
Berada di ruang meeting, Tania tak henti-hentinya tersenyum senang melihat tiket konser yang Varrel berikan kepadanya. "OMG, setelah sekian lama aku menunggu mereka datang ke indonesia, akhirnya yang ku tunggu-tunggu datang juga" Gumam Tania tampa memperhatikan mata yang sedang tertuju kepadanya.
"Nona" Ujar sekretaris Tania menghentikannya.
"Hhhmmm?" Lalu si sekretaris menunjuk kearah para client, "Astaga. Maaf" Senyum Tania menunduk.
Setelah meeting selesai, mereka semua langsung keluar dari ruangan tersebut. "Nona Tania" Panggil salah satu client-nya.
"Tuan Agam" Angguk Tania menghentikan langkahnya. "Ada apa Tuan?".
"Bisa kita bicara sebentar?".
"Bisa, mari ikut saya" Ajak Tania membawanya keruangannya. "Silahkan duduk tuan".
"Terima kasih" Duduknya diatas sofa ruangan Tania. "Begini, saya ingin mengusulkan untuk penaikan saham nona mengingat penjualan kita yang semakin meningkat".
"Penaikan saham?".
"Mmmmm".
Tania tampak berpikir dan membenarkan perkataan Agam mengingat penjualan mereka yang semakin meningkat, "Nanti saya akan membicarakannya dengan tuan Rizal".
"Baiklah nona, saya permisi dulu".
"Iya".
Begitu Agam keluar dari ruangannya, ia langsung menghubungi Rizal, "Iya Nia" Jawabnya.
"Kamu dimana? apa kamu sedang sibuk?".
"Lumayan, kenapa?".
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu, tapi tidak melalui ini".
"Baiklah, aku akan kesana".
"Mmmm.. Aku menunggu mu" Angguk Tania mematikan ponselnya.
Setelah hampir 45 menit lamanya Tania menunggu, ia langsung mendengar suara ketukan pintu ruangannya. "Masuk".
Ceklek!.
"Duduklah" Ucapnya menyuruh Rizal duduk. "Kamu mau minum kopi?".
"Tidak usah, aku hanya singgah sebentar saja. Sekarang katakan apa yang ingin kamu bicarakan?".
"Itu, tuan Agam memintaku untuk menaikan harga saham perusahaan melihat penjualan yang semakin hari semakin meningkat".
"Lalu kamu menjawab seperti apa?".
"Aku belum memberinya jawaban sebelum aku mengkomfirmasikan-nya dulu dengan mu".
"Tidak masalah, jika kamu menaikan harga saham".
"Apa aku harus menyetujui perkataannya?".
"Mmmm.. Saya rasa itu ide yang bagus".
"Mmmmmm" Angguk Tania. "Kalau gitu kamu bisa kembali" Kemudian Rizal menatap wajah Tania dengan lekat-lekat, "Kenapa kamu melihat ku seperti itu? apa ada sesuatu di wajah ku?".
"Tidak" Senyum Rizal dengan tipis.
__ADS_1
"Yah.. Kamu menertawai ku yang terlihat bodoh?".
"Tidak, kamu hanya mengingatkan ku pada seseorang saja".
Tania mengerutkan keningnya, "Seseorang? siapa?".
Rizal kembali tersenyum, "Lupakan saja, aku pergi dulu".
"Iya, terima kasih".
"Mmmmmm".
.
Jam 12 siang, yang ditunggu-tunggu Tania telah tiba di hadapannya. "Ma, tebak Ansel datang bersama dengan siapa?".
"Siapa?".
"Ayo tebak dulu ma".
Tania tersenyum pura-pura tidak tau, "Mmmmm.. Siapa yah?".
"Hayo tebak ma".
"Supir mama".
"Hahahha.. Mama salah, Ansel datang kemari bersama dengan papa Jerry hahaha..".
"Masa iya sih? terus papa Jerry ya mana? kok enggak masuk sama Ansel?".
"Papa Jerry tadi mendapatkan telpon ma, jadi Ansel masuk sendiri saja".
Ceklek!.
"Tadi ada sedikit hal penting yang papa bicarakan Ansel" Jawab Jerry mencium kepala Tania. "Ayo, kita cari makan diluar" Ajaknya.
"Ayo" Senang Tania menggenggam tangan Ansel begitu juga dengan Jerry. Setelah mereka keluar dari ruangan Tania, sudah menjadi seperti biasa bagi karyawan di perusahaan AE group melihat kedekatan Jerry dan Tania.
"Pa, kita makan siang dimana?".
"Ansel maunya dimana?".
"Mmmm.. Disini saja pa, Ansel mau coba makanan di kantin sini".
"Ansel yakin?".
"Iya pa".
