SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 87


__ADS_3

Setelah Elvan keluar dari ruangan si kepala desa, ia langsung menghampiri Tania yang sedang menunggunya didalam kantin. "Sudah?" Tanya Tania melihatnya.


"Mmmmm" Angguk Elvan.


"Tadi aku sudah memesan teh manis dingin. Makanlah, sebentar lagi mereka akan mengantarnya".


"Jadi ini masakan kamu Nia?".


"Iya, soal rasa aku enggak tau hehehe".


Elvan pun ikut tertawa kecil, "Mau enak mau enggak aku tetap harus menghabiskannya".


"Bagaimana? enak tidak?".


"Kenapa kamu tidak memakan milik mu saja supaya kamu tahu rasanya?".


"Baiklah aku akan memakannya" Tania segera melahap miliknya. "OMG" Dengan mata membulat ia melihat Elvan yang sedang tersenyum tipis kepadanya. "Elvan".


"Sayang kalau di buang".


"Maafkan aku, ternyata aku belum berhasil. Padahal aku sudah berjuang sekali untuk membuatnya enak, tapi malah seperti ini".


"Tidak apa-apa. Kamu bisa memesannya kalau kamu tidak suka".


"Tidak, aku akan memakannya".


Selesai mereka makan siang, Elvan segera kembali bekerja. "Terima kasih ya Nia, kamu bisa pulang sendiri?".


"Tentu saja, aku bisa naik ojek dengan uang mu ini" Senyum Tania menunjuk uangnya yang masih tersisa banyak.


"Kalau gitu hati-hati dijalan, aku masuk dulu".


"Iya, semangat suami ku".


"Mmmmm" Angguk Elvan meninggalkannya.


Kemudian Tania mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, "Aku merindukan Elma dan Filia, kemarin Elvan mengatakan pada ku kalau aku bisa menghubungi mereka berdua" Tania langsung menelpon Elma.


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Kenapa Elma tidak mengangkatnya?".


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Hey.. Kenapa kedua orang ini tidak mengangkat ponselnya? apa mereka tidak merindukan ku?".


Lalu Tania melihat sekitarnya hingga kedua matanya melihat sepasang suami istri sedang bersama dengan putri mereka, "Aku jadi rindu papa mama Kayla" Gumam Tania menatap keatas langit. "Tania sangat merindukan kalian, dan di setiap saat Tania mengingat kalian, rasanya sangat sakit".


"Nona, becak?" Ucap si pembawa becak kepada Tania.


"Iya pak" Angguk Tania memasuki becaknya. "Antar saya ke alamat ini ya pak".


"Baik nona" Jawabnya menjalankan becaknya. Hingga mereka telah tiba di rumah.


"Terima kasih ya pak. Ini ongkosnya".


"Sama-sama nona".


Kemudian Dinda datang menghampirinya, "Kak Tania" Teriak teriaknya.


"Eekkhh.. Dinda" Senyum Tania.


"Kak Nia dari mana? tadi Dinda mencari-cari kak Nia".


"Aahh.. Kak Nia baru saja pulang dari kantor lurah ngantar makan siang suami kakak. Terus, kenapa Dinda mencari kakak?".


"Kakak mau eskrim? biar Dinda yang bayarin".


"Ayo, kali ini biar kak Nia yang bayarin Dinda makan eskrim".


"Serius?" Senang Dinda menggenggam tangan Tania.


"Iya. Sekarang pilihlah eskrim kesukaan Dinda dan Dinda bebas mau ngambil berapa".

__ADS_1


"Hey.. Ayolah, kakak serius mengatakan itu?".


"Iya, kakak serius. Masa bohong" Tawa kecil Tania mengusap kepala Dinda.


"Wah.. Terima kasih kak. Kak Nia banget banget sih".


"Karna Dinda juga baik sama kak Nia. Berapa semua buk?".


"Eskrim sebanyak itu untuk apa mu Dinda?" Tanya si ibu warung.


"Untuk teman-teman Dinda buk".


"Kamu ya Dinda, kebiasaan memberi seperti itu padahal bukan uang kamu".


"Enggak apa-apa buk" Ujar Tania. "Berapa semua?".


"Eskrim-nya ada 20 biji, jadi semuanya 100 ribu pas".


"Inih buk. Sekarang Dinda bisa membaginya sama teman-teman Dinda".


"Terima kasih ya kak Nia. Kakak tunggu disini".


"Mmmmm" Angguk Tania melihatnya.


Kemudian si pemilik warung mendekati Tania, "Kamu jangan terlalu baik sama anak itu?".


"Kenapa buk?".


"Dia bukanlah anak baik seperti yang kamu lihat".


"Maksud ibu?".


"Dia itu panjang tangan".


