SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 24


__ADS_3

Tidak lama kemudian sang dosen telah memasuki kelas mereka dan Gavin masih berdiri disana sambil menatap Tania dengan tajam.


"Apa yang kamu lakukan disini Gavin? kamu tidak mau duduk di kursi mu?".


Tampa menjawab si dosen tersebut, Gavin langsung berjalan kearah kursinya.


"Ck.. Mahasiswa jaman sekarang" Gelengnya melihat Gavin yang telah duduk diatas kursinya. Kemudian ia memperhatikan semua mahasiswa hingga kedua matanya berhenti di Elvan dan Tania. "Apa kita sedang kedatangan mahasiswa baru di kelas ini?" Tanyanya.


"Iya buk" Jawab mereka.


"Oohh.. Bisa kalian berdua maju ke depan?" Tanyanya meletakkan tasnya diatas meja.


"Bisa buk" Jawab Tania segera bangkit berdiri dari atas kursinya menuju ke depan, begitu juga dengan Elvan yang mengikutinya dari belakang.


"Silahkan perkenalkan diri kalian, dan asal kampus kalian sebelumnya dari mana".


"Iya buk" Angguk Tania memulai duluan. "Hallo semuanya, perkenalkan nama saya Tania Firan dan asal kampus saya semula dari universitas xx" Beritahunya tersenyum.


"Perhatian semuanya" Ujar Gavin melihat teman satu kelasnya. "Jangan ada yang menggangu wanita itu selain aku, mulai hari ini dia adalah kekasih ku, mengerti?".


"Baiklah Gavin, mulai hari ini dia telah menjadi nyonya Gavin".


"Ck, dia apa-apa sih" Kesal Tania dalam hati. "Mau sampai kapan pun aku akan tetap menjadi nyonya Elvan, dia enggak tau apa seberapa besarnya perjuangan aku hanya untuk mendapatkan Elvan saja".


Kemudian si dosen tersenyum melihat Tania, "Kamu tidak usah terlalu serius menanggapi perkataan Gavin, ayok lanjut lagi yang di sebelahnya".


"Perkenalkan nama saya Elvan dan saya juga berasal dari universitas yang sama dengannya, saya harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik di dalam kelas ini".


"Wah.. " Kagum mereka mendengar cara bicara Elvan yang sangat berkarisma di pendengar mereka.


"Kalian dengar itu, ibu harap kalian semua bisa diajak bekerja sama, meskipun mereka mahasiswa baru di kelas ini".


"Iya buk".


"Sekarang kalian silahkan duduk kembali".


"Terima kasih buk".

__ADS_1


"Iya" Angguknya. Lalu ia membuka materi pembelajarannya. "Minggu semalam kita sudah sampai dimana?" Tanyanya melihat mereka.


"Kita sudah sampai bab 10 buk".


"Iya.. Lalu siapa hari ini yang maju ke depan?".


"Woi.. Siapa yang maju hari ini?" Tanya mereka melihat samping kiri kanan. Tetapi tidak ada satu pun yang bergerak diantara mereka. Kemudian Elvan mengangkat tangannya dan bertanya kepada si dosen. "Bisakah kami cuman berdua saja satu kelompok dengan dia buk?" Tanyanya menunjuk Tania.


"Bisa sih, tapi kamu yakin cuman berdua saja dengan dia, materinya tidaklah muda".


"Tidak apa-apa buk".


"Baiklah kalau kamu tidak keberatan, kalian bisa membahas bab terakhir".


"Iya buk".


Di atas kursinya Tania sangat bahagia sekali dan sekali-kali ia menunjukkan gigi ratanya. "Elvan so sweet banget sih" Gumamnya.


2 jam kemudian si ibu dosen tersebut telah keluar dari dalam kelas mereka. Lalu Gavin menghampiri Tania dan menarik tangan ya dengan kasar. "Aaakkhhh" Pekik Tania kesakitan.


Elvan pun yang tidak terima melihat perlakuan kasar Gavin, ia langsung melemparkan sesuatu di kepala Gavin.


"Haaahhhhhh" Seringai Gavin melepaskan tangan Tania. Dengan mata tajam ia menatap Elvan yang tidak sama sekali perduli kepadanya.


Elvan bangkit berdiri dari atas kursinya, "Ayok" Ajaknya menggenggam tangan Tania. Tampa melawan Tania pun mengikuti setiap langkah kaki ya Elvan, hingga kini mereka telah berada di sebuah lapangan basket. "Duduklah, apa kamu haus?".