"Ya sudah, kita makan disini saja Jerry" Ujar Tania memasuki kantin perusahaannya. "Mbak, tolong ya tiga" Ucap Tania kepada si pelayan tersebut.
"Iya buk" Angguknya segera menyiapkan makan siang Tania, Jerry dan Ansel.
"Kita duduk disana" Ajaknya mengambil kursi paling pojok dekat jendela. "Ansel duduk di samping mama".
"Ansel di samping papa saja ma" Duduknya disamping Jerry. "Laki-laki harus bersama dengan laki-laki, iya kan pa?".
"Iya" Jawab Jerry tertawa kecil.
"Kamu ada-ada saja Ansel" Tawa Tania juga dengan games melihat putra kesayangannya itu.
"Oohhh iya ma, tadi pagi begitu mama pergi wanita paruh baya datang menghampiri Ansel. Terus dia menangis lalu memeluk Ansel ma dengan erat. Ansel sangat ketakutan ma, tapi..
__ADS_1
"Lain kali kalau Ansel melihatnya lagi, Ansel harus lari darinya. Mama enggak mau terjadi apa-apa dengan Ansel" Potong Tania saat ia tau siapa orangnya.
"Kenapa ma? sepertinya wanita paruh baya itu baik".
"Pokoknya Ansel harus lari, kamu mengerti?".
"I-iya ma".
Kemudian Jerry melihat Tania yang sedang menahan marah, ia tau kalau Tania belum bisa memaafkan keluarga Sandoro meskipun Amira pernah menemuinya dan meminta maaf dihadapannya. "Tania".
"Mmmmmm" Gumam Tania memalingkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca, lalu ia langsung melapnya supaya Ansel tidak merasa curiga. "Pesanan kita sudah datang, terima kasih banyak ya mbak".
"Sama-sama buk".
"Ayo dimakan sayang. Ansel harus kuat makan biar cepat tumbuh besar".
"Iya ma" Anggun Ansel segera melahap makanannya, "Mmmm enak ma".
Tania dan Jerry tersenyum melihat Ansel yang sangat lahap, "Anak pintar, papa bangga sama Ansel".
"Hehehehehe".
"Ansel harus habisin itu yah".
"Iya pa".
"Ayo dimakan Nia, kamu tidak akan kenyang hanya melihat makanan mu seperti saja" Ujar Jerry melihat Tania yang hanya memandang makanannya.
"Iya Jerry".
Selesai makan siang, mereka melanjutkan pergi ke sebuah taman, saat Ansel memaksa ingin sekali pergi ke sebuah taman. Hingga kini mereka telah tiba disana, "Pa, Ansel mau naik itu" Tunjuknya.
"Jangan sayang, nanti kamu bisa muntah, itu berbahaya" Larang Tania.
"Mmmm.. Ansel mau ma, kan ada papa. Iyakan pa?" Bujuk Ansel mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak Jerry".
"Baiklah, ayo" Ajaknya membeli tiket untuk mereka berdua.
"Hhmmss.. Mereka tidak bisa di bilangin" Geleng Tania menunggu disana sambil memperhatikan Jerry dan Ansel yang sudah menaiki tempat tersebut.
"Ma, tidak apa-apa, papa sudah menyuruhnya mereka untuk pelan-pelan saja" Teriak Ansel.
"Mmmmm" Angguk Tania. Begitu Tania melihatnya sudah berjalan, ia langsung tersenyum senang melihat Ansel yang sedang tertawa lepas, "Seandainya itu kamu Elvan, aku yakin Ansel akan jauh lebih bahagia. Kamu sedang apa? meskipun aku kecewa dan marah kepada mu, tapi setiap kali aku melihat wajah Ansel aku tidak bisa membenci mu. Kenapa wajah kalian berdua sangat mirip?" Ucap Tania dalam hatinya.Tampa ia sadari sepasang bola mata dari kejauhan sedang melihatnya.
Hampiri 1 jam lamanya, Jerry dan Ansel telah selesai, dan benar sekali apa yang tadi Tania ucapkan kalau Ansel tidak akan tahan. Namun Ansel yang tidak ingin melihat Tania khawatir ia mencoba menahan rasa mualnya.
"Tidak usah menahannya, mama tidak suka. Ayo dimuntahkan saja".
"Tidak, siapa yang mau muntah ma" Geleng Ansel.
"Ansel pikir mama enggak tau? ayo di muntahin".
"Ansel enggak mau muntah ma. Ayo pa, kita mau kemana lagi?".
"Ansel mau bermain apa lagi?".
"Itu, Ansel mau naik perahu bebek itu pa".
__ADS_1
"Ayo, Ansel bisa mendayungkan?".
"Bisa pa" Jempol Ansel.