
Jam istirahat, Tania dan Sani sedang berada di dalam kantin. Sambil menunggu antrian, Tania tak henti-hentinya memandangi layar ponselnya. Hingga kini giliran mereka yang mengambil makan siang, "Ayo Nia" Ajak Sani mengambil meja paling sudah yang berada di dekat jendela kaca.
"Nia, kamu kok dari tadi lihat layar ponsel mu mulu?" Tanya Sani menyendok makanannya kedalam mulut.
"Tidak ada Sani" Geleng Tania tersenyum.
"Kamu yakin?".
"Iya".
"Mmmm.. Ayo dimakan, makanan di kantin ini sangat enak loh".
"Iya" Angguk Tania segera melahapnya.
Sedangkan Elvan yang berada di luar negeri baru tiba di dalam kamarnya saat tuan Robert mengundangnya makan malam di kediamannya. "Aahhh" Lelah Elvan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Flashback.
Setibanya Elvan di kediaman Robert bak istana, para pelayan yang menantinya disana langsung menunduk sopan kepadanya. "Selamat malam tuan, selamat datang di kediaman tuan Robert" Ucap mereka dengan sopan.
"Iya" Senyum Elvan mengikuti langkah kaki asisten rumah tangga Robert. Hingga ia melihat keluarga besar Robert sedang menunggunya di meja makan.
"Hahahaha.. Selamat datang Elvan di kediaman keluarga Robert" Tawa Robert memeluknya.
"Iya tuan" Senyum Elvan terlihat kaku.
"Ayo.. Perkenalkan ini istri ku dan ini putri-putri ku dan juga ibu ku" Ucap Robert memperkenalkan anggota keluarganya.
"Aahh.. Hallo tante, grandma" Tunduk Elvan.
"Wah.. Jadi benar kamu anaknya Vicky?".
"Iya tante".
"Kamu tampan sekali, tante suka punya menantu seperti kamu. Kenalin mereka adalah putri kami, ayo sayang kenalan dengan Elvan" Suruhnya kepada kedua putrinya.
"Iya ma" Angguk mereka menghampiri Elvan. "Hallo, kenalin nama ku Alona" Senyumnya kepada Elvan.
"Elvan" Balas Elvan.
"Aku Jessi".
"Elvan".
"Kamu tampan sekali Elvan" Senyum Jessi yang tertarik kepada Elvan.
"Terima kasih" Angguk Elvan.
Lalu mereka semua pun segera kembali ke atas kursi mereka masing-masing, "Karna malam ini kami mengundang mu makan malam kemari. Jadi menu ini semua spesial untuk mu Elvan" Senyum Robert.
"Aahh.. Terima kasih banyak tuan" Tunduk Elvan.
"Mmmm.. Silahkan dinikmati".
Mereka semua segera menikmati malam malam itu penuh dengan canda tawa hingga mereka merasa kenyang. "Makan malamnya sangat lezat, terima kasih banyak telah mengundang saya kemari".
__ADS_1
"Lain kali kamu bisa datang kemari Elvan, tante akan memasak sesuatu yang jauh lebih enak dari ini" Ucap istri Robert.
"Iya tante".
"Oohh iya, putri tante Alona dan Jessi juga bekerja di perusahaan TQ group. Alona bekerja di bagian keuangan, dia menjabat sebagai direktur keuangan dan Jessi bekerja di team perencana dia juga menjawab sebagai direktur perencana" Beritahu istri Robert dengan bangganya.
"Mmmm.. Putri tante pasti sangat hebat-hebat".
"Tentu saja putri tante hebat, udah cantik, dewasa dan mandiri lagi. Tapi tante akan lebih senang kalau salah satu putri tante menikah dengan mu".
"Hhhmm?" Kaget Elvan.
"Kenapa Elvan?".
"Aahh tidak tante" Gelengnya tersenyum. "Apa papa tidak memberitahu tuan Robert kalau aku sudah menikah?" Batin Elvan melihat kedua putri Robert yang sedang tersenyum manis kepadanya.
****************
Mengingat itu membuat Elvan kesal, ia sama sekali tidak pernah berpikir akan menghianati Tania yang kini berstatus sebagai istrinya. Kemudian Elvan menatap layar ponselnya, "Sedang apa kamu sekarang?" Elvan mencoba menghubungi Tania yang masih berada di dalam kantin.
DDDDRRRTTTT... DDDRRRTTTT...
