
Setelah benda itu berada ditangan Elvan, ia menyimpannya dengan aman begitu ia mengetahui isi dalam flasdish tersebut. Kemudian Elvan mendatangi ruangan Robert dimana James, Steven dan Mark yang juga berada disana.
"Maaf, sepertinya saya mengganggu".
"Tidak, duduklah Elvan. Mereka juga ingin pergi" Ucap Robert.
"Iya" Angguk James bangkit berdiri dari atas kursinya. "Kalau gitu kami permisi dulu tuan".
"Mmmmm" Angguk Robert.
Setelah kepergian mereka, Elvan langsung mendudukan diri diatas sofa. "Tuan, maafkan saja kemarin tidak bisa menghadiri..
"Tidak apa-apa" Potong Robert tersenyum. "Vicky sudah memberitahu ku kalau kamu tidak bisa menghadiri makan malam itu".
"Jadi papa memberitahu tuan?".
"Mmmm".
Tok.. Tok..
"Masuk" Jawab Robert.
Ceklek!.
"Kopinya tuan" Berinya kepada Elvan.
"Terima kasih" Lalu ia melihat kearah Robert kembali. "Tuan, sebenarnya saya ingin memberitahu tuan kalau saya sudah menikah".
"Hahahaha" Tawa Robert membuat Elvan mengerutkan keningnya. "Sejak awal saya sudah mengetahui kalau kamu sudah menikah".
"Mmmmm" Gumam Elvan.
"Tapi, aku tidak bisa menolak jika permintaan itu permintaan putri ku".
"Maksud tuan?".
"Putri ku mencintai mu. Dia meminta kepada ku untuk menjodohkan kalian berdua meskipun dia akan menjadi istri kedua mu dan mengenai hal ini aku sudah memberitahu Vicky".
Elvan tertawa kecil, "Saya pikir bercandanya tuan Robert terlalu berlebihan dan saya tidak akan pernah menduakan istri saya. Permisi" Perginya keluar dari ruangan Robert.
Hingga kini ia berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaan. Lalu Elvan mengeluarkan ponselnya, dengan rasa penasaran ia menghubungi Vicky, namun Vicky mengabaikan panggilan Elvan. "Hhmmsss.." Dengus Elvan mengingat jam disana yang menunjukkan pukul 2 pagi.
.
Sepulang dari kantor, Elvan dan Rizal langsung kembali ke apertemen. "Elvan tunggu" Tahan Rizal saat ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang janggal.
"Ada apa Zal?" Tanya Elvan.
"Aku merasa seseorang sedang memperhatikan kita. Tapi kenapa?" Gantung Rizal begitu ia menemukan bayangan seseorang dibalik tembok "Sebentar Elvan" Larinya kearah tembok tersebut. Dan benar sekali, Rizal menemukan seorang pria yang tidak ia ketahui. "Siapa kamu?".
"Siapa Zal?" Tanya Elvan mendekatinya.
"Tidak tau" Jawab Rizal melihat kearah Elvan sehingga membuat si pria tersebut melarikan diri dari hadapannya. "Yah.." Namun Elvan malah malah menahan tangannya.
"Sudah, aku juga sering melihatnya. Ayo masuk" Ajaknya membawa Rizal dari sana.
"Ck" Kesal Rizal.
Begitu mereka masuk kedalam apertemen, Jerry yang baru selesai menyiapkan makan malam untuk mereka langsung menyuruh mereka duduk. "Jam berapa kamu pulang Jerry?" Tanya Rizal.
"Jam 5 tadi" Jawabnya. "Terus bagaimana keadaan Tania Elvan? apa dia baik-baik saja? aku merindukan dia" Sedih Jerry.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja. Tapi Tania belum bisa menerima kepergian semua keluarganya".
"Jika posisi itu berada dalam diriku, aku juga pasti akan merasakan hal yang sama dengan Tania. Dia benar-benar wanita yang sangat kuat dan baik, tolong lindungi dia Elvan".
Elvan tersenyum, "Dia lebih kuat dari yang kita bayangkan".
"Aku kasihan kepadanya. Seandainya dia berada disini, aku pasti menghiburnya".
Kemudian Elvan menghela nafas panjang melihat kedua sahabatnya itu, "Sebenarnya ada yang ingin aku beritahu kepada kalian berdua".
"Apa Elvan?" Penasaran Rizal dan Jerry melihat wajah serius Elvan.
"Rizal, kamu mengenal Jessi?".
"Jessi putri tuan Robert?".
"Mmmm".
"Terus?".
