
Di kantin Tania dan Sani sedang menikmati makan siang mereka, namun Tania masih kepikiran tentang si dosen yang sangat menjengkelkan itu, "Sani" Panggil Tania.
"Mmmmm.. Kenapa Nia?".
"Nama dosen kita tadi siapa ya, aku melupakan namanya".
"Deva, cantik sih. Tapi kamu tau enggak Nia?".
"Kenapa?".
"Yang aku dengar dari mahasiswa lainnya katanya bu Deva itu wanita pemilih. Makanya sampai sekarang bu Deva enggak nikah-nikah, sepertinya dia berencana perawan tua hahahah" Tawa Sani.
Sedangkan pikiran Tania langsung melayang saat Deva memandangi Elvan dari samping begitu Elvan mengerjakan soal tersebut. "Aaiiss.. Sialan itu Dosen, awas saja dia kalau berani macam-macam menggoda suami ku" Geram Tania mengepal kedua tangannya.
"Nia.." Panggil Sani menyadarkan Tania.
"Hhhmmm?".
"Kamu kenapa? kamu terlihat sedang marah. Apa kamu masih marah sama buk Deva?".
"Banget Sani, sangking marahnya aku ingin sekali memukulnya seperti dia menampar Elvan".
"Nia.. Gimana kalau kita membalasnya? dari tadi aku juga berencana membalasnya. Dosen seperti dia patuk diberi pelajaran".
"Setuju" Angguk Tania.
"Ayo, kita harus membalasnya" Bangkit Sani dari atas kursinya.
"Ayo".
Begitu Tania dan Sani keluar dari dalam kantin, mereka pun segera menuju ruang dosen yang berada di lantai 1. Sesampainya mereka disana, Tania dan Sani malah dibuat melongo dengan apa yang sedang mereka lihat, dimana Elvan yang sedang berada disana tepat di hadapan Deva.
"Wanita sialan, kenapa lagi dia membawa Elvan kemari?" Geram Sani.
"Mmmmm.. Dia mau apa lagi ya dengan Elvan" Sahut Tania.
Dan tampa mereka sadari, salah satu dosen telah berada di belakang. "Apa yang sedang kalian lakukan disini?".
Deng..
"Astaga" Kaget Tania dan Sani. Kemudian secara perlahan mereka melirik kearah sumber suara tersebut. "Heheheh.. Maaf pak" Tunduk Tania dan Sani.
"Hhhmmsss" Gelengnya. "Minggir".
"Iya pak, silahkan masuk".
"Aahhh.. Nyebelin banget sih" Kesal Tania menyandarkan tubuhnya dibalik tembok. Lalu Tania berusaha melihat kedalam kembali.
"Yah.." Bentak Deva melihat Tania.
"Astaga" Kaget Tania melonjak begitu juga dengan Sani, tetapi yang Deva lihat hanyalah dirinya.
"Sedang apa kamu disitu?".
"Maaf buk, saya hanya lewat saja. Permisi".
"Tunggu".
"Aaiiss.. Sani".
__ADS_1
"Maafkan aku Nia, melihat dia sedang marah aku juga takut".
"Kamu kemari" Ucap Deva menyuruh Tania masuk.
"Baik buk" Angguk Tania menghampirinya dimana Elvan yang juga sedang melihatnya dan juga dosen lainnya. "Oohh Tuhan, ini sangat memalukan sekali" Gerutu Tania dalam hati. Hingga kini ia telah berada di hadapan si dosen, "Ada apa ya buk?" Tanyanya dengan sopan.
"Apa yang kamu lakukan disitu?".
"Tidak buk" Geleng Tania.
"Tidak apa?".
"Mmmm.. " Gumam Tania kebingungan ingin menjawab seperti apa. "Mmmm.. Itu buk".
"Mmmm.. Apa? dari tadi kamu belepotan saja" Kesalnya melihat Tania.
"Maaf buk" Tunduk Tania.
Sedangkan Elvan yang melihat tangan Tania bergetar, ia langsung menggenggamnya dan mengangkat dagu Tania, "Harusnya kamu menjawab apa tujuan kamu datang kemari, kata ibu ini dia telah melihat mu sedari tadi dan Sani diluar pintu itu" Ucap Elvan.
"Apa?" Kaget Tania dengan mata membulat.
"Mmmmmm".
"Ck, berarti dia juga melihat Sani. Lalu kenapa dia hanya memanggil ku saja?" Batin Tania.
"Hey, kamu mendengar ku?" Tegur Deva kembali melihat Tania.
"Iya buk" Jawab Tania.
"Kamu ada urusan apa? ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan saya?".
"Tidak buk, sebenarnya saya ingin memanggil Elvan tadinya".
