SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 16


__ADS_3

Setelah mata kuliah mereka selesai, "Kami duluan pulang ya Nia" Ujar Filia dan Elma.


"Iya" Angguk Tania membereskan bukunya.


"Dah Nia" Lambai mereka.


"Dah, hati-hati dijalan yah" Balas Tania.


"Iya Nia, kamu juga".


"Mmmmm" Senyumnya. Setelah itu Tania menyambar ponselnya. "Astaga, panggilan tak terjawab dari mama Amira banyak sekali" Gumam Tania langsung menghubungi Amira.


DDDRRRTTT... DDDRRRTTT..


"Hallo ma" Ucap Tania dari sebrang teleponnya.


"Nia, kamu lagi dimana sayang? ini sudah jam 8 malam tapi kamu belum pulang kerumah" Tanya Amira penuh ke khawatiran.


"Maafkan Nia ya ma, tadi Nia enggak dengar kalau mama sedang menelpon Nia".


"Tidak apa-apa sayang, sekarang kamu dimana?".


"Nia masih dikampus ma, tadi Nia ada les tambahan".


"Ya sudah mama langsung kesana ya sayang jemput kamu sekarang juga".


"Iya ma, nanti Nia tunggu di depan gerbang" Angguk Tania.


"Iya sayang" Setelah itu Amira mematikan ponselnya. Tania pun segera keluar dari dalam kelasnya. Namun saat Tania keluar dari dalam kelasnya, ia tiba-tiba saja melihat beberapa pria sedang menunggunya di ujung lorong yang sudah gelap. "Siapa mereka?" Batin Tania menghentikan langkahnya. "Kenapa perasaan ku tidak enak ya?" Gumam Tania melangkah dengan pelan meskipun dalam hatinya merasakan kekhawatiran yang sangat dalam.


"Hahahah" Tawa mereka menghampiri Tania, "Hallo Nia, kok kamu masih disini sampai jam segini?" Tanya pria tersebut yang sangat familiar sekali di pendengaran Tania.


"Ka-kamu siapa?" Tanya Tania gelagapan.


"Aku? hahahaha apa kamu tidak mengenali suara ku Ta-ni-a" Jawabnya menyentuh pundaknya.


"Siapa pun kamu, tolong biarkan saya pergi".


"Tidak semudah itu Nia, kenapa kita tidak bersenang-senang dulu disini, iya enggak gays?" Tanya ya kepada kedua teman yang ada disana.


"Hahahha.. Iya Nia, sebaiknya kamu bersenang-senang dulu dengan kita bertiga" Jawab salah satu temannya.


"Kamu dengar sendiri kan apa yang baru saja mereka katakan?".


Tania pun yang sudah bergetar, "To-tolong le-paskan saya, aku mohon" Ucap Tania meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Aaiiss.. Pakai nangis segala lagi, kemana Tania yang kita kenal selama ini? hhmmmm? ayolah.. Nia jangan menangis" Tawanya meraba tubuh Tania.


"Lepaskan saya" Teriak Tania menghempaskan tangannya. "Jangan pernah mencoba menyentuh tubuh saya".


"Hahahha.. Tubuh murahan seperti ini saja sok jual mahal" Ejek ya langsung menarik tubuh Tania kedalam kelas yang ada di dekat mereka.


"Aarrkkhhh.. Lepaskan-lepaskan saya" Teriak Tania kembali sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Diam" Bentak ya menarik rambut Tania.


"Hiks.. Hiks.. Lepaskan saya, aku mohon" Tangis Tania memohon.


"Saya tidak perduli, kamu telah berhasil menaikkan ***** ku" Senyumnya mengangkat tubuh Tania kedalam meja dosen yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Mama papa tolong Tania pa hiks.. hiks.. Tania butuh kalian hiks.. hikss" Semakin tangis Tania yang tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. "Tolong Tania, siapa pun kalian tolong Tania".


"Hahahha.. Tidak akan ada yang datang menolong mu Nia" Ia pun dengan leluasa meraba tubuh Tania hingga kedua tangannya telah berada di dalam pakaiannya.


"Lepasin" Teriaknya lagi dengan berusaha keras melepaskan diri dari pria tersebut. Namun kedua tangannya telah berada di kedua gundukan payudara Tania. "Aarrrkkhhh" Semakin teriak Tania.


"Aaiiss.. Kamu bising sekali" Semakin kuatnya meremas kedua gundukan Tania yang sangat ia sukai. "Milik mu indah sekali Nia, aku sangat menyukainya" Senang ya melihat milik Tania. "Aku ingin menghisapnya, bolehkah aku menghisapnya Nia?" Tanyanya dengan mata kehausan.


