
Elvan yang sedang menahan tubuh Alona membuat kedua pipinya merona. Kemudian Elvan menggodanya dengan mengelus kedua pipinya. "Alona".
"Ya Elvan".
"Bisakah aku bertanya kepada mu?".
"Kamu ingin menanya apa Elvan?".
"Bisakah kamu memberi tahu ku sesuatu yang sangat rahasia yang tidak aku ketahui di perusahaan TQ group".
Alona langsung tersenyum, "Jika aku memberitahu mu, lalu apa yang akan aku dapatkan dari mu?".
"Kamu menginginkan apa dari ku?".
"Cintai mu, bisakah kamu memberikan cinta mu untuk ku seorang?".
"Baiklah, sekarang katakan apa rahasia yang tidak aku ketahui itu".
"Sebenarnya TQ.. Sebenarnya TQ..
"Sebenarnya apa Alona?" Semakin penasaran Elvan.
"Tapi kamu jangan memberitahu siapa-siapa kalau aku memberi tahu mu sesuatu yang sangat rahasia".
"Mmmmm.. Aku akan menjaga rahasia ini".
"Sebenarnya TQ group telah korupsi dalam pembangunan hotel dan juga mall itu".
"Sejak kapan?".
"Sejak proyek itu di mulai".
"Lalu, apa kamu mengetahui siapa dalang dari ini semua?".
"Aku kurang tau pastinya, tapi aku tau salah satu di antara mereka".
"Siapa?".
"Tuan James direktur utama".
"Apa cuman dia saja yang kamu ketahui?".
"Mmmm.. Dan sebenarnya aku ini bukanlah putri kandung tuan Robert, aku ini hanyalah putri yang di angkat. Putri kandung mereka yang sebenarnya hanyalah nona Jessi".
"Lalu, bagaimana bisa tuan Robert memposisikan kamu sebagai direktur keuangan di sana?".
"Karna aku pintar. Kamu tau itu, mereka hanya menganggap ku sebagai boneka saja".
"Mmmmm" Gumam Elvan. Tidak lama kemudian Alona telah terlelap dalam tidurnya. Elvan pun segera pergi dari sana tampa berniat ingin menemani Alona.
Setibanya Elvan di hotel tempat ia menginap, ia langsung menghubungi Tania yang masih berada di rumah sakit. "Pagi Nia" Ucapnya.
"Pagi Elvan, kamu baru pulang kerja?" Tanyanya melihat pakaian Elvan.
"Tidak, tadi aku habis dari luar".
"Mmmmm".
__ADS_1
"Kamu sedang bersama dengan siapa?".
"Mama Amira" Tania pun menunjukkan Amira yang sedang menyiapkan sarapan paginya.
"Bisakah kamu memberi ponsel mu sebentar kepada mama".
"Iya, sebentar" Tania memanggil sang mama mertua dan memberi ponselnya. "Elvan ma".
Dengan senyum manis yang terbit diwajah Amira, ia langsung melihat wajah putra bungsu ya itu. "Elvan.. Mama merindukan kamu sayang. Kamu baik-baik saja?".
"Iya ma, Elvan baik-baik saja. Bagaimana dengan kabar mama?".
"Baik sayang, jangan lupa jaga kesehatan. Ingat Tania dan juga bayi mu, yang sedang menanti kepulangan kamu".
"Iya ma" Angguk Elvan. "Terima kasih telah menjaga Tania selama Elvan tidak berada di sana".
"Iya sayang" Kemudian Amira memberi ponsel Tania kembali. "Bicaralah, mama keluar sebentar sayang".
"Iya ma" Begitu Amira keluar dari dalam sana, "Elvan" Panggil Tania.
"Iya, kamu sudah sarapan?".
"Belum, mama lagi keluar sebentar. Aku merindukan mu" Senyumnya.
"Aku juga".
"Benarkah?".
"Mmmmm".
"Yola?".
"Pura-pura bingung. Ayo ngaku, kamu pasti sudah bertemu dengan ya".
"Aku tidak pernah bertemu dengannya dan Yola juga tidak pernah menghubungi ku. Aku jadi merindukannya".
"Yah.." Bentak Tania yang mendengar perkataan Elvan.
"Kamu mendengarnya?".
"Tentu saja aku mendengarnya, kamu pikir aku sudah tuli" Jawabnya semakin kesal.
"Hahahaha.. Maaf Nia, tadi aku hanya bercanda saja".
"Bercanda dari mananya? Jelas-jelas aku melihat dari wajah mu kalau kamu benar-benar merindukannya" Kali ini kedua mata Tania telah berkaca-kaca.
