SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 37


__ADS_3

Hari ini, dimana Elvan dan Tania telah kembali kuliah seperti biasanya. Namun tetap saja Tania berangkat kuliah di antar oleh sang supir sedangkan Elvan menggunakan motor bututnya. Sambil berjalan memasuki ruangan ya Tania sangat berhati-hati sekali dan tampa sengaja seorang mahasiswa tiba-tiba saja menabrak tubuhnya sampai membuat Tania terjatuh.


"Aahhh.." Rengek Tania kesakitan.


"Maaf-maaf, saya lagi buru-buru" Perginya meninggalkan Tania tampa ingin membantunya terlebih dahulu.


"Astaga itu orang ya" Geram Tania berusaha berdiri hingga sebuah tangan langsung membantunya.


"Kamu baik-baik saja Nia?".


"Sani.. Terima kasih yah" Senang Tania.


"Iya Nia. Sinih, aku akan membersihkan kaki mu".


"Eehhh.. Tidak usah Sani".


"Tidak apa-apa Nia" Setelah Sani selesai membersihkan kaki Tania, ia segera merangkul lengan Tania dan mengajaknya berjalan bersama memasuki ruangan mereka. "Oohh iya Nia, boleh tidak aku meminta nomor ponsel Elvan?".


"Hhhmm?" Kaget Tania.


"Hahh.. Hahahaha.. Kamu kok sampai terkejut seperti itu sih Nia? kamu punya atau tidak?".


"Tidak aku tidak punyak Sani" Jawab Tania dengan cepat.


"Bohong, kamu pasti punya nomornya. Mana mungkin kamu yang sangat dekat dengannya tidak punya nomor ponsel Elvan. Ayolah Nia berikan aku nomor Elvan".


"Aku tidak berbohong Sani, kenapa kamu tidak meminta secara langsung saja kepada Elvan? kan lebih bagus".


"Ck, kamu gimana sih Nia? aku sebagai wanita harus jaga harga diri juga kali, bagaimana kalau Elvan menolaknya?. OMG, mau ditaruh dimana wajah ku Nia, maka dari itu aku meminta bantuan mu. Please berikan aku nomor ya Elvan".


"Ya ampun Sani, aku tidak punya nomor Elva..


"Nia Nia itu Elvan" Potong Sani menunjuk kearah Elvan yang sedang berjalan dari ujung lorong dengan style cool ya. "Oohh Tuhan, kenapa ciptaan mu ini sangat sempurna sekali di mata ku? tolong Tuhan jodohkan aku dengan ya, ku mohon Tuhan" Ucap Sani dari samping Tania.


Sedangkan Tania yang risih dengan doa Sani dan juga tatapan-tatapan para mahasiswi lainnya kepada Elvan terlihat geram dan juga kesal apalagi Sani yang sangat memuja-muja suaminya itu. "Yah Sani" Bentak Tania.

__ADS_1


"Astaga.. Apaan sih Nia? kamu membuat orang kaget saja. tidakkah kamu melihat ketampanan Elvan yang sangat gagah dan juga style ya sangat cool? pokoknya Elvan ku klaim kalau dirinya adalah mahasiswa tertampan di kampus kita. Bagaimana menurut mu Nia?".


"Tidak, menurut aku dia yang paling jelek dikampus kita" Perginya meninggalkan Sani.


"Yah.. Nia tunggu aku" Teriak Sani mengejar Tania.


Begitu Tania duduk diatas kursinya tidak lama kemudian Elvan memasuki ruangan mereka dan lagi-lagi mata para wanita di dalam kelas mereka terpesona oleh ketampanan Elvan.


"OMG.. Kenapa Elvan tampan sekali sih?" Bisik-bisik mereka.


"Iya, sejak Elvan kuliah disini aku tidak pernah melihat ya tidak pernah tampan. Jika aku terus terusan melihatnya lama-lama aku benar-benar akan jatuh cinta kepada Elvan".


"Sama aku juga, kira-kira Elvan sudah punya pacar enggak yah?".


"Kalau pun Elvan sudah punya pacar, aku jamin wanita itu tidak tandingan dari antara kita, pastinya wanita itu dari kelas atas atau dia seorang artis atau model papan atas".