"Aarrkkhhh Tidak" Teriak Tania menggeleng.


"Ck.. Kamu pelit sekali Nia, terpaksa aku akan melakukan ya secara terpak..


"Aiiass" Umpatnya melihat kearah pintu, "E-elvan" Kagetnya dengan mata membulat.


BBBUUNNGGHHH.. BBBUUNNGGHHH..


BBBUUNNGGHHH.. BBBUUNNGGGHHH..


"Aaarrrkkhhh Hentikan" Teriaknya ingin memukul Elvan, namun yang ia lakukan tidak berhasil.


BBUUNNGGHHH.. BBBUUNNGGGHHH..


Dua pukulan lagi mendarat diwajahnya. "Aaarrrkkkhhh" Teriaknya semakin kesakitan, "Hentikan, stop".


"Siapa kamu?" Tanya Elvan yang berada diatas tubuh ya.


"Aku? hahahah aku adalah kekasih wanita murahan itu" Jawabnya tertawa.


BBBUUNNGGHHH..


"Aaiiss" Ringisnya yang sudah babak belur.

__ADS_1


"Aku bertanya sekali lagi, siapa kamu?" Tanya Elvan penuh dengan emosi. Dan tampa Elvan sadari kedua teman si pria tersebut telah datang dari belakang ya dan melayangkan sebuah kayu besar di punggung Elvan.


BBBUUNNGGGHHHH..


"Aahhh" Tumbang ya terjatuh.


"Ayok" Tariknya membawa sang sahabat lari dari hadapan Elvan.


"Sial" Umpat ya semakin marah. Sedangkan Tania masih terbaring lemas diatas meja dosen tersebut tampa memperbaiki pakaiannya yang berantakan dan yang terpampang sangat jelas di mata ya Elvan. Kemudian Elvan mencium bibir mungil ya Tania, "Maaf aku datang terlambat" Ucapnya membawa Tania dari sana.


Didalam taksi Tania hanya bisa terdiam membisu, sampai mereka telah tiba di rumah keluarga Sandoro. "Terima kasih pak" Ucapnya membayar uang taksinya.


"Sama-sama" Angguk ya menerima uang taksi ya. Lalu Elvan menggendong Tania kembali membawanya masuk kedalam mension.


"Elvan, Nia kenapa nak?" Tanya Amira melihat Tania yang berada di atas gendongannya.


"Nia kecapean ma" Jawab Elvan membawa Tania masuk kedalam kamarnya. Dan meletakkan ya diatas bat-hup yang ada didalam kamar mandi, "Aku akan membuka pakaian mu" Ucapnya membuka semua pakaian Tania.


Sedangkan Tania sedari tadi masih saja meneteskan air matanya dan sekali-kali ia mengeluarkan suara ya.


"Sekali lagi maafkan aku" Setelah itu Elvan menggosok punggung belakang ya Tania dengan lembut hingga ia selesai memandikan Tania.


Di depan cermin kaca yang ada di dalam kamarnya, Elvan sedang mengerikan rambut panjang ya Tania. "Apa kamu tidak lapar?" Tanyanya. Dan lagi-lagi Tania hanya bisa terdiam tampa menjawab pertanyaan Elvan. "Ya sudah kalau kamu tidak lapar" Elvan membawanya keatas tempat tidur seperti anak kecil yang ingin di manja oleh ayahnya.


"Sekarang tidurlah, aku akan menjaga mu disini" Peluknya menarik Tubuh Tania kedalam dekapannya. Tidak menunggu beberapa lama menit kemudian Tania pun langsung tertidur didalam pelukannya, begitu juga dengan Elvan yang ikut menyusulnya ke alam bawah sadar.


Tok.. Tok..


"Elvan ini mama sayang, mama boleh masuk enggak?" Tanya Amira dari luar pintu kamar mereka.


Tok.. Tok..


"Kalau gitu mama langsung masuk saja ya" Sentuhnya memutar kenop pintu kamar Elvan.


Ceklek!!


Melihat pemandangan tersebut, Amira dengan senang hati menunjukkan senyum mengembangnya. "Ternyata mereka sudah tidur" Tutupnya kembali meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Elvan dan Tania enggak turun ma?" Tanya Vicky yang sedang berada di ruang keluarga.


"Mereka sudah tidur pa, mungkin tadi Elvan dan Tania sudah makan dari luar pa".


"Mmmmmm" Angguk Vicky.


"Papa sedang membaca apa?" Tanya Amira mendudukan diri disamping sang suami.

__ADS_1


"Papa sedang membuka email masuk dari client ma".


"Oohh" Angguk Amira mengganti chanel tv ya.


__ADS_2