"Apa?".


"Mmmmm.. Dia seperti ayahnya yang suka panjang tangan, makanya kamu harus hati-hati dengannya".


"Iya kak. Ini untuk kak Nia" Berinya ditangan Tania. "Duduk kak".


"Iya".


Kemudian Dinda membuka miliknya, ia langsung memakannya begitu juga dengan Tania. "Kak Nia, bisa enggak Dinda main-main kerumah kak Nia?".


"Tentu saja bisa. Tapi dirumah kakak tidak ada apa-apa..


"Hahahaha" Potong Dinda tertawa. "Jangan bilang kamar kakak yang berantakan, iyakan? ayo kak Nia ngaku".


"Dinda" Kaget Tania.


"Aahh.. Maaf kak Nia, Dinda enggak bermaksud berkata seper..


"Tidak" Potong Tania langsung menarik Dinda kedalam pelukannya.


"Kak Nia. Kakak baik-baik saja?".


"Mmmmm.. Untuk sementara biarkan seperti ini, kakak sangat merindukan mu".


Sedangkan si pemilik warung yang sedang melihatnya hanya bisa menggeleng kepala.


"Kak Nia".


Tania melepaskan pelukannya sambil melap air matanya, "Maafkan kakak ya Dinda, saat kamu berkata seperti itu, kamu jadi mengingatkan kakak dengan adik kakak yang sudah meninggal".


"Iya kak" Angguk Dinda. "Jadi bisa enggak Dinda datang bermain-main kerumah kak Nia?".


"Tentu saja Dinda bisa datang kerumah kakak".


"Benarkah kak?".


"Mmmm.. Kapan pun Dinda mau, Dinda bebas datang kerumah kakak".


"Yee.. Terima kasih ya kak".

__ADS_1


"Iya".


.


1 minggu kemudian..


Vicky yang sedang berada di ruangannya membuat dirinya sangat marah kepada Tania yang telah membawa Elvan pergi.


"Pa, apa yang harus aku lakukan? bahkan aku sudah mengarahkan 100 gangster untuk mencari keberadaan mereka berdua tapi sampai sekarang mereka belum bisa ditemukan " Tanya Chiko.


"Papa enggak mau tau, minggu ini juga mereka harus di temukan mau sampai ke ujung dunia sekali pun mereka harus di temukan".


"Baik pa".


Tok.. Tok..


"Masuk" Jawab Vicky.


Ceklek!


"Tuan".


"Kamu bisa keluar Chiko".


"Iya pa".


Sekeluarnya Chiko dari sana, kedua pria berbaju rapi itu langsung duduk diatas sofa yang berada di ruangan Vicky. "Bagaimana?".


"Maaf tuan, ternyata AE group telah jatuh ke tangan Tania Firan" Jawab mereka.


"Apa?".


"Iya tuan. Jadi kita tidak bisa melakukan apa-apa".


"Bagaimana bisa? sejak kapan ahli warisnya jatuh ke tangan menantu saya?".


"Kami juga kurang tau tuan".


"Lalu siapa yang menduduki kursi presdir saat ini?".


"Kursi presdir saat ini kosong tuan dan yang membuat kami heran, perusahaan itu sampai sekarang tetap berjalan dengan lancar".


"Hhhmmsss.. Masa iya?" Gumam Vicky.


"Iya tuan. Bahkan di perusahaan itu tidak ada yang berani macam-macam".


"Kalian boleh pergi" Usirnya.


"Kalau gitu kami permisi dulu tuan".


"Mmmmmm" Kemudian Vicky memijit pelipisnya sambil memikirkan siapa yang sudah menyelamatkan perusahaan itu. Lalu Vicky menelpon sekretarisnya untuk menyiapkan mobil menuju perusahaan AE group.


Setibanya disana, para pejabat tinggi dari group AE langsung menghampirinya. "Selamat datang tuan Vicky" Senyum mereka.


"Mmmmm" Angguk Vicky tak kalah ramah dengan mereka. "Bagaimana keadaan diperusahaan?".


"Seperti biasa tuan, semuanya berjalan dengan lancar".


"Apa kursi presdir masih kosong sampai sekarang?".


"Iya tuan, untuk sementara waktu kursi presdir akan kosong".


"Kursi presdir tidak bisa lama kosong, kita harus melakukan sesuatu".


"Maaf tuan, kami hanya mengikuti perintah atasan".


"Atasan?".


"Iya tuan".


"Siapa atasannya?".


"Tangan kanan mendiang tuan Alvis. Untuk saat ini beliau yang akan mengendalikan perusahaan begitu putri tuan Alvis mengambil alih perusahaan ini suatu saat nanti".

__ADS_1


__ADS_2