"Tuan Robert berencana menjodohkan aku dengan putrinya Jessi".
"Apa?" Kaget mereka berdua.
"Mmmm.. Bahkan tuan Robert sudah memberitahunya kepada papa".
"Jadi?".
"Aku tidak tahu".
"Jadi kamu akan menduakan Tania Elvan?" Tanya Jerry.
"Itu tidak akan pernah terjadi Jerry".
"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres Elvan" Ucap Rizal.
"Aku juga berpikir seperti itu" Angguk Jerry.
Elvan melihat kedua sahabatnya, "Lalu apa yang harus aku lakukan?".
"Aku bertanya kepada mu, benarkah kamu mencintai Tania?" Tanya Rizal.
"Mmmmm".
"Aku juga percaya kalau kamu mencintai Tania. Begini saja, untuk saat ini kamu ikuti saja dulu alurnya, nanti aku dan Jerry akan membantu jika situasi ya semakin sulit".
"Iya Elvan, jangan khawatir".
.
Sekarang Elvan telah berada di dalam kamarnya. Ia menghubungi ponselnya Tania. "Hallo Nia".
"Elvan, aku lagi sibuk. Bisakah kamu menghubungi ku nanti saja?".
"Kamu sedang dimana Nia?".
"Di butik mama Amira Elvan".
"Mmmm.. Ya sudah".
"Iya" Tania mematikan ponselnya.
__ADS_1
Dengan nafas berat Elvan membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya dan pikirannya yang masih tertuju kepada perkataan Robert. "Ck" Elvan menyambar ponselnya, ia segera menghubungi nomor Vicky.
"Hallo pa, papa lagi dimana?" Tanyanya.
"Dikantor Elvan. Ada apa?".
"Elvan mau bertanya pa. Ada hubungan apa papa dengan tuan Robert selain menjadi rekan bisnis?".
Deng..
Vicky sempat terkejut dengan perkataan Elvan, namun Vicky dengan seketika langsung menetralkan wajahnya. "Maksud kamu apa Elvan? hubungan papa dan tuan Robert hanyalah sebatas rekan bisnis" Jawabnya.
"Papa tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Elvan?".
"Elvan".
"Jadi benar pa?".
"Elvan..
"Aarrkkhhh" Geram Elvan mematikan ponselnya. "Jadi benar? sebenarnya apa yang terjadi? kenapa menjadi seperti ini? satu masalah belum selesai, malasah yang lain sudah datang".
.
Pagi harinya seperti biasa Rizal dan Jerry telah bersiap berangkat kerja. Namun mereka berdua yang belum melihat Elvan keluar membuat Jerry mengetuk pintu kamarnya.
Tok.. Tok..
"Elvan, kamu sudah bangun?".
Tok.. Tok..
"Elvan".
"Buka saja Jer, siapa tau dia belum bangun. Aku akan menyiapkan sarapan".
"Mmmmm" Angguk Jerry membuka pintu kamarnya Elvan. Dan benar sekali Elvan masih tertidur diatas ranjangnya, "OMG, Elvan" Kaget Jerry mencium aroma Elvan yang bau alkohol. "Ayo bangun Elvan ini sudah pagi".
"Eemmkkkhh.. Jam berapa Jer?".
"Jam 7 pagi. Ayo bangun".
"Hhmmsss.. Aku sangat mengantuk Jerry. Tidak bisakah kamu membiarkan ku tidur lagi".
"Kamu enggak ke kantor Elvan? Tidak seperti biasanya kamu seperti ini?".
"Tidak, aku lelah Jerry. Sebaiknya kita berhenti".
"Maksud kamu?".
"Kita akan kembali ke indonesia".
"Apa?" Kaget Jerry. "Kenapa Elvan? apa yang terjadi?".
Elvan kemudian membuka kedua matanya lalu melihat kearah Jerry yang sedang melihatnya kearahnya. "Jerry. Kalau aku menangis di hadapan mu, apa yang kamu pikirkan tentang ku?".
"Please Elvan. Jangan membuat ku capek berpikir, sekarang ceritakan apa yang terjadi? dan kenapa kamu ingin menangis dihadapan ku?".
"Aku lelah Jerry" Jawab Elvan menundukkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Elvan" Bentak Jerry sangat marah sampai membuat Rizal mendengat suara teriakan Jerry.
__ADS_1
"Ada apa? kenapa suara itu?" Gumam Rizal memasuki kamar Elvan. "Ada apa Jerry? kenapa suara mu" Gantung Rizal melihat Elvan yang sedang menangis seperti anak kecil.