SUAMI DINGIN TANIA

SUAMI DINGIN TANIA
Bab 72


__ADS_3

Setelah keluarga Tania di kuburkan, dengan perasaan masih berduka Tania tak pernah keluar dari dalam kamar. "Elvan, untuk satu minggu ini mama mohon tetaplah bersama dengan Tania, mama takut terjadi apa-apa dengannya" Ucap Amira.


"Iya ma, aku juga sudah memberitahu Rizal".


"Tolong hibur dia, mama tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghibur Tania".


"Iya ma".


Begitu Elvan selesai membuatkan bubur untuk Tania, ia segera membawanya kedalam kamar dimana Tania yang masih menangis di bawah selimut. "Nia, ayo bangun. Aku sudah membuatkan bubur untuk mu".


"Hiks.. Hiks.. Aku tidak lapar".


"Kamu yang berkata tidak lapar, kamu tidak kasihan melihat bayi kita? Ayo bangun Nia" Bantunya mendudukan Tania.


"Aku tidak lapar Elvan hiks.. hiks.. Aku tidak lapar".


"Nia" Usapnya di kepala Tania. "Aku juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan dan juga kesedihan yang kamu rasakan, tapi itu semua sudah kehendak yang maha kuasa dan kamu juga harus memperhatikan bayi yang ada disini Nia, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan mu dan juga bayi kita".


"Elvan hiks.. hiks.. Aku tidak mau hidup lagi Elvan, aku mau ikut papa dan mama saj..


"Nia" Bentak Elvan sangat marah mendengar perkataan Tania.


"Hiks.. Hiks.. Percuma aku hidup, jika rasanya sesakit ini. Aarrkkhhh".


Kemudian Elvan menghela nafas panjang, lalu ia menarik Tania kedalam pelukannya. "Maafkan aku Nia, tolong jangan pernah berpikir seperti itu, aku tidak mau kehilangan kamu juga".


"Elvan sakit, rasanya sangat sakit".


"Aku tau Nia".


Dengan tubuh lemas Tania terlelap di dalam pelukan Elvan. Setelah itu Elvan membaringkan tubuh Tania kembali dan mencium keningnya dengan sayang. "Kamu belum makan tapi kamu sudah tidur Nia. Tubuh mu juga sangat kurus" Sedihnya melihat wajah Tania yang kusut.


Sambil menunggu Tania bangun, Elvan kembali menyiapkan makanan untuk Tania. "Paman" Panggil Saskia.


"Kia. Sudah pulang Kia?" Senyum Elvan melihat keponakan mungil ya itu.


"Iya paman. Bagaimana keadaan bibi Tania?".


"Bibi Nia baik-baik saja, dia sedang tidur".


Saskia menghela nafas sedih, "Kasihan sekali bibi Tania. Seandainya posisi bibi ada di posisi Kia, Kia juga akan merasakan hal yang sama dengannya. Paman, tolong hibur bibi Nia. Kia tidak mau terjadi apa-apa dengan bibi Tania".


"Iya Kia, sebisa mungkin paman akan selalu menghibur bibi Nia".


"Terus paman lagi membuat apa?".


"Bubur ayam untuk bibi kamu Kia".


"Wah.. Sepertinya enak paman".


"Kia mau?".


"Boleh paman, Kia mau".


"Nanti paman akan memberi Kia sebagian, sekarang Kia ganti pakaian dulu yah".


"Iya paman, nanti taruh di atas meja saja".

__ADS_1


"Iya" Angguk Elvan.


Setelah Elvan selesai membuatnya, ia segera membuatnya di dalam dua mangkuk. Satu untuk Tania dan satunya lagi untuk Saskia.


"Elvan" Panggil Tania memeluknya dari belakang.


"Nia" Kaget Elvan.


"Aku pikir kamu meninggalkan ku juga Elvan".


Elvan tersenyum memutar tubuhnya menghadap Tania. "Kamu bicara apa Nia? aku disini" Ciumnya di kening Tania. "Ayo, aku sudah menyiapkan bubur ayam untuk mu" Ajaknya kearah meja makan. "Duduklah".


"Terima kasih Elvan".


"Mmmm.. Ini, makanlah sampai kamu merasa cukup kenyang".


"Kamu enggak makan?".


"Aku sudah makan Nia".


"Lalu ini untuk siapa?".


"Untuk Kia bibi" Jawab Saskia yang baru datang. "Tolong berikan kepada ku bibi".


"Kia" Senyum Tania. "Inih" Berinya.


