SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 67


__ADS_3

Hari ini Tania telah kembali beraktifitas seperti biasanya, ia sekarang telah berada di perusahaan tempat ia magang. "Pagi Nia" Sapa Sani yang baru tiba.


"Pagi Sani, tumben kamu lama".


"Macet Nia. Oohh iya Nia, selamat ulang tahun yah. Sehat selalu dan panjang umur" Ucapnya sambil memberi sesuatu di hadapannya.


"Makasih ya Sani" Senyum Tania menerima pemberian Sani.


"Sama-sama Nia, ayo buka".


"Bisa aku buka?".


"Tentu saja, kamu ada-ada saja Nia. Bukalah".


"Baiklah" Tania pun segera membuka kado pemberian Sani. "Wah.. Kemarin aku juga mendapatkan hadiah yang sama dari Elma dan Filia. Sekarang aku menerimanya lagi dari kamu Sani".


"Kamu menyukai ya Nia?".


"Mmmm.. Aku sangat menyukainya hingga aku tak ingin berhenti mengucapkan terima kasih kepada mu. Makasih ya Sani".


"Iya Nia. Lalu Elvan memberi mu apa Nia?".


"Dia memberi ku kalung ini" Jawab Tania menunjuknya kepada Sani.


"Cantik sekali Nia. Pasti nilainya sangat tinggi".


"Yah.. Kenapa harus dilihat dari nilai sih yang dipermasalahkan? tidak semua harus di nilai dengan angka Sani, kalau seseorang tidak tulus memberikan kepada mu sama saja bohong".


"Iya sih Nia, aku hanya iri saja hehehehhe".


"Kamu iri dengan kalungnya atau karna itu pemberian dari Elvan?".


"Dua-duanya Nia".


"Kamu Sani" Geleng Tania.


"Heheheh.. Sorry Nia, abis Elvan orangnya tampan benget sehingga aku setiap kali melihatnya terpesona".


"Iya terpesona, sebaiknya kita bekerja Sani. Entar kita kena amukan mereka lagi" Ucapnya menghentikan Sani.


"Mmmmm" Angguk Sani.


DDDRRRTTT.. DDDRRRTTT..


"Nia, ponsel kamu bergetar".


"Biarkan saja, aku lagi sibuk".


DDDRRRTTT.. DDDRRRTTT..


"Bergetar lagi Nia. Angkatlah, siapa tau penting".


"Lagian siapa sih yang menelpon ku pagi-pagi seperti ini?" Kesal Tania menyambar ponselnya.


"Siapa Nia?".


"Elvan" Jawabnya.


"Terus kenapa kamu tidak mengangkatnya Nia?".


"Malas" Tania meletakkan ponselnya kembali.


"Malas?" Kemudian Sani tersenyum mengejek Tania. "Jangan bilang kamu lagi ngambek kepadanya. Ayo ngaku Nia?".


"Ck".


DDDRRRTTT.. DDDRRRTTT..

__ADS_1


"Angkatlah Nia, kasihan dianya dari tadi menelpon mu terus loh. Kalau enggak berikan saja padaku biar aku yang ngangkat".


"Angkat saja" Jawab Tania.


"Benarkah Nia?".


"Mmmmm".


"Kamu enggak marahkan? aku benar-benar akan mengangkatnya loh".


"Iya Sani angkat saja".


"Ok, atas persetujuan kamu yah" Sani menyambar ponsel Tania dan segera menggeser tombol hijau. "Hallo Elvan" Senyum Sani begitu Elvan melakukan Video call. Tetapi yang berada di layar itu bukalah Elvan melainkan Jerry. "Kamu siapa? kenapa ponsel Elvan ada pada mu?".


"Kamu yang siapa? kenapa ponsel Tania ada pada mu?" Balas Jerry.


"Siapa Sani?" Tanya Tania yang mendengar percakapan diantara mereka berdua.


"Tidak tau Nia, kamu lihat ini" Jawabnya memberi ponsel itu kepada pemiliknya.


Dengan kening mengerut Tania menerima ponselnya. "Tania" Teriak Jerry dari sebrang sana dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Jerry" Balas Tania langsung tersenyum. "Yah.. Kenapa kamu bisa berada disana?".


"Kemarin Nia, apa kabar mu Nia? selamat ulang tahun ya Nia. Aku merindukan mu".


"Hahahaha.. Terima kasih Jerry. Kamu ada-ada saja".


"Aku mengatakan yang sebenarnya Nia. I love you" Ucapnya sambil melirik Elvan yang berada disampingnya.


