SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 81


__ADS_3

Begitu Elvan di terima, mereka langsung pulang kerumah. Namun Tania yang sedang melihat tukang rujak membuat ia menghentikan langkah Elvan dan menyuruhnya membeli rujak tersebut.


Setelah Elvan mendapatnya, ia memberi kepada Tania. "Wah.. Thank you" Senang Tania melihat rujak yang ada di tangannya itu.


"Duduklah" Ucap Elvan.


"Mmmmm" Angguk Tania melahap rujaknya. "Elvan, besok kalau kamu sudah kerja jangan dekat-dekat yah dengan wanita itu, aku enggak suka cara di lihat kamu seperti ingin menerkam mu saja".


Elvan tersenyum tipis, "Mmmm" Angguknya.


"Kamu itu harus nurut sama istri, jangan melawan-lawan. Hehehehe.. Canda Elvan" Begitu Elvan melihatnya.


"Ayo di habisin".


"Kamu enggak mau? enak loh".


"Tidak".


"Makanan kesukaan kamu itu apa sih Elvan?".


"Kenapa?".


"Tidak, aku hanya bertanya saja".


"Tidak ada" Jawab Elvan menatap lurus kearah si penjual rujak.


"Mmmmm.. Elvan, boleh tidak aku bertanya?".


"Tidak".


"Iikkhh.. Aku serius tau".


"Kamu mau bertanya apa?".


"Mmmmmm.. Enggak jadi deh" Senyum Tania begitu ia melihat wajah serius Elvan. "Hhmmsss.. Melihat wajah serius kamu seperti itu membuat aku enggan bertanya, apalagi aku bertanya menyangkut Fayola, bisa-bisa aku di tinggal pergi. Tapi melihat dari wajah Elvan, apa dia masih mencintai Fayola? aku penasaran seberapa besar dulu dia mencintai wanita itu? dan apa alasan Elvan sangat mencintainya".


"Ada apa Nia?".


"Hhmmm?".


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?".


"Aahh tidak" Geleng Tania tersenyum. "Aku sudah selesai, ayo kita pulang".


"Tunggu Nia" Tahan Elvan melap sudut bibir Tania. "Kamu enggak mau singgah ke suatu tempat lagi?".


"Kemana?".


"Terserah kamu saja".


"Enggak, kita pulang saja. Lagian ini sudah jam 3 sore, aku mau tidur".


"Ya sudah ayo" Genggamnya ditangan Tania.


.


Di amerika, Jessi yang sedang berada di ruangannya membuat ia tidak sabar ingin menikahi Elvan, bahkan ia telah memberitahu teman-temanya kalau ia akan menikah dengan pria tampan asal indonesia. "Aku harus bertanya kepada papa, kapan Elvan akan menikahi ku" Gumam Jessi keluar dari ruangannya.


"Jessi" Tahan Alona yang baru masuk keruangannya.

__ADS_1


"Kamu. Ada apa?".


"Bisa kita bicara sebentar?".


"5 menit" Duduknya diatas sofa melihat Alona yang masih berdiri disana.


Alona tersenyum tipis, lalu ia mendudukan diri dihadapan Jessi. "Kamu mau kemana buru-buru seperti ini?".


"Aku mau keruangan papa. Kenapa? kalau tidak hal penting lebih baik bicarakan nanti saja".


"Ini masalah penting Jessi".


"Sekarang katakan".


Kemudian Alona menarik nafas panjang, "Jessi, kamu menyukai Elvan?".


Jessi mengerutkan keningnya, "Kenapa? kamu juga menyukainya?".


"Awal pertama kali dia datang kerumah kita aku sudah menyukai dia. Bagaimana dengan mu?".


Jessi menyeringai, "Tapi kamu sudah terlambat Alona, papa sudah menjodohkan kami berdua".


"Bagi Alona tidak ada kata terlambat Jessi".


"Maksud kamu?" Geram Jessi mengepal tangannya.


"Apa pun caranya Elvan harus menjadi milik ku. Jadi aku datang kemari ingin memberitahu mu, mari bersaing secara sehat untuk mendapatkan Elvan".


"Hahh.. Hahahha.. Bersaing secara sehat? wah.. wah.. Sepertinya kamu tidak tau apa-apa tentang Elvan. Kamu tau enggak? kalau kamu ingin menjadikan Elvan menjadi milik mu secara alami itu tidak akan pernah terjadi. Kamu mau tau alasannya? karna Elvan sudah memiliki istri".