"Itu buk, saya ingin meminta bantuan kepadanya ngerjain tugas kuliah".
Deva terdiam, "Ya sudah.. Kalian berdua boleh keluar".
"Terima kasih buk" Senyum Tania segera keluar dari sana dan juga Elvan yang berada di belakang Tania. "Hhmmss.. Selamat" Senyum Tania kesenangan.
"Nia" Panggil Sani menarik tangannya.
"Mmmmm?".
"Apa yang dia ucapkan?".
"Mmmm.. Tidak ada apa-apa, dia hanya bertanya apa yang sedang kamu lakukan disini".
"Benarkah cuma itu saja Nia?".
"Mmmm.. Lalu bagaimana dengan Elvan?".
"Elvan?".
"Mmmm.. Apa dia baik-baik saj.." Gantung Sani begitu Elvan muncul dibelakang Tania. "Eehh.. Elvan, hehehe" Senyum Sani membenarkan anak rambutnya.
Bukannya menjawab, Elvan malah pergi begitu saja dari hadapan Sani dan Tania. "Kamu lihat sendiri kan Sani, bagaimana sikap aslinya Elvan yang super-super cuek. Kamu masih mau mendekatinya?".
"Cinta butuh perjuangan Nia, ayo semangat Sani. Kamu pasti bisa, kamu pasti bisa mendapatkan cintanya Elvan" Jalannya duluan.
__ADS_1
"Halu mu terlalu tinggi Sani" Geleng Tania tersenyum-senyum sendiri.
.
Sepulang kuliah, Tania menghampiri sang mama tercinta di butik. Dan seperti biasa Tania akan selalu membantu karyawan disana, hingga kini Tania kelelahan. Kemudian Elvina menghampiri putri tercintanya, "Ini sayang, minumlah" Berinya ditangan Tania.
"Terima kasih ma".
"Iya sayang".
"Mmmmm.. Mama masih ingat saja minuman kesukaan Nia".
"Hahahaha.. Kamu ada-ada saja Nia, mana mungkin mama melupakan makanan atau pun minuman kesukaan putri mama sendiri".
"Heheheheh.. Thank you ma, mama ya Nia memang yang terbaik" Peluknya di tubuh Elvina.
"Putri mama juga" Balasnya. "Oohh iya sayang, bagaimana sudah hubungan mu dengan Elvan, apa dia sudah bisa menerima mu?".
"Heheheh.. Mmmm" Angguk Tania.
"Syukurlah, mama sangat senang sayang mendengarnya, akhirnya cinta putri mama terbalaskan".
"Iya ma, Nia juga sangat senang melihat perubahan Elvan yang semakin hari mau menerima Nia".
"Bagus dong" Tawa Elvina dan Tania.
.
Di kediaman keluarga Anderson Tania baru tiba disana, namun kali ini dia tidak diantar oleh mama tercinta mengingat Tania yang datang bersama dengan supir. Lalu Tania memasuki kamarnya dan menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Besok ada tugas kuliah enggak yah?" Gumam Tania. "Astaga, aku baru ingat, ternyata ada!. Aarrhhh.. Aku malas sekali hanya memikirkan itu saja" Kesal Tania mengguling-guling tubuhnya diatas tempat tidur.
Tok.. Tok..
"Sebentar" Jawab Tania membukakan pintu kamar.
Ceklek!
"Hallo onty!" Senyum Saskia.
"Kia, ada apa Kia?".
"Onty, boleh tidak Kia minta bantuan?".
"Minta bantuan apa Kia?".
"Ayo ikut Kia Onty" Tariknya ditangan Tania menuju kamarnya. "Duduk onty, sebentar yah" Perginya mencari sesuatu yang tidak Tania ketahui.
"Mmmmm" Duduk Tania diatas sofa yang berada di dalam kamar Saskia.
Tidak lama kemudian Saskia telah kembali dengan buku gambar yang ada di dalam pelukannya. "Onty, Kia yakin onty pasti tau mana yang cantik atau tidak" Ucap Saskia membuka buku gambarnya. "Gimana onty, cantik tidak?".
"Wah.. Cantik sekali Kia, ini gambar kamu?".
"Mmmm.. Tapi belum Kia kasih pewarna".
"Seperti ini juga cantik Kia, onty sangat suka".
"Kalau enggak dikasih pewarna enggak cantik onty, makannya Kia memanggil onty kemari. Bisakah onty membantu Kia memberikan solusi pewarna apa yang cocok dengan gambar ini".
__ADS_1
"Baiklah.. Onty akan membantu mu Kia. Sepertinya kamu calon-calon Desainer Kia"
"Terima kasih onty" Senang Saskia.