SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 65


__ADS_3

Sekeluarnya mereka dari ruang meeting, "Elvan" Panggil Alona.


"Ada apa?" Tanyanya melihat Alona.


"Tidak" Gelengnya tersenyum.


"Kalau tidak ada apa-apa, aku pergi" Jalanya meninggalkan Alona.


Kemudian Alona tersenyum senang, "Aku enggak nyangka kalau Elvan akan setuju jika harga saham naik. Tapi syukurlah" Batin Alona pergi dari sana juga.


Elvan yang kini berada di ruangannya. Ia terlihat sangat marah, "Lihat saja, aku berjanji akan menemukan kalian semua" Geramnya. Lalu Elvan menyambar ponselnya.


DDDRRRRTTTT.. DDDRRRRTTTT...


"Hallo Elvan" Jawab Jerry.


"Kamu dimana Jerry? aku membutuhkan mu".


"Membutuhkan ku?".


"Mmmm.. Datanglah ke amerika dan temui aku di hotel xx nanti aku akan jelaskan kepada mu".


"Baiklah" Angguk Jerry menyetujui perkataan Elvan.


Sekarang telah menunjukkan pukul 6 sore, Elvan segera kembali ke hotel. Namun saat ia menaiki taksi, ia melihat Robert, James, Steven serta Mark memasuki mobil mewah. Dengan rasa penasaran Elvan menyuruh taksi tersebut mengikuti mobil Robert.


Setibanya mereka di proyek, Elvan langsung turun dari dalam taksi. Lalu Elvan mengingat perkataan si pria tua kemarin, jika pria tua itu pernah melihat 4 orang pejabat tinggi datang kemari. "Mereka ada 4 orang, maka ke 4 orang itu apa mereka?" Tebak Elvan.


Begitu Robert dan rekan yang lainnya memasuki kantor. Elvan tidak bisa mengikutinya lagi sampai kesana. Tetapi Elvan tetap menunggu sampai mereka keluar kembali.


Hampir 1 jam lamanya. Kini mereka telah keluar dan memasuki mobil. "Ck, aku tidak bisa mengetahui apa yang mereka bicarakan disana, dan kenapa lampu ruangan itu masih menyala?" Elvan mendekati setelah mobil Robert dan rekannya telah pergi.


"Siapa disana?" Tanya salah satu security yang berjaga melihat Elvan.


"Aaiiss.." Tampa menjawab Elvan memasuki ruangan tersebut, namun ia tidak melihat satu orang pun disana. "Lalu siapa yang mereka temui disini?" Semakin penasaran Elvan.


BBUUNNGGHHH..


"Aakkhh" Pekik Elvan ketika sebuah balok besar mengenai punggungnya.


"Cepat tangkap dia" Ucap security itu kepada rekannya dan membawa Elvan ke pos penjaga.


"Lepasin, kalian tidak tau siapa saya?" Bentak Elvan yang marah.


"Kami tidak tau siapa kamu, ayo ikut kami" Dorongnya di tubuh Elvan.


Setelan mereka tiba di pos penjaga. Elvan di dudukkan diatas sebuah kursi. Lalu mereka memanggil kepala security yang bertugas dimalam hari, kemudian ia memperhatikan wajah Elvan dengan lekat-lekat. "Siapa kamu?".


"Kalian benar-benar tidak punya sopan santun, apa tunggu saya memecat kelian dulu baru kalian tau siapa saya?. Cepat, lepaskan tali ini".


Mendengar perkataan Elvan membuat mereka melihat Elvan kembali dengan serius. "Tapi aku merasa orang ini tidak asing. Siapa kamu sebenarnya?".

__ADS_1


Elvan menghela nafas panjang, "Lepaskan dulu tali ini maka saya akan memberitahu kalian siapa saya sebenarnya".


"Baiklah, ayo lepaskan talinya" Ucap si kepala security itu. "Sekarang katakan, siapa kamu sebenarnya?".


Elvan mengeluarkan kartu identitasnya dan menunjuknya kepada mereka, "Kalian bisa melihatnya?".


"Benarkah kamu dari pusat?".


"Mmmm.. Saya rasa ini sudah lebih dari cukup" Elvan meninggalkan pos security tersebut. Ia segera kembali pulang ke hotel.


Setibanya Elvan di hotel, ia telah melihat sang sahabat telah berada di dalam Loby bersama dengan Rizal. "Rizal?" Panggil Elvan.


"Hallo bro, apa kabar?" Peluknya di tubuh Elvan.


"Baik Zal, kamu apa kabar?".


"Seperti yang kamu lihat" Senyumnya.


"Bagus, ayo" Ajaknya membawa Jerry dan Rizal kedalam kamarnya.