"Apa?" Kaget Alona. "Jadi" Gantung Alona mengingat kejadian dimana ia melihat Elvan dan Tania berada di kantor. "Tidak, tidak mungkin. Elvan tidak mungkin sudah menikah, kamu pasti sedang membohongi ku".


"Aarrkkhh.." Geram Alona. Kemudian ia menghubungi nomor Elvan, "Maaf nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan".


BBBRRAAKK..


Alona yang marah ia menghempaskan ponsel mahalnya. "Elvan, apapun yang terjadi kamu harus menjadi milik ku. Milik ku, milik seorang Alona" Setelah itu Alona keluar dari ruangan Jessi menuju ruangan Robert.


Tok.. Tok..


"Masuk" Jawab Robert.


Ceklek!


"Alona, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Jessi melihat Alona yang kini sudah duduk dihadapannya.


"Pa" Panggilnya melihat Robert.


"Mmmm.. Ada apa?" Angguk Robert bertanya.


"Tolong kirimkan Alona ke indonesia pa".


"Indonesia?".


"Iya".


"Yah.. Ngapain kamu ingin ke indonesia?" Tanya Jessi. "Jangan bilang kamu..


"Sebentar Jessi" Tahan Alona. "Biarkan aku bicara dulu sama papa. Begini pa" Gantung Alona memikirkan alasan supaya Robert memberinya izin ke Indonesia.

__ADS_1


"Ahahahaha.. Bingung kan kamu mau bilang apa" Tawa Jessi menertawai Alona yang terlihat kesal kepadanya. "Pa, Alona juga menyukai Elvan dan dia menawarkan Jessi untuk mendapatkan Elvan secara sehat hahahhaha.. Kamu enggak usah mimpi Alona, kamu itu hanya anak angkat papa dan mama".


"Jessi diam" Bentak Robert. "Papa tidak pernah membedakan kalian berdua".


"Pah" Ujar Jessi.


"Diam".


"Ck" Kesal Jessi mendengus.


"Kalian berdua sudah tau kalau Elvan tidak disini lagi?".


"Mmmmm" Angguk mereka.


"Kalian berdua tau dari mana?".


Alona dan Jessi saling pandang-pandangan. "Alona tau dari karyawan pa, mereka mengatakan kalau Elvan sudah kembali ke indonesia".


"Jessi juga tau dari mereka pa".


"Mmmmm.. Papa tidak akan melarang kalian berdua. Kalau kalian ingin bersaing secara sehat untuk mendapatkan dia, terserah kalian saja. Papa tidak ingin ikut campur".


"Pa" Rengek Jessi.


"Papa tidak bisa memihak satu orang saja jika kalian berdua sama-sama menyukai 1 orang pria. Tapi mendapatkan Elvan tidaklah mudah karna dia sudah menikah. Jadi pilihannya ada pada kalian kalau salah satu putri papa mau menjadi istri kedua Elvan".


"Jadi cuma aku saja yang tidak tau kalau Elvan sudah menikah? tapi masa iya Elvan sudah menikah, sedangkan dia masih terlihat sangat muda. Hhmmsss" Batin Alona.


"Pergilah jika kalian ingin pergi. Papa tidak akan melarang".


Dengan geram Jessi melihat Alona yang sudah membatalkan rencananya. Lalu ia keluar dari ruangan Robert tampa permisi kepadanya. "Awas saja kamu Alona" Gumam Jessi memasuki ruangannya.


Sedangkan Alona yang masih berada di ruangan Robert, "Pa, terima kasih sudah memberi Alona kesempatan untuk mengejar cinta Alona" Ucapnya tersenyum senang.


"Mmmm" Angguk Robert tersenyum.


"Kalau gitu Alona keluar dulu pa" Perginya dari sana.


Begitu Alona keluar dari sana, Robert langsung tersenyum menyeringai. Kemudian Robert menghubungi Vicky. "Iya Robert" Jawab Vicky yang kini sedang berada di ruang kerjanya.


"Kedua putri ku ingin datang ke indonesia. Sambutlah mereka di rumah mu".


"Kapan mereka datang? aku akan menyambut mereka di rumah ku".


"Besok mereka akan kesana. Apa Elvan juga berada disana?".


"Aahh iya, Elvan berada disini Robert".


"Hahahha.. Jangan membohongi ku Vicky, aku tau Elvan tidak berada disana".


Deng..


"Bagaimana bisa kamu tau?".


"Seseorang memberitahu ku kalau Elvan melarikan diri bersama dengan istrinya. Cepat temukan mereka, kalau tidak aku sendiri yang akan turun tangan".


"Baiklah".


"Mmmmmm".

__ADS_1


__ADS_2