SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 90


__ADS_3

5 Tahun kemudian...


Pagi harinya rintik-rintik hujan turun dari atas langit membuat Tania dan putra kesayangan masih tertidur diatas tempat tidur.


Tok.. Tok..


"Tania.." Teriak Jasmin dari luar pintu kamarnya.


"Eemmkkkhhhh.. Ma" Rengek Ansel Joy Firan.


Saat Elvan memutuskan meninggalkan Tania dan hidup bersama dengan istri barunya, Tania berusaha untuk bangkit demi buah cintanya dengan Elvan. Meskipun sampai saat itu Tania masih saja mencintai Elvan dan menunggu Elvan datang kepadanya kembali. Namun ia juga tidak bisa berharap jauh, ia hanya bisa mendoakan kebahagian Elvan.


Sejak kelahiran putranya, Tania memberinya nama Ansel Joy Firan yang artinya (Bangsawan) dan hidup bahagia bersama dengan putra tercintanya tampa ingin menikah lagi.


Sebenarnya kedua sahabat Tania telah menyuruhnya untuk menikah kembali, begitu juga dengan Jasmin. Tetapi Tania menolaknya dan ia selalu menjawab, "Aku sudah bersumpah dihadapan Tuhan akan menikah cuman 1 kali saja seumur hidup ku. Maaf, jika aku membuat kalian kecewa dan terima kasih telah mengkhawatirkan aku dan juga putra ku".


Tidak sampai disitu saja, Elma dan Filia selalu mencari cara agar Tania menikah lagi, hingga tiba saatnya mereka memikirkan Jerry yang selalu ada untuknya. Kemudian mereka mendatangi Jerry dan bertanya maukah ia menikahi Tania demi Ansel. Lalu Jerry menjawabnya, "Sudah berapa kali aku mengucapkan kata-kata itu, namun jawaban Tania selalu sama".


"Maksud kamu?".


"Dia tidak ingin menikah lagi, dia lebih memilih membesarkan Ansel seorang diri".


"Lalu apa yang harus kita lakukan Jerry?".


"Tania tidak akan bisa melupakan Elvan meskipun Elvan telah bersama dengan wanita lain. Dan sampai sekarang kita belum tau kabarnya, dia baik-baik saja atau tidak. Aku merindukannya" Gumam Jerry dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak bisa, Tania harus melupakan Elvan dan menikah lagi dengan pria yang tepat" Ujar Filia tidak terima oleh hanya karna Elvan, Tania memutuskan tidak menikah lagi. "Kalian tau apa yang sudah Elvan lakukan terhadap Tania, jadi aku tidak akan bisa biarkan itu terjadi. Aku harus membuat Tania membenci Elvan, iya aku harus membuat Tania membenci Elvan.


Namun usaha yang Filia buat hanya membuat Tania semakin mencintainya, karna ia tau Elvan melakukan ini semua dengan keadaan terpaksa.


Tetapi setalah 5 tahun berlalu, Tania semakin kecewa terhadapnya begitu ia tak kunjung-kunjung mendapatkan kabar Elvan.


.


Mendengar ketukan itu membuat Tania membuka kedua matanya. "Kenapa sayang?".


"Bibi Jasmin mengetuk pintu terus ma" Jawab Ansel.


"Iya kak, Tania dan Ansel sundah bangun" Jawabnya segera turun dari atas tempat tidur, "Ayo bangun sayang, nanti kamu telat sekolah".


"Iya ma" Angguk Ansel mengucek kedua matanya.


Kemudian, Tania menyiapkan pakaian sekolah Ansel.


DDDRRRTTT... DDDRRRTTTT..


"Hallo" Jawab Tania mengangkat ponselnya.


"Selamat pagi buk, hari ini kita ada meeting jam 9 pagi" Ucap sekretarisnya.


"Iya" Angguk Tania. Lalu ia menghampiri Ansel yang sudah selesai, "Wah.. Anak mama semakin hari semakin pintar saja" Senyum Tania melap tubuh Ansel.


"Iya dong ma, ini sudah waktunya Ansel belajar mandiri".

__ADS_1


"Anak pintar" Gemas Tania memakaikan pakaian Ansel. "Selesai, Ansel bisa sisir rambut sendiri kan? mama mandi dulu".


"Iya ma".


Begitu Tania memasuki kamar mandi, Ansel langsung menyisir rambutnya. Namun saat Ansel sedang menyisir rambutnya, ia teringat akan teman-temannya yang selalu bertanya dimana ayah kandungnya yang sebenarnya. "Hhmmsss" Dengus Ansel.