"Tidak, kamu duduk juga" Tariknya menarik tangan Elvan. "Terima kasih ya, tadi aku sempat sangat takut".


"Mmmmm.. Itu sudah menjadi kewajiban ku" Jawab Elvan menatap lurus ke arah para mahasiswa yang sedang bermain basket itu. Dan tampa Elvan sadari dari kejauhan Gavin sedang melihatnya, lalu ia melemparkan bola basketnya tepat di kepala Elvan.


"Hahahahah" Tawa teman-teman ya Gavin melihat Elvan menyentuh kepalanya.


Sedangkan Elvan yang sedang menahan rasa amarahnya tidak bisa melakukan apa-apa selain mengepal kedua tangannya. "Elvan" Genggam Tania di tangannya. "Ini masih hari pertama kita di kampus ini, biar aku saja yang membalasnya".


Elvan mengerutkan keningnya melihat Tania.


Tania tersenyum, lalu ia mengambil bola basket yang Gavin lemparkan tadi dikepala Elvan. "Woi.. Nama kamu Gavin kan? kalau kamu laki-laki ayok lawan dia bermain basket, tidak usah melakukan kekerasan seperti ini".

__ADS_1


"Hahahhaha" Teman-teman Gavin kembali tertawa mendengar tantangan dari Tania.


"Bagaimana? kamu bisa tidak melawan ya?".


"Baiklah" Jawab Gavin menghampiri mereka.


"Ok, ayok Elvan lawan dia" Senyum Tania memberikan bola tersebut ditangannya Elvan.


"Apa kamu masih waras?" Tanya Elvan kesal melihat Tania.


"Hhhmmm?".


"Ck" Elvan langsung melemparkan bola tersebut ke atas ring dari kejauhan tampa melihatnya, dan seketika mereka semua melongo dengan mata membulat karna bola basketnya Gavin memasuki ring basket.


"OMG" Kaget teman-temannya Gavin.


Kemudian Elvan pergi begitu saja dari sana tampa perduli dengan Tania lagi yang telah membuat ia marah. "Elvan tunggu" Teriak Tania mengejarnya. "Elvan tunggu" Tariknya lagi menahan tangan Elvan. "Maaf jika aku salah Elvan, aku hanya ingin dia tidak mau menggangu aku dan kamu, bukan berarti aku ingin membuat kalian berdua ribut, please maafkan aku yah, aku janji tidak akan mengulang ya lagi" Mohon Tania di hadapan Elvan.


"Terserah kamu saja" Perginya lagi meninggalkan Tania.


Tania yang menyesal, "Aarrkkhh.. Kok aku bodoh sekali sih? ini semua gara-gara dia ini semua gara-gara dia, kenapa sih hidup aku tidak bisa tenang tampa ada yang harus menggangu?" Kesalnya.


.


Sepulang kuliah Tania langsung pulang kekediaman keluarga Sandoro menggunakan taksi, tampa Tania sadari Elvan selalu mengawasinya dari kejauhan. Begitu taksi tersebut berjalan, Elvan segera berjalan kearah parkiran dimana ia memarkirkan kreta bututnya.


"Oohh.. Ternyata kamu pemilik kreta butut ini? hahahaha.. Orang miskin seperti kamu banyak gaya juga yah" Ejek Gavin melihat Elvan.


"Minggir dari sana" Usirnya dengan malas.


"Ck, santai bro.. Anak beasiswa saja belagu".


Elvan menghela nafas kasar, "Kalau saya sudah menyuruh mu minggir..


"Kalau saya tidak mau minggir kamu mau apa haahhhh?" Potong Gavin menantangnya. "Mau sok jagoan disini? ok, ayo lawan saya" Seringainya melepaskan tasnya.


"Saya tidak punya banyak waktu melayani orang seperti kamu, jadi sekarang minggir".

__ADS_1


"Brengsek" Umpat Gavin melayangkan pukulannya di wajah Elvan. Namun Elvan yang tidak mau wajah tampannya disentuh oleh seorang Gavin, dengan sigap Elvan langsung menghempaskan tangannya tampa ingin membalas pukulan Gavin. "Harusnya kamu latihan dulu kalau kamu ingin melawan seseorang, minggir" Dorongnya di tubuh Gavin.


Seketika harga diri Gavin langsung turun di hadapan temannya dan juga di hadapan para mahasiswa lainnnya yang sedang melihat kearah mereka.


__ADS_2