"Nia.. Ponsel kamu berdering" Ucap Sani memberitahu Tania yang sedari tadi tampak kurang berselera.
Dengan malas Tania menyambar ponselnya, "Iya, ini siapa?" Tanyanya tampa melihat siapa yang menelpon.
"Tania".
"Hhmmm?" Kaget Tania langsung melihat layar ponselnya, "Astaga Elvan" Ia segera pergi dari sana membuat Sani keheranan. "Elvan maaf. Tadi aku tidak tau kalau kamulah yang menelpon ku. Kamu sedang dimana? ini sudah jam berapa, kenapa kamu belum istirahat? aku merindukan mu, aku sangat merindukan kamu Elvan".
"Oohh.. Apa kamu tidak merindukan ku?".
"Kalau aku bilang merindukan mu, apa yang akan kamu lakukan untuk ku Nia?".
"Tidak ada Elvan, tapi aku akan sangat bahagia jika kamu merindukan ku".
"Mmmm.. Nia" Panggilnya.
"Iya Elvan".
"Aku merindukan mu".
Kedua mata Tania langsung berbinar, "Aku juga, aku sangat merindukan mu".
"Lalu bagaimana dengan magang mu? apa semua berjalan dengan lancar?".
"Iya, cuman...
"Cuman apa Nia?".
"Mereka memberiku dan Sani banyak pekerjaan, kan kami disini cuman magang, bukan jadi...
"Jadi apa?" Potong salah satu karyawan di lantai ia magang yang mendengar percakapan Tania dan Elvan.
"Eehh.. Mbak" Senyum Tania dengan kaku. "Astaga, dia kok bisa ada disini sih?" Kesal Tania dalam hati.
__ADS_1
"Oohh.. jadi kamu sedang mengadukan kami yah? kalau kamu enggak suka, kenapa harus magang disini. Masih banyak anak magang lain yang ingin magang di perusahaan ini" si karyawan tersebut tampak sangat marah.
"Maaf mbak, ini tidak seperti yang mbak dengarkan".
"Halah" Kesalnya meninggalkan Tania.
Seperginya si karyawan, "Lagian suka-suka saya dong, kantor-kantor papa ku. Sok, ngatur-ngatur saya" Kesal Tania melihat layar ponselnya kembali. "Elvan".
"Siapa Nia?".
"Itu, karyawan yang berada di ruangan ku magang. Aku ketahuan sama dia waktu aku bilang ke kamu".
"Jadi dia memarahi mu".
"Mmmm.. Sepertinya dia akan membalas ku nanti".
"Kamu jangan cari masalah Nia, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan mu dan juga bayi kita".
"Kamu tenang saja Elvan, bayi kita akan baik-baik saja kok".
"Kalau dia keterlaluan cepat beritahu aku".
"Kalau di keterlaluan, apa yang akan kamu lakukan Elvan?" Senyum Tania.
"Aku akan memindahkan mu dari sana".
"Ck, ternyata itu".
"Jadi?".
"Tidak, kalau gitu aku kembali kerja dulu yah. Istirahatlah, ini sudah jam berapa".
"Tunggu Nia".
"Iya".
"Kamu masih sering mual?".
"Sedikit di pagi hari, tapi enggak parah sih berkat obat yang kemarin kamu beli".
"Mmmmm".
"Iya, selamat tidur suami ku uummcchhh" Tania langsung mematikan ponselnya. "Berlama-lama berbicara dengan mu membuat ku lupa waktu Elvan" Gumam Tania menyusul Sani kembali.
"Nia, kamu baru menelpon dengan siapa sampai gitu lama?".
"Dengan orang spesial dalam hidup aku Sani. Ayo, kamu sudah selesai apa belum?".
"Udah, kamu ya ajah yang sisain makanan sebanyak itu".
"Heheheh.. Aku tidak napsu makan Sani".
"Pantasan saja kamu semakin hari makin kurus seperti itu, ayo" Bangkitnya segera pergi dari sana. Saat mereka tiba di ruangan, beberapa karyawan diruangan itu sedang menatap Tania dan Sani dengan tajam. "Ada apa ini? kenapa mereka berdua melihat kita seperti itu?".
"Kamu" Panggilnya kepada Tania.
__ADS_1
"Ck, berurusan seperti ini membuat ku kesal saja" Gumam Tania. "Iya, ada apa yah?".