapa-ngapain, aku hanya menikmati udara segera disini saja".


"Kamu butuh sesuatu?".


"Tidak".


"Kamu tidak ingin makan sesuatu?".


"Kamu tidak sibuk?".


"Tidak".


"Kalau gitu ayo, aku pengen makan rujak yang ada di pinggir jalan itu" Bangkit Tania merangkul lengan Elvan.


"Ayo" Jalan mereka berdua menuju si penjual Rujak yang berada di luar kampus. Namun si penjual Rujak malah tidak muncul membuat Tania terlihat sedih. "Tidak usah sedih seperti itu, kita cari di tempat lain saja".


"Tapi aku mau rujak yang disini Elvan".


"Kamu lihat sendiri penjual rujaknya tidak ada disini".


"Pokoknya aku mau rujak yang ada disini Elvan".


"Kalau gitu kamu tunggu sebentar, aku akan mencari tahu alamat si penjual rujak itu" Elvan mencoba meminta nomor si penjual rujak kepada pedangan yang lainnya hingga ia mendapatkannya. "Terima kasih pak".


"Sama-sama dek".


Elvan segera menghubungi nomornya, dan meminta si penjual rujak tersebut segera datang kesana. Awalnya Elvan sempat ditolak, namun Elvan bersikeras memaksanya untuk datang, bahkan Elvan menawarkan akan membayarnya dua kali lipat. Tampa ingin menolak uang, si penjual rujak pun akhirnya mengiyakan permintaan Elvan.


"Bagaimana Elvan?" Tanya Tania penuh harap.


"Sebentar lagi dia akan kemari, kita tunggu saja".


"Heheheh.. Terima kasih Elvan. Maaf telah merepotkan mu".


"Tidak apa-apa, duduklah dulu".


"Mmmmm" Angguk Tania mendudukan diri sambil menunggu si penjual rujak. "Oohh iya Elvan, kenapa buk Deva tadi memilih mu jadi contoh untuk yang lainnya?".


"Kenapa?".


"Tidak, aku hanya bertanya saja".


"Aku juga tidak tau, aku hanya menuruti permintaan buk Deva saja".


"Oohh".

__ADS_1


Hampir 30 menit lamanya mereka menunggu disana, Tania yang tidak sabar menunggu membuatnya gelisah. Sedangkan Elvan sedang sibuk dengan ponselnya membuat Tania merasa jengkel.


"Elvan.. Kok lama banget sih? ini sudah 40 menit lamanya tapi tukang rujaknya belum muncul-muncul juga. Dia jadi datang atau tidak?".


"Sabar Nia, paling bentar lagi dia datang".


"Aku tidak sabar lagi Elvan, coba hubungi dia lagi" Desak Tania.


"Sabar Nia".


"Iikkhh.. Aku enggak sabar lagi Elvan. Ayo buruan telpon. Bahkan ini sudah 50 menit, kalau enggak sini aku yang telpon" Mintanya di ponsel Elvan.


"Biar aku saja".


"Mmmm.. Buruan" Senyum Tania melihat wajah sabar Elvan. "Rasain, siapa suruh kamu dari tadi asik dengan ponsel mu saja" Ucap Tania dalam hati. Begitu Elvan selesai menelpon, "Udah dimana, masih lama enggak?".


"Udah dijalan Nia, bentar lagi dia nyampe. Duduklah dulu".


"Aku haus Elvan".


"Sebentar" Elvan segera membelinya.


"Heheheh.. Maafkan aku Elvan, aku harap kamu tidak marah. Besok aku tidak bisa seperti ini lagi dengan mu, jadi hari ini aku akan memanfaatkan mu sepuas hati ku".


Tidak lama kemudian si penjual rujak telah tiba disana, kedua mata Tania langsung berbinar-binar melihat buah-buah segar si penjual. "Pak, berikan untuk ku satu porsi dengan porsi besar" Minta Tania.


"Baik nona" Angguknya segera membuat pesanan Tania.


"Wah.. wah.. Hanya mencium aromanya saja membuat aku sudah tergiur. Bdw, Elvan kenapa lama yah? dia membelinya sampai kemana sih?" Gumam Tania mencari-cari sosoknya Elvan.


Selesai si penjual rujak membuat pesanan Tania, "Nona, rujaknya".


"Aahh iya, terima kasih pak" Senang Tania menerima miliknya. Begitu juga dengan yang lainnya yang sudah mengantri di belakang Tania. "Baru tiba, pembeli lainnya sudah ramai saja".


Tania pun segera melahapnya sambil berdiri melihat kursinya yang sudah diduduki oleh orang lain. "Mmmm.. Ini sangat enak, tidak salah aku tadi menunggunya sampai 1 jam".


Hampir setengah milik Tania habis, ia baru melihat Elvan muncul di ujung jalan. "Nia, kenapa kamu makan sambil berdiri?" Ucap Elvan memberi botol minumnya.


"Kursinya habis di duduki mereka" Tunjuk Tania kearah para mahasiswa lainnya yang telah menduduki kursi mereka. "Kamu sih cuman cari air minum saja sampai segitu lamanya".


"Maaf, disana tadi tidak ada menjual air minum merek ini".


"Kamu ada-ada saja Elvan, yang lain kan bisa. Kamu mau?" Tawar Tania.


"Tidak, makanlah. Dan cepat habiskan".


"Kenapa?".


"Kamu mau berdiri seperti ini terus?".


"Hehehhe.. Tidak, tapi makan rujak sambil diri enak loh Elvan. Kamu lihat mereka?".


"Kenapa dengan mereka?".


"Mereka juga makan rujak sambil diri".

__ADS_1


"Tidak usah melihat mereka".


"Mmmmm".


__ADS_2