
Selesai Tania menikmati rujaknya, mereka berdua segera pergi dari sana menuju parkiran motor Elvan dimana Tania yang ingin sekali pergi kesebuah pantai.
Kini Elvan dan Tania telah berada di pantai. dengan senyum mengembang diwajah Tania, ia tak henti-hentinya melepaskan senyum manisnya yang membuat Elvan sangat gemas melihat tingkah lucu Tania.
DDDRRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..
Elvan mendapatkan sebuah panggilan dari Vicky. "Siapa Elvan?" Tanyanya melihat Elvan.
"Papa Nia. Sebentar yah" Elvan segera mengangkatnya. "Iya pa" Jawabnya.
"Elvan, kamu dimana?".
"Aku sedang di pantai bersama Tania pa. Ada apa?".
"Bisakah kalian berdua pulang sekarang juga dari sana Elvan? hari ini kamu harus berangkat ke amerika, besok pagi ada meeting mendadak yang tidak bisa kamu lewatnya".
"Ba-baik pa" Angguk Elvan mematikan ponselnya. Kemudian ia melihat wajah kecewa Tania yang juga ikut mendengar percakapan Elvan dan Vicky. "Maaf Nia".
"Tidak apa-apa Elvan, sebaiknya kita pulang saja. Ayo" Jalanya menuju sepeda motor Elvan yang terparkir.
"Nia" Panggil Elvan.
"Ayo buruan Elvan" Meskipun dalam hati Tania merasa kecewa, ia juga tidak bisa egois apalagi ini menyangkut masa depannya kelak bersama dengan Elvan.
"Nia.. Tunggu" Tahan Elvan ditangan Tania. "Aku tau kamu marah".
"Kalua aku marah, kamu mau membatalkannya Elvan?".
"Tidak, aku hanya mau kamu mengerti situasi aku saat ini".
"Karna aku mengerti Elvan makanya aku mengajak mu pulang, ayo buruan kita tidak punyak banyak waktu lagi".
"Kita masih punya banyak waktu Nia" Elvan langsung menarik tubuh Tania kedalam pelukannya. "Maafkan aku Nia harus pergi jauh dari sisi mu disaat seperti ini. Tolong jaga kesehatan mu dan juga bayi kita".
"Yah.. Jangan membuat ku menangis Elvan".
"Maafkan aku Nia" Peluk Elvan semakin erat.
Sesampainya mereka di mension, sang supir yang akan mengantar Elvan ke bandara telah menantinya disana dan juga koper Elvan yang sudah berada di dalam mobil. "Elvan" Panggil Amira yang sengaja pulang cepat dari butik saat Vicky memberitahunya kalau Elvan akan berangkat hari ini juga.
"Ma" Senyum Elvan. "Elvan titip Tania ya ma, tolong jaga dia dan juga bayi ku".
"Iya sayang, kamu tenang saja. Mama janji akan menjaga Tania dan juga bayi kamu".
"Terima kasih ma, kalau gitu Elvan langsung berangkat".
"Iya sayang, Tuhan memberkati setiap langkah mu".
"Amin ma" Kemudian Elvan melihat Tania yang sudah berkaca-kaca. "Aku berangkat sayang" Cium Elvan di kening Tania. Lalu ia memasuki mobil.
Begitu mobil tersebut berjalan, dengan rasa sakit dalam hati Tania menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan. "Sayang" Peluk Amira. "Mama tau apa yang sedang kamu rasakan saat ini, tapi Elvan melakukan ini demi kamu dan juga buah hati kalian. Kamu yang sabar ya sayang".
"Hiks.. Hiks.. Ma" Semakin tangis Tania dalam pelukan Amira.
"Iya sayang" Usapnya di punggung Tania.
__ADS_1
.
Didalam kamar, Tania membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dengan air mata yang masih mengalir, ia tak henti-hentinya mencium aroma bantal dan juga aroma tubuh Elvan yang berada di tempat tidur. "Hiks.. hiks.. Elvan, aku merindukan mu".
Tania yang sudah merasa lelah, tidak lama kemudian ia terlelap. Hingga kini telah menunjukkan pukul 6 sore lewat, Amira yang merasa khawatir ia mendatangi kamar Tania.
Tok.. Tok..
"Nia ini mama, boleh mama masuk sayang?".
Tidak ada jawaban.
Tok.. Tok..