"Thank you bibi" Duduknya segera melahap bubur ayam buatan Elvan. "Mmmm.. Buatan paman memang selalu yang terbaik" Jempol Saskia.


"Enak Kia?" Tanya Tania.


"Benarkah?".


"Mmmmm".


Tania segera melahap miliknya, dan benar sekali dengan apa yang barusan Saskia ucapkan kalau bubur ayam buatan Elvan sangat enak. "Wah.. Rasanya sangat enak Elvan".


"Benarkan yang Kia bilang kalau bubur ayam buatan paman tiada duanya bibi".


"Iya" Senyum Tania.


Selesai Tania dan Saskia melahap milik mereka, "Terima kasih ya paman, Kia masuk kamar dulu".


"Iya Kia" Angguk Elvan. Kemudian Elvan mengajak Tania berjalan-jalan sekitar komplek menggunakan sepeda motor bututnya. "Pegang yang kuat Nia".


"Iya" Peluknya dari belakang.


Sambil menikmati perjalan seketika Tania melupakan kesedihannya hingga kini mereka telah berada di luar komplek. "Kamu mau makan sesuatu Nia?".


"Tidak, teruslah berjalan Elvan" Jawabnya dari belakang.


"Kamu yakin tidak mau makan sesuatu?".


"Mmmmm".


Setelah hampir 1 jam lebih mereka berada di luar, tiba-tiba saja Tania meminta kepada Elvan menuju kerumahnya. Sebenarnya Elvan sempat menolak, namun Tania bersikeras agar Elvan membawanya kesana.


Setibanya mereka disana, dengan mata berkaca-kaca Tania melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut. "Nia" Tahan Elvan.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Elvan".


"Kalau kamu tidak kuat sebaiknya kita pulang Nia".


"Tidak Elvan".


Sedangkan Jasmin yang mendengar suara Tania langsung datang menghampirinya. "Nia" Panggilnya.


"Kak Jasmin" Tangis Tania memeluknya "Kak, Nia merindukan mama papa Kayla kak. Nia sangat merindukan mereka kak hiks.. hiks..".


"Nia, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan mereka. Jangan lupa, kamu masih punya kita semua dan juga suami mu yang selalu setia berada di samping mu".


"Kak Jas" Semakin Tangis Tania.


"Iya Nia".


"Aku belum percaya kak Jas, coba kak Jasmin hubungi ponsel mama, Nia yakin mama pasti sedang berada di butik dan Kayla juga pasti berada disana. Ayo kak Jas".


"Nia, Ibu sudah tiada Nia dan nona kayla juga sudah tiada".


"Kalau gitu coba hubungi papa kak Jas".


"Bapak juga sudah tiada Nia, kamu harus terima itu".


"Tidak hiks.. hiks.. Tidak, mereka tidak mungkin meninggalkan Tania. Elvan, kamu percaya kepada ku kan kalau semua keluarga ku tidak mungkin meninggalkan ku".


"Nia".


"Jangan bilang kamu juga mengatakan hal yang sama dengan kak Jasmin".


"Nia".


"Aarrkkhhh.. Aku tidak ingin mendengar kalian berdua, aku tidak ingin mendengar kalian berdua" Teriak Tania berlari dari sana menuju kamar Alvis dan Elvina.


BBRRAAKK..


"Pa Ma, ini Nia. Papa sama Mama ada di dalam kamar kan?" Tanyanya dengan air mata yang terus bercucuran. "Pa Ma.. Kenapa kalian tidak menjawab Tania? ayo jawab Tania pa. Papa sama mama ada didalam kamar kan?".


"Tania" Tarik Elvan memeluknya. "Tolong tenang Nia, aku mohon tolong kendalikan diri mu" Khawatir Elvan melihat Tania.


"Lepaskan aku Elvan" Berontak Tania melepaskan dirinya.


"Tidak Nia tidak" Semakin erat Elvan memeluk Tania.


"Lepaskan Aku Elvan" Teriak Tania.


"Tania" Teriak Elvan tak kalah kuat darinya. "Apa kamu mau seperti ini terus hhmm? kamu egois Nia, kamu tidak memikirkan bayi yang ada di dalam kandungan mu".


Deng..


Seketika Tania tersadar dengan apa yang barusan saja ia lakukan. "Aarrkkhh.. Maafkan aku Elvan".


"Hhmmsss.. Tolong tenangkan pikiran mu Nia, dan terimalah kalau papa mama dan Kayla sudah tiada di dunia ini".


"Tidak bisa Elvan, aku tidak bisa hiks.. hiks..".


"Bisa Nia, kamu bisa" Peluknya dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2