"Nia, tadi itu aku hanya bercanda. Aku tidak mengatakan yang sebenarnya Nia".
"Bohong, kamu bohong" Tania langsung mematikan ponselnya. "Hiks.. Berani-beraninya kamu berkata seperti itu dihadapan ku Elvan hiks.. hiks..".
Ceklek!
"Mama" Tania segera melap air matanya.
"Sayang, mama kelamaan yah.. Kamu kenapa sayang?" Tanyanya melihat kedua mata Tania yang bermerah.
"Tidak apa-apa ma" Senyumnya menggeleng.
__ADS_1
"Kamu baru habis nangis? Elvan ngapain kamu sayang?".
"Elvan tidak ngapa-ngapain Nia ma. Nia hanya merindukan Elvan saja" Dengan perasaan bersalah Amira memeluknya dengan sayang.
"Kamu yang sabar ya sayang" Usapnya di punggung Tania.
"Iya ma".
.
Begitu Tania mematikan ponselnya, Elvan pun membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. "Aahh.. Aku penasaran" Elvan kemudian menatap layar ponselnya. "Apa operasinya berjalan dengan lancar?" Lama berpikir tiba-tiba saja ponsel Elvan bergetar. "Jerry" Gumam Elvan menggeser tombol hijau.
"Elvan" Ucapnya dengan suara lirih.
"Ada apa Jerry, kenapa suara m..
"Yola Elvan.. Yola hiks.. hiks..
"Ada apa Jerry, jangan membuat ku khawatir?" Potong Elvan terlihat gelisah.
"Yola telah meninggal dunia Elvan".
"Apa?" Dengan mata membulat Elvan menjatuhkan ponselnya. "Tidak, tidak mungkin" Lalu Ia menempelkan ponsel itu kembali di telinganya. "Jerry, kamu pasti sedang bercanda kan? tidak mungkin Yola meninggal. Kamu pasti membohongi ku".
"Untuk apa aku membohongi mu Elvan? Fayola sudah menghembuskan nafas terakhirnya di ruangan ICU tepat jam 7 malam tadi".
Kini kedua mata Elvan telah bermerah, meskipun rasa cintanya kepada Fayola telah berkurang. Namun sedikit rasa itu masih tertinggal disana. "Jerry, tubuh Fayola sudah di kirim ke indonesia?".
"Belum Elvan, yang aku dengar dari Rizal besok pagi tubuh Fayola baru akan dikirim".
"Tolong berikan kepada ku alamat Fayola di rawat, untuk terakhir kalinya aku ingin bertemu dengan ya".
"Baiklah, aku akan mengirimnya kepada mu".
Ting..
Begitu Jerry mengirim alamat rumah sakit Fayola. Elvan langsung bergegas mendatangi rumah sakit tersebut yang menempuh jarah hampir 2 jam lamanya. Setibanya ia disana, ia segera berlari memasuki rumah sakit menuju ruangan ICU. "Suster, atas nama Fayola" Ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.
"Atas nama Fayola Putri?".
"Mmmm" Angguk Elvan.
"Sebelumnya saya minta maaf, beliau telah menghembuskan nafas terakhirnya tepat jam 7 malam tadi. Jika anda ingin berkunjung, mari ikut saya" Ajaknya membawa Elvan ketempat Fayola berada saat ini.
Dengan air mata berderai dari pelupuk matanya, Elvan mengikuti langkah si perawat tersebut hingga kini ia telah tiba disana. "Yola.. Yola.. Fayola" Panggilnya mendekati peti mati Fayola. "Benarkah kamu ini? benarkah kamu telah meninggalkan dunia ini Yola?" Tangis Elvan menyentuh wajah pucat Fayola.
"Aarrkkhhh.. Kenapa Yola? kenapa kamu harus pergi seperti ini? kenapa Yola? jawab aku Yola" Teriak Elvan sangat marah. Sedangkan pelayan Fayola yang setia menemani majikannya itu ikut menangis melihat Elvan yang sangat terpukul.
"Yola.. Aarrhhh, aku tidak sanggup melihat mu seperti ini, aku benar-benar tidak sanggup melihat mu seperti ini".
Lalu pelayan Fayola menghampiri Elvan yang masih menangis disamping peti mati Fayola. "Tuan" Panggilnya. "Ini tuan, sebelum nona Yola meninggal dunia. Beliau memberikan ini kepada saya".
Dengan tangan bergetar Elvan menerimanya dari tangan si pelayan. "Tapi tuan, sesuai dengan permintaan nona Fayola sebelum beliau meninggal. Dia memberitahu saya jika tuan tidak boleh membacanya disini".
"Kenapa?".
"Saya juga tidak tau tuan".
__ADS_1