"Tania, mama masuk ya sayang" Amira segera membuka pintu kamar Tania dimana ia yang tengah melihat Tania sedang terbaring diatas tempat tidur dengan damai. "Ternyata kamu tidur" Senyum Amira mengusap wajah letih Tania dengan sayang.
Tidak ingin menganggu tidur Tania, Amira memutuskan keluar dari dalam sana. "Ma" Panggil Zita yang baru tiba.
"Kamu sudah pulang sayang" Senyum Amira kepada menantunya itu.
"Iya ma, tadi Zita jemput Kia dulu ke sekolah lesnya".
"Maaf ya sayang, tadi mama tidak sempat jemput Kia".
"Tidak apa-apa ma. Jadi benar Elvan sudah berangkat?".
"Iya".
"Lalu bagaimana dengan Tania? apa dia baik-baik saja ma?".
"Ma, kasihan sekali bibi Tania" Sedih Saskia mendengar perkataan Amira.
"Iya Kia, tapi mau gimana lagi. Itu semua demi bibi kamu dan juga bayi mereka" Angguk Zita.
"Iya sih ma, Kia setuju. Nanti Kia akan menghibur bibi Tania".
"Iya sayang, anak pintar" Senyum Amira.
"Kalau gitu Kia naik dulu ya oma" Perginya meninggalkan Amira dan Zita.
"Zita juga masuk kamar dulu ya ma".
"Iya sayang" Angguk Amira.
.
Setelah hampir 2 jam lamanya Tania terlelap dalam tidurnya. Kini ia telah membuka kedua matanya. "Ternyata bukan mimpi" Ia segera memasuki kamar mandi.
15 menit Tania berada di dalam kamar mandi, ia segera keluar dari sana dengan handuk putih yang melilit di tubuhnya. "Segarnya" Gumam Tania mendengar ponselnya berdering. "Siapa yang menelpon ku?" Tania segera menyambar ponselnya dimana Elvan yang sedang menelponnya menggunakan video call "Elvan" Dengan senyum mengambang diwajah Tania ia segera menggeser tombol hijau tampa memperdulikan pakaiannya.
"Elvan" Senyum Tania dengan mata berbinar.
"Wah.. Apa kamu sedang menggoda ku?".
"Hhmmm?" Tania mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Itu, handuk yang melilit ditubuh mu".
"Aahh.. Habis aku baru siap mandi kamu menelpon ku".
"Oohh.. Ini aku baru tiba di hotel. Kamu sudah makam malam?".
"Belum, tapi aku rasa tadi mama mengantar makan malam ku kemari".
"Disana sudah jam berapa Nia?".
"Jam" Gumam Tania melihat jam di layar ponselnya. "Astaga.. Ternyata sudah jam 9 malam saja".
"Jadi kamu baru mandi jam segini?".
"Hehehhe.. Tadi aku ketiduran".
"Lain kali jangan di ulangi".
"Mmmm".
"Cepat kenakan pakaian mu dan jangan lupa makan malam. Aku mandi dulu".
"Disana jam berapa Elvan?".
"Jam 6 pagi, jam 7 aku akan berangkat kantor".
"Oohh.. Mandilah".
"Mmmm.. Selamat malam Nia" Elvan mematikan ponselnya.
Kemudian Tania segera memakai pakaiannya, lalu Tania melihat makan malam yang berada di atas meja. "Mama Mira baik banget sih sampai mengantar makan malam kemari" Senyum Tania melahap makan malamnya.
Begitu Tania merasa kenyang, ia membawa piring kotornya keluar dari dalam kamar, dimana semua anggota keluarga yang telah berada di dalam kamar mereka masing-masing.
"Nona" Panggil salah satu pelayan yang melihat Tania menuruni anak tangga.
"Iya bi".
"Berikan kepada saya nona".
"Tidak usah bi, biar saya saja yang membawanya ke dapur".
"Tidak nona biar saya saja" Mintanya kembali.
"Baiklah, terima kasih ya bi" Beri Tania ditangannya.
"Iya nona" Angguknya meninggalkan Tania.
"Bi tunggu" Tahan Tania.
"Iya nona".
"Semuanya sudah tidur ya?".
"Sudah nona, ini sudah hampir jam 10 malam".
__ADS_1
"Mmmm.. Bibi bisa pergi" Senyum Tania. "Sepertinya aku sangat lama tidur" Naiknya kembali memasuki kamar.