
Begitu Tania tenang, Elvan mendudukan Tania diatas sofa yang berada di dalam kamar dan memberinya segelas air putih. "Elvan" Panggilnya menatap Elvan dengan mata sembab.
"Mmmm.. Kenapa?".
"Bisakah kita tinggal disini saja Elvan? aku tidak mau rumah ini kosong".
"Kamu yakin mau tinggal disini Nia?".
"Iya Elvan, aku mau tinggal di rumah ini".
"Nia sebenarnya..
"Aku tau Elvan, aku tau kamu akan kembali ke amerika. Tapi aku mau aku akan tinggal dirumah ini".
"Kalau kita tinggal dirumah ini, lalu siapa yang akan menjaga mu Nia selama aku tidak ada disini?".
"Kamu tidak usah takut Elvan, ada kak Jasmin yang menemani ku".
"Tapi ada baiknya kita membicarakan ini dulu sama papa dan mama Nia".
"Mmmmm.. Dan setelah kamu kembali dari amerika, aku mau kamu yang akan memimpin perusahaan papa. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan peninggalan papa dan aku akan bekerja di butik mama".
"Lalu bagaimana dengan kuliah mu Nia?".
"Aku akan meninggalkan kuliah ku Elvan dan akan meneruskan butik mama".
"Terserah kamu saja, tapi kamu jangan terlalu bekerja keras Nia. Kamu juga perlu menjaga kesehatan".
"Jangan khawatirkan aku Elvan" Senyum Tania melap air matanya.
"Ini baru Tania yang aku kenal selama ini. Aku bangga memiliki istri seperti mu" Ciumnya di kening Tania. "Kita pulang, ayo" Ajaknya keluar dari sana.
"Mmmmm" Angguk Tania.
Begitu mereka keluar dari dalam sana, Tania menghampiri jasmin yang mengantar mereka sampai pintu. "Kak Jas".
"Iya Nia".
"Untuk sementara waktu Nia titip rumah ya kak, tolong jangan mendaur ulang setiap tata letak di rumah ini".
"Iya Nia" Angguk Jasmin tersenyum.
"Kalau gitu Nia pulang ya kak".
"Hati-hati dijalan".
"Iya kak" Lambai Tania meninggalkan kediaman keluarga Firan.
"Peluk aku Nia".
"Aku sudah memeluk mu Elvan" Sandarnya di punggung Elvan.
30 menit perjalan, kini mereka telah tiba di kediaman keluarga Sandoro. "Ayo turun Nia, kita sudah tiba" Ucapnya. Namun tidak ada jawab dari Tania hingga pelukannya terlepas. "Tania" Dengan cepat Elvan langsung menarik kedua tangan Tania. "Tania" Panggilnya lagi segera turun dari atas motornya. "Nia, Nia.. Ayo bangun Nia".
"Hhmmm? kita sudah tiba Elvan".
"Hhmmsss.. Nia. Kamu membuatku khawatir saja".
__ADS_1
"Maafkan aku Elvan, tadi aku sangat mengantuk sampai aku tertidur".
Tampa ingin berdebat dengan Tania, Elvan langsung menggendong tubuhnya kedalam rumah, "Elvan, Tania kenapa?" Tanya Amira dengan khawatir.
"Elvan turunkan aku" Ucap Tania. "Maaf ma, tadi..
"Tidak apa-apa sayang. Kamu sudah merasa baikan?".
"Iya ma" Angguk Tania.
"Syukurlah. Ayo ikut mama sebentar" Tariknya membawa Tania ke dapur. "Tadi mama membuat sesuatu untuk mu, cobalah".
"Wah.. Ini untuk Tania ma?".
"Iya, mama membuatnya khusus untuk Tania".
"Terima kasih ma" Senang Tania melihat kue cake buatan Amira. "Wah.. Enak sekali ma".
"Benarkah?".
"Mmmm.. Sangat enak ma. Elvan, cobalah. Kue buatan mama sangat enak" Suapnya di mulut Elvan. "Bagaimana, enak bukan?".
"Enak" Angguk Elvan tersenyum.
"Benarkan, Nia tidak bohong ma".
"Iya sayang, mama mempercayai mu. Kalau gitu Nia mau enggak belajar resep kue buatan mama".
"Wah.. Mama serius? mama serius mau ngajarin Nia?".
"Mmmm.. Kalau Nia mau".
"Iya sayang" Senyum Amira melihat Elvan yang berada di belakang Tania. "Kapan Nia mau belajar, mama siap mengajari Tania".
"Mama memang yang terbaik,
.
Malam harinya Tania telah tertidur, sedangkan Elvan berada diatas sofa.
DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTTT..
"Iya Zal?" Jawab Elvan.