Tidak memakan waktu yang lama bagi Tania membersihkan tubuhnya, kini ia telah keluar dari dalam kamar mandi dengan setelan kantornya, "Wajah kamu kenapa murung seperti itu sayang?".


"Ansel kesal ma".


"Kesal kenapa sayang?".


"Teman-teman Ansel selalu bertanya siapa ayah kandung Ansel yang sebenarnya".


"Kenapa Ansel tidak menjawab papa Jerry?".


"Mereka tidak percaya ma karna papa Jerry tidak mirip dengan Ansel di tambah lagi om Varrel yang juga selalu datang ke sekolah, dan itu membuat mereka selalu menertawakan Ansel, kan Ansel jadi sedih ma".


Tania tersenyum mencium kening putra mungilnya itu, "Kenapa harus sedih sih sayang? harusnya Ansel senang dong ada papa Jerry, om Rizal dan om Varrel yang sayang sama Ansel".


"Benarkah Ansel tidak harus sedih ma?".


"Mmmm.. Ansel harus percaya diri, karna Ansel memiliki segalanya".


"Tapi ma".


"Kenapa sayang?".


Bukan ya menjawab, Tania malah mengajaknya keluar dari sana. "Ayo, jam 9 mama ada meeting sayang" Ajaknya meskipun dalam hati Tania yang paling dalam ia ingin sekali memberitahu Ansel tentang siapa ayah kandungnya yang sebenarnya. "Pagi kak Jasmin".


"Pagi Nia. Wah, tuan muda Ansel sudah tampan saja" Puji Jasmin mendudukan Ansel diatas kursinya.


"Terima kasih bibi" Balas Ansel tersenyum lebar.


"Tuan muda mau sarapan apa? bibi Jasmin sudah menyiapkan sarapan paling enak".


"Seperti biasa saja bibi".


"Baiklah" Angguknya segera menyiapkan sarapan Ansel.


Setelah Tania dan Ansel selesai menikmati sarapan mereka. Tania segera mengantar Ansel ke sekolahnya, hingga kini mobil Tania telah tiba di sekolah TK Ansel. "Anak mama harus rajin belajar yah".


"Iya ma. Pulang sekolah nanti, Ansel bisa enggak datang ke kantor mama?".


"Boleh, nanti pak supir yang jemput Ansel ke sekolah".


"Iya ma".


Kemudian Tania mencium kening Ansel, "Mama berangkat ya sayang".


"Dah.. Ma".


"Dah sayang" Masuknya kedalam mobil. "Pak, nanti jemput Ansel yah".

__ADS_1


"Iya nona".


.


Didalam ruangannya sebelum meeting berlangsung Tania menyempatkan diri memeriksa berkas-berkas yang menumpuk dihadapannya.


Tok.. Tok..


"Masuk" Jawab Tania.


Ceklek!


"Pagi Tania" Senyum Varrel dari ambang pintu ruangannya.


"Eekkhh.. Varrel" Balas Tania tersenyum, "Ada apa Varrel? tumben pagi-pagi seperti ini kamu datang kemari?".


"Bisa kita minum kopi sebentar sebelum meeting di mulai?".


Tania melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "10 menit, sebentar" Ucap Tania menyuruh sekretarisnya menyiapkan satu gelas kopi untuk Varrel. Lalu ia mendudukan diri dihadapan Varrel.


"Kamu sudah banyak berubah Tania setelah Elvan pergi meninggalkan mu".


Tania tersenyum kembali, "Kamu ada-ada saja. Ini semua berkat kamu Varrel, kalau bukan karna bantuan kamu yang selalu mengajari ku melupakannya, perusahaan ini tidak akan mungkin bisa aku tangani. Jadi aku tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih".


Ceklek!


"Kopinya tuan".


"Terima kasih".


"Sama-sama tuan" Perginya.


Lalu Varrel menyambar secangkir kopinya, "Tania" Panggilnya.


"Mmmmm?".


"Malam ini kamu sibuk?".


"Mmmmm.. Tidak juga sih. Kenapa?".


"Aku ingin mengajak mu menonton konser ini".


"OMG, Varrel" Lihatnya dengan mata berbinar-binar. "Ini serius? aku enggak lagi sedang bermimpi kan?".


"Tidak, aku membelinya karna aku tau kamu pasti suka".


"Aahh.. Varrel, kamu sweet banget sih".


"Kamu menyukainya?".


"Mmmm.. Tentu saja aku menyukainya. Terima kasih banyak yah".


"Iya".

__ADS_1


__ADS_2