"Aku tidak mendengarnya Jerry".


"Terserah kamu saja kamu mendengarnya atau tidak. Yang penting aku mengatakan kalau aku mencintai mu Tania Firan hahahahah" Tawanya begitu Elvan menarik ponselnya.


"Nia.. Kamu jangan mendengarnya. Kamu lagi dimana?" Tanya Elvan melihat wajah kesal Tania. "Kamu masih marah Nia?".


"Ck, kalian berdua sama saja. Laki-laki playboy yang tidak bisa menghargai wanita" Ujar Tania.


"Kok kamu jadi samain aku dengan Elvan sih Nia? jelas bedah dong aku dengan ya. Buktinya sampai sekarang aku masih jomblo".


"Aku enggak nanya kamu jomblo atau tidak Jerry. Yang aku tau kalian berdua itu sama saja, sama-sama pantang lihat cewek cantik".


"Hahahaha.. Sepertinya kamu sudah terlalu banyak tau Nia. Tapi Elvan tidak seperti yang kamu pikirkan kok Nia, dia ini laki-laki baik yang tidak akan pernah menghianati pasangannya".


"Aku enggak percaya. Buktinya..


"Buktinya apa Nia?" Potong Elvan menarik ponsel itu kembali dari tangan Jerry.


"Tau aakkhh.. Kamu pikir sendiri".


Elvan mengerutkan keningnya, ia tidak tau letak dari kesalahannya. "Nia, kalau aku salah aku minta maaf Nia. Tapi kalau kamu diam seperti ini aku jadi tidak tahu dimana letak kesalahan aku Nia".


"Terus.. Siapa wanita yang bernama Alona?".


"Alona?".


"Iya, siapa wanita yang bernama Alona? jangan bilang dia..


"Nia, dia itu atasan aku di kantor. Jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak tentang aku disini".


"Aku tidak yakin".


"Jadi aku harus seperti apa agar kamu bisa percaya?".


"Jangan selingkuh dari ku dan jangan pernah dekat-dekat dengan wanita lain, aku tidak suka".


Elvan tersenyum, "Kamu cemburu?".

__ADS_1


"Iya aku cemburu. Mau wanita mana pun pasti akan cemburu jika suaminya dekat dengan wanita lain".


"Baiklah Nia, aku tidak akan pernah dekat-dekat dengan wanita lain".


"Kamu janji".


"Iya aku janji Nia".


"Awas saja kalau kamu ketahuan dengan ku".


"Kalau aku ketahuan?".


"Berarti kamu ada niat".


"Aku tidak punya niat Nia".


"Terus itu apa yang barusan kamu bilang?".


"Aku hanya bertanya saja".


"Ck, kamu" Kesalnya.


"Sudah jangan ngambek seperti itu, kamu jelek kalau ngambek Nia".


"Itu semua gara-gara kamu, siapa suruh membuat ku seperti ini".


"Maaf Nia".


"Mmmmm".


"Ayo senyum".


Tania menggeleng, "Aku merindukan mu Elvan, kapan kamu pulang?".


"Bersabarlah, aku juga merindukan mu Nia".


"Tapi aku tidak bisa sabar Elvan, aku benar-benar sangat merindukan mu".


"Terus aku harus bagaimana Nia?".


"Pulang, kalau tidak aku akan kesana...


"Datanglah kemari Nia. Dengan senang hati aku akan menerima mu disini" Potong Jerry bersemangat.


"Benarkah? baiklah aku akan datang kesana Jerry".


"Jangan Nia" Larang Elvan.


"Aku tidak mau tau, aku akan kesana. Jerry jemput aku di bandara".


"Ok Nia".


Tania mematikan ponselnya lalu ia melihat Sani yang sedang melihat kearahnya. "Jangan bilang kamu mau pergi Nia".


"Mmmm.. Aku harus pergi Sani. Kamu mau ikut aku?".


"Tidak Nia" Gelengnya. "Jadi kamu benar-benar akan pergi?".


"Iya Sani" Bangkitnya dari atas kursinya.


"Lalu bagaimana dengan keluarga mu Nia, kamu mau membuat mereka khawatir?".


"Tenang saja aku bisa mengaturnya. Dah Sani" Lambai-nya segera keluar dari sana menuju bandara.


"Astaga Nia, kamu bertekad banget sih. Apa dia akan baik-baik saja? aku khawatir, tapi enggak mungkin aku ikut. Aaiiss, bagaimana ini?" Gumam Sani berpikir keras.


.

__ADS_1


__ADS_2