"Kapan kamu balik Elvan?".
"Aku belum bisa meninggalkan Tania Zal, minggu depan aku baru kembali. Tolong bantu aku".
"Apa dia baik-baik saja?".
"Tidak Zal, Tania masih belum percaya".
"Hhhmmsss" Dengus Rizal. "Serahkan pada ku Elvan, kalau kamu sudah kembali cepat beritahu aku. Waktu kita tinggal sedikit lagi".
"Terima kasih Zal. Bagaimana dengan Jerry?".
"Jerry sudah berangkat. Aku tutup dulu Elvan".
__ADS_1
"Mmmmm" Angguk Elvan mematikan ponselnya. Kemudian ia melihat kearah Tania yang terlihat sangat lelah. "Aakkhhh" Lelah Elvan menatap langit-langit kamarnya.
"Ma.. Pa.. Kay.. Jangan pergi ma, jangan tinggalkan Tania Pa. Kayla jangan pergi, kakak ikut".
"Tania" Kaget Elvan langsung menghampirinya. "Nia, Nia".
"Jangan pergi.. Jangan pergi.. Tolong jangan tinggalkan Tania".
"Tania" Teriak Elvan menyadarkannya.
"Hhaahhhh" Kaget Tania membuka kedua matanya. "Elvan.. Mama Elvan. Mereka pergi meninggalkan aku".
"Aahhh.. Nia" Peluknya. "Tolong ikhlasin mereka Nia, kalau kamu seperti ini terus mereka tidak akan tenang di alam sana".
"Aarrkkhh.. Aahhh.. Mama hiks.. Papa.. Tania tidak kuat ma pa. Tania tidak kuat" Tangisnya dipelukan Elvan.
Melihat kondisi Tania seperti ini membuat hati Elvan hancur, ia benar-benar tidak tega apalagi jika dirinya pergi nanti. Ia tidak tau betapa hancurnya seorang Tania.
Setelah Tania lama menangis, ia mulai merasa lelah dan tertidur kembali. Lalu Elvan membaringkan tubuhnya disamping Tania dan memeluknya dengan sayang. "Selamat tidur Tania" Ciumnya.
Jam 2 pagi Tania terbangun dari tidurnya ketika ia mendengar suara tawa Kayla. Dengan langkah pelan Tania menuruni tempat tidur dan lagi-lagi Tania mendengar suara tawa Kayla. "Kayla.. Benarkah itu kamu?".
Tidak ada jawaban dan suara tawa itu semakin terdengar kuat di kedua telinga Tania.
"Kayla.. Kamu dimana Kay? ini kakak Kay?" Tanyanya sambil menangis hingga kini Tania telah keluar dari dalam kamar.
"Hahahha.. Kak Nia" Tawa Kayla yang memperlihatkan dirinya di lantai 1.
"Kayla.. Kayla.. Aarrkkhhh" Hampir saja Tania terjatuh jika tangan Elvan tidak menariknya. "Elvan?".
"Tania" Dengan nafas ngos-ngosan Elvan langsung memeluknya. "Kamu baik-baik saja Nia? kamu baik-baik saja".
"Kayla Elvan, tadi aku melihat Kayla berada di lantai satu".
"Nia. Hhmmsss.. Aku sudah mengatakan pada mu kalau kamu seperti ini terus, awar mereka tidak akan tenang dan arwah itu akan terus menganggu mu Nia".
"Tidak Elvan, tadi aku jelas-jelas mendengar suara tawa Kayla. Itu tanda Kayla masih hidup, jadi tolong lepaskan aku Elvan, aku harus mencari Kayla".
"Tidak Nia, Kayla sudah tiada".
"Lepasin Elvan, mau sampai kapan pun aku tidak akan percaya kalau mereka sudah tiada. Jelas-jelas aku tadi melihat Kayla sambil tertawa kepada ku".
"Tania. Sadar Nia sadar" Bentak Elvan sangat marah.
"Kamu memarahi ku?".
"Aku tidak memarahi mu Nia aku tidak memarahi mu. Tolong, tolong ikhlaskan mereka Nia".
"Hahahah.. Kamu ada-ada saja Elvan, ikhlasin seperti apa Elvan, jelas-jelas aku tadi melihat Kayla disan..
"Kak Nia, Kak Tania bawel".
"Haahh.. Kayla" Senyum Tania. "Lihat Elvan, lihat itu. Kayla sedang memanggil ku sambil melambaikan tangannya. Kayla, kamu baik-baik saja?".
"Kak Nia" Lambai Kayla lagi sambil tersenyum.
"Lepaskan aku Elvan, aku ingin menghampiri Kayla".
__ADS_1
"Tidak Nia, kumohon sadarlah Nia" Tangis Elvan memeluknya.