Tania yang mendengarkan gosip mereka langsung tersenyum, "Lalu bagaimana kalau mereka sampai mengetahui kalau aku istri yah?" Batin Tania melihat kebelakangnya dimana Elvan yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Dia sedang ngapain?".


Kemudian sang dosen ya mengajak dikelas mereka pun telah masuk, "Selamat pagi semuanya" Sapa sang dosen.


"Apa kabar kalian, ibu harap kalian baik-baik saja".


"Iya buk".


"Hari ini ibu tidak mengajar disini lagi".


"Yah.. Kenapa buk? lalu ibu akan pergi kemana dan bagiamana dengan dosen kami" Tanya teman satu kelas Tania yang tidak rela kehilangan si dosen tersebut.


"Kalian tenang saja, kalian sudah dapat pengganti dosen barunya dan ibu yakin kalian pasti sangat suka dengan beliau, bersabarlah bapak itu masih di ruang ketua kita".


"Perempuan atau laki-laki buk?".


"Laki-laki dan bapak itu sangat tampan, tapi kalian tidak boleh menggodanya atau lainnya. Tidak baik apalagi kalian tidak bersikap sopan kepada dosen".


"Yah buk, tidak apa-apakan kalau sekali-kali menggoda dosen sendiri, siapa tau jodoh" Ucap salah satu mahasiswa disana.

__ADS_1


"Tetap tidak boleh kalau kalian masih berada di dalam kampus kecuali kalian bertemu di luar ibu harap juga kalian menjaga sopan santun, bisa di ingat?".


"Bisa buk kalau bapak itu tidak tergoda dengan kecantikan aku" Jawab Sani sambil tertawa begitu juga dengan yang lainnya yang ikut tertawa senang. Hingga kini si sang dosen memasuki ruangan mereka.


"OMG" Sekita ruangan tersebut langsung terdiam seperti di kuburan, namun berbeda halnya dengan Tania yang mengenali si dosen baru tersebut.


"Varrel, sedang apa dia disini atau jangan-jangan diakah dosen pengganti kami yang sebenarnya?" Batin Tania masih memperhatikan Varrel yang sedang tersenyum kearah mereka semua.


Lalu Varrel memperkenalkan dirinya dan menyebut dia lulusan dari mana dan juga gelar yang ia sandang saat ini. "Ada pertanyaan?" Ucap Varrel.


"Ada pak" Jawab salah satu mahasiswa wanita.


"Silahkan".


"Bapak sudah punya pacar atau bapak masih jomblo? kalau bapak masih jomblo bisakah bapak memberikan nomor WhatsApp bapak?".


"Iya pak, please berikan kami nomor whatsApp bapak, siapa taukan ada hal penting yang ingin kami bahas dengan bapak tentang pembelajaran mata kuliah kita atau kita masukkan saja bapak ke kedalam grup khusus mata kuliah kita, bagaimana?".


"Setuju, kan lebih gampang untuk kita semua" Sambung yang lainnya.


"Baiklah, bapak akan memberinya" Angguk Varrel segera mencatat nomor ponselnya di depan papan tulis. "Tapi bapak harap kalian tidak akan menghubungi kalau di luar pembelajaran kita, bisa dimengerti".


"Bisa pak, dan kalau pun menyimpang sedikit tidak apa-apa kali" Senyum mereka kepada Varrel. Meskipun dalam hati Varrel sedikit risih dengan sikap mahasiswa barunya itu, sedangkan Elvan yang sedari tadi tetap sibuk dengan ponselnya hingga kini Varrel menyuruh mereka satu persatu untuk memperkenalkan diri masing-masing.


"Silahkan di mulai dari yang paling belakang sudut" Ucap Varrel menyuruh Gavin yang sedang asik dengan game ya.


"Sshhuueettt.. Gavin" Panggil sang sahabat menyadarkan Gavin yang tidak perduli.


"Ck, bisakah kamu tidak menggangu ku" Kesal Gavin kepada temannya.


"Kamu tidak melihat dia?" Tunjuknya kearah Varrel yang telah berjalan kearah mereka berdua.


"Siapa sih dia?" Semakin kesal Gavin melihat Varrel.


"Dosen baru kita Gavin, makanya kamu jangan asik terus dengan game mu. Sepertinya dia sedang marah kepada mu".

__ADS_1


"Terus aku harus peduli dengan yah?" Jawab Gavin menatap Varrel yang sudah berada di hadapannya.


__ADS_2