"Ini kamar kamu Elvan?" Tanya Jerry begitu mereka berada di dalam kamar Elvan.


"Iya, karna aku sendiri jadi aku memesan kamar kecil saja. Tapi karna kalian sudah berada disini, nanti aku akan memesan apertemen".


"Aku rasa harus seperti itu Elvan" Angguk Jerry setuju.


"Lalu ini apa Elvan?" Kaget Rizal begitu ia menemukan selembar foto USG terletak di atas meja yang berada disamping tempat tidur.


"Jawab Elvan, ini apa?" Tanya Rizal kembali semakin penasaran.


Kemudian Jerry mendekatinya dan mengambil foto USG tersebut dari tangan Rizal. "Iya Elvan, kenapa kamu memiliki ini?" Tanya Jerry juga dengan rasa penasaran.


"Aahhh" Hela Elvan melihat kedua sahabatnya itu. "Maaf karna aku tidak memberitahu kalian berdua, itu foto anakku".


"Apa?" Kaget Rizal dan Jerry dengan suara tinggi.


"Mmmm.. Sebenarnya aku sudah menikah".


BBUUNNGGHHH..


"Aahh" Pekik Elvan menyentuh sudut bibirnya. "Ck, kamu memukul ku Zal".


"Jadi benar kamu sudah menikah?".


"Mmmm.. Tapi aku menikah setelah Fayola menikah. Aku tau kamu memukul ku karna Fayola".


"Lalu kamu menikah dengan siapa Elvan?".


"Tania".


"Apa? Tania?" Kaget Jerry.

__ADS_1


"Iya, kami di jodohkan sama halnya seperti dengan Fayola dan suaminya".


"Jadi kamu menikah dengan Tania yang selama ini kami kenal? Tanya ulang Jerry.


"Iya" Angguk Elvan.


"OMG.. Aku enggak nyangka kalau kamu bakal menikahi Tania. Jadi selama ini" Gantungnya melihat Elvan. "Kamu mencintai-nya?".


"Mmmmm".


"Kamu tidak sedang berbohong Elvan?".


"Aku mengatakan yang sebenarnya".


"Hhhmmsss" Dengus Rizal dan Jerry. "Jadi ini hasil USG buah hati kalian?".


"Iya, tolong berikan kepada ku".


Jerry langsung memberinya ditangan Elvan. "Bagaimana dengan Fayola. Apa dia tahu kalau kamu sudah menikah juga?" Tanya Rizal lagi.


"Mmmmm".


"Ck" Kesal Rizal mengusap wajahnya. "Kamu tahu Elvan sebesar apa Fayola mencintai mu?".


"Aku tau dan kalian berdua juga tahu sebesar apa aku mencintai Fayola".


"Terus, bagaimana mungkin kamu menghianati cintanya hingga ia membawa rasa cintanya sampai mati" Rizal berusaha menahan emosi.


"Maafkan aku Rizal. Tapi kamu tidak akan mengerti jika kedua belah pihak keluarga dari mu tidak merestui hubungan mu dengan pasangan mu. Kamu juga tidak akan tahu seberapa terhinanya aku dihadapan kedua keluarganya hanya karna aku terlihat sederhana. Dan kamu juga tidak tahu seberapa tersiksanya aku saat Jerry memberitahu ku kalau Fayola telah tiada" Dengan mata berkaca-kaca Elvan melihat kedua sahabatnya itu.


"Sudah Elvan, tidak ada gunanya lagi kita membahas orang yang telah tiada di dunia ini" Peluknya di tubuh Elvan.


Sedangkan Rizal mengusap wajahnya dengan kasar. "Maafkan aku Elvan, aku terbawa suasana".


.


Setelah mereka bertiga memutuskan tinggal di apertemen. Elvan menyiapkan makanan yang bisa mereka makan sambil membicarakan mengenai bantuan yang Elvan minta.


"Sebenarnya apa yang terjadi Elvan sehingga kamu menyuruhku datang kemari?" Tanya Jerry begitu hidangan itu berada diatas meja.


"Mmmm.. Ini mengenai perusahaan TQ group. Kalian pasti tau TQ group?".


"Tentu saja kami tau, perusahaan itu salah satu perusahaan terbesar disini dan aku dengar-dengar kalau perusahaan TQ group sedang pembagunan".


"Itu dia, papa saat ini salah satu investor terbesar proyek itu".


"Serius?" Kaget Jerry.


"Mmmm.. Itu makanya aku magang disini sesuai dengan permintaan papa yang sangat sibuk. Tapi, begitu aku tiba disini, aku merasakan ada yang salah selama ini".


"Maksud kamu?".

__ADS_1


__ADS_2